Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuh Emas Gelap
Begitu tubuh Shen Yuan tenggelam ke dalam kolam Cairan Sumsum Bumi, hal pertama yang menghantam kesadarannya bukanlah kehangatan, melainkan kobaran api yang tak kasat mata. Cairan berwarna kuning keemasan itu tampak tenang di permukaan, namun di bawahnya, sari pati bumi yang telah terkumpul selama berabad-abad mendidih dengan kebrutalan liar.
Aaarrrghhh!
Sebuah raungan tertahan meledak dari tenggorokan Shen Yuan. Rasanya seolah jutaan semut api yang memiliki rahang baja sedang menggigiti kulitnya, menggerogoti dagingnya, dan mengebor langsung ke dalam tulang sumsumnya. Hawa panas dari cairan itu mencoba melelehkan tubuh fananya untuk disatukan kembali dengan tanah.
"Tahan! Jangan biarkan kesadaranmu pudar!" raung Leluhur Darah di dalam lautan kesadarannya. Suara entitas kuno itu menggelegar bagai guntur, memaksa jiwa Shen Yuan untuk tetap terjaga di ambang kehancuran. "Cairan Sumsum Bumi sedang menghancurkan sisa-sisa kotoran fana di tubuhmu. Putar Sutra Penelan Surga sekarang juga! Telan rasa sakit itu! Telan sari pati bumi itu dan jadikan mereka budak dari Nadi Iblismu!"
Menggertakkan giginya hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya, Shen Yuan memaksa tangannya untuk membentuk segel kultivasi di bawah permukaan cairan emas tersebut.
Sutra Penelan Surga, Putaran Pemurnian Mutlak!
Nadi Iblis Penelan Surga di sekujur tubuhnya bergetar hebat. Bagaikan ratusan pusaran air yang rakus, pori-pori kulit Shen Yuan mulai menyedot cairan emas yang mendidih itu ke dalam tubuhnya.
Saat Cairan Sumsum Bumi bertemu dengan hawa murni iblis yang berwarna merah kehitaman, sebuah peperangan brutal terjadi di dalam tubuhnya. Dagingnya robek dari dalam, lalu disembuhkan kembali dalam sekejap mata oleh khasiat penyembuhan dari sari pati bumi, hanya untuk dirobek kembali di detik berikutnya.
Tulang belulangnya yang sebelumnya telah dibersihkan oleh Teratai Tulang Putih hingga sebening giok, kini mulai menyerap serpihan-serpihan cahaya keemasan. Suara gemeretak tulang yang terus-menerus dihancurkan dan dibentuk ulang bergema di dalam gua yang sunyi itu, terdengar sangat mengerikan bagaikan seseorang yang sedang dikunyah oleh binatang purba.
Waktu kehilangan maknanya bagi Shen Yuan. Di dalam lautan penderitaan itu, satu-satunya hal yang menopang kewarasannya adalah kebencian yang mendalam. Ia mengingat wajah angkuh Shen Tian, mengingat tatapan merendahkan Tetua Agung Shen Cangqiu, dan mengingat rasa hina saat ia diinjak di pelataran lumpur Keluarga Shen.
"Aku tidak akan mati di sini... Langit pun tidak berhak mencabut nyawaku sebelum hutang darahku terbayar!" batin Shen Yuan mengaum.
Perlahan-lahan, rasa sakit yang merobek jiwa itu mulai menyusut, digantikan oleh ledakan kekuatan fisik yang tak terlukiskan. Warna emas dari Cairan Sumsum Bumi di dalam kolam itu semakin memudar, berpindah sepenuhnya ke dalam tubuh Shen Yuan.
Di kedalaman Dantian-nya, lautan hawa murni bergolak ganas. Batas dari Ranah Penempaan Raga Lapisan Kelima yang baru saja ia capai belum lama berselang mulai retak di bawah tekanan sari pati bumi yang begitu murni dan melimpah.
Bum!
Sebuah pilar pusaran udara meledak dari kolam batu giok itu, menyapu bersih sisa-sisa jaring laba-laba di langit-langit gua. Hawa murni yang jauh lebih pekat dan berat mengalir deras ke seluruh jalur nadinya.
Ranah Penempaan Raga Lapisan Keenam!
Shen Yuan membuka matanya. Sepasang pupilnya kini memiliki kilatan emas samar di balik warna hitam pekatnya. Kolam yang sebelumnya berisi cairan kental keemasan kini telah berubah menjadi air tawar biasa yang keruh. Seluruh Cairan Sumsum Bumi telah ditelan habis!
