Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang baru?
Aneka terdiam kaku didepan makam ibunya yang bertabur bunga. Bau harum dari bunga-bunga itu benar-benar semerbak, namun wangi harum itu tak bisa membuat sudut bibir itu terangkat untuk tersenyum.
Setelah semua orang pergi meninggalkannya di makam tersebut, Aneska menangis tersedu-sedu memegangi nisan yang bertuliskan nama ibunya.
Rasanya, Aneska tak sanggup lagi untuk hidup di dunia ini. Ia merasa semuanya sudah berakhir. Selama ini, ia mengabdikan hidupnya untuk mengobati ibunya yang sakit-sakitan. Namun, kini ibunya sudah dipanggil oleh yang maha kuasa. Lantas, apa lagi yang harus Aneska lakukan selanjutnya.
"Buk, Anes rasanya gak sanggup kalau ditinggal sama Ibuk. Kenapa Ibuk ninggalin Anes sendiri, Buk?"
Suara serak itu terdengar menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya. Namun, untungnya tak ada orang lain di sana selain diri Aneska sendiri.
Aneska meremas kelopak bunga yang bertebaran itu. Membuat tanah basah bekas galian itu menjadi indah tertutupi bunga yang cantik.
Rasanya, sesak di dada Aneska tak sanggup lagi ia tahan. Selama seumur hidupnya, ia dan ibunya sama-sama berjuang, disaat papa Aneska yang hanya mempedulikan Aresha saja.
Aneska hanya memiliki sang ibu didalam hidupnya, dan kini penyemangatnya itu sudah pergi untuk selama-lamanya.
Namun, isak tangis Aneska perlahan mereda saat ia mengusap perutnya yang datar. Perut yang didalamnya ada benih dirinya dengan sang suami, Danish.
Kembali Aneska terisak karena memikirkan jalan hidupnya yang berantakan. Ia merasa sudah tak bisa lagi menahan semuanya. Tapi, ketika Tuhan menitipkan sebuah nyawa di rahimnya, membuat Aneska memiliki sedikit semangat hidup. Setidaknya, Tuhan memberikan pengganti ibunya, yang akan dia jaga dan urus dengan sepenuh hati.
Setelah berdiam diri selama hampir satu jam di samping makam ibunya, akhirnya Aneska mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana. Selain karena cahaya matahari yang sudah ada diatas ubun-ubunnya, Aneska juga merasa lelah.
Setidaknya, kalau Aneska tidak ingin merawat dirinya sendiri, ia harus ingat, kalau dalam perutnya, ada sebuah nyawa yang harus ia lindungi.
Setelah membeli minuman dan juga makanan, Aneska memutuskan untuk pergi ke rumah lamanya bersama dengan ibunya dulu. Rumah yang menjadi tempatnya berlindungnya, sebelum menjadi istri Danish.
Memasuki rumah yang nampak berkabut itu, Aneska sedikit terbatuk-batuk. Namun ia segera menutup hidungnya dengan selembar tisu yang ia ambil dari dalam tasnya.
Walaupun tubuhnya lelah, tapi Aneska harus membersihkan rumah itu, agar ia bisa tinggal dengan nyaman untuk sementara waktu.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Aneska untuk membersihkan semua sudut rumah tersebut, karena ukuran rumah yang sangat kecil, yang bahkan hanya punya satu kamar tidur saja.
Setelah semuanya beres, Aneska mendudukkan dirinya di atas kasur tipis yang ada didalam kamarnya yang sempit. Kasur itu, dulunya menjadi tempat Aneska mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan karena seharian mencari uang, untuk biaya hidup dan juga biaya berobat ibunya.
Ketika Aneska merebahkan tubuhnya di atas kasur kaku tersebut, tiba-tiba saja air matanya kembali menetes. Semua kejadian yang menimpanya, terlalu tiba-tiba dan juga bertubi-tubi. Rasanya Aneska ingin menyerah saja untuk hidupnya.
Ketika Aneska mulai memejamkan matanya, ponselnya yang ada didalam tas berdering. Aneska kemudian duduk untuk mengambil tasnya itu, dan melihat siapa orang yang menghubunginya.
