Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Pukul sembilan malam hampir tiba ketika Rionegro akhirnya menutup laptopnya.
Lampu apartemen masih menyala setengah redup, hanya cukup terang untuk menampilkan bayangan samar furnitur modern yang tertata rapi. Tidak banyak dekorasi. Tidak ada benda yang benar-benar berlebihan. Semuanya terasa fungsional, terukur, dan... sedikit terlalu tenang.
Ia berdiri dari kursinya, merapikan lengan kemeja hitam yang baru saja ia kenakan. Kancing terakhir ia rapikan dengan gerakan yang terbiasa, tidak terburu-buru, tapi juga tidak berlama-lama.
Rionegro bukan tipe orang yang sering pergi ke club.
Bukan karena ia tidak suka suasana ramai. Lebih tepatnya, ia jarang merasa perlu berada di sana.
Sebagian besar waktunya sudah cukup diisi oleh rutinitas yang jelas—mengajar, meneliti, membaca, menghadiri rapat, atau sekadar menikmati waktu sendiri dengan musik pelan yang hampir tidak terdengar.
Namun malam ini sedikit berbeda. Revano—sepupunya sudah menghubunginya sejak kemarin pagi.
Dan entah bagaimana alasannya, Rionegro tidak langsung menolak ajakan itu seperti biasanya.
Ia mengambil jam tangan dari meja samping tempat tidur. Memakainya dengan gerakan otomatis, seperti bagian dari ritual kecil sebelum keluar rumah.
Pantulan dirinya di cermin terlihat rapi seperti biasa. Kemeja hitam, celana panjang gelap, sepatu yang bersih tanpa noda. Rambutnya sudah disisir rapi, tetap mempertahankan kesan sederhana tapi terawat. Tidak berlebihan. Dan tidak mencolok. Tapi cukup untuk terlihat pantas di hampir semua situasi.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Layar menyala hampir bersamaan dengan getaran singkat.
Nama Revano muncul di layar.
Rionegro mengangkat alis tipis. Seolah sudah bisa menebak isi pembicaraan sebelum telpon itu dijawab.
Ia menekan tombol terima.
“Halo.”
Suara Revano langsung terdengar dari seberang dengan nada santai yang sudah sangat familiar. “Lo jadi kan?”
Rionegro berjalan menuju meja kecil dekat pintu masuk apartemennya, mengambil kunci mobilnya.
“Jadi.” balas Rionegro singkat
“Lama banget anjir,” komentar Revano ringan. “Kita udah lengkap semua di sini. Tinggal nunggu lo doang.” tambahnya lagi.
Rionegro tersenyum tipis, meskipun tidak ada yang melihat. “Gue baru mau berangkat.”
“Baru mau?” Revano terdengar setengah protes, setengah bercanda.
“Iya.”
“Jam sembilan, bro.” kata Revano agak protes dengan nada bercanda.
“Masih jam sembilan kurang lima.” Jelas Rionegro cepat.
Revano terkekeh pelan di seberang sana.
“Yaudah lah. Pokoknya nanti langsung bilang aja ke petugasnya, ruang VIP atas nama Salvatore.” kata Revano pasrah dengan nada yang dibuat seakan lelah dengan sikap Rionegro.
Rionegro mengangguk kecil meskipun Revano tidak bisa melihatnya.“Oke.”
Ia mematikan lampu ruang tengah, menyisakan cahaya lembut dari lampu dekat pintu. Tangannya sudah meraih gagang pintu ketika ia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Axel ikut?” tanya Rionegro.
Revano langsung menjawab cepat.
“Ikut lah. Dia malah yang mesenin ruang VIP-nya.”
Rionegro menghela napas kecil. “Pantes.”
Revano tertawa pelan.“Lo tau sendiri dia kalau soal beginian paling niat.”
“Hmm.”
Rionegro membuka pintu apartemennya, melangkah keluar ke lorong yang sunyi.
Suara langkahnya terdengar pelan di lantai marmer yang bersih.
“Lo sendirian ke sini?” tanya Revano lagi.
“Iya.” balas Rionegro singkat.
“Nggak ada kerjaan mendadak kan malam ini?” tanya Revano kembali.
