Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Malah Tidur
Frans memberikan bundel skripsinya dengan tangan yang sedikit gemetar, Abi membuka bab empat bagian analisis data dan membolak-baliknya, matanya yang tajam seolah mampu mendeteksi kesalahan tipografi bahkan sebelum ia membaca kalimatnya secara utuh.
"Frans, lihat grafik di halaman 112," ucap Abi sambil melingkarinya dengan pulpen.
"Variabel lead time yang kamu masukkan di sini tidak sinkron dengan tabel distribusi di lampiran. Jika input datanya cacat, maka seluruh simulasi antreanmu di bab lima akan runtuh. Hitung ulang bagian ini menggunakan metode monte carlo yang lebih valid, saya tidak mau melihat asumsi kira-kira di skripsi teknik," lanjut Abi.
Frans mencatat dengan cepat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Baik, Pak. Segera saya perbaiki," jawab Frans.
Beralih pada Ranti, Abi mengerutkan kening saat membaca lembar demi lembar hasil penelitiannya tentang ergonomi kerja di sebuah pabrik tekstil.
"Ranti, kamu membahas tentang tingkat kelelahan operator, tapi di sini kamu tidak mencantumkan suhu lingkungan kerja sebagai variabel kontrol," kritik Abi dengan suaranya yang rendah namun menusuk.
"Maksudnya, Pak?" tanya Ranti.
"Bandung memang dingin, tapi area mesin weaving itu panas. Bagaimana kamu bisa menyimpulkan produktivitas turun karena desain kursi jika kamu mengabaikan faktor termal? Tambahkan data suhu dan kelembapan, ambil data primer besok dan jangan pakai data sekunder yang sudah kedaluwarsa," ucap Abi.
Ranti hanya bisa mengangguk pasrah, ia tahu berdebat dengan Abi hanya akan menambah daftar revisinya. Terakhir adalah Putri, dibandingkan kedua temannya, draf Putri terlihat paling banyak coretan merah dari bimbingan sebelumnya, Abi menatap Putri cukup lama sebelum berbicara.
"Progresmu bagus, Putri. Penulisanmu sudah mulai sistematis," ucap Abi.
Tentu saja ucapan Abi membuat Putri sangat bahagia, di mana Abi sendiri terkenal dengan ucapan pedasnya, karenanya ucapan Abi kali ini sudah setara dengan pujian luar biasa bagi mahasiswa Fakultas Teknik.
"Tapi, perhatikan sitasi di bab keempat. Kamu masih banyak menggunakan sumber dari blog pribadi, ganti dengan jurnal internasional bereputasi minimal Q2. Saya ingin skripsi bimbingan saya punya basis literatur yang kuat," ucap Abi.
"Baik, Pak," jawab Putri.
"Maaf sebelumnya, Pak. Apa kira-kira bulan depan kami bisa langsung daftar sidang akhir jika sudah merevisi ini?" tanya Frans.
"Tidak, saya belum mengizinkan kalian untuk mendaftar sidang akhir. Karena saya rasa kalian belum menguasai permasalahan yang sedang kalian angkat dalam skripsi kalian, saya ingin kalian menyelesaikan dulu, nanti saya yang akan menentukan kalian layak untuk sidang akhir atau tidak," ucap Abi.
Suasana di ruangan itu mendadak sunyi senyap, ucapan Abi yang lugas dan tanpa basa-basi barusan terasa seperti siraman air es yang membekukan harapan Frans, Ranti dan Putri. Beberapa Dosen senior yang duduk tak jauh dari sana sempat melirik sekilas lalu kembali pada kesibukan masing-masing, seolah sudah terbiasa mendengar perkataan dingin dari Abi.
Wajah Frans yang tadinya penuh harap kini berubah pias, ia menatap bundel skripsinya yang penuh coretan tinta merah dan merasa usahanya selama berbulan-bulan seolah belum ada harganya di mata Abi.
"Tapi, Pak... Data simulasi saya sudah berjalan 90%. Jika saya perbaiki lead time-nya minggu ini, apakah masih belum cukup untuk mengejar pendaftaran sidang bulan depan?" tanya Frans.
Abi menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Frans dengan tatapan datar namun menekan.
