NovelToon NovelToon
TERJEBAK OBSESI

TERJEBAK OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Duda
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

update setiap tanggal genap

Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.

Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.

Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip Kampus

Lin Yinjia kembali ke kampus dua hari setelah pertemuannya dengan keluarga Gu. Rutinitas kampus seharusnya terasa biasa. Gedung fakultas yang ramai, mahasiswa yang berjalan cepat menuju kelas, suara diskusi kecil di koridor—semua itu adalah hal yang sudah ia jalani selama dua tahun terakhir.

Namun pagi itu terasa berbeda. Bukan karena suasana kampus berubah. Melainkan karena cara orang-orang memandangnya.

Saat Yinjia berjalan melewati koridor fakultas ekonomi, ia mulai menyadari sesuatu. Beberapa mahasiswa yang biasanya tidak pernah memperhatikannya kini menoleh saat ia lewat.

Beberapa bahkan berbisik pelan. Awalnya Yinjia mencoba mengabaikannya.

Ia menyesuaikan tas di bahunya dan berjalan lebih cepat menuju kelasnya. Tapi bisikan itu semakin jelas ketika ia semakin dekat ke ruang kuliah.

“…itu dia.”

“Serius? Dia?”

“Katanya dia tunangannya Gu Zhenrui.”

Nama itu membuat langkah Yinjia sedikit melambat. Ia menatap lurus ke depan, mencoba bersikap seolah tidak mendengar apa pun. Namun bisikan itu terus mengikuti.

“Padahal dia kelihatan biasa banget.”

“Katanya keluarganya juga bukan siapa-siapa.”

“Beruntung banget sih.”

Kalimat terakhir terdengar seperti pujian, tapi nadanya tidak terasa seperti itu.

Yinjia masuk ke ruang kelas tanpa menoleh ke arah siapa pun. Ia memilih kursi dekat jendela seperti biasanya dan membuka laptopnya, mencoba fokus pada catatan kuliah. Beberapa menit kemudian seseorang duduk di kursi sebelahnya. “Kenapa kamu tidak membalas pesanku kemarin?”

Suara itu langsung dikenali Yinjia.

Xu Yara.

Yinjia menoleh. Yara terlihat seperti biasa—rambut panjang yang ditata rapi, makeup ringan yang membuat wajahnya terlihat segar. Ia selalu menjadi salah satu mahasiswi paling menarik di kelas mereka. “Maaf,” kata Yinjia. “Aku sibuk di rumah sakit.”

Ekspresi Yara sedikit berubah. “Adikmu masih di ICU?”

“Iya.”

Yara terlihat sedikit bersalah. “Aku ingin menjenguk, tapi kemarin jadwal kuliahku penuh.”

“Tidak apa-apa.” Beberapa detik mereka diam. Lalu Yara mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Aku dengar sesuatu pagi ini.”

Nada suaranya berubah menjadi lebih pelan. Yinjia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. “Apa?”

“Orang-orang bilang kamu benar-benar akan menikah dengan Gu Zhenrui.”

Yara menatapnya tajam, seolah ingin melihat reaksi sekecil apa pun. Yinjia tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya perlahan sebelum berkata, “Belum tentu menikah.”

“Tapi perjodohan itu masih berjalan?” Pertanyaan itu terasa terlalu cepat. Yinjia menatap sahabatnya sebentar. “Iya.”

Yara terdiam beberapa detik. Kemudian ia tertawa kecil. “Gila.” Ia menyandarkan punggung ke kursinya.

“Jadi semua gosip itu benar.”

“Gosip apa?”

Yara menatapnya lagi.

“Bahwa kamu akan masuk keluarga Gu.”

Nada suaranya terdengar seperti kagum, tapi ada sesuatu yang terasa aneh di dalamnya. Seperti campuran antara penasaran dan… sesuatu yang lain.

Sebelum Yinjia sempat menjawab, dua mahasiswi di barisan depan menoleh ke arah mereka. Salah satu dari mereka berbisik cukup keras untuk didengar.

“Dia benar-benar terlihat biasa saja.” Yang lain menjawab, “Mungkin keluarga Gu hanya butuh menantu yang penurut.”

Yara langsung menatap mereka dengan tidak senang. “Hei,” katanya tajam. “Kalau mau bergosip, setidaknya jangan di depan orangnya.”

Kedua mahasiswi itu terlihat sedikit canggung dan segera memalingkan wajah. Namun kata-kata mereka sudah terdengar. Yinjia menatap meja di depannya. Ia tidak marah. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.

