Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Pertemuan Dalam Kecemburuan.
Di tengah pembicaraan itu tiba-tiba saja mata Dharma tertuju pada seseorang yang datang menghampiri mereka.
"Raidan, kamu juga sudah sampai," ucap Wira.
Jantung Alea berdebar begitu kencang ketika mendengar nama Raidan di sebutkan.
"Maaf saya sedikit terlambat," ucap Raidan menundukkan kepala.
Debaran jantung itu semakin tidak terkendali ketika suara yang sudah lama tidak terdengar kembali begitu dekat terdengar di telinganya membuat Alea membalikkan tubuh secara perlahan karena sejak dari dia memang tidak melihat Raidan.
"Tatapan mata Alea tidak terkendali, terus saja menatap pria di hadapannya itu dengan jarak yang begitu dekat dan sementara Raidan tidak menatapnya dengan matanya beralih kearah lain, Raidan sepertinya sengaja menghindari pandangan itu.
"Lama tidak bertemu Raidan!" ucap Dharma dengan tersenyum.
Tangannya melingkar di pinggang Alea, dengan mendekatkan posisi Alea tetap di sampingnya. Alea tidak nyaman terlihat begitu risih, tetapi matanya tetap melihat ke arah Raidan.
"Kita jarang bertemu karena tidak ada proyek yang kita kerjakan," ucap Raidan tersenyum datar.
"Padahal kalian sama-sama berada di kantor yang sama dan anehnya kalian bisa-bisanya jarang bertemu," ucap Wira.
"Raidan terlalu sibuk. Pa, bahkan tidak punya keinginan atau niat sama sekali mengunjungi toko apartemen," sahut Dharma.
"Bagaimana mungkin Raidan mengunjungi kamu ke apartemen, sementara kamu lengket terus dengan istri kamu, kemana-mana bersama dengan Alea," sahut Liana.
"Alea sedang mengandung, jadi setiap hari bawaannya terus manja kepadaku dan ingin terus ditemani ..... benar bukan sayang?" tanya Dharma melempar pertanyaan itu dengan menatap istrinya.
Alea hanya terdiam memberikan ekspresi datang, sungguh dia sangat merindukan sosok pria di hadapanmu itu.
"Bianca," tiba-tiba saja Dharma menyapa seseorang
Seorang wanita tampak cantik dengan tubuh langsing melangkah menggunakan heels tinggi menghampiri mereka.
"Kamu baru tiba Bianca?" tanya Dharma.
"Tidak, tadi saya bersamaan datang dengan Raidan, kami satu mobil menuju tempat acara ini, tetapi saya harus ke toilet dulu," jawab Bianca.
"Tante melihat hubungan kalian berdua semakin hari semakin dekat," goda Liana.
Alea tiba-tiba saja merasa gelisah dan melihat ke arah wanita yang berdiri di Raidan, tidak pernah dia lihat wanita itu dan bahkan namanya juga baru terdengar saat ini, tetapi godaan dari Liana tampak begitu akrab sampai Bianca malu-malu.
"Sayang, pasti belum pernah bertemu denganmu Bianca, Bianca merupakan merupakan teman kuliah Raidan dan sekarang bergabung di perusahaan dengan posisi yang cukup tinggi, Bianca ini digadang-gadang akan menjadi calon istri Raidan," jelas Dharma.
Mata Alea melotot, ingin marah dan mempertanyakan hal sebenarnya kepada orang yang bersangkutan. Raidan hanya diam saja tidak membenarkan dan juga tidak mengelak pernyataan yang diberikan Dharma.
"Jangan terlalu berlebihan seperti itu Dharma, kamu hanya membuatku malu saja," sahut Bianca dengan tersenyum malu.
"Tidak apa-apa Bianca, kalian berdua sangat cocok, Tante dan Om akan merestui hubungan kalian," sahut Liana.
"Jadi setelah beberapa bulan tidak bertemu denganku dan dia sudah memiliki pengganti begitu cepat," batin Alea merasa begitu kecewa dengan kesedihan terlihat di wajahmu terus saja melihat ke arah Raidan.
Dharma tersenyum dan entahlah apa yang saat ini dalam pikirannya.
"Raidan, aku melihat tuan Thomas di sana. Ada sebaiknya kita sapa mereka terlebih dahulu!" ajak Bianca dengan tersenyum.
"Baiklah," sahut Raidan ternyata setuju begitu saja.
"Kami permisi dulu!" ucap Raidan menundukkan kepala dan langsung pergi bersama dengan Bianca.
"Papa dan Mama juga menyapa t di diamu yang lain dulu. Dharma kamu ajak istri kamu untuk berkenalan dengan rekan bisnis kamu," ucap Wira.
"Tetapi ingat untuk hati-hati dan jangan terlalu lama berdiri," sahut Liana memberi saran kepada menantunya itu.