"Teknik bukan soal hampir stabil atau mengejar waktu, Frans. Kamu sedang merancang sistem produksi dan di dunia nyata, kesalahan input 10% yang kamu anggap sepele itu bisa merugikan perusahaan miliaran rupiah atau bahkan membahayakan nyawa operator. Saya tidak akan melepas kalian ke meja sidang hanya untuk dipermalukan penguji karena logika dasar yang cacat," ucap Abi, suaranya terdengar rendah namun setiap katanya terucap dengan artikulasi yang tajam.
Putri menunduk dalam dan meremas ujung almamaternya, pujian tentang progresnya tadi seketika menguap, digantikan rasa malu yang karena ia tahu dosen-dosen lain, termasuk Pak Broto dan Bu Dhina yang dikenal ramah sedang berada di ruangan tersebut dan mendengar kritik tajam Abi.
"Kami mengerti, Pak," ucap Putri pelan, bahkan hampir tak terdengar.
"Bagus kalau kalian mengerti," ucap Abi sembari merapikan tumpukan draf di mejanya dan mengisyaratkan bahwa sesi bimbingan telah berakhir.
"Perbaiki apa yang saya minta, fokus pada kualitas, bukan pada tanggal sidang. Jika kalian hanya mengejar gelar tanpa menguasai isi kepala sendiri, ijazah kalian hanya akan jadi kertas sampah di industri nanti, silakan keluar," lanjut Abi.
Ketiganya berdiri serempak dan membungkuk sopan dengan sisa-sisa harga diri yang menciut, lalu melangkah keluar ruangan dengan bahu yang merosot. Begitu pintu ruang Dosen tertutup di belakang mereka, Ranti langsung bersandar di dinding koridor dan mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi.
"Gila... jantung gue mau copot," gue Ranti sambil mengusap dadanya.
"Dengar nggak tadi? Ijazah jadi kertas sampah, nyelekit banget sumpah," ucap Frans
"Tapi Pak Abi ada benernya," ucap Putri pelan, meski matanya masih nampak berkaca-kaca.
"Gue terlalu fokus pengen cepat lulus sampai sumber jurnalnya asal-asalan, Pak Abi nggak mau kita cuma lulus, Pak Abi mau kita jadi engineer beneran," lanjut Putri.
...###...
Disisi lain, di apartemen yang kedap suara itu, sayup-sayup suara azan dari masjid di sekitar area pusat kota Bandung menembus kaca jendela besar dan membangunkan Shanum dari tidur nyenyaknya.
Ingatan tentang pelukan erat Abi pun memenuhi pikiran Shanum dan membuat wajahnya seketika memanas lalu ia menoleh ke samping, namun sisi ranjang itu sudah kosong dan rapi dan hanya menyisakan aroma kayu cendana yang masih tertinggal di bantal. Saat ia bangun untuk duduk, matanya menangkap secarik kertas di atas nakas, lalu ia membacanya.
Saat Shanum membaca deretan kalimat tegas dengan tulisan tangan yang rapi dan maskulin itu, jantung Shanum berdesir. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya melihat perhatian kecil dari suaminya, namun seketika perasaan itu tertutup oleh rasa bersalah yang menghimpit.
"Astagfirullah... Mas Abi berangkat kerja, aku malah tidur," gumam Shanum pelan.
Shanum melirik jam digital di nakas yang menunjukkan pukul 12.30 siang, ia segera menyibak selimut dan merasa menjadi istri yang sangat lalai. Seharusnya ia yang menyiapkan keperluan Abi, menyetrika kemejanya atau setidaknya mencium tangannya sebelum pria itu berangkat ke kampus.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Abi berangkat dalam sunyi agar tidak mengganggu tidurnya, lalu ia segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan salat Zuhur.
Setelah salat, Shanum pun memutuskan untuk pergi ke dapur. Namun, sesampainya di dapur, ia hanya berdiri mematung di depan lemari es dua pintu yang menjulang tinggi di dapur apartemen yang serba canggih ini.
Setelah mengeluarkan wadah berisi fuyunghai dan tumis buncis sisa semalam, Shanum mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dapur yang didominasi material stainless steel dan marmer hitam.
"Microwave... yang mana ya?" gumam Shanum pelan.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