“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Naira? Penasaran ingin tahu cerita selengkapnya? Kalau begitu yuk ikuti segera kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F A N A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMTK - BAG 24
“Yuuhuuuu… tidak ku sangka kau ternyata benar-benar telah memikat pria itu.” Carlos berbicara seraya menyanggul rambut Naira. “Boy itu sosok yang sangat dingin. Terlebih semenjak ditinggal selingkuh oleh Lili, ia semakin dingin dengan wanita. Padahal… kau pasti tau sendiri bukan bagaimana sosoknya? Tidak hanya menjadi idaman para wanita dewasa, tapi juga gadis-gadis muda sepertimu. Jadi, menurutku jika ia ingin tidak sulit untuknya membuka hati. Bahkan sedari lama.”
Naira tidak membantah. Ketampanan Boy memang benar-benar mempesona. Termasuk ia yang sesungguhnya dari dalam nurani juga ikut mengagumi paras pria itu yang benar-benar bagaikan seorang pangeran. Terlebih ditunjang dengan keberadaannya yang Naira rasa cukup memiliki segalanya?
Tapi… tentang kalimat ‘dingin’ terhadap para wanita yang berusaha mendekati. Sepertinya itu tidak benar! Lelaki itu terlihat seperti seorang fuckboy. Mesum! Penjahat wanita! Itu yang saat Ini ternilai dimata Naira.
“Hmm… kau sungguh benar-benar cantik, Naira.” Carlos memuji. Setelah bertempur hampir setengah jam lamanya, riasan Naira akhirnya rampung juga. Lelaki yang memiliki gerakan gemulai itu terus menerus memandangi sosok gadis muda yang merupakan kliennya itu, di-iringi decak kagum tanpa henti yang keluar dari mulutnya.
“Anda bilang Tuan Fuckboy itu sosok yang dingin?” Naira menatap wajah Carlos dari pantulan cermin. Carlos mengerutkan dahi. “Mungkin itu benar. Tapi juga salah. Teman anda itu tidak sesuci yang anda katakan. Ia mesum, penjahat, dan apakah anda tahu pernikahan ini dilakukan bukan atas keinginan saya, melainkan ia yang telah memaksa—”
Ceklek!
Terputus. Belum lagi tuntas. Decit pintu mencuri atensi keduanya. Tampak di sana sosok Boy sudah berdiri dengan gagah. Menggunakan peci hitam berikut setelan jasnya yang membuat ia semakin terlihat tampan. Namun dengan kharisma yang berbeda. Lebih teduh tanpa mengurangi sedikitpun aura dingin serta maskulinnya.
Mendapati keadaan Naira yang sudah berbusana resmi kebaya. Manik Boy tampak menatap lekat pada sosok gadis muda tersebut. Benar-benar lekat sampai tak berkedip. Sampai akhirnya tepukan dibahu menyadarkan akan pesona Naira yang lagi-lagi berhasil mencuri perhatian.
“Jangan melihatnya seperti itu. Nanti, ia jadi takut. Sorot matamu menyiratkan keinginan, dan menurutku simpanlah sampai nanti kalian sudah benar-benar halal.” kata Carlos tersenyum. Ia lalu kembali menghampiri Naira. Memakaikan selendang pada sanggul yang sudah ia tatap cukup indah. Sentuhan terakhir sebagai penyemurna. Sebelum akhirnya ia mengajak gadis muda itu untuk beranjak darisana.
Di lantai bawah. Masih berkawasan dalam hunian Boy William’s. Naira melihat Andi Mayora yang merupakan orangtua angkatnya itu sedang duduk bersama beberapa orang lainnya. Ada juga ibu-ibu, tapi tidak tampak Fatimah. Membuat Naira menduga mungkinkah Ibu angkatnya itu masih belum pulang dari rumah sakit?
Melangkah dengan anggun dipapah oleh dua orang maid berpakaian seragam kebaya. Naira dituntun sampai akhirnya duduk disamping Andi. Sejenak ia menatap iras tua yang sudah berandil besar membesarkannya itu. Namun, sesaat kemudian menunduk berpaling arah.
Ada kesedihan. Terpancar jelas dari sepasang manik Andi yang berkaca-kaca. Menunjukkan kesedihan, ketidakrelaan, keterpaksaan, layaknya yang belakangan diketahui Naira tentang latar sebenar perjodohannya.
Tidak murni! Melainkan sebuah transaksi! Tapi Naira bisa apa? Mengingat ia yang tak mampu membantu. Memilih pasrah akan keadaan? Mungkin ini merupakan takdir untuknya menikah di atas sebuah keterpaksaan. Harus rela mengubur masa depannya sebagai balas jasa atas kebaikan Andi.
Berharap dengan demikian kehidupan Andi dan Fatimah akan lebih baik lagi. Terbebas dari segala kesulitan, bahkan mampu berada kembali di atas kejayaan.
