Hai...Perkenalkan nama aku Siera Abagail seorang gadis berusia 22 tahun, aku adalah seorang yatim piatu kedua orang tuaku sudah meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan.
Hari ini menjadi hari yang sangat menyakitkan untuk di ingat, kisah kehidupanku berawal dari sini.
Pertemuanku yang tidak di sengaja dengan seorang lelaki yang bernama Alexander pulman, kini mengubah impianku tentang masa depan.
Aku harus mengandung anak dari laki-laki yang tidak aku cintai dan mungkin ini adalah takdir yang harus aku jalani.
Mampukah aku mempertahankan gelar sebagai nyonya dari Alexander pulman dan akankah kisah kehidupan kami berakhir bahagia?
Ikuti kisah hidupku di sini " Marriage For A Reason"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
*POV Siera*
Pagi-pagi ketika aku bangun dan keluar ke halaman Villa aku di kagetkan dengan mobil Alex yang sudah terparkir di sana.
Kapan lelaki itu sampai di sini ? Dan kenapa ia sampai tau kalau aku ada di sini ?
Aku berpikir pasti ia akan marah besar waktu melihat mukaku pertama kali, karena masalah Jack kemarin dan karena kepergianku yang sudah satu minggu tanpa kabar berita.
Jantungku rasanya mau copot membayangkan bagaimana nanti Alex akan marah padaku, buktinya saja ia memilih menghindari aku dengan tidur di kamar sebelah.
Aku menarik napas panjang sambil berjalan menuju taman belakang, menikmati sejuknya pagi dan panasnya mentari pagi.
Di tengah hamparan bunga yang berwarna-warni membuat pikiranku menjadi lega.
Tiba-tiba mendengar suara seseorang memanggilku dan aku tau itu suara Alex.
"Siera" katanya.
Aku menoleh ke arah Alex sampai mata kami beradu pandang.
Aku menarik napas panjang lagi dan aku tidak bisa menjawab apa pun, karena kalau ingat Alex di peluk wanita itu hatiku terasa sakit.
"Siera, kamu dengar aku memanggil namamu" tanya Alex.
Aku diam dan terus berjalan menuju kursi taman lalu aku duduk di sana sambil memandang langit.
Jujur aku belum siap bertemu Alex sekarang setelah semua yang aku lihat kemarin.
Aku malas untuk bicara dan aku tidak ingin berdebat, yang aku inginkan sekarang adalah menyendiri di sini.
"Siera, mau sampai kapan kamu diam dan terus begini?" tanya Alex.
Aku masih diam seribu bahasa menahan sesak di dadaku, menahan air mataku untuk tidak tumpah di depan Alex.
Menahan nyeri di hatiku dan rasa bersalahku semua menjadi satu tersimpan di dadaku, membuat aku menjadi sesak.
"Siera ... kamu gak bisa jawab aku?" tanya Alex lagi.
Kali ini aku benar-benar sudah tidak bisa menahan air mataku yang sudah berada di ujung pelupuk mataku.
Aku berlari meninggalkan Alex dan aku tidak sanggup berkata-kata, dan ternyata Alex mengejarku, menangkap aku dan membawa aku dalam pelukannya.
Aku berusaha melepaskan pelukan Alex dan berusaha untuk masuk ke kamar sendiri.
Semakin kencang aku memberontak semakin kencang Alex memelukku.
"Lepaskan, aku mau sendiri," aku mohon dalam tangisku.
"Siera dengar aku, kamu tau aku seperti orang gila satu minggu ini mencari kamu kesana kemari.
Sekarang aku menemukan kamu di sini terus kamu minta aku untuk melepaskan kamu lagi, dan kamu mau kabur kemana lagi?" ucap Alex.
"Aku tidak kabur, aku hanya ingin sendiri tolong biarkan aku sendiri," kataku di sela tangisku.
"Apa kamu pikir masalahmu akan selesai dengan cara kamu seperti ini?" tanya Alex lagi.
"Lepaskan ... aku hanya ingin sendiri, aku mohon tinggalkan aku sendiri di sini," kataku sambil menangis.
"Dengar sayang, jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi.
Aku hanya ingin kamu bersikap dewasa Siera, kalau punya masalah itu berani bicara bukan kabur seperti ini," kata Alex sambil memelukku semakin erat.
Aku tidak punya kekuatan lagi untuk terus meronta kecuali diam di dalam pelukan Alex.
Ia membawaku untuk duduk kembali di kursi taman.
"Kenapa kamu sampai tega kabur sampai satu minggu tanpa kabar berita? Kamu tau aku mencari kamu dan terus memikirkan kamu takut sesuatu yang buruk terjadi sama kamu? Aku menunggu kamu kembali sehari demi sehari, menghubungi kamu berulang kali tapi telepon kamu matikan, mengirim pesan tidak kunjung kamu balas, kenapa kamu menghukum aku dengan cara kejam Siera?" tanya Alex.
