Baru menginjak kelas 12, ada saja hal yang membuat Syanza harus menghadapi Pangeran, si ketua Savero.
Ketua apanya coba, tengil gitu.
"Lo pikir, lo kodok bisa berubah jadi pangeran beneran, hah??" Ketus Syanza.
"Emang gue pangeran," balas Pangeran angkuh.
"Nama doang, kelakuan kayak setan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cipaaiinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Jalan-jalan pagi di hari libur. Ditambah hijaunya tumbuhan yang memanjakan mata, keelokan jalan yang tidak terdapat sampah anorganik.
Hangatnya pelukan matahari menerpa punggung para insan yang mengharapkan vitamin D pada tubuhnya.
Sekarang, wanita dengan nama lengkap Syanza Amara tengah kewalahan dengan orang yang ia ikutinya. Sungguh capek mengikuti langkah Pangeran yang masih full energi.
"Altar!" teriak Syanza dengan napas yang terengah-engah. Lelaki itu sangat kuat sampai kakinya yang belum sembuh total pun sudah banyak melangkah enteng.
Pangeran lari ditempat dan menghadap Syanza. Wajahnya terlihat meledek bagi gadis dikucir satu itu.
"Ayo dong, semangat! Katanya mau ikut," sorai Pangeran.
"Ya, tapi gak gini juga," sebal Syanza berjalan terseok-seok saking letihnya.
Pangeran terus memberi support pada Syanza untuk terus berlari. "Wajar, belum biasa. Jalan yang bener lagi dong, yuk bisa yuk!" seru Pangeran melanjutkan larinya.
Syanza menyerah dan berjalan gontai ke tepi jalan. Ia duduk sembari meluruskan kakinya, takut kram.
Pangeran menengok ke belakang melihat kekasihnya yang terlihat kelelahan dengan menatapnya sinis. Ia terkekeh dan menghampiri Syanza.
"Jangan duduk sembarangan, kotor," ujar Pangeran mengulurkan tangan pada Syanza.
Gadis itu tidak berniat menerimanya, ia mengabaikannya.
"Awas ada cacing," ucap Pangeran ampuh membuat Syanza terperanjat dan menjerit seraya memegangi Pangeran.
"Mana, mana?! Ihhh geli!" jeritnya meeinding setengah mati saking tidak sukanya dengan cacing.
Pangeran tersenyum dan mensejajarkan wajahnya dengan Syanza yang memegangi lengannya. Kemudian ia berbisik, "Tapi bohong."
Melihat sang kekasih mematung, Pangeran memundurkan langkahnya dengan senyum yang menyebalkan.
Meledek dan membuat Syanza kesal, tentu menjadi salah satu kelanggengan hubungaannya.
"Pangeran Alastar Shankara!" ucap Syanza menekan setiap kalimatnya.
"Apa, sayang? Mau ngejar, hm?" ledek Pangeran. "Kejar abang, neng!" serunya berlari. Sampai akhirnya aksi kejar mengejar terjadi lagi.
Pangeran berlari dengan tawa renyahnya, sedangkan Syanza dengan tampang kesalnya.
"Sini gak lo Pangeran abal-abal!"
Aksk mereka menjadi buah perhatian orang-orang di sana. Ada yang merasa iri karena berjalan sendiri, ada yang ikut salah tingkah dengan tingkah mereka berdua, ada juga yang hanya geleng-geleng siapa lagi kalau bukan federasi Savero.
"Kemarin dia teriak-teriak pas diurut," ucap Cakra.
Arjuna yang sedang pemanasan dan rasa dongkolnya pun melirik Cakra yang mengeluarkan hembusan napas pasrah.
"Biarlah, biar ketua kita yang lagi bucin itu berbunga-bunga. Ntar keseleo lagi juga mampus," ucap Arjuna.
"Zer, lo kenapa?" tanya Jarrel melihat Zergan yang malah distract pada ponsel.
Zergan yang memang sudah menyelesaikan larinya karena ialah yang paling awal dan pagi berada di sini dibanding anggota Savero lainnya.
"Gue balik duluan," ucapnya.
Jarrel mengangkat alisnya heran, begitu pula Cakra dan Arjuna yang asik menggerakkan tubuhnya.
Sudah menjadi kebiasaan mereka menginap di station, karena jika hari libur itu menjadi kesempatan mereka bisa senang-senang. Terkadang saat hari biasa pun ada dua sampai tiga orang yang menjaganya, entah karena tidak betah di rumah atau ada hal lainnya.
Pangeran sebagai ketua yang baik, tampan, mapan, murah hati, gampang tersenyum pun tentu saja mengizinkannya. Asal tidak membakar tempat itu saja sudah Pangeran syukuri.
"Weee, weoo?" Arjuna berlagak dramatis dengan bahasa yang ia tangkap dari wanita pecinta negara ginseng.
Cakra meraup kasar wajah penuh ekspresi Arjuna. Sangat tidak enak dipandang, pikirnya. "Gausah sok dramatis. Jelek," cibirnya.
"Hachuu! Tangan lo bau terasi," ujar Arjuna mengusap tampang gantengnya.
Bodohnya Cakra karena percaya begitu saja, dirinya sampai mencium telapak tangannya dan tidak ada bau apa-apa.
"Percaya aja lagi lo, Cak," sahut Jarrel menatapnya datar. "Kenapa lo mau balik? Biasanya ntar malam baru lo minggat," alihnya pada Zergan.
Lelaki itu berdiri dan menyimpan benda pipih di saku celananya. "Adek gue rewel," jawabnya dan langsung berlari meninggalkan mereka.
"Sayang adek, sayang adek," seru Arjuna. "Apalah aku yang anak tunggal, satu-satunya, dan kesayangan emak bapak ini," keluh Arjuna.
Plak
"Wanying!"
"Lama-lama lo gila." Jarrel menabok pantat Arjuna keras.
"Mas, kok cabul sih," ucap Arjuna macam cewek.
Cakra dan Jarrel menatapnya datar dengan mulut yang terbuka sedikit.
"RSJ masih nerima orang ke gini gak, Rel?"
"Gak, Cak. Orang kek gini pantesnya dikubur hidup-hidup," timpal Jarrel.