NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: ABSES PECAH DI KELAS

---

Mahesa berjalan ke sekolah dengan celana yang berbeda. Celana yang dulu pas—dulu, sebelum semua ini—sekarang tidak muat. Kaki kanan terlalu besar. Terlalu bengkak. Terlalu tidak normal.

Ibu membelahnya semalam. Dengan gunting tumpul. Dengan jahitan kasar. Menambah kain bekas—kain yang sama dengan yang biasa dipakai menutupi kakinya. Sekarang celana juga terbuat dari sisa. Seperti hidupnya. Seperti dirinya. Seperti segalanya.

Teman-teman melihat. Tentu saja. Celana yang berbeda. Celana yang aneh. Yang tidak sama kiri dan kanan. Yang jelas-jelas dibuat darurat. Yang jelas-jelas bukan celana normal.

"Celana aneh!" teriak Rudi dari depan kelas. Suaranya selalu paling keras. Paling jelas. Paling menyakitkan. "Lihat! Celananya ditambal! Kaya pengemis!"

Tertawaan meledak. Seperti biasa. Seperti selalu. Seperti yang diharapkan. Seperti yang sudah ia hafal setiap nadanya.

Mahesa berjalan ke bangku paling belakang. Dekat jendela yang tidak bisa dibuka. Tempat yang menjadi miliknya sejak pertama kali kakinya mulai berbeda. Kaki kanan disembunyikan di bawah bangku. Di antara kaki besi. Di tempat yang tidak terlihat.

Tapi nyeri terus. Dari dalam. Dari tempat yang tidak terlihat. Dari abses yang terbentuk—ia tidak tahu namanya, tapi ia tahu rasanya. Infeksi di dalam kulit yang meregang. Di dalam daging yang tumbuh tanpa izin. Seperti ada bola api yang menggelinding di bawah kulit, mencari jalan keluar.

Ia menahan. Seperti menahan selama ini. Seperti biasa. Seperti yang dipelajari dari tahun-tahun menjadi beban.

Bu Kasmi masuk. Pelajaran dimulai. Angka-angka di papan tulis. Rumus-rumus yang dulu mudah. Yang sekarang kabur. Yang tidak bisa masuk karena nyeri.

Mahesa mencoba fokus. Mencoba mengabaikan. Mencoba... bertahan.

Tapi kemudian. Tiba-tiba. Tanpa peringatan. Tanpa bisa dihentikan.

Byar.

Basah.

Di celana. Di kaki. Di dalam. Sesuatu yang pecah. Sesuatu yang keluar. Nanah. Cairan kuning putih kental. Bau. Bau yang tidak bisa disembunyikan. Bau yang menguak segalanya.

Merembes ke celana. Ke kain tambahan yang ibu jahit. Ke bangku. Ke lantai. Ke dunia.

Mahesa membeku. Tidak bergerak. Tidak bernapas. Hanya diam. Berharap ini tidak terjadi. Berharap ini hanya mimpi.

Tapi bau itu nyata. Bau itu menyebar.

Rudi lebih dulu. Hidungnya yang sensitif. Atau hidungnya yang selalu mencari-cari alasan. "Iih! Bau!" Ia mengendus. Mencari sumber. Lalu matanya jatuh ke bangku belakang. Ke Mahesa. "Dia kencing! Mahesa kencing di celana!"

Semua menatap. Dari depan. Dari tengah. Dari belakang. Mata yang tadi tidak melihat. Sekarang melihat. Sekarang terbelalak.

Menutup hidung. Dengan tangan. Dengan kain. Dengan buku. Dengan segalanya.

"Iih! Jijik!"

"Bau banget!"

"Dia sakit apa sih?"

Guru datang. Bu Kasmi. Dari depan. Dari meja. Wajahnya pucat. Lebih pucat dari biasanya. Lebih pucat dari yang pernah Mahesa lihat.

"Mahesa..." Suaranya bergetar. Tidak stabil. "Kamu... kamu..."

Tidak bisa melanjutkan. Hanya menatap dengan mata yang tidak mengerti. Dengan mata yang takut.

"Pulang," katanya akhirnya. Suara hampir tidak keluar. "Sekarang. Pulang."

Mahesa berdiri. Perlahan. Kaki kanan bergetar. Nyeri tajam dari tempat yang pecah. Dari tempat yang sekarang kosong. Tapi sakitnya berbeda. Sakit yang... dalam.

Berjalan pincang. Keluar dari bangku. Dari kelas. Dari tempat yang menjadi miliknya. Dari satu-satunya tempat di dunia ini yang menerimanya.

