"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing di Danau Jenewa
Suara gemuruh petir di luar mansion seakan menjadi latar belakang yang sempurna bagi kehampaan yang tercipta di antara Arkan dan Alana. Ruang tengah yang megah itu kini terasa seperti medan perang yang baru saja luluh lantak. Arkan masih berdiri mematung, menggenggam kotak musik kayu itu dengan jemari yang gemetar hebat—sebuah pemandangan yang tak pernah Alana bayangkan sebelumnya. Sang "Monster Es" yang tak terkalahkan itu, pria yang biasanya mampu meruntuhkan lawan hanya dengan satu tatapan tajam, kini tampak seperti pria yang baru saja melihat seluruh dunianya runtuh menjadi debu.
Elena, yang berdiri di kegelapan koridor dengan gaun tidur sutra yang berkibar tertiup angin dari jendela yang terbuka, tertawa rendah. Suara tawanya tidak mengandung keceriaan; itu adalah suara yang kering, parau, dan terdengar seperti gesekan pisau pada permukaan kaca yang retak.
"Lihatlah dirimu, Arkan. Sang pahlawan besar Arkananta, singa yang ditakuti di lantai bursa, ternyata hanyalah seorang pengecut yang menyembunyikan bangkai saudaranya sendiri di balik tumpukan uang dan kekuasaan," desis Elena. Matanya berkilat penuh kebencian sekaligus kepuasan yang ganjil. "Kau membangun kerajaan ini di atas dasar yang basah oleh air danau yang dingin. Kau pikir kau bisa menghapus noda itu hanya dengan mengganti wajahku dengan wajah gadis ini?"
"Diam, Elena!" bentak Arkan. Suaranya tidak lagi dingin atau berwibawa, melainkan penuh dengan keputusasaan yang tajam, seperti jeritan luka yang lama membusuk di dalam dada. Sendi-sendi tangannya memutih saat ia meremas kotak musik itu lebih erat.
Ia menoleh ke arah dua penjaga yang muncul dengan tergesa-gesa karena keributan itu. Napas Arkan memburu. "Bawa dia kembali ke paviliun. Kunci pintunya. Siagakan orang di setiap sudut. Jika dia keluar lagi tanpa izin dariku, kalian semua akan tamat!"
Elena tidak meronta saat kedua pria bertubuh besar itu mencengkeram lengannya. Ia membiarkan dirinya diseret pergi, namun kepalanya tetap menoleh ke arah Alana. Ia menatap Alana dengan pandangan penuh kemenangan—sebuah pesan tanpa kata yang menusuk tepat ke jantung Alana: bahwa mulai malam ini, Alana tidak akan pernah bisa melihat Arkan dengan cara yang sama lagi. Pria yang ia cintai bukan sekadar pria dingin yang kesepian; dia adalah penjaga rahasia yang mengerikan.
Setelah Elena menghilang di balik pintu ganda, keheningan yang menyesakkan kembali menyergap. Hanya ada suara detak jam dinding dan deru hujan yang semakin menggila di luar sana. Arkan meletakkan kotak musik itu di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah benda itu terbuat dari bahan yang sangat rapuh dan mudah meledak.
"Ikut aku," perintah Arkan tanpa menoleh. Suaranya kembali mendatar, namun ada getaran lelah yang tak bisa ia sembunyikan.
Ia membawa Alana menyusuri lorong panjang menuju sayap barat mansion, menuju ruang kerja pribadinya yang paling rahasia—sebuah ruangan di balik perpustakaan besar yang hanya bisa diakses dengan pemindai sidik jari dan kode digital yang rumit. Alana belum pernah masuk ke sini sebelumnya.
Di dalam, ruangan itu sangat minimalis, kontras dengan bagian mansion lainnya yang mewah. Ruangan ini terasa steril dan dingin, dipenuhi dengan monitor-monitor raksasa yang menampilkan pergerakan saham real-time dan data intelijen bisnis yang terenkripsi. Arkan melangkah menuju lemari minuman, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia meneguknya hingga habis dalam satu tarikan napas, seolah alkohol itu adalah satu-satunya hal yang bisa menjaganya tetap berpijak di bumi.
Ia duduk di kursi kebesarannya, namun tidak dengan postur tegak seperti biasanya. Ia tampak membungkuk, menumpu kepalanya dengan kedua tangan.
