Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Cinta dan Sangkar Emas
Pagi itu, Jakarta kembali berselimut kabut polusi yang tipis, namun di dalam unit apartemen mewah Laras, udara terasa sangat dingin bukan karena mesin pendingin ruangan, melainkan karena keheningan yang menyesakkan. Laras melangkah masuk dengan kaki yang terasa ringan namun hati yang berat. Ia mengenakan kemeja kebesaran milik Elang yang semalam diberikan kepadanya, sebuah simbol kepemilikan yang kini melilit tubuhnya seperti kulit kedua.
Di ruang tengah, Maya tampak baru saja terbangun. Rambutnya berantakan, dan wajahnya menunjukkan sisa-asisa kelelahan akibat amarah semalam. Ia sedang menyesap kopi hitam di meja makan saat matanya menangkap sosok Laras yang baru saja muncul dari balik pintu depan.
Maya tertegun sejenak, menatap Laras dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya tertuju pada kemeja pria yang dikenakan sahabatnya. Ia meletakkan cangkirnya dengan denting keras yang menggema di ruangan yang sunyi itu.
"Jadi, kamu baru pulang?" suara Maya serak, namun ketajaman nadanya tidak hilang. "Atau aku harus bertanya, apakah kamu baru saja keluar dari 'kandang' singa itu?"
Laras tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju dapur, menghindari kontak mata dengan Maya. Ia merasa setiap inci tubuhnya masih membawa sisa-sisa aroma Elang—aroma yang membuatnya merasa aman namun sekaligus merasa bersalah di hadapan sahabatnya.
"Laras! Aku bicara padamu!" Maya berdiri, langkahnya cepat mendekati Laras. Ia memutar bahu Laras agar menghadapnya. "Lihat aku. Kamu sadar tidak apa yang sedang terjadi? Kamu diperlakukan seperti pajangan, Ras! Semalam dia mengusirku seolah aku ini sampah, dan kamu hanya diam?"
"Dia tidak mengusirmu, May," suara Laras lembut, nyaris seperti bisikan. "Dia memperbolehkanmu tetap di sini. Dia hanya... dia hanya ingin aku fokus."
Maya tertawa pahit, tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya. "Fokus? Fokus menjadi tawanannya? Laras, bangun! Ini bukan cinta. Ini obsesi gila. Pria seperti Elang Dirgantara tidak melihat wanita sebagai pasangan. Dia melihatmu sebagai properti. Hari ini kamu dipuja karena kamu cantik dan menari dengan indah. Tapi apa yang terjadi tahun depan? Dua tahun lagi? Saat dia menemukan 'berlian' lain yang lebih berkilau?"
Maya mencengkeram lengan Laras, matanya memancarkan keputusasaan yang tulus. "Ayo kita pergi, Ras. Mumpung dia sedang tidak di sini. Aku sudah mengemas beberapa barang penting. Kita bisa lari ke Bandung, ke tempat saudaraku. Kita hilangkan jejak. Kita kembalikan uang DP itu pelan-pelan. Aku tidak mau melihatmu berakhir di tempat sampah saat dia sudah bosan padamu."
Laras terdiam. Ia menatap tangan Maya yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap pemandangan kota dari jendela besar apartemen itu. Di kejauhan, ia bisa melihat gedung perkantoran Elang yang berdiri tegak dan mendominasi cakrawala.
"Aku tidak bisa, May," jawab Laras lirih.
"Kenapa? Kamu takut padanya? Aku akan melindungimu!"
"Bukan karena takut," Laras melepaskan tangan Maya dengan lembut. "Tapi karena aku percaya padanya. Dia bilang... dia tidak akan pernah membuangku. Dan aku merasakannya, May. Perhatiannya, cara dia menjagaku, bahkan cara dia memohon padaku semalam... itu bukan akting."
Laras teringat momen di mana Elang mengakui ketakutannya sendiri. Monster di dalam diri Elang hanya tunduk pada kelembutan Laras. Bagaimana mungkin ia meninggalkan pria yang seumur hidupnya ternyata merasa kesepian di puncak kekuasaannya?
"Dia memberiku semua yang aku butuhkan, May. Keamanan, kenyamanan, bahkan tempat untuk menari tanpa harus diganggu oleh preman-preman atau orang-orang yang hanya ingin memanfaatkanku. Di sini, aku merasa berharga."
Maya mundur beberapa langkah, menatap Laras dengan tatapan yang seolah-olah ia sedang melihat orang asing. Kegusaran mulai merayap di wajahnya, berganti menjadi kecurigaan yang gelap.
"Berharga? Kamu bilang berharga?" Maya meninggikan suaranya. "Laras, kamu sudah dicuci otak! Kamu bukan Laras yang aku kenal. Laras yang aku kenal adalah pejuang, dia tidak akan menyerahkan kebebasannya hanya untuk kasur empuk dan baju mahal!"
