Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Abu di Atas Harapan
Pagi itu dimulai dengan keheningan yang janggal. Biasanya, Devan terbangun oleh suara alarm ponselnya atau suara kicauan burung dari pohon di samping apartemen, namun kali ini ia terbangun karena sebuah firasat buruk yang merambat di tengkuknya. Ia menatap Lia yang masih terlelap dengan tenang, wajahnya tampak begitu damai di balik bingkai kacamatanya yang diletakkan di atas nakas. Devan mengecup keningnya pelan, lalu bangkit untuk bersiap menuju bengkel restorasinya.
Namun, saat ia melangkah keluar dari lobi apartemen, bau gosong yang terbawa angin pagi mulai menyengat indra penciumannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera memacu motor klasiknya menuju gang tempat bengkelnya berada. Semakin dekat, kepulan asap hitam terlihat membumbung tinggi ke langit biru yang jernih.
"Tidak... jangan sekarang," bisik Devan pada dirinya sendiri.
Ketika ia membelokkan motornya ke depan bengkel, pemandangan di depannya menghancurkan hatinya. Bengkel restorasi yang ia bangun dengan tetesan keringat dan harapan terakhirnya kini ludes dilalap api. Petugas pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan sisa-sisa bara, sementara warga sekitar hanya bisa menonton dengan wajah prihatin.
Motor Inggris tahun 1950-an yang kemarin ia bersihkan dengan penuh kasih, kini hanyalah kerangka logam hitam yang bengkok karena panas. Peralatan mekanik yang ia beli dengan menjual saham terakhirnya di Black Roses kini meleleh menjadi gumpalan besi yang tak berguna.
Di tembok samping yang tidak terbakar habis, terdapat sebuah tulisan besar yang disemprot menggunakan cat merah: "PENSIUN BERARTI MATI."
Devan berdiri mematung di tengah reruntuhan. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih dan gemetar. Amarah yang selama ini ia tekan sekuat tenaga demi Lia kini meledak di dalam dadanya seperti gunung berapi yang bangun dari tidur panjangnya. Ini bukan sekadar sabotase; ini adalah pernyataan perang. Galang dan pengikutnya tidak ingin Devan menjadi orang biasa. Mereka ingin menghancurkan identitas barunya agar ia tidak punya pilihan selain kembali ke dunia kegelapan, atau hancur sama sekali.
"Mas Devan? Sabar ya, Mas. Tadi malam ada motor-motor sport yang mondar-mandir di sini," ucap seorang pemilik warung di sebelah bengkelnya.
Devan tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah benda kecil yang tergeletak di tanah. Itu adalah bandana hitam milik salah satu pengikut Galang yang sengaja ditinggalkan sebagai pesan.
Beberapa jam kemudian, Lia datang dengan wajah pucat pasi. Ia sudah mendengar kabar dari warga. Ia berlari ke arah Devan yang sedang duduk di atas tumpukan puing, menatap kosong ke arah mesin yang hancur.
"Devan..." Lia memeluknya dari belakang, tangisnya pecah seketika. "Ya Tuhan... kenapa mereka begitu jahat? Kita sudah tidak mengganggu mereka!"
Devan melepaskan pelukan Lia dengan perlahan, lalu berdiri. Tatapannya tidak lagi lembut. Ada kilat dingin yang dulu pernah membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut. "Mereka tidak akan berhenti, Lia. Selama aku masih bernapas dan mencoba hidup normal, mereka akan menganggapku sebagai ancaman atau penghinaan."
"Kita lapor polisi, Devan! Buktinya jelas!" Lia memohon, ia takut melihat perubahan di mata kekasihnya.
"Polisi hanya akan menangkap mereka untuk beberapa bulan, lalu mereka akan keluar dan kembali membakar rumah kita, atau mungkin melukaimu," suara Devan terdengar datar namun tajam. "Duniaku tidak bekerja dengan hukum kertas, Lia. Duniaku bekerja dengan hukum darah."
"Jangan, Devan... kumohon. Ingat janjimu pada Ayah. Ingat janji kita!" Lia memegang lengan Devan, mencoba menariknya kembali dari jurang kegelapan.
Devan menatap Lia dalam-dalam.
"Aku mencintaimu, Lia. Sangat mencintaimu. Dan karena aku mencintaimu, aku tidak bisa membiarkan predator ini terus mengintaimu dari kegelapan. Aku harus mencabut taring mereka sampai ke akar-akarnya."
Tanpa kata lagi, Devan pergi meninggalkan Lia yang terduduk lemas di antara abu bengkel mereka. Lia menyadari bahwa masa depan tenang yang mereka bangun selama beberapa minggu terakhir telah menguap bersama asap kebakaran itu.
Devan tidak menuju markas utama. Ia menuju sebuah gudang penyimpanan rahasia yang bahkan Baron pun tidak tahu. Di sana, di bawah tumpukan kain terpal tua, tersimpan sebuah peti kayu. Devan membukanya, memperlihatkan sebuah jaket kulit hitam yang berbeda dari yang ia serahkan pada Baron.
Ini adalah jaket lamanya, jaket yang ia pakai saat pertama kali membangun Black Roses dari nol. Di dalamnya tersimpan sebilah brass knuckle perak dengan ukiran mawar dan sebuah pistol glock yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Ia mengenakan jaket itu. Beratnya terasa akrab di bahunya. Ia meraba tato mawar di lehernya. "Maafkan aku, Lia. Aku harus menjadi monster sekali lagi agar kamu bisa tetap menjadi malaikat."
