Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Writer's block Serta Mahakarya Tuhan Yang Jatuh Dari Langit
Kopi kelima hari itu sudah mendingin, sama dinginnya dengan nasib karir menulis Jennie.
Di layar laptop, kursor berkedip dengan ritme teratur seolah-olah sedang mengejeknya. Sejak enam jam yang lalu, kursor itu tidak bergeser satu milimeter pun dari kalimat terakhir yang ia ketik.
"Dia menyentuh tangannya dengan penuh hasrat."
"Penuh hasrat? Itu adalah deskripsi paling sampah yang pernah kau buat Jen," gumam Jennie pada dirinya sendiri sembari menjambak rambutnya yang sudah tidak keramas selama tiga hari.
Jennie adalah seorang penulis novel dewasa paling laris tahun ini dengan nama pena "Lady Velvet". Namun ironisnya dia sendiri memiliki pengalaman asmara yang setara dengan sepotong kayu lapuk.
Dia bisa menulis tentang 'sentuhan yang membakar' atau 'tatapan yang menghancurkan pertahanan', tapi dalam kenyataan hidup ciuman terakhir yang ia rasakan adalah ciuman tak sengaja dari anjing golden retriever milik tetangganya dua tahun lalu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar hebat di atas meja kayu yang dipenuhi remah biskuit. Nama yang muncul di layar membuat lambungnya melilit seketika.
"IBLIS BERPAKAIAN PRADA"
Itu adalah panggilan dari editornya.
"Ya, Manda sayang?" jawab Jennie dengan suara yang dibuat seceria mungkin, meski saat itu wajahnya lebih mirip orang yang sedang melihat hantu.
"Jangan panggil aku sayang! Mana bab lima dari Midnight Heat? Kau tau kan jika draft itu tidak masuk besok pagi penerbit akan membatalkan bonus liburanmu ke Bali?"
Suara Manda melengking dari seberang telepon, sanggup membuat gelas-gelas kaca dalam imajinasi Jennie retak.
"Sebentar! Aku masih harus mendalami emosi karakternya, menulis adegan panas itu butuh suhu yang tepat," balas Jennie.
"Suhu kepalamu! Pokoknya besok pagi pukul delapan kau sudah harus mengirimnya, jika tidak aku akan datang ke apartemenmu dan memastikan kau menulis sambil berdiri di atas satu kaki!"
Klik! Sambungan terputus secara sepihak.
Jennie menghela napas panjang dan melemparkan ponselnya ke atas tumpukan bantal. Saat ini dia sedang mengalami momen paling horor sebagai penulis yang biasa disebut dengan writer's block.
Kondisi psikologis di mana seorang penulis kesulitan untuk memulai atau melanjutkan tulisan karena kurangnya ide/inspirasi.
Wanita berusia 25 tahun itu berjalan ke sofa dan menyalakan televisi, dia mencoba mencari inspirasi lewat film dewasa seperti biasa yang dia lakukan. Tapi baru beberapa menit film berjalan bukannya terinspirasi dia justru sibuk mengkritik pencahayaannya dan dialognya.
"Kenapa lampunya kuning sekali? Dan tunggu, apakah pria itu baru saja salah menyebutkan nama pasangannya? Sangat tidak profesional!"
Inspirasi lewat film dewasa gagal!
Namun Jennie tidak menyerah begitu saja, jangan sampai bonus liburannya hangus karena otaknya yang tidak mau diajak bekerja sama.
Dengan langkah sedikit ogah-ogahan, dia mengambil matras bewarna pink yang terbungkus rapi di pojok kamarnya. Dia membuka dan merentangkan matras itu di space kosong di ruang tamu.
Dari artikel yang pernah dia baca, yoga bisa melancarkan aliran darah ke otak, jadi sekarang dia ingin membuktikannya. Dengan berbekal video tutorial dari youtube, dia mulai mengikuti kelas yoga dadakan tersebut.
Dia mencoba posisi downward dog, lalu setelahnya beralih ke posisi yang lebih rumit. Inspektur yoga di televisi menyebutnya dengan "posisi teratai melayang".
"Oke, Jennie. Tarik napas dan bayangkan pria tampan, bayangkan otot...."