Maya memperhatikan wajah Laras yang tampak lebih berseri namun ada semu merah yang berbeda di pipinya. Matanya menyipit, pikirannya melayang pada fakta bahwa Laras tidak pulang semalam dan sekarang mengenakan pakaian Elang.
"Tunggu dulu..." Maya melangkah maju lagi, suaranya kini merendah, penuh dengan tuduhan. "Apa yang terjadi semalam, Ras? Apa yang dia lakukan padamu di atas sana?"
Laras tersipu, ia memalingkan wajahnya. "Kami hanya bicara, May. Dan... sedikit berbagi perasaan."
"Sedikit berbagi perasaan?" Maya mendesis. "Jangan bilang kamu sudah menyerahkan segalanya padanya? Jangan bilang kamu sudah melakukan... hal-hal terlarang itu? Kamu masih polos, Ras! Kamu menjaga dirimu selama bertahun-tahun hanya untuk menyerahkannya pada pria posesif yang baru kamu kenal beberapa minggu?"
"May, jangan bicara begitu! Itu tidak benar!" seru Laras, matanya mulai berkaca-kaca.
"Lalu kenapa kamu begitu patuh? Kenapa kamu membela dia mati-matian padahal dia memperlakukanmu seperti budak eksklusif?" Maya menunjuk ke arah kamar. "Atau mungkin dia memberikanmu sesuatu? Obat? Atau dia mengancammu dengan hal yang sangat mengerikan hingga kamu tertawan secara batin?"
Maya memegang kepalanya, merasa frustrasi. "Ini gila. Kamu seperti tawanan yang jatuh cinta pada penculiknya. Stockholm Syndrome, itu namanya! Kamu tertawan oleh sentuhannya, ya? Dia menggunakan tubuhnya untuk mengikatmu agar kamu tidak bisa lari?"
Laras merasakan hatinya tercubit. Ketulusannya diragukan oleh orang yang paling ia percayai. "Tidak ada yang mencuci otakku, May. Dan tidak ada hal terlarang yang terjadi semalam. Kami hanya... kami hanya mencoba memahami satu sama lain. Dia menjagaku dengan caranya sendiri, dan aku menerimanya."
Maya menatap Laras dengan rasa kasihan yang mendalam, yang justru membuat Laras merasa terhina. "Kasihan kamu, Ras. Kamu pikir perhatiannya itu cinta? Itu hanya cara dia memastikan 'barangnya' tidak rusak. Dia tidak akan membuangmu sekarang karena kamu masih baru. Tapi tunggu saja sampai kamu melakukan satu kesalahan kecil lagi. Dia akan menghancurkanmu."
Laras menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia tahu Maya bicara karena peduli, namun Maya tidak melihat apa yang ia lihat. Maya tidak mendengar detak jantung Elang yang liar saat memeluknya. Maya tidak melihat air mata yang hampir jatuh dari mata Elang saat memohon agar Laras tidak melanggar aturan lagi.
"Mungkin di matamu ini adalah sangkar, May," ucap Laras dengan nada yang sangat stabil dan tenang. "Tapi bagiku, dunia di luar sana jauh lebih kejam. Di luar sana, aku hanya seorang penari panggilan yang bisa disentuh siapa saja, yang harus banting tulang hanya untuk makan esok hari. Di sini... meskipun ada jeruji emas, aku merasa dicintai."
Laras berjalan menuju kamarnya, namun ia berhenti di ambang pintu dan menoleh ke arah Maya. "Aku tetap di sini, May. Bukan karena aku dicuci otak, tapi karena aku memilih untuk tinggal. Jika kamu tidak bisa menerimanya, aku tidak akan memaksamu. Tapi tolong, jangan hina perasaanku padanya."
Laras masuk ke kamar dan menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Maya yang berdiri sendirian di ruang tengah yang luas.
Maya jatuh terduduk di kursi makan, tangannya gemetar. Ia merasa telah kehilangan sahabat terbaiknya. Baginya, Laras telah benar-benar tertawan—bukan oleh rantai besi, melainkan oleh kasih sayang posesif yang diberikan Elang Dirgantara.
"Kamu salah, Ras," bisik Maya pada kesunyian. "Cinta tidak seharusnya mematikan sayapmu. Dia tidak mencintaimu... dia hanya ingin memilikimu seperti dia memiliki gedung-gedung tinggi itu."
Di dalam kamar, Laras menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia memegang dadanya yang masih berdebar. Ia tahu perjalanannya dengan Elang akan sangat sulit. Akan ada banyak orang yang tidak mengerti. Namun, saat ia mencium aroma kemeja yang ia kenakan, rasa yakin itu kembali muncul. Elang adalah perlindungannya, dan ia akan membuktikan pada dunia—dan pada Maya—bahwa Sang Elang tidak akan pernah membiarkannya jatuh.
Laras merebahkan dirinya di tempat tidur, memejamkan mata, dan membayangkan pelukan Elang semalam. Di luar, Maya mulai merencanakan sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan menjadi awal dari badai baru dalam hubungan Laras dan Elang.