"Pria di foto itu..." Arkan memulai, suaranya parau, seolah setiap kata yang keluar menggores tenggorokannya. "Namanya adalah Adrian. Dia adalah saudara kembarku. Sesuatu yang Kakek hapus dari sejarah keluarga Arkananta sepuluh tahun yang lalu. Nama itu adalah tabu. Bahkan menyebutnya di rumah ini adalah hukuman mati bagi siapa pun."
Alana terperangah. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Saudara kembar? Tapi... kenapa tidak ada seorang pun yang tahu? Kenapa tidak ada catatan tentangnya di mana pun? Aku sudah meriset seluruh sejarah keluarga Anda sebelum kontrak ini dimulai, Tuan. Tidak ada penyebutan tentang saudara laki-laki."
Arkan menatap gelas kosong di tangannya dengan tatapan kosong. "Karena bagi Kakek, Arkananta Group hanya butuh satu matahari. Satu pewaris, satu wajah, satu kemauan. Sejak kami kecil, Kakek tidak pernah melihat kami sebagai cucu. Kami adalah investasi. Kami tumbuh sebagai rival yang dipaksa saling membunuh secara mental. Jika aku mendapat nilai sempurna, Adrian harus melampauinya. Jika Adrian menang dalam kompetisi berkuda, aku harus menghancurkannya di lapangan anggar."
Arkan memejamkan mata, dan Alana bisa melihat rahang pria itu mengeras. "Hingga malam itu di Danau Jenewa, tahun 2016... malam yang seharusnya menjadi perayaan kelulusan kami dari universitas. Sebuah pesta di atas yacht keluarga yang seharusnya menjadi awal masa depan kami."
Ruangan itu terasa mendingin saat Arkan ditarik paksa kembali ke masa lalu. "Adrian jatuh cinta pada Elena. Tapi Elena... dia bukan wanita biasa. Dia adalah racun yang dibungkus sutra. Dia memainkan kami berdua dengan sangat licin. Dia tahu Adrian adalah sosok yang lebih emosional, lebih mudah dipengaruhi. Elena menghasut Adrian untuk mengambil alih posisi pewaris utama dengan cara-cara kotor—sabotase, pengkhianatan data. Malam itu, di tengah danau yang gelap, rahasia itu terbongkar. Terjadi pertengkaran hebat di atas kapal. Aku berteriak padanya, dia memukulku... dan dalam kekacauan itu, Adrian kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh ke danau. Airnya sangat dingin malam itu, Alana. Gelap dan tak berujung."
"Apa Anda mencoba menyelamatkannya?" bisik Alana ngeri, tangannya menutup mulut untuk menahan isak tangis yang mulai mendesak.
Arkan menatap Alana dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca, sebuah ekspresi yang menghancurkan topeng "Monster Es" miliknya sepenuhnya. "Aku mencoba. Aku hampir melompat ke air. Tapi Kakek... beliau ada di sana bersama para pengawal. Beliau menahanku dengan kekuatan yang tak masuk akal bagi orang seusianya. Beliau bilang, ini adalah seleksi alam. Arkananta tidak butuh pewaris yang lemah dan mudah dimanipulasi oleh wanita. Beliau membiarkan Adrian hilang di dalam air, menghentikan mesin kapal, dan memerintahkan semua orang untuk membungkam mulut. Secara hukum, Adrian dianggap tidak pernah ada. Semua catatan medis, sekolah, dan foto-foto masa kecilnya dimusnahkan dalam satu malam."
"Itu... itu kejam sekali. Bagaimana bisa seorang kakek melakukan itu pada cucunya sendiri?" Alana merosot duduk di kursi di depan meja Arkan, air mata kini mengalir deras di pipinya.
"Itulah hukum Arkananta. Dan itulah sebabnya aku memberikan apa pun untuk Elena selama ini," Arkan berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman yang diguyur hujan. "Dia adalah satu-satunya saksi hidup yang tersisa selain aku dan Kakek. Aku menyembunyikannya di paviliun bukan hanya untuk melindunginya, tapi untuk memastikan rahasia ini tetap terkubur. Kotak musik itu... Adrian yang memberikannya padanya malam itu sebelum kecelakaan. Di dalamnya ada kunci menuju sebuah brankas rahasia di Swiss. Adrian sudah menyiapkan 'asuransi' jika Kakek mencoba menyingkirkannya. Brankas itu berisi bukti-bukti keterlibatan Kakek dalam penghilangan nyawa Adrian dan beberapa skandal gelap perusahaan."
