"Kamu adalah laki-laki yang bisa membuatku percaya, bahwa tidak semua laki-laki itu brengsek" ~Rania
"Kamu adalah wanita yang membuatku mengerti apa itu cinta" ~Aldrich
Aldrich yang tidak percaya pada cinta semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh suami kakaknya dan membuat kakak satu-satunya meninggal karena bunuh diri.
Akhirnya dipertemukan dengan Rania yang tidak percaya kepada laki-laki, setelah melihat sahabatnya sendiri meninggal karena bunuh diri akibat ditinggal kekasih yang telah menghamilinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anugrah Utarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Mommy Agneta
Karena sudah lelah, Rania langsung tertidur dan tidak jadi menghubungi Bundanya. Sedangkan Aldrich menatap wanita yang belakangan ini membuat hatinya porak-poranda dari atas ranjangnya. Ia sama sekali belum mengantuk dan melihat ke arah jendela. Menatap bintang yang bertaburan menghiasi langit malam.
"Kak, kakak pasti sudah bahagia kan disana? Maafin Al yang nggak bisa jagain kakak. Seandainya waktu itu Al sudah dewasa, mungkin Al nggak akan biarkan ******** itu menyakiti kakak. Al minta maaf kak, Al minta maaf" gumamnya pelan dengan mata yang sudah basah oleh air mata.
"Kamu belum tidur?" suara Rania membuat Aldrich kaget dan cepat-cepat menghapus air matanya. Rupanya Rania bangun karena mendengar gumaman Aldrich.
"Aku tidak bisa tidur" jawabnya singkat.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Rania bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Aldrich.
"Hanya teringat dengan kakak, dulu kalau aku tidak bisa tidur. Kakak akan memelukku" ucapnya sendu, Aldrich sengaja memancing Rania. Apakah dia akan melakukan hal yang sama atau tidak?
"Dasar manja" Rania naik ke ranjang Aldrich dan berbaring di samping laki-laki itu. "Geser" Rania mengibas-ngibaskan tangannya meminta Aldrich untuk geser.
"Kamu sedang apa?" tanyanya dengan jantung sudah berdetak tak karuan.
"Udah diam!" Rania menyusupkan tangannya di bawah leher Aldrich dan membawa laki-laki itu ke dalam pelukannya.
"Astaga, dia ini benar-benar ya. Bisa-bisa nanti kucing anggora berubah jadi macan" batin Aldrich menjerit karena perlakuan tiba-tiba Rania. Tak lama Aldrich mendengar deru napas Rania yang teratur. Ia pun mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Rania.
"Eh, udah tidur aja. Dasar tukang tidur!" Aldrich mencoba tidur dalam posisi nemplok seperti koala. Tidak sampai 5 menit, ia sudah tertidur lelap.
🌿🌿
Mentari sudah naik ke peraduannya, menebarkan cahayanya ke seluruh semesta. Membuat semua makhluk bermandikan sinarnya. Cahaya matahari sudah masuk melalui celah jendela ruangan yang ditempati Aldrich dan menerpa wajahnya.
Tidurnya mulai terusik dan perlahan matanya terbuka. Pemandangan pertama yang ia saksikan adalah wajah cantik Rania yang masih tertidur pulas. Aldrich tersenyum lebar, ternyata dia tidak mimpi kalau Rania tidur disampingnya.
Tangannya mulai bergerak menyingkirkan sulur rambut yang menutupi wajahnya. Setelah semua rambut disingkirkan ke belakang. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita yang mulai bertahta di hatinya.
"Bangun tukang tidur" bisik Aldrich ditelinga Rania.
"Hmmm" gumamnya dan mulai mengerjapkan matanya.
"Selamat pagi Rania"
"Selamat pagi.. " jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur. Ia bangkit dan turun dari ranjang menuju kamar mandi dengan mata belum sepenuhnya terbuka.
Bughh Rania menabrak dinding dekat pintu kamar mandi.
"Aww" ringisnya sambil mengusap keningnya yang berdenyut.
"Rania, are you okay" Aldrich langsung turun dari ranjang dan berlari menghampiri Rania.
"It's okay" Rania langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah merah karena malu. Sakitnya sih tidak seberapa, tapi malunya sampai ke ubun-ubun.
Rania berdiri di depan cermin dan menatap wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. "Ya ampun malunya" rasanya kalau ada pintu kemana saja, ia ingin langsung sampai di rumah agar tidak bertemu dengan Aldrich. Rania mencuci mukanya untuk menghilangkan rasa kantuknya dan mencuci mulutnya.
Selesai semua urusannya dalam kamar mandi, Rania keluar dengan ekspresi tegang. Ia takut, Aldrich akan menertawainya.
Ceklek
Mata Rania langsung membola karena Aldrich sudah berdiri di depan kamar mandi.
"Udah selesai? Kenapa lama banget? Apa kepalanya masih sakit?" pertanyaan bertubi-tubi yang diajukan Aldrich membuat Rania menjadi gelagapan.
"Biasalah wanita pasti agak lama kan? Masih sedikit, tapi udah nggak terlalu kok. Kamu tenang aja" Rania langsung melangkah melewati Aldrich yang sedari tadi menunggu dirinya.
"Oh iya, tadi Bunda kamu telphon. Beliau panik karena kamu semalaman nggak pulang-pulang"
"Aduhh, bisa kena ceramah nih pas pulang nanti" gumam Rania dalam hati.
"Trus kamu bilang apa sama Bunda?" Rania takut Aldrich bicara yang macam-macam lagi sama Bundanya.