Yara menoleh lagi ke arahnya. “Kamu tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu terlalu tenang.”

Yinjia tersenyum kecil. “Memangnya aku harus bagaimana?”

Yara tidak menjawab. Beberapa detik kemudian dosen mereka masuk ke kelas, membuat semua percakapan berhenti.

Kuliah berlangsung seperti biasa selama satu setengah jam. Namun Yinjia hampir tidak benar-benar fokus. Ia masih bisa merasakan beberapa pasang mata yang sesekali menoleh ke arahnya. Setiap kali dosen berhenti menjelaskan dan kelas menjadi sedikit sunyi, bisikan kecil terdengar lagi di beberapa sudut ruangan.

Setelah kelas selesai, mahasiswa mulai keluar satu per satu. Yara berdiri sambil merapikan tasnya. “Ayo makan siang.” Yinjia mengangguk.

Mereka berjalan keluar dari gedung fakultas menuju kantin kampus. Kantin itu selalu ramai saat jam makan siang. Meja-meja panjang dipenuhi mahasiswa dari berbagai jurusan, suara obrolan bercampur dengan bunyi piring dan sendok. Yara mengambil tempat duduk dekat jendela. “Duduk sini.”

Yinjia meletakkan tasnya di kursi dan pergi mengambil makanan. Saat ia kembali dengan nampan di tangan, seseorang tiba-tiba berdiri dari meja sebelah dan hampir menabraknya.

“Maaf—” Pria itu berhenti ketika melihat wajahnya. Beberapa detik mereka saling menatap. Yinjia mengenalnya.

Chen Luo.

Salah satu mahasiswa paling populer di fakultas mereka. Tinggi, dengan wajah yang selalu terlihat santai, dan reputasi sebagai orang yang ramah dengan hampir semua orang.

Ia tersenyum kecil. “Lin Yinjia, kan?”

Yinjia mengangguk. “Iya.”

Chen Luo memandang nampan makanannya. “Kamu terlihat seperti baru saja berjalan melewati badai.”

Yinjia sedikit bingung. “Maksudnya?”

Chen Luo menoleh ke arah beberapa meja di sekitar mereka. Beberapa mahasiswa memang sedang menatap ke arah Yinjia dengan penasaran.

Ia kembali menatapnya. “Selamat datang di dunia gosip kampus.”

Yinjia menghela napas kecil. “Jadi kamu juga sudah dengar?”

Chen Luo mengangkat bahu. “Sulit tidak mendengar.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Tapi menurutku mereka terlalu berisik.” Senyumnya santai.

“Kalau kamu tidak keberatan, aku bisa menemanimu duduk. Supaya orang-orang berhenti menatap seperti kamu makhluk langka.”

Yinjia hampir tertawa mendengar itu. Ia menoleh ke arah meja Yara. Sahabatnya sudah duduk di sana sambil menatap ke arah mereka. Ekspresinya sulit dibaca.

Chen Luo mengikuti arah pandangnya. “Oh.” Ia tersenyum lagi. “Sepertinya kamu sudah punya teman.”

Yinjia mengangguk. “Iya.”

Chen Luo mundur selangkah. “Kalau begitu sampai nanti di kelas berikutnya.” Ia pergi dengan langkah santai.

Yinjia berdiri beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menuju meja Yara. Namun ia tidak melihat satu hal. Di meja lain, beberapa meter dari mereka, seorang mahasiswi sedang memperhatikan semua itu dengan ekspresi yang tidak terlalu senang.

Xu Yara.

Tatapannya mengikuti arah Chen Luo yang berjalan pergi. Lalu kembali ke Yinjia. Senyumnya tetap ada. Namun di matanya, ada sesuatu yang perlahan mulai berubah.

Pagi itu kampus sudah ramai bahkan sebelum kelas pertama dimulai. Gedung fakultas ekonomi selalu dipenuhi mahasiswa yang bergerombol—ada yang sibuk membahas tugas, ada yang tertawa keras, ada juga yang hanya duduk sambil memainkan ponsel.

Lin Yinjia berjalan di antara kerumunan itu dengan langkah agak cepat.

Tasnya menggantung di satu bahu, rambutnya masih sedikit berantakan karena terburu-buru berangkat dari rumah sakit. Ia baru saja menjenguk adiknya sebelum datang ke kampus. Mata Yinjia masih terasa berat karena kurang tidur, tapi ia tetap memaksakan diri datang ke kelas.