“Nggak.” jawab Rionegro sambil menggeleng meskipun tidak terlihat oleh Revano.
“Wiihh, Tumben hidup lo nggak diambil alih kerjaan.” Canda Revano dengan tawa kecil terdengar.
Rionegro tersenyum tipis lagi.“Sekali-sekali.”
“Wah harus dicatet tanggalnya nih,” kata Revano santai dan penuh canda.
Rionegro berjalan menuju lift, menekan tombol turun.
Pintu lift terbuka tidak lama kemudian. Ia masuk, berdiri di sudut seperti biasa.
“Yang lain udah pada datang?” tanya Rionegro.
“Udah. Axel, Jevano, sama kakak lo Alexandee juga udah di atas.” jawab Revano.
“Hm.”
“Sepupu-sepupu sama kakak lo ini udah pada nanyain lo ke mana,” tambah Revano.
Rionegro menghembuskan napas pelan. “Gue juga baru selesai.”
“Memangnya dosen sibuk,” goda Revano.
“Bukan sibuk.” balas Rionegro cepat.
“Terus?” tanya Revano dengan nada menggoda.
“Prioritas.” Jawab Rionegro singkat.
Revano tertawa kecil. “Iya iya, prioritas.”
Lift berhenti di lantai basement. Pintu terbuka pelan.
Rionegro melangkah keluar, berjalan menuju mobilnya yang terparkir di sudut.
Suasana basement cukup sepi malam itu. Lampu putih memantulkan bayangan samar di permukaan mobil.
“Lo udah makan?” tanya Revano kembali penuh basa-basi, masih belum menutup pembicaraan.
“Udah.” jawab Rionegro.
“Di apartemen lo?” tanya Revano lagi
“Iya.” jawab Rionegro lagi.
“Sehat banget hidup lo.” kata Revano bercanda.
“Normal.” balas Rionegro singkat dan padat.
Revano mendecak pelan. “Kita ke club, lo bilang hidup lo normal.”
Rionegro membuka pintu mobilnya.“Normal relatif.”
“Filosofis banget jawaban lo.” kata Revano berdecak kecil mendengar jawaban Rionegro.
Rionegro duduk di kursi pengemudi. Menutup pintu mobil. Suara dunia luar langsung teredam.
“Yaudah, buruan ke sini,” kata Revano.
“Iya.”
“Jangan nyasar.” kata Revano mengingatkan.
“Gue tau tempatnya.”
“Siapa tau lo lupa jalan karena udah lama nggak ke club.” balas Revano dengan terkekeh kecil.
Rionegro menyalakan mesin mobilnya sambil berkata pelan “Masih inget.”
“Good, kita tunggu” kata Revano menutup percakapan mereka.
Beberapa detik hening. Nada percakapan tetap ringan. Tidak ada topik penting. Tidak ada pembahasan serius. Hanya basa-basi santai yang terasa familiar.
“Drive safe,” kata Revano akhirnya.
“Iya.”
“Udah ya. gue tutup telponnya” Kata Revano yang ingin menutup telpon mereka.
“Hmm.”
Kemudian telpon ditutup oleh Revano.
Mobil mulai bergerak keluar dari basement apartemen.
Lampu jalan sudah menyala terang, memantulkan warna kuning hangat di aspal yang mulai terlihat sedikit lembap. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Rionegro memandang lurus ke depan, tangannya stabil di kemudi. Radio mobil menyala pelan, hanya musik instrumental ringan yang hampir tidak terdengar jelas.
Langit malam tampak lebih gelap. Awan tebal menutupi sebagian besar bintang. Bulan terlihat samar, seperti bersembunyi di balik lapisan tipis warna abu-abu gelap.
Ia sempat melirik ke atas saat berhenti di lampu merah.
Instingnya mengatakan kemungkinan besar akan hujan nanti malam. Mungkin tidak sekarang. Mungkin lewat tengah malam. Tapi aroma udara yang sedikit berat terasa cukup jelas.
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Beberapa menit kemudian, Rionegro melihat minimarket yang masih buka di sisi jalan.
Ia hampir melewatinya.
Namun beberapa detik kemudian, ia justru menyalakan lampu sein dan berbelok masuk ke area parkir kecil di depan minimarket tersebut.
