NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Wanita Itu

Tiba-tiba tepuk tangan terdengar pelan, tapi cukup tajam untuk memotong suasana hangat yang sempat tercipta di ruangan itu.

Nana dan Jordan sama-sama tersentak. Pandangan mereka beralih ke arah pintu yang kini terbuka setengah. Seorang wanita berdiri di sana—rambutnya tertata rapi, riasannya sempurna, tatapannya tajam dan penuh penilaian. Bibirnya melengkung, bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menyimpan sindiran.

“Wah,” katanya sambil terus bertepuk tangan. “Pemandangan yang menarik.”

Jordan langsung berdiri. Wajahnya menegang. “Kamu ngapain di sini?”

Wanita itu melangkah masuk tanpa menjawab. Sepatu haknya berdenting pelan di lantai. Tatapannya beralih ke Nana—dari ujung kepala sampai kaki—seolah sedang menilai sesuatu yang tak layak disentuh.

“Aku sengaja datang,” katanya akhirnya, santai. “Aku ingin bertemu kamu, Jordan. Tapi ternyata aku datang di waktu yang… sangat pas.” Ia menoleh ke arah Nana lagi. “Atau justru tidak?”

Nana merasakan dadanya mengencang. Ada sesuatu di cara wanita itu memandangnya—seolah ia bukan manusia, melainkan noda yang harus disingkirkan. Tangannya refleks mengepal di atas selimut.

“Dia pasienku,” kata Jordan tegas, berdiri di antara Nana dan wanita itu.

Wanita itu tertawa kecil. “Pasien?” alisnya terangkat. “Oh, tentu. Pasien yang ditatap penuh perhatian selayaknya seorang kekasih?” Ia mendengus. “Kamu pikir aku bodoh?”

Jordan mengepalkan rahangnya. “Ini rumah sakit. Tolong jaga sikapmu.”

“Lucu,” balas wanita itu dingin. “Kamu selalu bilang tidak siap menikah. Katanya ingin fokus pada karier, ingin bebas dari aturan. Tapi sekarang aku lihat alasannya.” Ia menatap Nana lurus. “Ternyata karena wanita ini.”

Nana mengangkat wajahnya. Matanya bergetar, tapi suaranya tetap keluar, pelan dan terkendali. “Maaf… saya tidak tahu siapa Anda. Tapi saya tidak pernah berniat—”

“Tidak perlu pura-pura polos,” potong wanita itu tajam. “Aku tahu tipe seperti kamu. Mengandalkan simpati. Bermain sebagai korban.”

“Itu cukup,” suara Jordan meninggi. “Kamu sudah kelewatan.”

Wanita itu menoleh padanya. Ada luka yang sekilas terlihat di matanya, sebelum tertutup lagi oleh kesombongan. “Aku ini calon istrimu, Jordan. Atau setidaknya… perempuan yang dipilih keluargamu untuk masa depanmu!"

Ruangan itu kembali sunyi. Nana menelan ludah. Kata calon istri itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya.

Jordan menghela napas panjang. “Aku sudah bilang sejak awal. Aku tidak pernah meminta perjodohan itu. Aku juga tidak pernah memberimu harapan.”

“Tapi kamu tidak menolakku secara terang-terangan,” balas wanita itu cepat. “Kamu diam dan menghindar. Sekarang aku melihat alasannya ada di sini.” Tangannya menunjuk Nana. “Karena pasienmu?"

Nana menunduk. Ada rasa malu, marah, dan sedih yang bercampur jadi satu. Namun sebelum ia sempat tenggelam lebih jauh, suara Jordan kembali terdengar—lebih tenang, tapi justru lebih tegas.

“Dengar baik-baik,” katanya. “Apa pun yang kamu pikirkan, jangan seret Nana ke dalam masalah keluarga kita."

Wanita itu terdiam. Wajahnya menegang. Tangannya mengepal, kuku-kukunya menekan telapak sendiri.

“Jadi ini keputusanmu?” tanyanya pelan. “Membela orang asing daripada menerima masa depan yang sudah disiapkan untukmu?”

Jordan menatapnya lurus. “Kita bicara diluar saja."

Tatapan wanita itu mengeras. Ia tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak hangat. “Tidak perlu,” katanya pelan. “Aku terhina diperlukan seperti ini. Kita lihat sampai sejauh apa kamu bisa bertahan.”

Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan pintu yang menutup pelan di belakangnya.

Nana mengangkat wajahnya perlahan. Matanya bertemu dengan Jordan. Ada rasa bersalah yang menggenang.

“Aku minta maaf,” ucapnya lirih. “Karena aku… kamu jadi bermasalah.”

Jordan menggeleng pelan. Tatapannya lembut, mantap. “Tidak, Nana. Masalah itu sudah ada jauh sebelum kamu datang.”

"Tapi di calon istrimu, dokter. Kejar dia!"

"Aku tidak mau."

"Loh, kenapa?"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!