Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Beberapa bulan telah berlalu sejak badai pengakuan di depan altar dan kemurkaan Archello yang menghancurkan pintu kamar. Mansion Dominic kini terasa lebih hangat, namun tetap kaku di bawah pengawasan ketat sang matriark. Musim telah berganti, dan bersamanya, tubuh Lyodra pun mengalami transformasi yang indah sekaligus melelahkan.
Pagi itu, di depan cermin besar setinggi plafon di kamar utama, Lyodra berdiri menatap pantulan dirinya. Gaun hamil berbahan sutra kasmir berwarna champagne—yang dipilihkan langsung oleh Nenek Hera dari rumah mode ternama di Paris—melekat sempurna di tubuhnya. Perutnya yang kini sudah membuncit bulat sempurna, menyimpan kehidupan yang menjadi tumpuan harapan seluruh dinasti Dominic.
Nenek Hera tidak main-main dengan investasinya. Ia mendatangkan penata rambut khusus untuk ibu hamil yang hanya menggunakan produk organik tanpa bahan kimia, memastikan setiap helai rambut Lyodra tetap berkilau tanpa membahayakan janin. Namun, kemewahan itu datang dengan harga: kebebasan Lyodra yang terkikis habis.
"Pelan-pelan, Sayang. Langkahmu terlalu lebar," bisik sebuah suara berat yang sangat familiar.
Archello melangkah mendekat, jas kerjanya sudah terpasang rapi, namun ia tidak bisa menahan diri untuk tidak singgah sejenak. Ia melingkarkan lengan kekarnya dari belakang, menangkup perut bulat Lyodra dengan telapak tangannya yang hangat. Ia mengecup bahu istrinya yang terbuka, menghirup aroma minyak esensial yang menenangkan.
"Ugh, Ello... kepalaku masih sedikit pening," keluh Lyodra sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Muntah pagi ini benar-benar menguras tenagaku. Aku merasa seperti sedang menaiki roller coaster setiap kali membuka mata."
Archello memutar tubuh Lyodra perlahan agar menghadapnya. Ia mengusap pipi istrinya yang kini tampak lebih berisi, memberikan rona alami yang membuatnya terlihat sangat anggun. "Dokter bilang ini fase terakhir. Sabar, Dua bulan lagi pangeran akan keluar."
Lyodra mengerucutkan bibirnya, menatap Archello dengan pandangan mengadu. "Tapi Ello... nafsuku dimalam hari benar-benar gila. Aku ingin sekali makan tacos pinggir jalan yang pedas semalam, atau setidaknya pasta dengan saus krim yang kental. Tapi Nenek..."
Ia menghela napas panjang, meniru nada bicara Nenek Hera yang kaku. "'Lyodra, kau tidak boleh makan makanan sembarangan. Nutrisimu harus diatur. Karbohidratmu sudah cukup, sekarang makanlah asparagus kukus ini.' Ay, aku merasa seperti kelinci percobaan yang hanya diberi sayuran hijau! Sampai kapan aku harus begini? Hm? Sampai kapan Nenek mengatur setiap suapan yang masuk ke mulutku?"
Archello terkekeh pelan, meski hatinya merasa iba. Ia tahu betapa tersiksanya Lyodra berada di bawah aturan "Protokol Pewaris" milik neneknya. Ia menarik Lyodra ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin menyerap semua kelelahan istrinya.
"Sabar, Sayang. Sedikit lagi," bisik Archello, suaranya dalam dan penuh penyesalan. "Maafkan aku karena harus membuatmu terjebak dalam aturan mansion ini. Aku tahu ini berat bagimu."
"Aku merindukan kebebasan kita, Ello," lirih Lyodra.
"Aku tahu. Dan aku berjanji, setelah bayinya lahir dan kondisimu pulih, kita akan mengambil waktu untuk pergi berdua saja. Tanpa Nenek, tanpa pengawal, hanya kita," Archello mengangkat dagu Lyodra, menatap matanya dengan intensitas yang tak pernah berubah sejak hari pertama mereka bertemu kembali. "Aku mencintaimu, Lyodra. Sangat mencintaimu. Setiap pengorbananmu tidak akan sia-sia."
Lyodra tersenyum tipis, rasa kesalnya sedikit menguap oleh kata-kata manis suaminya. Namun, kedamaian itu terusik saat pintu kamar diketuk dengan ritme yang sangat dikenal: tiga ketukan pendek yang tegas.
"Waktunya kelas pernapasan persalinan, Nyonya Muda," suara pelayan senior terdengar dari balik pintu.
Lyodra mendesah pasrah. "Lihat? Bahkan untuk bernapas pun aku harus dijadwalkan."
Archello mencium bibir istrinya dengan lembut, sebuah ciuman yang memberikan kekuatan. "Lakukan saja demi si kecil, hm? Nanti malam, aku akan menyelundupkan cokelat hitam kesukaanmu ke kamar. Jangan beritahu Nenek."
Mata Lyodra berbinar. "Janji?"
"Janji."
Saat Lyodra berjalan pelan keluar kamar dengan keanggunan yang dipaksakan, Archello menatap punggung istrinya dengan rahang yang mengeras. Ia tahu, di luar dinding mansion ini, Silas Cavanaugh masih mengintai, dan rumor tentang kesehatan Oliver yang memburuk mulai mencapai telinganya. Archello harus tetap waspada; di tengah kebahagiaan menyambut buah hati, badai besar sedang bersiap untuk menerjang sisa-sisa kedamaian mereka.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