Ia sendiri tidak langsung menyadari kenapa ia berhenti. Padahal sebenarnya ia tidak benar-benar membutuhkan apa-apa. Tapi bayangan langit mendung tadi masih terlintas di pikirannya.
Ia mematikan mesin mobil, turun, lalu berjalan masuk ke dalam minimarket.
Pendingin ruangan langsung terasa begitu pintu kaca terbuka. Suasana di dalam cukup sepi. Hanya ada satu kasir yang sedang berdiri sambil memainkan ponselnya.
Rionegro berjalan pelan menyusuri lorong.
Matanya langsung menemukan rak payung. Beberapa pilihan warna tergantung rapi. Ia mengambil satu payung hitam berukuran besar yang muat untuk dua orang.
Pilihan paling netral. Tapi alisnya sedikit berkerut. Ia sendiri menyadari tindakan itu terasa sedikit tidak perlu.
Untuk apa payung besar untuk dipakai dua orang?
Ia hampir mengembalikan payung tersebut kembali ke rak nya. Namun entah kenapa, tangannya tetap menggenggam payung tersebut. Mungkin karena kebiasaan berpikir praktis.
Jika hujan benar-benar turun deras, payung besar akan lebih berguna.
Logis.
Ia berjalan sedikit lebih jauh, menuju rak jas hujan.
Beberapa pilihan jas hujan plastik tergantung di sana. Transparan, biru tua, hitam.
Ia mengambil satu jas hujan berwarna gelao. Lalu berhenti lagi. Tangannya kembali mengambil satu lagi. Ukurannya sama dengan ukuran jas hujan sebelumnya tapi dengan warna lebih terang.
Rionegro menatap benda itu beberapa detik.
Insting kecil yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami sempat muncul. Namun ia segera mengabaikannya.
Alasan logis jauh lebih mudah diterima. Mungkin salah satu sepupunya akan mabuk malam ini. Dan kemungkinan besar ia akan meminjam jas hujan tersebut.
Jas hujan cadangan bisa berguna. Payung besar juga tidak akan sia-sia. Keputusan praktis. Tidak lebih.
Ia berjalan menuju kasir. Kasir itu langsung berdiri lebih tegak begitu melihatnya datang.
“Malam, kak.”
Rionegro mengangguk singkat.
“Malam.”
Kasir itu mulai memindai barang satu per satu.
Bunyi bip kecil terdengar berulang.
Total harga muncul di layar.
Rionegro langsung membayar tanpa banyak bicara.
Struk kecil tercetak.
Ia mengambil kantong belanja, mengucapkan terima kasih singkat, lalu berjalan keluar.
Udara malam terasa sedikit lebih dingin dibanding saat ia masuk tadi. Angin pelan mulai bertiup. Aroma akan hujan terasa semakin jelas.
Ia membuka bagasi mobil, meletakkan kantong belanja di dalamnya. Payung besar sempat terlihat menonjol di antara barang lainnya.
Ia menutup bagasi, lalu kembali ke kursi pengemudi.
Mobil kembali menyala. Lampu depan menembus jalan yang mulai terlihat lebih sepi.
Perjalanan menuju club tidak terlalu jauh. Namun pikirannya sempat kembali melayang beberapa detik. Bukan pada club. Bukan pada sepupu-sepupunya. Bukan juga pada percakapan ringan dengan Revano tadi. Hanya perasaan samar yang sulit dijelaskan.
Seperti ada sesuatu yang akan terjadi malam ini. Perasaan yang tidak cukup kuat untuk dianggap penting. Namun cukup terasa untuk tidak sepenuhnya diabaikan.
Ia menarik napas pelan. Mencoba mengembalikan fokusnya ke jalan.
Logika selalu menjadi tempat paling nyaman baginya. Dan logikanya mengatakan malam ini tidak akan berbeda dari biasanya.
Hanya pertemuan santai. Beberapa minuman. Percakapan ringan dengan sepupu-sepupunya. Lalu pulang. Tidak lebih.
Mobil terus melaju membelah jalan kota yang mulai dipenuhi cahaya lampu malam.
Dan tanpa Rionegro sadari, langkah kecilnya berhenti di minimarket tadi akan menjadi keputusan yang jauh lebih berarti dari yang ia kira.