Ia berdiri perlahan dari dalam kolam. Air menetes dari tubuhnya yang telanjang. Otot-ototnya kini tidak lagi terlihat seperti tukang pukul fana yang berotot bengkak, melainkan terbentuk dengan keseimbangan yang begitu sempurna, padat, dan mengalir bagai karya seni ciptaan dewa perang. Di bawah kulit perunggunya, sekilas terlihat kilau emas gelap yang menyiratkan kekuatan pertahanan yang mutlak.
"Kekuatan ini..." Shen Yuan mengepalkan tinjunya. Udara di sekitarnya berderak pelan, seolah tidak mampu menahan tekanan dari kepalan tangannya. "Tubuhku terasa seringan bulu, namun sekokoh gunung."
"Hehehe... Tentu saja," Leluhur Darah terkekeh puas. "Penempaan Sumsum Bumi telah selesai. Raga fanamu kini tidak lagi bisa dilukai oleh pedang atau golok baja biasa. Bahkan senjata fana tingkat tinggi sekalipun harus berpikir dua kali sebelum menebas lehermu. Untuk ukuran manusia di alam bawah yang miskin ini, tubuhmu adalah sebuah iblis pembantai yang berjalan."
Baru saja Shen Yuan hendak melangkah keluar dari kolam untuk mencari sisa kain demi menutupi tubuhnya, ketajaman telinganya menangkap suara derap langkah kaki yang mengendap-endap dari celah luar gua.
Bukan satu, melainkan tiga orang. Dan dari ketebalan hawa murni yang terpancar, salah satu dari mereka berada di Puncak Lapisan Keenam, sementara dua lainnya berada di Lapisan Kelima!
Ini jelas bukan binatang buas. Ini adalah Pasukan Bayangan Darah tingkat inti yang menyusul di rombongan kedua!
"Lihat jaring ini! Siluman Laba-laba Wajah Hantu itu sudah mati. Cangkangnya retak dan isinya mengering," sebuah suara berat berbisik dari luar. "Hanya ahli di atas Lapisan Keenam yang bisa membunuh binatang buas ini. Apakah Kapten Shen Mo yang melakukannya?"
"Tidak mungkin. Mayat Kapten Shen Mo ditemukan dua li dari sini. Intisari darahnya... dihisap habis," balas suara kedua yang bergetar penuh ketakutan. "Iblis kecil Shen Yuan itu... dialah yang melakukannya. Jejaknya mengarah ke gua ini!"
"Tutup mulutmu! Jika dia memang di dalam, ini adalah kesempatan emas kita," desis suara ketiga, yang merupakan pemimpin kelompok tersebut. "Dia pasti terluka parah setelah melawan Kapten Shen Mo dan siluman laba-laba ini. Jika kita memenggal kepalanya sekarang, hadiah seribu keping emas dan posisi Tetua Luar dari Tetua Agung akan menjadi milik kita!"
Keserakahan dengan cepat mengalahkan rasa takut. Tiga sosok berpakaian hitam menerobos masuk melalui tirai jaring yang robek.
Begitu mereka masuk, pandangan mereka langsung tertuju pada pemuda bertubuh tegap dan kokoh yang berdiri di tengah kolam batu giok yang keruh. Pemuda itu telanjang bulat, namun tidak ada sedikit pun rasa malu atau panik di wajahnya. Sebaliknya, pemuda itu menatap mereka dengan ketenangan yang menyerupai jurang maut.
"Itu dia! Shen Yuan!" teriak sang pemimpin kelompok. "Jangan beri dia kesempatan menggunakan teknik iblisnya! Serang bersamaan!"
Sang pemimpin, seorang ahli di Puncak Lapisan Keenam, menghunus pedang panjang yang memancarkan kilau perak kebiruan. Itu bukan pedang baja biasa, melainkan Pedang Pemutus Angin—sebuah senjata fana tingkat tinggi yang ditempa dengan campuran besi bintang, mampu membelah baju zirah besi seperti memotong kertas.
Dua anak buahnya di Lapisan Kelima menyerang dari sisi kiri dan kanan, menggunakan tombak bergerigi untuk mengunci pergerakan Shen Yuan.
"Mati kau, Iblis Kecil! Tebasan Angin Jatuh!"
Pemimpin kelompok itu melompat ke udara, memusatkan seluruh hawa murninya ke Pedang Pemutus Angin. Kilatan pedang itu melesat bagai petir, mengincar leher Shen Yuan yang tidak terlindungi oleh kain sehelai pun. Serangan yang begitu sempurna dan mematikan, murni untuk mencabut nyawa dalam satu gerakan.