Devan menghubungi beberapa orang lama—mereka yang tidak setia pada Baron, tapi juga muak pada kelakuan liar Galang. Mereka adalah para "Mawar Veteran" yang sudah pensiun namun masih menyimpan loyalitas pada Devan.
Malam itu, di sebuah dermaga tua yang terisolasi, Devan berdiri di depan sepuluh orang pria yang tampak lebih tua dan lebih garang dari anggota Black Roses saat ini.
"Aku tidak memanggil kalian sebagai Ketua Black Roses," ucap Devan, suaranya menggelegar di tengah deburan ombak. "Aku memanggil kalian sebagai saudara. Galang sudah melintasi batas. Dia membakar masa depanku. Malam ini, kita akan memberinya pelajaran tentang arti sebenarnya dari rasa takut."
"Kami siap, Serigala," jawab salah satu dari mereka, seorang pria dengan bekas luka parang di wajahnya.
Sementara itu, Galang dan kelompoknya sedang merayakan "kemenangan" mereka di sebuah bar kumuh di wilayah Utara. Mereka mabuk dan tertawa, membayangkan Devan yang sedang menangis meratapi bengkelnya.
"Besok kita datangi apartemennya," tawa Galang sambil menenggak bir. "Kita buat dia berlutut dan memohon agar kita tidak menyentuh gadis culunnya."
Tiba-tiba, lampu bar padam total. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Brakkk!
Pintu bar hancur berkeping-keping. Sosok Devan muncul dari balik kegelapan, matanya menyala dalam remang cahaya bulan yang masuk lewat celah pintu. Di belakangnya, sepuluh pria veteran berdiri seperti malaikat maut.
"Pesta sudah selesai, Galang," suara Devan terdengar seperti guntur yang tenang.
Galang tersedak minumannya. Ia segera berdiri dan mencabut pisaunya. "Kau?! Bagaimana kau bisa tahu kami di sini?"
"Aku yang membangun jaringan informasi di kota ini, Bocah. Kau pikir hanya karena aku melepas rompi, aku menjadi buta?" Devan melangkah maju dengan perlahan, setiap langkahnya menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa.
Anak buah Galang mencoba menyerang, namun mereka tidak tanding bagi para veteran didikan Devan.
Dalam hitungan menit, bar itu berubah menjadi medan pertempuran singkat yang brutal. Devan tidak menggunakan senjata api. Ia menggunakan tangan kosongnya, melampiaskan setiap rasa sakit dan kekecewaan atas hancurnya harapannya bersama Lia ke wajah Galang.
Pukulan demi pukulan mendarat di wajah Galang. Darah memercik ke jaket Devan. Devan mencengkeram kerah baju Galang dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kau membakar bengkelku karena kau ingin aku kembali ke jalanan?" bisik Devan di telinga Galang yang sudah berdarah. "Sekarang aku kembali. Tapi bukan sebagai ketua yang memberimu perintah, melainkan sebagai hantu yang akan menghantui setiap langkahmu di penjara nanti."
Devan melemparkan Galang ke tumpukan botol pecah. Ia tidak membunuhnya. Ia tahu Lia tidak akan memaafkannya jika ia menjadi seorang pembunuh. Namun, ia memastikan Galang tidak akan pernah bisa mengendarai motor lagi seumur hidupnya.
Saat fajar menyingsing, Devan kembali ke apartemen. Ia berdiri di depan pintu, ragu untuk masuk karena jaketnya bersimbah darah. Namun pintu terbuka, dan Lia berdiri di sana. Lia tidak bertanya ke mana Devan pergi. Ia melihat tangan Devan yang lecet dan darah di jaketnya.
Lia mendekat, ia tidak marah. Ia hanya menangis sambil memeluk Devan yang masih kaku.
"Sudah selesai?" tanya Lia lirih.
"Sudah," jawab Devan, suaranya pecah. "Galang dan pengikutnya sudah diserahkan ke polisi dengan bukti sabotase dan perdagangan ilegal yang mereka lakukan selama ini. Mereka tidak akan pernah kembali, Lia."
Lia melepaskan pelukannya, ia menatap Devan dengan mata sembab. "Jaket ini... bakar sekarang juga, Devan. Aku tidak ingin melihatnya lagi."
Devan mengangguk. Di balkon apartemen mereka, di dalam sebuah tong besi kecil, Devan membakar jaket kulit lamanya. Api melahap kain itu, mengubah sejarah kekerasannya menjadi abu yang diterbangkan angin pagi.
"Aku kehilangan segalanya, Lia. Bengkelku, uangku, masa depanku yang baru," ucap Devan sambil menatap sisa-sisa api.
Lia menggenggam tangan Devan, menyatukan jemari mereka. "Kamu tidak kehilangan segalanya. Kamu masih punya aku. Kita akan mulai lagi dari nol. Bukan sebagai Serigala Hitam dan Ratunya, tapi sebagai Devan dan Lia. Hanya dua orang biasa yang sedang berjuang demi cinta."
Meski badai telah berlalu, mereka tahu bahwa jalan di depan masih panjang. Namun di tengah abu kehancuran itu, sebuah benih baru mulai tumbuh—sebuah janji yang lebih kuat, yang tidak lagi didasarkan pada kekuatan geng, melainkan pada ketangguhan hati yang telah melewati api penyucian.