Hari-hari terakhir terasa seperti berjalan di lorong panjang yang tidak ada ujunsakit Rumah sakit. Kuliah. Rumah sakit lagi. Semuanya terasa melelahkan.

Saat ia melewati lorong gedung utama, beberapa mahasiswa yang berdiri di dekat mesin minuman tiba-tiba berhenti berbicara. Yinjia tidak langsung menyadarinya. Ia hanya berjalan seperti biasa. Namun setelah melewati mereka, bisikan pelan mulai terdengar.

“Dia kan yang dijodohkan dengan keluarga Gu.”

“Serius?”

“Iya. Katanya sudah dua tahun.”

Langkah Yinjia sedikit melambat. Ia tidak menoleh. Tapi telinganya jelas menangkap semua kalimat itu.

“Beruntung sekali, ya.”

“Beruntung apanya? Dia cuma gadis biasa.”

“Justru itu. Gadis biasa bisa masuk keluarga Gu.”

Yinjia menahan napas sebentar. Ia sudah menduga kabar itu akan menyebar cepat.

Keluarga Gu terlalu terkenal di Shanghai. Hampir semua orang tahu nama mereka. Begitu kabar perjodohan itu bocor, kampus langsung berubah seperti sarang gosip. Ia menarik napas panjang lalu kembali berjalan. Berpura-pura tidak peduli.

Di lantai dua, ruang kelas sudah hampir penuh. Beberapa teman sekelasnya duduk berkelompok sambil mengobrol. Saat Yinjia masuk, beberapa kepala langsung menoleh. Reaksi itu tidak terlalu mencolok, tapi cukup terasa. Beberapa orang berbisik. Beberapa tersenyum tipis.

Beberapa menatapnya seperti sedang menilai sesuatu. Yinjia pura-pura tidak melihat. Ia berjalan ke kursinya di barisan tengah dan meletakkan tas di meja.

“Yinjia!”

Suara ceria tiba-tiba terdengar dari samping. Xu Yara berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi.

Yara adalah tipe perempuan yang selalu terlihat rapi. Rambut panjangnya selalu tertata, pakaiannya modis tapi tidak berlebihan. Ia meletakkan salah satu kopi di meja Yinjia. “Ini untukmu.”

Yinjia menatap gelas itu sebentar lalu tersenyum kecil. “Terima kasih.”Yara duduk di kursi sebelahnya dan langsung mencondongkan badan. “Kamu tahu tidak?” katanya dengan suara pelan tapi penuh semangat.

“Apa?”

“Seluruh kampus sedang membicarakanmu.” Yinjia menghela napas pelan. “Aku sudah tahu.”

Yara tertawa kecil. “Jangan bilang kamu tidak merasa hebat.”

Yinjia menoleh. “Hebat?”

“Iya,” kata Yara sambil menyilangkan tangan di meja. “Dijodohkan dengan keluarga Gu. Itu bukan hal kecil.”

Nada suaranya terdengar seperti bercanda. Tapi ada sesuatu yang aneh di baliknya. Yinjia tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka buku catatan di meja.

“Tidak ada yang hebat,” katanya pelan.

Yara menaikkan alis. “Serius?”

“Ini cuma perjodohan keluarga.”

“Justru itu,” kata Yara cepat. “Banyak orang bahkan tidak bisa mendekati keluarga Gu. Tapi kamu sudah hampir menjadi bagian dari mereka.”

Yinjia menatap halaman kosong di bukunya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagi orang luar, perjodohan itu terlihat seperti keberuntungan. Tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu bagaimana Gu Zhenrui memandangnya. Mereka tidak tahu bagaimana ia diperlakukan.

Kelas akhirnya dimulai. Profesor masuk sambil membawa tumpukan kertas ujian latihan. Suasana kelas perlahan menjadi tenang. Namun bisikan kecil masih terdengar di beberapa sudut ruangan. Kadang nama Yinjia ikut disebut. Ia mencoba fokus pada penjelasan dosen, tapi pikirannya tetap terganggu.

Setelah hampir satu jam, kelas akhirnya selesai. Begitu profesor keluar, suasana langsung kembali ramai. Beberapa mahasiswa berdiri, beberapa langsung pergi. Yara menoleh ke Yinjia. “Ngomong-ngomong,” katanya santai, “kamu masih sering bertemu Zhenrui?”