Namun, kejadian yang akan mengukir kengerian abadi di jiwa mereka pun terjadi.
Shen Yuan tidak menghindar. Ia tidak menyilangkan tangannya untuk menangkis. Ia bahkan tidak memutar hawa murninya untuk membentuk perisai. Ia hanya membiarkan leher telanjangnya menyambut tebasan pedang fana tingkat tinggi tersebut.
Traanggg!
Sebuah suara dentingan logam yang sangat nyaring dan menyakitkan telinga bergema di dalam gua. Bunga api memercik dengan terang.
Mata sang pemimpin kelompok membelalak hingga sudut matanya robek. Tangannya mati rasa seketika, dan Pedang Pemutus Angin kebanggaannya... pedang yang konon bisa menebas batu karang tanpa menumpulkan matanya... kini melengkung hebat sebelum akhirnya patah menjadi tiga bagian saat membentur kulit leher Shen Yuan!
Tidak ada darah yang menetes dari leher Shen Yuan. Hanya ada sebuah garis putih tipis yang memudar dalam sekejap mata.
"I-Ini tidak mungkin... Pedang Pemutus Angin... patah oleh kulit telanjang...?" pemimpin kelompok itu jatuh terduduk di tepi kolam, wajahnya kehilangan seluruh warna kehidupannya. Kakinya lemas seketika. Pemuda di depannya ini bukanlah manusia!
Kedua bawahan yang memegang tombak bergerigi membeku di tempat, senjata mereka bergetar di tangan mereka yang gemetar. Keserakahan mereka menguap tanpa sisa, digantikan oleh keputusasaan mutlak.
Shen Yuan menatap potongan pedang yang jatuh ke dalam air di dekat kakinya, lalu menyeringai buas. "Cairan Sumsum Bumi benar-benar tidak mengecewakan."
Ia melangkah perlahan keluar dari kolam. Air yang menetes dari tubuhnya terdengar bagai lonceng kematian bagi ketiga pemburu tersebut.
"Sekarang giliranku," bisik Shen Yuan.
Ia tidak menggunakan Sutra Penelan Surga ataupun Tapak Penghancur Nadi. Ia hanya mengayunkan kaki kanannya ke depan, murni mengandalkan kekuatan jasmani dari tubuh emas gelapnya yang baru saja ditempa.
Wussshhh!
Udara menjerit saat kakinya membelah ruang. Tendangan itu menghantam dada sang pemimpin kelompok sebelum pria itu sempat berkedip.
Bum!
Tubuh pria di Puncak Lapisan Keenam itu meledak menjadi kabut darah di tempat. Kekuatan puluhan ribu kati dari tendangan Shen Yuan tidak hanya meremukkan tulangnya, tetapi benar-benar menghancurkan tubuhnya hingga tak tersisa.
Dua bawahan yang tersisa menjerit histeris. Mereka membuang tombak mereka dan berbalik untuk melarikan diri ke arah mulut gua.
Namun, Shen Yuan melesat lebih cepat dari bayangan. Tangan kanannya mencengkeram kepala penjaga pertama, sementara tangan kirinya meraih leher penjaga kedua. Dengan satu hentakan memutar yang santai...
Krek! Krek! Kedua tulang leher mereka patah bersamaan.
Hanya dalam waktu tiga tarikan napas, regu inti pemburu dari Keluarga Shen musnah tanpa sempat memberikan perlawanan berarti.
Shen Yuan menjatuhkan kedua mayat itu. Ia berjalan menghampiri salah satu mayat penjaga yang ukuran tubuhnya paling mendekati dirinya. Ia melucuti jubah hitam bersulam awan darah milik Pasukan Bayangan Darah itu, membuang bagian yang terkena noda darah, lalu mengenakannya.
Jubah hitam itu membalut tubuhnya yang sempurna, memberikan aura misterius dan mematikan pada pemuda berusia lima belas tahun tersebut.
Ia memungut salah satu tombak bergerigi yang tergeletak di tanah, mematahkannya menjadi seukuran tongkat pendek, lalu berjalan keluar dari gua laba-laba itu, kembali ke bawah rintik hujan dan kabut ungu.
"Tetua Agung... pasukan yang kau kirim ini terlalu lemah," gumam Shen Yuan, menatap ke arah pusat Pegunungan Kabut Beracun. "Kirimkan yang lebih kuat. Kirimkan ahli dari ranahmu. Karena sebentar lagi, darah mereka semua akan menjadi batu pijakanku menembus langit."