Di belakang, suara Rudi. Lebih keras. Lebih jelas. Lebih menang. "Jijik! Penyakit menular! Jangan dekat-dekat! Nanti kena!"

Mahesa berlari. Sebisa mungkin. Dengan kaki yang bergetar. Dengan celana basah. Dengan bau yang mengikuti.

Tapi kaki kanan terlalu berat. Terlalu besar. Terlalu tidak mau diajak lari.

Ia jatuh. Di koridor. Di lantai keramik yang licin. Di depan kelas lain yang pintunya terbuka. Yang melihat. Yang terkejut.

Semua melihat. Dari dalam kelas. Dari koridor. Dari mana-mana. Mata terbelalak. Hidung ditutup. Mulut berbisik.

"Apa itu?"

"Siapa itu?"

"Jijik amat!"

"Keluar cairan dari kakinya!"

Mahesa berusaha bangun. Tangan di lantai. Kaki kanan tidak mau diajak kerja sama. Celana basah. Bau yang... segalanya. Air mata sudah keluar. Tidak bisa ditahan. Mengalir deras di pipi.

Guru kelas lain keluar. Perempuan muda. Tidak ia kenal. Melihat dengan mata yang tidak mengerti.

"Apa ini?" tanya guru itu. Bukan ke Mahesa. Ke udara. Ke koridor. Ke situasi yang tidak ia pahami.

Mahesa tidak bisa menjawab. Tidak ada suara. Tidak ada kata. Hanya menangis. Air mata yang keluar tanpa izin. Tanpa bisa dihentikan. Sejak... ia tidak ingat kapan terakhir menangis seperti ini.

Hanya berusaha bangun. Hanya ingin hilang. Ingin masuk ke dalam bumi. Tapi bumi tidak menerima. Bumi membuatnya tetap di sini. Tetap di atas. Tetap dipermalukan.

Tangan guru itu—guru yang tidak kenal—menolong. Membantu berdiri. Membantu ke kursi di koridor. Tidak ke kantor. Tidak ke UKS. Hanya ke kursi. Di tempat yang masih terlihat. Masih diperhatikan.

"Siapa namamu?" tanya guru itu lembut.

Mahesa tidak menjawab. Tidak bisa. Air mata terus. Tubuh bergetar. Celana basah. Kaki nyeri. Dunia berputar terlalu cepat.

---

Ibu datang. Satu jam kemudian. Entah siapa yang memanggil. Entah bagaimana ibu tahu. Mungkin sekolah yang memberi kabar. Mungkin tetangga yang kebetulan lewat.

Tapi ibu datang. Dengan wajah malu. Malu yang terlihat jelas dari pintu masuk. Dari koridor. Dari tempat Mahesa duduk.

Dengan tatapan yang bilang: kenapa kamu begini? Kenapa kamu mempermalukan kami? Kenapa kamu ada?

Tapi ibu tidak berkata apa-apa. Tidak di depan guru. Tidak di depan murid-murid yang masih melihat dari balik pintu. Tidak di depan siapa pun.

Hanya mendekat. Mengambil tangan Mahesa. Menarik. Kasar. Keluar.

Berjalan di koridor. Di depan semua. Yang masih melihat. Yang masih menutup hidung. Yang masih menggosip.

Keluar sekolah. Ke jalan. Ke tempat yang bebas dari mata. Dari hidung. Dari mereka.

Di jalan, ibu berkata. Akhirnya. Suara pelan. Tapi tajam. Suara yang menahan amarah.

"Kenapa tidak bilang sakit?"

Mahesa tidak menjawab. Tidak bisa. Apa yang harus dijelaskan? Bahwa ia tidak tahu akan pecah? Bahwa ia tidak tahu ada nanah di dalam? Bahwa ia mencoba menahan seperti biasa, seperti yang selalu ia lakukan?

"Kenapa harus di kelas?" Ibu melanjutkan. Bukan tanya. Tuduhan. "Kenapa tidak di rumah? Kenapa harus mempermalukan..."

Ibu berhenti. Tidak melanjutkan. Tapi Mahesa tahu. Tahu yang tidak diucapkan.

Kenapa harus mempermalukan keluarga. Kenapa harus mempermalukan ibu. Kenapa harus ada.

Mereka berjalan pulang. Dua kilometer. Seperti biasa. Tapi tidak biasa. Kali ini dengan celana basah. Dengan bau yang masih ada. Dengan malu yang mengikuti seperti bayangan.

---

Di rumah, Mahesa mandi. Air dingin dari sumur. Dari ember. Ibu tidak membantu. Ibu sibuk dengan cucian celana kotor. Dengan Bima yang bertanya-tanya. Dengan yang lain.

