"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Aku melangkah mantap, seolah Guntur yang berdiri di dekat mading itu hanyalah pajangan mati yang tak punya arti. Aku bisa merasakan tatapannya menusuk samping wajahku, mungkin dia menunggu aku berhenti, meledak, atau setidaknya memandangnya dengan benci. Tapi tidak. Aku terus berjalan lurus, pandanganku terkunci pada pintu kelas X-IPS 2 di ujung lorong. Melewatinya tanpa satu pun kedipan mata adalah kemenangan kecil yang terasa pahit namun memuaskan.
Begitu kakiku menginjak lantai kelas, suasana riuh mendadak agak mereda. Di sudut meja depanku, seseorang sudah menunggu.
"Lama banget dari toiletnya, Fis?"
Itu Bintang. Cowok dengan senyum cerah yang beberapa bulan ini kujadikan pelarian untuk membunuh rasa sepi akibat kedinginan Guntur. Dia berdiri, menyodorkan sekotak susu coklat dingin yang masih berembun ke arahku.
"Nih, buat kamu . Tadi aku liat kamu kayak kurang semangat pas masuk sekolah," ucap Bintang tulus. Tangannya terulur mengacak rambutku pelan—gerakan yang biasanya membuatku merasa bersalah karena aku tahu hatiku belum sepenuhnya untuknya.
Aku menerima susu itu, merasakan dinginnya merambat ke telapak tanganku. "Makasih, Bin. kamu kok ke sini? Kelas kamu kan udah masuk bentar lagi."
"Sengaja. Pengen mastiin pacar aku nggak telat minum manis-manis biar nggak galau," candanya, meski matanya yang jeli sepertinya menangkap sisa-sisa bengkak di mataku. "Fis, kalau ada apa-apa, kamu tahu kan bisa cerita ke aku ? Jangan dipendem sendiri."
Aku menatap Bintang. Di depanku ada laki-laki yang memberikan kehangatan tanpa diminta, sementara di luar sana, orang-orang yang kupercaya justru berkomplot menghancurkanku. Rasa bersalah itu muncul lagi, tapi kali ini bercampur dengan rasa syukur yang aneh.
"aku nggak papa, Bin. Cuma kurang tidur aja," bohongku sambil memaksakan senyum tipis.
Bintang terdiam sejenak, menatapku lurus. "aku denger soal Guntur dan Fita tadi di parkiran, Fis. Satu sekolah kayaknya udah mulai bisik-bisik."
Jantungku mencelos. Jadi sudah sejauh itu?
"Fis," Bintang meraih jemariku yang memegang kotak susu, suaranya merendah. "aku tahu kamu belum sepenuhnya ada rasa sama aku,aku juga tahu dulu kamu Deket sama guntur,tapi aku akan disini fis nungguin kamu "
Tepat saat itu, aku melihat Guntur berjalan melewati pintu kelas kami. Dia sempat melirik ke dalam, melihat tangan Bintang yang menggenggam tanganku. Ada kilat kemarahan di matanya yang biasanya datar, namun dia terus berjalan pergi.
Aku menatap punggung Guntur yang menjauh dari ambang pintu kelas. Kilat kemarahan di matanya tadi sempat membuat dadaku berdenyut, tapi aku segera menekannya dalam-dalam. Tidak ada gunanya peduli pada perasaan laki-laki yang sudah memilih orang lain.
Aku beralih menatap Bintang. Genggaman tangannya hangat, kontras dengan susu kotak dingin yang kupegang. Kalimatnya barusan—tentang dia yang bersedia menunggu meski tahu dia hanya pelarian—membuat rasa bersalahku semakin menghimpit. Dia terlalu baik untuk berada di tengah drama yang berantakan ini.
"Makasih ya, Bin. Susunya, dukungannya... semuanya," ucapku pelan sambil melepaskan tanganku dari genggamannya dengan halus. "Tapi mending kamu balik ke kelas sekarang. Sebentar lagi bel masuk, kan? Kelas XI-IPA 1 jauh dari sini, nanti kamu telat."
Bintang tampak ragu. Dia menatapku seolah ingin memastikan aku tidak akan hancur begitu dia berbalik. "Kamu beneran nggak papa? Aku bisa bolos jam pertama kalau kamu butuh temen ngobrol, Fis."
Aku menggeleng mantap, mencoba mengulas senyum paling meyakinkan yang kupunya. "Aku perlu waktu sendiri buat mikir, Bin. Jangan bolos cuma karena aku, ya? Aku nggak mau nambah beban pikiran lagi."
Bintang menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. "Oke. Tapi janji, kalau ada apa-apa atau kalau mereka—Guntur atau Fita—ganggu kamu lagi, langsung telepon aku. Aku nggak bakal diem aja."
"Iya, janji," sahutku singkat.
Bintang mengacak rambutku sekali lagi sebelum akhirnya melangkah keluar kelas. Aku memperhatikannya sampai dia menghilang di belokan koridor. Begitu dia pergi, bahuku seketika merosot. Ketegaran yang tadi kupasang di depan Guntur dan kelembutan yang kubiarkan di depan Bintang terasa sangat melelahkan.
Aku duduk di bangkuku, menusukkan sedotan ke kotak susu coklat itu dan meminumnya rakus. Rasanya manis, tapi entah kenapa tenggorokanku tetap terasa pahit.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2