"Kalau aku salah kamu tegur, kalau kamu salah ngomong dan berani minta maaf, belajar bicara apa yang ada di hati kamu bukan diam dan meminta orang lain memahami kamu, aku bukan Tuhan yang bisa membaca pikiran dan perasaan kamu Siera," tegas Alex.
Entah mengapa mulutku masih susah untuk bicara apalagi mengungkapkan perasaanku baik itu suka, marah atau kecewa.
Aku lebih baik menghindar dan menyendiri, aku ingin orang melihatku baik-baik saja.
"Coba sekarang kamu ngomong kenapa kamu diam dan pergi tanpa berita, apa yang membuat kamu marah," ucap Alex.
"Aku tau kamu marah melihat Jack menemui aku, tetapi aku tau batasannya karena itu aku mengajak Jennie untuk menemaniku supaya tidak ada fitnah.
Aku ingin meminta maaf dengan cara datang ke kantor kamu tetapi apa yang aku lihat, kamu sedang bermesraan berdua dengan wanita," sahutku.
"Kenapa kamu harus pergi dan memutuskan semua komunikasi tanpa mendengarkan penjelasan aku dulu Siera, caramu seperti ini hampir membuat aku gila," balas Alex.
"Buat apa lagi di jelaskan? Semua yang aku lihat bukankah sudah jelas," kataku.
"Jelas bagaimana Siera? Kamu jangan berasumsi sendiri tidak baik untuk diri kamu sendiri," Alex memotong pembicaraanku.
"Jelas kamu suka dengan wanita itu," jawabku.
"Siapa yang bilang aku suka dengan wanita itu, kamu tau siapa wanita itu? Dia orang yang ada di masa lalu aku dan telah memberi luka di dalam hidup aku.
Aku tidak tau kalau dia bisa datang lagi kemarin," jelas Alex.
"Terus kalau dia sudah datang aku bisa apa, kamu menikmati pelukannya dan kamu bisa kembali kepada dia," kataku.
"Kamu bisa lihat berapa kali aku menepis tangannya Siera, nanti aku ambil gambarnya dari CCTV kantor dan aku tegaskan aku tidak akan kembali kepadanya.
Tidak mungkin hal itu terjadi," tegas Alex.
"Terus untuk apa kamu menyusul kesini? Bukankah aku tidak penting untukmu?" tanyaku.
"Aku ingin menjemput kamu untuk pulang dan kamu sangat penting buat aku Siera, jangan menjadi istri bodoh menyerahkan suamimu kepada wanita lain sayang," jawab Alex.
"Ayo kita pulang sekarang urusan Monika dan Jack biar aku yang akan menyelesaikannya untukmu, trust me," tegas Alex.
"Sebenarnya aku masih ingin di sini lebih lama lagi," kataku.
"Ayo kita pulang sekarang sayang, jangan berpikir untuk jauh dari aku lagi, lihat aja nanti bagaimana aku mengurungmu setelah sampai mansion," ledek Alex.
Akhirnya aku tidak punya pilihan dan memilih ikut Alex kembali ke mansion miliknya.
"Tunggu aku bersiap-siap dulu," kataku.
"Iya sayang, aku akan menunggumu yang penting kamu pulang bersama aku sekarang," sahutnya.
Aku bersiap-siap mengemasi semua pakaianku, mengganti bajuku dan kami bersiap kembali ke mansion milik Alex.
Sepanjang perjalanan Alex menggenggam tanganku dan aku hanya tersenyum.
"Jangan pergi seperti ini lagi sayang? Ingat kalau ada masalah mari kita bicarakan bukan harus kabur, kamu mengerti?" tanya Alex.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengar Alex bicara, aku berpikir mungkin ia tidak peduli lagi padaku tetapi pikiranku ternyata salah.
Suamiku begitu mengkuatirkan aku dan ia mencari aku kesana kemari.
"Maafkan aku sayang, sudah membuat kamu kuatir," kataku.
"Yang penting sekarang kamu sudah bersamaku," jawab Alex.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa buat like, komen, tekan tombol ❤️ jadikan novel ini favorit untuk mendapatkan info terbaru.
Jangan lupa bantu vote ya.
Aku gak tau kalian bacanya sedih gak tapi aku menulisnya beberapa kali menitikkan air mata, apa aku terlalu baperan ya.
kata"nya si Alex pinter bgt ce ngasih solusi,saran,serta nasehat..
itu motivasi dan bimbingan menuju kebenaran banget deh..
salut aku padamu thor
bikin baper aja deh
kl kyk gitu critanya Laki bangeeeettt😄😄😄