Ia mandi sendiri. Perlahan. Kaki kanan terasa berbeda setelah pecah. Lebih ringan? Atau hanya perasaan? Lubang kecil di kulit yang mengilat. Nanah masih sedikit merembes. Darah bercampur.

Ia membersihkan dengan sabun. Sakit. Tapi sakit yang bisa ditahan. Membalut dengan kain bersih. Kain sisa yang sama. Yang selalu ada.

Malam turun. Ayah pulang. Lebih awal dari biasanya. Entah siapa yang memberitahu. Entah bagaimana ayah tahu.

Ayah masuk ke kamar. Ke pojok. Ke tempat Mahesa berbaring mematung.

"Mahesa." Suara ayah lelah. Tapi ada. Suara yang tidak pergi.

Mahesa tidak menjawab. Tidak berbalik. Tidak mau dilihat. Tidak mau dilihat dengan mata yang sama dengan ibu. Mata yang malu. Mata yang bertanya kenapa kamu ada.

Tapi ayah duduk. Di tikar. Di sampingnya. Tidak jauh. Tidak dekat. Tapi ada.

"Ayah tahu." Suara ayah pelan. "Ayah tahu hari ini. Ayah tahu... sulit."

Mahesa tetap diam. Tapi air mata keluar lagi. Yang tadi habis. Yang tadi kering. Keluar lagi. Tak terhentikan.

"Ayah akan cari tahu lagi." Ayah melanjutkan. Suara mantap. Seperti keputusan yang sudah diambil. "Tentang kota. Tentang rumah sakit besar. Ini tidak bisa ditunda. Kamu harus ke dokter yang benar."

Kota. Rumah sakit besar. Kata-kata yang pernah diucapkan. Yang belum terwujud. Yang mungkin tidak akan pernah. Tapi hari ini, setelah malu yang tak terperikan. Setelah abses pecah di depan semua. Setelah... segalanya, kata-kata itu terdengar berbeda. Terdengar lebih nyata. Terdengar seperti... harapan.

Mahesa berbalik. Perlahan. Melihat ayah. Yang lelah. Yang berdebu tambang. Yang matanya merah karena kurang tidur. Yang tidak menyerah.

"Terima kasih, Pak." Suara serak. Suara yang keluar dari tempat yang paling dalam.

Ayah tersenyum. Sejenak. Sebentar. Tapi tersenyum. Lalu tangannya—kasar, penuh kapalan—mengelus kepala Mahesa. Sekali. Cepat. Seolah malu. Seolah tidak biasa.

Tapi terjadi. Terjadi. Dan Mahesa merasa. Merasa bahwa meskipun dipermalukan di depan kelas. Meskipun ibu malu. Meskipun Rudi menang. Meskipun segalanya. Ada ayah.

Ada yang tidak menyerah. Ada yang tidak menyalahkan. Ada yang tetap berusaha.

Itu cukup. Untuk hari ini. Untuk malu yang terlewati. Untuk abses yang pecah. Untuk ayah yang mengelus kepalanya.

---

Malam semakin larut. Ibu sudah tidur dengan Bima di kasur gantung. Ayah masih di dapur, mungkin memikirkan rencana ke kota.

Mahesa terbaring. Kaki kanan terbalut kain bersih. Lubang bekas abses masih sedikit merembes. Tapi tidak sesakit tadi.

Ia memikirkan hari ini. Rudi. Teman-teman. Guru-guru. Ibu. Semua wajah yang melihatnya dengan jijik. Dengan takut. Dengan malu.

Tapi ia juga memikirkan ayah. Yang datang. Yang duduk. Yang mengelus.

Dan ia memikirkan besok. Mungkin ke kota. Mungkin ke rumah sakit besar. Mungkin ada yang mengerti.

Kakinya mungkin tidak akan sembuh. Ia tahu itu sekarang. Tapi setidaknya, tidak akan begini terus. Setidaknya, ada yang mau berusaha.

Ia memegang kaki kanan. Merasakan balutan kain. Merasakan hangat yang tersisa.

"Kamu," bisiknya pada kaki itu. "Kamu belum menang. Aku masih di sini."

Di luar, jangkrik bernyanyi. Bulan bersinar redup. Dunia terus berputar.

Dan Mahesa, di pojoknya, tersenyum kecil.

Karena hari ini, meskipun hancur, ia masih berdiri. Masih bernapas. Masih punya ayah.

Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk besok yang tidak pasti. Itu cukup.

Ia memejamkan mata. Tidur. Dengan senyum yang masih tersisa. Dengan keyakinan kecil bahwa besok mungkin berbeda.

Karena di dapur, ayah masih terjaga. Merencanakan sesuatu. Berjuang. Untuknya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!