"Aku hanya bilang kalau kamu di Rumah Sakit nemenin aku"
"Memangnya Bunda tau siapa kamu?" Rania menatap Aldrich penuh selidik.
"Tadi aku memperkenalkan diri sama Bunda kamu dan beliau sangat senang sekali. Beliau memintaku untuk datang ke rumah" Aldrich menghampiri Rania yang duduk di sofa.
"Memangnya kamu bilang kalau kamu temanku?"
"Bukan, tapi aku bilang kalau aku calon suami kamu"
"Uhuk uhuk" Rania langsung tersedak air putih yang baru saja mendarat di kerongkonganya.
"Pelan-pelan dong minumnya" Aldrich memberikan beberapa lembar tisu ke tangan Rania.
Rania masih tidak percaya kalau laki-laki di sampingnya ini baru saja mengatakan kepada sang Bunda kalau dia calon suaminya. Rasanya ia ingin berteriak dan mengatakan kepada dunia kalau dia akan segera menikah.
"Ohh iya tadi aku pinjam ponsel kamu untuk menghubungi Jeremy pengawal pribadiku. Untung saja aku mengingat nomor ponselnya, sehingga aku bisa menghubunginya" ucap Aldrich antusias.
"Barang-barang kamu hilang semua ya. Apa-apa aja yang hilang?" Rania memutar tubuhnya menghadap ke arah Aldrich.
"Dompet sama ponsel. Dalam dompet ada tanda pengenal, SIM, black card, dan beberapa uang" jawab Aldrich santai.
"WHAT? Tanda pengenal, black card kamu hilang dan kamu santai aja. Wahh benar-benar" Rania langsung shock melihat kesantuyan Aldrich.
"Ya trus aku harus gimana dong, nangis sambil guling-guling di lantai gitu"
"Ya nggak segitunya juga, tapi kamu panik kek, kamu blokir kek atau apa gitu? Ini nggak santai aja kayak nggak terjadi apa-apa" Rania heran dengan jalan pikiran laki-laki di sampingnya.
"Kamu tenang aja, tadi aku sudah meminta Adhlino untuk memblokir black card milikku"
"Huhh syukurlah kalau gitu, bisa gawat kalau sampai yang merampok kamu menyalahgunakan kartu kamu. Nanti kita ke kantor polisi melaporkan tanda pengenal dan SIM kamu yang hilang" Rania membereskan tasnya yang sempat ia acak-acak.
Ceklek
"Aldrich... " teriak seorang wanita paruh baya dari arah pintu dan membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
"Mommy, Daddy" Aldrich tampak kaget karena Jeremy tidak mengatakan apa-apa tentang kedatangan orang tuannya. Terlebih lagi Rania yang langsung kikuk mendapat tatapan tajam dari Mommy Agneta.
Mommy Agneta langsung menghampiri Aldrich dan langsung memeluk putranya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja sayang. Mommy sampai nggak bisa tidur karena mikirin kamu" Mommy Agneta melepaskan pelukan dari putranya dan beralih menatap Rania yang sudah berdiri di samping Aldrich.
PLAKK
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Rania. "Masih berani kamu menunjukkan muka dihadapan anak saya? Setelah kamu meninggalkan dia dan membuat anak saya menderita. Dasar wanita tidak tau malu" Mommy Agneta melepaskan emosinya yang tertahan selama ini.
"Mom, Mommy apa-apaan hah? Kenapa Mommy menampar Rania? Rania tidak salah, dia pergi karena kesalahan Aldrich" Aldrich menatap Ibunya dan langsung berdiri di depan Rania.
"Kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit" Aldrich mengusap pipi Rania yang sudah memerah.
"Sekarang kamu ikut Mommy pulang" Mommy Agneta menarik tangan putranya pergi dari hadapan Rania. "Jeremy, bawa Tuan muda ke mobil" perintah Mommy Agneta kepada pengawal pribadi putranya.
Rania hanya bisa menahan perih di hati dan pipinya tanpa bisa melakukan apa-apa. Semuanya memang salahnya, karena sudah meninggalkan Aldrich tanpa mengatakan apapun. Ia hanya bisa menangisi nasipnya lagi dan lagi. Tanpa ia sadari, seseorang mendekatinya.
"Kamu yang sabar ya, seorang Ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan tidak mau anaknya menderita, begitulah yang dirasakan istri saya. Jadi kamu tidak perlu ambil hati semua perkataannya. Maafkan istri saya yang sudah menampar kamu" kata-kata Daddy Aiden membuat Rania mengangkat kepalanya. Rupanya Daddy Aiden pergi ke kamar mandi saat sampai di ruangan Aldrich. Sehingga ia tertinggal dan mendengar semua yang dibicarakan semua orang.
"Paman, hiks hiks" Rania memeluk Daddy Aiden. "Semua ini memang salah Rania, karena sudah pergi dan menghilang tanpa mengatakan apapun. Kalau Rania diposisi Auntie, Rania pasti akan melakukan hal yang sama. Karena sudah membuat putranya menderita. Jadi Rania ikhlas kok, kalau mendapat kebencian dari Auntie" isak Rania dalam pelukan Daddy Aiden.
"Mas Aiden, ayo kita pulang" Mommy Agneta menarik paksa suaminya dari pelukan Rania. "Dan kamu Rania, jangan berani kamu muncul lagi dihadapan Aldrich" Mommy Agneta melenggang pergi menggandeng suaminya dan membiarkan Rania sendirian.
.
.
.
.
bersambung
gimana Kenzie dan Liana?
gimana anak2 Riana dan Aldrich?
walaupun akan menghadapi kemarahan suami tapi setidaknya sudah menggigit dan menjambak Leo...