Kehilangan orang yang dicinta untuk selama- lamanya membuat separuh jiwa terbang entah kemana. Rasanya dunia runtuh, hidup menjadi kosong. Wanita itu benar- benar merasa kehilangan kekasihnya.
"Aku sudah memaafkanmu, jangan mengikutiku lagi!" (Azalea Tanisha Anandhi)
"Bukan maaf yang aku inginkan, aku hanya ingin kita menikah!" (Aksa Arion Sanjaya)
Karena rasa bersalah terus saja menyelimuti, Presdir itu berusaha menggantikan kekasihnya. Tapi, mampukah wanita itu mengikhlaskan kekasihnya yang telah tiada dan membukakan pintu hatinya untuk sang Presdir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shintapuji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kebenaran
Di rumahnya, Aksa juga terlihat gusar. Kakinya mondar-mandir. Melangkah ke sana kemari, lalu kembali lagi. Meskipun rasa belum tumbuh sempurna, Aksa tetap takut dengan ijab qobul besok. Entah dari kapan lelaki itu mondar- mandir berusaha menghilangkan ketakutan akan akad.
"Sa, duduk dan diamlah. Pusing aku melihatmu! Cari tempat lain sana kalau masih mau begitu, jangan di depan televisi. Ganggu Papa saja kamu itu," ucap Keno. Dirinya sungguh lelah melihat anaknya seperti itu.
Aira menghampiri keduanya, tiga cangkir teh lengkap dengan kudapan berada di atas nampan. Ia letakkan di depan suaminya yang tengah bersantai seperti biasa setelah solat maghrib.
"Makasih sayang." Satu kecupan mendarat di pipi Aira. Seperti biasanya yang Keno lakukan.
"Minumlah selagi hangat, Pah."
Aira ikut duduk di samping suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu Keno. Ikut menonton televisi, tapi juga merasa terganggu karena anaknya masih mondar- mandir menghalangi televisi.
"Aksa..." Langkah Aksa terhenti, ia menatap Mamanya yang tengah tersenyum.
"Kemarilah..."
Aksa pun mendekat dan memeluk Mamanya erat. Memejamkan mata, menikmati kehangatan dari tubuh sang Mama. Kepalanya diusap lembut, sesekali keningnya dicium wanita itu.
"Apa kamu sudah mencintai Aza?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Aira.
Aksa menggeleng, "Enggak tahu, Mah. Aksa kan belum pernah jatuh cinta. Tapi saat bersama Aza rasanya berbeda."
"Kamu nggak akan setakut ini jika nggak cinta sama wanita itu. Aza sudah ada di sini, kamu sudah mencintainya." Aira meletakkan jari telunjuknya di dada Aksa yang berdegup kencang.
Aksa terdiam. Apa benar dirinya sudah mencintai Aza? Mamanya benar juga, kalau dia tak memiliki rasa cinta, dia tak akan setakut ini menghadapi hari esok.
"Pergilah ke kamarmu, hafalkan ijab qabulnya dengan baik. Jangan sampai salah dan mempermalukan Papa," ujar Keno. Ia sebenarnya merasa terganggu dan ingin menikmati waktunya bersama Aira tanpa ada Aksa di sana.
"Nggak mau, Pah. Aku masih ingin memeluk Ibu Presiden."
"Guling di kamarmu kan juga enak kalau dipeluk. Malah ada dua, pergi sana. Aku ingin berduaan dengan istriku."
"Halah! Biarkan sebentar saja, Papa kan nanti juga tidur sama Mama, kalau aku kan enggak."
"Jangan bandel deh, Sa!"
"Baiklah aku akan ke kamar. Habiskan waktu kalian, tapi nanti malam Mama harus tidur denganku sebagai gantinya," ucap Aksa.
"Nggak boleh, Mama pokoknya tidur sama Papa."
"Sssttt, jangan beradu mulut terus. Capek dengernya," ucap Aira.
*****
Pagi menyingsing, Aza, Sarah, dan Rosni telah bersiap. Aza gelisah tak karuan. Mobil suruhan keluarga Aksa pun telah sampai di depan rumah kontrakan wanita itu.
Sekitar pukul enam pagi, Aza, Sarah, dan Rosni diboyong menuju hotel dimana akan dilangsungkan pernikahan. Aza semakin deg-degan. Ia terus saja meremas tangannya.
"Ya ampun, Za. Dari tadi gitu mulu kaya mau ngapain aja sih. Nggak usah takut atau apa. Aku bakal nemenin kamu kok," ucap Sarah.
"Iya, Nak. Tenangkanlah dirimu, ada kami yang menemanimu, jangan takut," sahut Rosni membelai rambut Aza yang masih sedikit basah.
Aza mengangguk lemah, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di hotel berbintang. Mereka diminta untuk ke ruang make up. Beberapa MUA profesional berada di sana menantikan sang pengantin untuk dirias.
"Sudah cantik, pasti nanti akan lebih cantik lagi," ucap salah satu MUA dan mempersilakan Aza duduk menatap cermin.
"Pak Presdir ternyata pandai cari istri ya," celetuk MUA yang lain.
Aza hanya diam, membiarkan wajahnya dipoles make up. Tipis dan tak mencolok, sesuai dengan keinginan Aza. Wanita itu terlihat begitu cantik. Rambutnya diikat ke belakang, dress putih selulutnya telah membalut tubuh mungilnya. Veil atau kerudung pengantin juga telah menjuntai manja menghiasi kepala Aza.
