Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Rina berjalan cepat, hampir berlari, menghampiri Eka dan Ita yang baru saja keluar dari mal. Napasnya memburu, benaknya terpaku pada kartu hitam yang tergenggam di tangan Eka. Ia yakin betul itu milik Adit. Tanpa ragu, ia berniat merebutnya.
“Ngapain kamu?” suara Ita terdengar tajam, sorot matanya penuh ketidaksukaan. “Belum cukup tadi karma dibayar tunai?”
“Diam kamu! Aku nggak ada urusan denganmu, Tante!” bentak Rina tanpa basa-basi.
Ita tersentak, matanya membulat penuh amarah. “Apa kamu bilang? Tante?”
Rina menyeringai. “Kenapa? Nggak terima? Makanya ngaca!” ejeknya, lalu tanpa aba-aba, ia mendorong Ita agar menjauh. Kini, fokusnya hanya tertuju pada Eka.
Eka menatapnya sekilas, bibirnya melengkung tipis, bukan dalam senyum ramah, melainkan tatapan bosan yang seolah berkata bahwa drama ini tidak menarik baginya. “Belum cukup keributan tadi?” tanyanya santai, suaranya tenang, nyaris meremehkan.
Rina mendengus kasar. “Kamu sengaja kan bikin aku malu?! Tapi itu nggak penting sekarang! Aku mau kamu balikin kartu hitam yang kamu pegang!”
Eka tetap tidak terpengaruh. “Atas dasar apa?”
Mata Rina berkilat penuh tuduhan. “Jangan pura-pura bodoh! Itu kartu milik Kak Adit, kan?! Kamu mencurinya, kan?! Balikin sekarang!”
Tangannya terulur, menuntut tanpa kompromi.
Ita, yang sedari tadi menahan kesal, akhirnya bersuara, suaranya penuh sindiran. “Benar-benar anak yatim piatu nggak tahu diri.”
Rina menoleh tajam. “Diam deh!”
Eka menarik napas panjang, menahan diri agar tidak terseret dalam drama yang menurutnya sia-sia. Ia tahu, mantan adik iparnya ini tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun, bagaimanapun juga, kartu hitam itu bukan milik Adit—itu diberikan langsung oleh Kakek Harjuno. Jadi, atas dasar apa Rina menuduh jika itu milik Adit?
Namun, sebelum Eka sempat bereaksi, Rina yang kehilangan kesabaran langsung menarik tasnya dan mengobrak-abrik isinya tanpa izin.
Eka tetap berdiri tegak, tak bereaksi berlebihan, hanya menatap Rina dengan ekspresi dingin dan penuh wibawa.
“Kamu selesai?” tanyanya ringan, seolah Rina hanyalah anak kecil yang sedang berulah.
Rina menemukan kartu itu di antara barang-barang Eka dan segera meraihnya dengan ekspresi penuh kemenangan. “Aku akan mengambilnya!” serunya.
Namun, sebelum tangannya benar-benar bisa menggenggam kartu itu, Eka dengan gerakan cepat dan santai menarik kembali barangnya, mengamankannya dari tangan Rina.
“Kamu pikir ini lelang amal?” tanya Eka, suaranya tetap tenang namun menusuk. “Sayangnya, dunia tidak bekerja sesuai dengan maumu, Rina.”
Mata Rina membelalak, tak menyangka Eka bisa menggagalkan aksinya dengan begitu mudah, tanpa sedikit pun kehilangan ketenangan.
Eka menatap Rina sejenak, lalu dengan santai menepuk tasnya yang kini telah kembali rapi, seolah apa yang baru saja terjadi bukanlah hal besar. Tatapannya tetap tenang, tanpa sedikit pun terguncang oleh ledakan emosi di hadapannya.
“Kalau kamu mau sesuatu, coba pelajari dulu cara mendapatkannya dengan elegan,” ujarnya, suaranya lembut tapi penuh ketegasan. “Merebut bukan salah satunya.”
Rina mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menahan amarah. Harga dirinya tercabik-cabik. Namun, menghadapi Eka yang begitu berwibawa, ia sadar—dirinya baru saja kalah telak.
Eka menghela napas pelan, lalu mengangkat kartu hitam di tangannya, memperlihatkannya kepada Rina. Tatapannya tajam, menusuk langsung ke dalam mata lawannya.
“Satu hal yang perlu kamu tahu, kartu ini bukan milik keluargamu,” katanya, suaranya penuh ketenangan yang justru semakin menusuk. “Ingat bagaimana keluargamu menjualku dulu? Ini adalah bayaran dari lelaki itu untukku.”
Rina membelalak, darahnya terasa mendidih. “Dasar nggak tahu malu!” ejeknya, mencoba menyerang balik meski suaranya bergetar.
Eka tersenyum tipis, tidak terpengaruh sedikit pun oleh hinaan itu. Dengan langkah santai, ia mendekat selangkah, menurunkan suaranya hingga hanya Rina yang bisa mendengar.
“Bagaimanapun, dengan uang, segalanya jadi lebih mudah, bukan?” nadanya terdengar seolah menasihati, tapi juga penuh sindiran. “Rina, aku tahu keadaan keuanganmu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Jadi, kalau suatu hari nanti kamu ingin kembali hidup bebas seperti dulu—bisa belanja tanpa takut besok tidak akan makan—hubungi aku.”