Arkan berbalik, wajahnya kini terlihat sangat lelah. "Jika Bianca mendapatkan kotak itu, dia bukan hanya akan menghancurkan aku dengan skandal keluarga. Dia akan memenjarakan Kakek, menghancurkan reputasi perusahaan, dan meruntuhkan Arkananta Group hingga ke akarnya. Sepuluh tahun aku berusaha menjaga fondasi ini agar tidak runtuh, dan sekarang semuanya bergantung pada sebuah kotak kayu tua."
Penyusunan Strategi di Atas Luka
Alana merasakan beban rahasia itu kini berpindah ke pundaknya, terasa berat dan menyesakkan. Ia baru menyadari bahwa perannya selama ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Ia bukan sekadar menggantikan posisi istri yang gila untuk konsumsi publik; ia terjebak di tengah-tengah perang saudara berdarah yang melibatkan nyawa, sejarah yang dihapus, dan ambisi yang mematikan.
"Tuan," Alana mendekat, menyentuh lengan Arkan dengan ragu. Getaran di tubuh pria itu mulai mereda, namun suhu kulitnya terasa sedingin es. "Bianca sudah tahu soal kotak ini. Dia menyebut tentang 'Swan Lake' semalam saat kita bertemu di butik. Dia tahu lebih banyak daripada yang kita duga. Jika kita tidak bertindak cepat, dia akan menemukan cara untuk merebutnya, atau lebih buruk lagi, mengungkapnya sebelum kita sempat mengamankan bukti di Swiss."
Arkan berbalik, menatap Alana dengan intensitas yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Alana sebagai pion, atau sebagai pengganti Elena, atau sebagai alat bisnis. Ia melihat seorang wanita yang kini memegang takdirnya di telapak tangannya.
"Itulah sebabnya aku butuh kau, Alana. Bukan sebagai Elena yang rapuh, tapi sebagai sekutuku. Sebagai Alana yang cerdas dan berani," suara Arkan merendah, hampir seperti bisikan permohonan.
"Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak memiliki latar belakang intelijen, Tuan. Saya hanya seorang gadis yang mencoba menyelamatkan keluarganya," sahut Alana jujur.
"Ketidaktahuanmu adalah senjatamu. Mereka meremehkanmu," Arkan kembali ke mejanya, membuka sebuah laci rahasia dan mengeluarkan sebuah alat penyadap kecil berbentuk anting-anting mutiara. "Bianca akan mengadakan pesta koktail di kediamannya besok malam untuk merayakan progres merger yang kita lakukan. Dia pasti akan mencoba memancingmu lagi, mencoba melihat apakah kau sudah mengetahui rahasia kotak musik itu."
Arkan menatap Alana lekat-lekat. "Aku ingin kau masuk ke sana. Aku akan mengalihkan perhatiannya dengan pembicaraan bisnis yang alot. Di saat itulah, kau harus masuk ke ruang kerja pribadinya. Aku memiliki informasi bahwa dia memiliki draf intelijen tentang Adrian—mungkin laporan dari klinik rehabilitasi di Alpen yang pernah dikunjungi Adrian secara rahasia sebelum kematiannya. Jika dia memiliki dokumen itu, kita harus memusnahkannya atau mengambilnya sebelum sampai ke tangan media atau dewan komisaris."
Alana menelan ludah. Risiko ini sangat besar. Jika ia tertangkap, tidak ada jaminan Arkan bisa melindunginya dari kemarahan keluarga Bianca yang juga berpengaruh. Namun, melihat kerapuhan di balik mata Arkan, Alana tahu ia tidak bisa mundur. Pria ini telah memberinya segalanya untuk menghidupi keluarganya, dan kini saatnya ia membayar hutang budi itu dengan cara yang paling berbahaya.
"Saya akan melakukannya," jawab Alana tegas, menghapus sisa air mata di pipinya. "Tapi janji satu hal padaku, Tuan. Jika ini semua berakhir... jika kita berhasil... Anda harus mencari cara untuk memberikan keadilan bagi Adrian. Dia tidak pantas dianggap tidak pernah ada."
Arkan terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Aku berjanji."
Malam itu, di bawah lindungan badai, sebuah aliansi baru terbentuk. Bukan lagi antara majikan dan pelayan, melainkan dua jiwa yang terikat oleh luka masa lalu yang sama-sama berdarah.