"Tuh kan, apa kubilang. Pengantinnya sangat cantik!" ucap MUA sembari mencubit dagu Aza.
"Iya, tapi sayang, dari tadi cemberut terus. Ayo tersenyumlah, ini hari bahagiamu," sahut MUA yang lain.
Aza pun tersenyum tipis, entah kenapa rasanya sulit untuk tersenyum seperti biasanya. Pernikahannya terasa hampa, tak ada sanak keluarga yang ia punya untuk menemani dirinya. Air mata hampir menetes begitu saja. Beruntung MUA segera menahannya dengan tisu.
"Jangan menangis, ini hari bahagiamu. Tak boleh ada kesedihan hari ini."
Sarah dan Ibunya teringin untuk memeluknya, tapi mereka sedang dirias. Aza pasti sedih karena tak ada Papa atau saudaranya.
Tiba- tiba, masuklah seorang wanita paruh baya yang berbalut dress putih juga menghampiri Aza. Wanita itu tersenyum, matanya berkaca- kaca menatap wanita yang sedang terduduk di depan meja rias.
"Mama Anandhi..." lirih Aza, senyumnya mengembang.
Anandhi memeluk Aza dari belakang, air matanya menetes seketika. "Kamu sangat cantik, sayang," bisiknya kepada Aza.
"Terima kasih Mama sudah datang, aku sangat senang."
"Tentu saja aku akan menghadiri pernikahan putriku sendiri. Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama..."
Anandhi mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari dalam tasnya. Membukanya perlahan, lalu menunjukkannya kepada Aza. Sebuah kalung berlian berada di kotak itu.
"Cantik sekali..." cicit Aza.
"Kamu mau memakainya?"
Aza menggeleng, "Ah, nggak, Mah. Aza nggak pantas, lagipula itu kan punya Mama."
Anandhi tersenyum dan mengecup puncak kepala Aza, "Ini hadiah pernikahan untukmu dari Mama. Semoga kamu menyukainya ya. Ayo, Mama pakaikan."
Anandhi mulai melingkarkan kalung itu di leher jenjang Aza yang terekspos mulus. Tapi sebelum berhasil mengaitkanya, Aza mencekal tangan Anandhi membuat wanita itu mengernyit.
"Ini kalung mahal, mending dijual lagi. Sayang uangnya kan, Mah."
Anandhi tak peduli ucapan Aza, ia tetap mengaitkan kalung itu.
"Jangan memikirkan harganya, ini sangatlah pantas untuk dirimu. Lihatlah, kamu terlihat lebih cantik, bukan?"
"Terima kasih, Mah..."
Aza kembali memeluk Anandhi. Pelukan wanita itu sangat nyaman, sama seperti pelukan papanya dulu. Anandhi beberapa kali mengecupi kepala Aza, wanita itu terlihat senang bisa menghadiri dan menemani pernikahan sang putri.
Ya, setelah pertama kali bertemu dengan Aza, Anandhi sangatlah yakin jika Aza adalah anaknya. Sepulang hari itu, rambut Aza rontok dan tak sengaja menempel di bajunya. Ia segera membawa rambut itu untuk melakukan tes DNA. Dan hasilnya benar, jika Aza adalah anak kandungnya yang selama ini ia tinggalkan untuk mengejar karirnya.
Sedikit cerita, Anandhi merupakan anak orang kaya yang mencintai dan menikah dengan lelaki miskin, Robby Abdullah, ayah Aza. Dulu dia terpaksa meninggalkan suami dan anaknya ketika baru saja lahir.
Tapi bukan tanpa alasan dirinya pergi. Dia hanya ingin membantu ekonomi sang suami, papanya Anandhi menyuruhnya untuk melanjutkan kuliah psikolog di luar negeri dan Anandhi menyetujuinya karena dengan begitu ia bisa membuat ekonomi keluarga membaik ketika sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus nantinya. Tapi, Robby tak setuju, karena ada anak yang baru lahir harus ditinggalkan meskipun hanya beberapa tahun saja.
Anandhi terus memaksakan dirinya, ia hanya ingin membuat anaknya tak dalam kesusahan. Setelah selesai kuliah dulu, Anandhi kembali ke Indonesia untuk menemui anak dan suaminya. Tapi sayang, Suaminya telah pindah dari rumah yang sebelumnya. Anandhi tak bisa menemukannya, hingga pada akhirnya, ia dipertemukan dengan cara yang tak terduga.
LUCUNYA KENO GK TEGAS, CMA BSA KESAL KYK ORG BODOH..
TPI SANGAT BAGUS,, KLO JDI BESAN,, NNTI ENAK2 ALFA DEKAT LGI SAMA AIRA, KRN BESANAN JUGA BSA TERJALIN SKANDAL..
KYAK NOVEL SUAMIKU SAHABAT PACARKU, DN SEQUELNYE MY BROTHER, MY BELOVED, MY HUSBAND.. KRYA,OTHOR CINTYA..
DGN PNAMPILAN APA ADANYA, JUSTRU AKN AMAN AZA DRI PANDANGAN LAKI2...
SPRTI APA KMATIAN KITA, ITU HNYLALH SEBAB..
KPN, DIMANA, KRN APA, PSTI SEMUA YG BRNYAWA AKN MATI.. ITU SUNATULLAH.. DN TAKDIR YG TELAH MNJADI KETETAPN ALLAH..