Kata-kata itu menghantam Rina lebih keras daripada pukulan fisik. Pipinya memanas, bukan hanya karena amarah, tapi juga karena rasa malu yang membakar dirinya. Ia ingin membalas, ingin menyerang Eka dengan kata-kata tajam, tapi tenggorokannya terasa tercekat.
Eka tidak menunggu jawaban. Dengan elegan, ia memasukkan kartu itu ke dalam tasnya, lalu berbalik pergi diikuti Ita, meninggalkan Rina yang masih berdiri di tempat dengan tangan terkepal dan napas memburu.
Saat sudah menjauh dari Rina, akhirnya Eka bisa bernapas lega. Berakting sebagai wanita elegan dan kuat ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.
Ita yang melihat perubahan ekspresinya langsung mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Kamu benar-benar hebat, Ka,” ucapnya penuh kagum.
Eka tertawa kecil, melengkungkan bibirnya menjadi satu senyuman penuh arti. “Kamu tahu, jantungku hampir copot tadi,” katanya santai. “Tapi aku senang bisa mengompori dia.”
Eka menggeleng pelan, merasa geli dengan dirinya sendiri. Entah dari mana ia mendapatkan ide untuk memprovokasi Rina, tapi satu hal yang pasti—jika rencananya berhasil, Rina akan menjadi senjata terbaiknya untuk menghancurkan keluarga Wirawan.
***
Di sisi lain, Rina baru saja tiba di rumah. Begitu pintu terbuka, suara pertengkaran langsung menghantamnya. Suara-suara itu menusuk telinganya, memenuhi udara dengan ketegangan yang begitu familiar hingga dadanya terasa sesak.
“Aku sudah bilang, Bu! Aku nggak bisa terus-terusan nanggung semuanya sendiri!” Suara Adit terdengar lelah, penuh frustrasi. “Perusahaan sedang pailit, hutang ke bank harus segera dibayar. Satu-satunya cara adalah menggadaikan rumah ini.”
Rina membeku di ambang pintu. Matanya melebar, jantungnya mencelos. Rumah ini? Digadaikan?
“Tapi, Dit…” Suara Ibu meninggi, nyaris bergetar. “Rumah ini satu-satunya tempat kita. Apa di perusahaanmu nggak ada uang kas atau aset lain? Ini rumah yang dibangun ayahmu… Sudah terlalu banyak kenangan di sini. Ibu nggak mau kehilangannya.”
Adit mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya berat. “Nggak ada, Bu. Sejak sebulan lalu semua aset sudah kuputar, tapi hasilnya belum kembali. Ini satu-satunya pilihan yang tersisa.”
“Tapi—”
“Ibu tenang aja.” Adit memotong cepat, berusaha menenangkan, tapi suaranya terdengar seperti seseorang yang lebih meyakinkan dirinya sendiri. “Aku pasti bisa bayar. Aku sedang berusaha negosiasi dengan KH Corp.”
"Nggak, Dit! Ibu belum bisa menyerahkan rumah ini meskipun kamu bilang begitu. Terakhir kali kamu bilang keluarga ini nggak akan kesusahan lagi, nyatanya nol besar, kan? Kalau ibu tahu kamu bakal gagal, lebih baik dulu ibu mempertahankan Eka di sini daripada mengikuti kemauanmu menjualnya!"
Adit terdiam, rahangnya mengatup rapat.
"Bu... kenapa masih membahas hal itu? Kalau bukan karena Eka yang tiba-tiba kabur, aku nggak akan sampai di titik ini."
"Kalau begitu bujuk Eka balik ke sini!" Yuli mendesak. "Meskipun kita bangkrut, kalau ada Eka, semuanya masih bisa terkontrol. Ada yang ngurus ibu dan nenek."
"Ada Nadin, Bu."
Yuli mendengus. Nadin? Wanita itu sama sekali tak bisa diandalkan. Jauh berbeda dengan Eka. Awalnya Yuli pikir Nadin akan membawa keberuntungan yang lebih baik, tapi sekarang? Selain makan, tidur, dan mengeluh bahwa dia sedang hamil, apa lagi yang bisa dia lakukan?
Sementara itu, Rina tetap berdiri di ambang pintu, menggigit bibir, enggan melangkah lebih jauh ke dalam. Apa pun yang dikatakannya sekarang tak akan mengubah apa-apa. Tapi melihat wajah ibunya yang penuh tuntutan dan kakaknya yang makin tersudut, hatinya mencelos.
Sejenak, pikirannya melayang ke kata-kata Eka tadi. Tawaran sarkastik itu, sindiran halus yang menusuk harga dirinya.
"Kalau suatu hari nanti kamu ingin kembali hidup bebas seperti dulu—bisa belanja tanpa takut besok nggak akan makan—hubungi aku."
Rina meremas jari-jarinya. Dadanya terasa semakin sesak. Bukan hanya karena pertengkaran di depannya, tapi juga karena kenyataan yang tak bisa ia pungkiri—
Apa benar Eka bisa membantunya?