Boy datang. Andi bergeser tempat. Lalu memakaikan selendang putih yang tersampir pada sanggul Naira juga kepada Boy.
“Bagaimana pengantin pria apakah sudah siap?” Penghulu bertanya. Dijawab oleh Boy,- “siap?” seraya mengangguk mantap.
“Bagaimana dengan pengantin wanita? Apakah kamu sudah siap dengan pernikahan ini? Tidak ada keterpaksaan ‘kan?” Kali ini beralih pada Naira—yang langsung dijawab dengan gelengan pelan.
Dan ijab kabul pernikahan pun digelar.
“Bagaimana para saksi, sah?”
“Sah!”
“Sah!”
“Sah!”
“Saahhh!!!” Menjawab serentak. Pertanda status dara Naira sudah tertanggalkan. Berganti menjadi status Istri dari seorang Boy William’s.
***
“Maafkan, Naira, Pak.”
“T- tidak… bukan seperti itu, Nai. Bukan kau yang harusnya meminta maaf. Tapi Bapak.” Andi menggeleng cepat, pertanda tidak terima dengan ucapan Naira. “Ini semua salah, Bapak. Harusnya waktu itu Bapak tidak mengiyakan tentang perjodohan ini. Sehingga kau bisa bebas menentukan masa depanmu sendiri.” bohong Andi.
Kejujuran memang yang utama. Itu prinsipnya selama ini dalam menjalani hidup. Namun, kali ini harus berbohong karena berbagai hal. Bukan karena tidak ingin namanya tercoreng. Hanya saja ia belum siap jika harus dibenci serta dipersalahkan oleh Naira.
Egois. Sepertinya kalimat itu pantas disematkan terhadapnya. Tidak hanya karena harta. Tapi ini semua juga demi kebaikan Naira. Bersama Boy, Andi yakin putrinya akan bahagia. Meskipun ia tahu ada misi disebaliknya, mengingat Boy yang terkesan sangat buru-buru dalam menikahi Naira.
Naira menatap lamat wajah Andi. Meski sudah tau kebohongan yang di-utarakan oleh Ayahnya. Tetap saja gadis muda itu tidak lantas mengutarakan kekecewaan atas apa yang sudah ia ketahui.
Ia memilih diam, dengan harapan suatu saat Andi akan jujur. Tidak pun sebenarnya tidak mengapa, karena apa yang saat ini sudah terjadi kepadanya pasrah ia anggap merupakan takdi Tuhan.
“Terimakasih, Bapak. Selama ini Bapak sudah sangat baik terhadap Naira. Mamak juga. Jika bukan karena kalian berdua, maka mungkin saat ini Nai tidak akan ada disini. Nai tidak apa-apa, Pak. Nai senang atas pernikahan ini. Nai minta sama Bapak dan Mamak, doakan Naira agar pernikahan Nai sakinah, mawaddah, warrahmah. Meski Nai baru mengenal Bang Boy. Tapi Nai akan tulus menjalani pernikahan ini. Nai akan berusaha menjadi istri patuh, yang selalu mengabdikan hidup padanya.”
Linangan air mata tercurah. Tidak mampu dibendung. Bukan hanya terhadap Naira tapi juga Andi yang dipenuhi rasa bersalah. Merangkul tubuh Naira, mendekapnya erat. Seakan ingin meminta maaf. Tapi tentu sama sekali tidak terucap.
Rasanya cukup sulit. Biarlah ia simpan semua kebohongan ini. Andi pikir mungkin rahasianya ini akan baik untuk Naira. Bukan hanya menghindarinya pada kebencian. Tapi juga demi kebaikan pernikahannya.
“Apa kalian sudah selesai?” tanya Boy tiba-tiba saja datang menghampiri Naira—yang tentu seketika mencuri atensi dari sepasang Bapak dan Anak itu.
Andi mengangguk. “Ya, sudah.” seraya bergerak mundur dua langkah menjauhi Naira.
Sementara gadis itu tidak menjawab. Hanya terdiam mematung menatap sosok bergelar suami yang ada dihadapannya.
“Kalau begitu pulanglah. Atau mungkin masih mau tetap di sini? Silakan saja, nanti saya akan menyuruh pelayan untuk menemani anda,” kata Boy terdengar tidak enak.
Geram? Tentu saja. Ucapan Boy barusan dinilai sangat tidak pantas oleh Naira. Bagaimanapun Andi Mayora merupakan orangtuanya, meski angkat. Tetap saja sebagai menantu yang baik ia harusnya segan, hormat.
‘Ck, bagaimana aku bisa lupa? Bukankah aku ini telah dibeli olehnya?’ batin Naira. Tidak berani langsung bersuara. Hanya bisa menatap sekilas tanpa berani menunjukkan ketidaksenangannya.
Bersambung.