Aneska mengerutkan keningnya, ketika ia tidak mengenali nomor tersebut. Tapi Aneska tetap mengangkatnya, takut jika itu adalah panggilan telepon yang penting.
"Halo, An?" suara seorang laki-laki terdengar menyapa di seberang sana. Aneska mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat, itu suara siapa.
"An?" panggilan itu kembali terdengar.
"Iya, halo. Maaf, ini siapa, ya?" Aneska akhirnya memilih bertanya, saat ia tak berhasil mengingat, siapa orang yang menghubunginya tersebut.
"An, ini aku, Tio. Teman masa kecil kamu dulu. Kamu masih ingat, kan?"
Aneska semakin mengerutkan keningnya, hingga kenangannya dengan seorang anak laki-laki, ketika dirinya masih kecil terlintas secara samar dalam ingatannya. Dan hanya anak laki-laki itu pula yang memanggil Aneska dengan sebutan 'An', disaat temannya yang lain, memanggilnya dengan sebutan, 'Nes'.
"Hai, Ti. Maaf, aku lupa," ucap Aneska akhirnya. "Kamu apa kabar?" sambung Aneska bertanya.
"Aku baik-baik saja. Dan kamu, apa kamu baik-baik aja? Aku baru saja dapat kabar dari temanku yang ada di sana, katanya, ibu kamu meninggal, ya?"
Nada suara Tio terdengar samar saat menanyakan itu. Mungkin karena dia merasa tidak enak hati terhadap Aneska.
Dengan senyum kecut dan manik mata yang menatap penuh kepedihan, Aneska mengiyakan pertanyaan Tio.
"Iya, Ti. Ibuku meninggal tadi malam, di rumah sakit," ucap Aneska menjelaskan. Kepalanya tertunduk, dengan salah satu tangan yang mempermainkan ujung bajunya.
Tak ada jawaban dari Tio. Hanya hening yang terdengar, membuat Aneska menjauhkan ponselnya itu dari telinganya, untuk melihat apakah panggilan tersebut masih tersambung atau tidak. Tapi detik panggilan yang masih berjalan membuat Aneska mengerutkan keningnya.
"Ti? Tio? Kamu masih di sana, kan?" Aneska bertanya dengan nada suara yang sedikit panik, takut jika terjadi apa-apa pada sahabatnya tersebut.
"Ah, iya. Aku baik-baik saja, An. Lalu, sekarang kamu ada di mana? Masih di rumah lamamu?" tanya Tio.
"Iya, aku masih disini untuk sementara waktu. Dan setelah ini aku ingin pindah dari sini, untuk memulai kehidupan baruku," ucap Aneska.
"Kamu serius?" tanya Tio.
Aneska mengangguk, walaupun tahu kalau Tio tidak akan melihatnya.
"Kamu mau ikut denganku?"
Kalimat tanya itu keluar begitu saja dari mulut Tio. Dan itu tentu saja membuat Aneska terdiam. Ia tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pria tersebut.
"Maksudnya?" kata Aneska bertanya.
"Maksudnya, apa kamu mau bekerja di tempatku? Aku ingat kalau dulu, kamu pernah bilang ingin menjadi seorang desainer berbakat. Dan aku akan membantumu untuk mewujudkannya," ucap Tio menjelaskan.
Ia berusaha untuk menormalkan nada bicaranya, agar tidak terdengar gugup. Berbicara lagi dengan gadis yang menjadi cinta pertamanya, setelah berlalu selama bertahun-tahun, membuat debaran gila itu kembali terasa dari dalam dada Tio.
Ya, saat dirinya dan Aneska yang terpaut usia yang tidak terlalu jauh, Tio menyukai gadis kecil dengan senyuman manis itu. Awalnya Tio menganggap kalau itu adalah cinta monyet anak kecil dengan temannya.
Nyatanya, setelah ia bersama dengan keluarga pindah dari rumah lama mereka dulu, Tio tidak dapat menahan perasaannya. Rasa rindu yang membuatnya gila, membuka pikiran Tio, kalau dirinya benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.
Dan Aneska adalah cinta pertamanya, dan itu bertahan selama hampir belasan tahun.
***
Selamat membaca!!