Krak!
"Aduhhhh! Pinggangku!"
Wanita itu terjungkal dan mendarat dengan wajah mencium matras. Lagi dan lagi cara ini tidak berhasil untuknya, tubuhnya lebih kaku dari aturan di perpustakaan nasional.
Dengan perasaan putus asa, dia meraih cangkir kopi yang hanya tersisa sedikit dan berjalan menuju balkon apartemennya yang berada di lantai lima. Dia butuh udara segar sebelum otaknya benar-benar meledak.
Sore itu udara di Jakarta sedang sangat lembap. Saat dia menyadarkan sikunya di pagar balkon, sebuah pemandangan di bawah sana menghentikan semua keluhannya.
Sebuah truk pindahan baru saja berhenti tepat di depan lobi gedung apartemen. Dua orang petugas angkut turun, diikuti oleh seorang pria yang keluar dari kursi kemudi sebuah SUV hitam yang tampak mahal.
Dari ketinggiannya sekarang, Jennie hanya bisa melihat puncak kepala pria yang berambut gelap dengan bahu lebar..
Pria itu tampak berbicara sejenak dengan petugas keamanan, lalu mendongak seolah sedang menghitung lantai gedung. Dengan begitu Jennie refleks menarik kepalanya ke belakang agar tidak terlihat seperti pengintai mesum.
Tapi tak lama kemudian kedua matanya membulat sempurna, pemandangan di bawah sana sangat berbahaya untuk kesehatan jantungnya.
Pria itu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu, melepaskannya sepenuhnya dan menyampirkannya di bahu, lalu mulai membantu petugas menurukan barang. Punggung yang atletis dengan otot-otot yang bergerak harmonis di bawah kulit sewarna madu yang berkeringat tipis.
Deg!
Itu bukan hanya punggung, itu adalah mahakarya Tuhan yang paling indah. Sebuah mahakarya yang jatuh langsung dari langit!
"Astaga," bisik Jennie. Jemarinya bergetar, di otaknya kursor yang tadi macet tiba-tiba berlari kencang.
"Ototnya berkedut saat dia mengangkat kardus besar, keringat mengalir di sepanjang lekukan tulang belakangnya..."
Di tengah imajinasinya pria itu tiba-tiba berbalik, wajahnya terlihat jelas sekarang. Rahang tegas, hidung mancung, dan mata setajam elang, dan yang paling penting tonjolan di bawah perutnya yang terlihat besar, pria itu sepertinya sangat hebat di atas ranjang. Benar-benar perwujudan sempurna untuk menjadi inspirasi tokoh novelnya.
Pria itu kembali menatap sekilas ke arah deretan balkon, Jennie panik dan dengan gerakan yang sangat memalukan dia mencoba bersembunyi di balik pot bunga kaktus kecilnya yang tentu saja tidak cukup lebar untuk menutupi tubuhnya.
Clang!
Cangkir kopi yang dia pegang merosot dari tangannya menghantam lantai balkon dan pecah berkeping-keping, sisa kopi meyiprat di sekitarnya.
Pria di bawah sana berhenti bergerak, dia kembali mendongak tepat ke arah balkon Jennie. Jennie bersumpah dari jarak itu dia melihat ujung bibir pria itu terangkat sedikit.
Sebuah seringai tipis yang sangat menyebalkan sekaligus sangat seksi di matanya.
Pria itu tidak berteriak, dia hanya menatap Jennie selama beberapa detik kemudian mengangkat kardusnya kembali dan masuk dengan santai ke lobi.
Jennie terduduk di lantai balkon, mengabaikan pecahan keramik di sekitarnya. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat Manda menagih deadline.
Tanpa menunggu lama dia segera merangkak masuk ke dalam, menyambar laptopnya seperti orang kesurupan dan mulai mengetik dengan kecepatan cahaya.
Midnight Heat Bab 5 :
"Dia berdiri di sana, memunggungi dunia sementara sinar matahari membelai otot-ototnya yang sekeras beton........."
"Terima kasih penghuni baru," Jennie menyeringai lebar. "Kau baru saja menyelamatkan bonus liburanku."
Bersambung