Nama itu membuat Yinjia sedikit kaku. “Kadang.”

“Dia tampan sekali,” kata Yara sambil tersenyum. “Aku pernah melihat fotonya di internet.”

Yinjia menutup bukunya. “Iya.”

“Dia juga sangat kaya.” Yinjia tidak menjawab.

Yara memperhatikan wajahnya beberapa detik lalu berkata, “Tapi kamu kelihatannya tidak terlalu senang.”

Yinjia akhirnya menoleh. “Kenapa aku harus terlihat senang?”

Yara tertawa kecil. “Karena hampir semua perempuan di kampus ini pasti iri.”

“Kalau mereka ingin, mereka boleh mengambilnya.”

Yara terdiam. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Yinjia. Ia sendiri bahkan tidak sempat memikirkannya. Beberapa detik kemudian Yara tersenyum lagi, tapi kali ini senyumnya terasa sedikit berbeda. “Kamu aneh,” katanya.

“Kenapa?”

“Banyak orang bermimpi berada di posisimu.”

Yinjia berdiri dari kursinya. “Aku tidak pernah memimpikan ini.”

Yara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Yinjia beberapa saat sebelum akhirnya berdiri juga. “Kamu mau ke kantin?” tanya Yara.

“Tidak.”

“Perpustakaan?”

“Aku harus ke rumah sakit.”

Yara terlihat sedikit terkejut. “Adikmu?” Yinjia mengangguk.

“Kondisinya belum berubah?”

“Belum.”

Beberapa detik suasana menjadi hening. Yara akhirnya berkata pelan, “Kamu pasti sangat lelah.”

Yinjia hanya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”

Mereka berjalan keluar kelas bersama. Lorong kembali ramai oleh mahasiswa yang keluar masuk ruangan.

Namun kali ini Yinjia merasa tatapan orang-orang jauh lebih jelas. Beberapa orang bahkan tidak menurunkan suara mereka saat membicarakannya.

“Dia yang itu, kan?”

“Iya.”

“Tunangan Gu Zhenrui.”

Yara juga mendengar bisikan itu. Ia melirik Yinjia sebentar lalu berkata pelan, “Sepertinya kamu akan sangat terkenal sekarang.”

Yinjia menghela napas. “Aku tidak butuh itu.”

Mereka akhirnya sampai di tangga utama. Di lantai bawah, kerumunan mahasiswa terlihat lebih padat. Beberapa orang berdiri di dekat papan pengumuman besar. Yara tiba-tiba berhenti. “Tunggu.”

Yinjia ikut berhenti. “Ada apa?”

Yara menunjuk ke papan pengumuman. “Sepertinya ada pengumuman magang.”

Kata “magang” langsung menarik perhatian Yinjia. Ia berjalan mendekat bersama Yara. Beberapa mahasiswa sedang membaca daftar yang ditempel di papan. “Perusahaan ekspor impor Guo membuka program magang musim ini.”

Yara membaca keras-keras. Yinjia juga melihat pengumuman itu. Perusahaan itu sangat terkenal. Hampir semua mahasiswa ekonomi tahu namanya. Program magangnya juga terkenal sulit dimasuki.

“Ini kesempatan bagus,” kata Yara. Yinjia masih menatap pengumuman itu. Ada banyak syarat yang tertulis. Nilai minimal. Tes wawancara. Rekomendasi dosen. Tidak mudah.

Yara menoleh ke Yinjia. “Kamu harus coba.”

“Aku?”

“Iya. Kamu mahasiswa yang cukup bagus.”

Yinjia masih ragu. “Aku tidak yakin bisa lolos.”

Yara menyikut lengannya. “Coba dulu.”

Beberapa mahasiswa lain juga mulai membicarakan hal yang sama.

“Perusahaan Guo itu besar sekali.”

“Presidennya juga terkenal.”

“Katanya masih muda.”

“Serius?”

“Ya, sekitar tiga puluhan.”

Yinjia tidak terlalu memperhatikan percakapan itu. Pikirannya sedang memikirkan sesuatu yang lain. Jika ia bisa mendapatkan magang di perusahaan besar…

Mungkin ia bisa mulai berdiri dengan kakinya sendiri. Tidak terus bergantung pada perjodohan itu. Ia menatap pengumuman sekali lagi. Kemudian perlahan berkata, “Aku akan mencoba.”

Yara tersenyum lebar. “Itu baru Yinjia yang kukenal.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!