"Baik. Ma," sahut Dharma dengan tersenyum.
Kedua orang tua Dharma langsung pergi. Dharma menoleh ke arah Alea, memperhatikan bagaimana ekspresi wajah Alea terlihat begitu murung dan tetap saja tatapan mata itu tertuju kepada Raidan yang berjalan berdampingan bersama dengan Bianca.
"Menurut kamu mereka cocok?" tanya Dharma membuat Alea melihat secara perlahan ke arah suaminya itu.
"Bianca wanita pintar cantik dan sudah saling kenal dengan Raidan, kalau dipikir-pikir mereka itu dua pasangan yang memang cocok untuk menjalin hubungan," ucap Dharma memberikan dukungan.
"Iya dia cantik dan cocok untuk Raidan, aku setuju dengan kamu mereka memang cocok untuk menjalin hubungan," sahut Alea memberi respon kepada suaminya itu.
Dharma tersenyum penuh arti, wajah Alea mulai terlihat begitu kesal, marah dan cemburu, ditambah Dharma yang sengaja membuat dirinya semakin panas.
Acara ulang tahun perusahaan tetap berlanjut, 30 menit yang lalu pemotongan kue sudah dilakukan yang dipimpin oleh Wira sebagai pimpinan utama didampingi oleh Dharma bersama dengan istrinya.
Alea merasa jenuh, tidak nyaman di tempat acara tersebut, belum lagi sejak tadi pandangannya tertuju pada Raidan yang terus aja bersama dengan Bianca, memang tidak terlihat hal spesial di antara keduanya, tetapi Alea tetap saja terlihat cemburu.
Dharma hanya sebentar saja mengajaknya berkenalan dengan rekan kerjanya, setelah itu Dharma terlihat asik sendiri berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnisnya yang duduk di sofa dengan meja panjang itu terdapat botol alkohol.
Dharma berbicara sudah mulai melantur karena sejak tadi terus saja dituangkan alkohol oleh rekannya, mereka sama-sama cheers dan melanjutkan minum-minum.
"Lihatlah dia benar-benar hanya sibuk sendiri tanpa memikirkanku, berbicara manis saja di depan kedua orang tuanya," umpat Alea begitu kesal melihat suaminya itu.
Alea meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju toilet yang terlihat langkahnya cukup cepat saat melihat koridor perusahaan.
"Sebaiknya setelah ini aku pulang saja, aku meminta Daniel untuk mengantarkanku, Dharma sudah mulai tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum. Kedua orang tuanya juga sama saja, hanya bisa memberi saran tetapi tidak bertindak," Alea tidak berhenti mengoceh karena kesal dengan suaminya.
Langkah tiba-tiba saja terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya. Raidan. Pria yang sejak tadi dia perhatikan sudah muncul di hadapannya.
Keheningan terjadi di antara kedua orang tersebut dengan tatapan yang saling bertemu dengan jarak sekitar 3 meter. Tetapi Alea sepertinya tidak ingin berbicara dengan Raidan membuatnya memilih untuk pergi.
"Alea tunggu!" panggil Raidan langsung mengejar Alea.
"Alea!"
"Alea!"
Raidan akhirnya dapat menghentikan Alea dengan memegang tangan Alea.
"Lepaskan!"
Alea melepaskan tangan itu memperlihatkan wajah marahnya.
"Begini sikap kamu kepadaku ketika kita sudah tidak bertemu cukup begitu lama?" tanya Raidan.
"Bertemu seminggu dua seminggu atau bahkan tidak bertemu selama-lamanya kamu juga tidak akan peduli, kamu dengan cepat mendapatkan pengganti, lalu bersikap seperti ini di hadapanku seolah-olah kita adalah dua orang yang memiliki hubungan," ucap Alea.
"Jadi dengan omongan Dharma?" tanya Raidan.
"Bianca, dia hanya merupakan temanku saja dan juga seperti apa yang dikatakan Dharma, bahwa dia bergabung di perusahaan, tetapi kami tidak memiliki hubungan spesial seperti apa yang dikatakan Dharma!" tegas Raidan pada akhirnya memiliki kesempatan menjelaskan secara langsung kepada Alea.
Tanggapan Alea tidak mudah percaya dengan apa yang dikatakan Raidan, menatap wajahnya Alea sepertinya sudah tidak ingat, terlihat kekecewaan di wajahnya membuat Raidan semakin mendekatkan diri pada Alea dengan memegang dagu Alea sehingga mata mereka kembali bertemu.
"Lihat aku dan apa ada kebohongan di mataku, bukankah kamu yang paling mengenal aku dan kamu tahu seperti apa aku," ucap Raidan berbicara begitu lembut meyakinkan Alea.
Bersambung......