Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit Part 2
Mereka meninggalkan kelas dan menuju ke tempat parkir, di sana sudah ada Stella dan Sheina.
“Ini gakpapa kalau kita lewat gerbang utama?” Tanya Alex.
“Aman lah, itu urusan gue,” Stella menepuk dadanya sendiri.
“Ayo cepat! Jangan sampai pak gumelar liat kita,” Davin sudah menaiki motornya.
“Gue sama siapa dong?” tanya Stella.
“Udah, sini sama gue aja,” tawar Davin.
“Stella ikut gue,” potong Alex tanpa ragu.
Stella menoleh bergantian ke arah Davin lalu Alex. Alisnya terangkat tipis, bibirnya mengerut seolah sedang menimbang pilihan.
“Lah kok jadi rebutan sih,” gumamnya, setengah geli.
Davin mendecak pelan. “Ya soalnya kalau sama gue, jelas aman. Gue jagain.”
Alex menyilangkan tangan di dada, tatapannya datar tapi tegas. “Sama gue juga aman. Lagian, Stella lebih nyaman sama gue.”
Davin mengembuskan napas berat. “Terserah pilihan lo. Stella, mau sama siapa? Gue atau Alex?”
Stella menghela napas pendek, lalu mengangkat wajahnya. Tatapannya berhenti pada Alex.
“Yaudah… gue sama Alex aja.”
Ucapan itu jatuh begitu saja, sederhana tapi cukup bikin suasana berubah.
Davin terdiam. “Ya udah. Cepat naik.”
Alex menoleh ke Stella, jelas agak kaget, tapi cepat mengangguk. “Ayo,” ucapnya pendek.
Stella melangkah ke samping Alex, lalu sempat menoleh ke Davin. “Bukan apa-apa,” katanya pelan. “Gue cuma pengin yang paling simpel.”
Davin mengangguk kecil tanpa senyum. “Gue ngerti.”
“Shei… ikut aku aja,” ucap Zayyan pelan.
Tanpa banyak protes, Sheina langsung menaiki sepeda motor Zayyan.
Davin menatap mereka dengan wajah memelas. “Serius? Gue cuma kebagian bonceng angin doang?”
“Udah ayo, jalan!” Alex mulai melajukan motornya diikuti yang lainnya.
Dengan sedikit negosiasi yang alot, akhirnya mereka bisa keluar dari sekolah dengan aman tanpa adanya drama.
Mereka melajukan motornya menuju rumah sakit dimana Aera di rawat.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang di tuju.
“Kita nggak mungkin masuk semua kan?” Tanya Alex sambil melepas helmnya.
“Udah, kalian bertiga masuk duluan aja. Kita cuma nganter kok,” ujar Davin sambil nyengir.
“Loh, bukannya tadi kalian mau ikut ke rumah sakit?”
Davin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya sih, bilangnya gitu,” katanya sambil terkekeh kecil. “Tapi kan niatnya cuma nganter.”
Alex mengangguk setuju. “Lagi pula di dalam udah rame. Kalian duluan temenin Aera aja.”
Stella menyipitkan mata. “Alasan.”
Sheina menimpali, “Iya, mencurigakan banget.”
Alex yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. “Nggak ada apa-apa. Kita nunggu di luar.”
Davin melirik Alex, lalu menyeringai tipis. “Jarang-jarang lo mau nunggu.”
Alex mengangkat bahu. “Kali ini beda.”
Sheina menarik lengan Stella pelan. “Yaudah, Kita masuk dulu.”
Stella, Sheina dan Zayyan memasuki lobby rumah sakit dan menuju ruangan yang sudah Leo beri tahu lewat whatsapp Aera.
Tak menunggu lama, mereka sampai di depan ruangan dimana Aera di rawat.
Stella membuka pintu dengan perlahan, ia melongok kan kepalanya dan di dapati Leo yang sedang duduk di sebelah ranjang Aera.
“Kalian bolos?” suara Leo dari samping sontak membuat ketiganya menoleh.
“Wah, parah banget kalian. Bolos,” timpal Wain.
“Hehehe,” Sheina dan Stella hanya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Wain…” panggil Zayyan dengan mata yang berkaca-kaca.
Wain menoleh dan di dapati Zayyan yang mendekat dan memeluk erat tubuh pemuda itu.
“Kemana aja? Aku nyariin kamu,” tanyanya dengan suara bergetar.
“Maaf, gue nggak ngabarin lo,” sesalnya.
Zayyan melepaskan pelukannya, ia menoleh ke arah Aera yang tengah berbaring dengan luka di wajahnya.
“Aera kenapa?” Zayyan mendekat dan seketika menangis kencang.
“Leo, Aera kenapa? Ko mukanya luka-luka kaya gini?”
“Aera lagi sakit,” tuturnya.
Sedangkan yang lain menatap iba ketika melihat wajah Aera yang penuh dengan luka.
Leo mengelus pipi gadis itu dengan pelan, “capat bangun sayang, banyak orang yang ikut sedih liat kamu sakit kaya gini,” bisiknya.
”Oh iya, mereka pada ke mana sih?” tanya Sheina yang sejak tadi mencari keberadaan inti Alaxtar.
“Siapa?” tanya Leo bingung.
“Itu, teman-teman kalian. Davin sama Alex,” jawab Sheina.
Leo dan Wain saling pandang. Tatapan mereka bertemu sejenak, sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Sheina dan Stella.
“Mereka juga ke sini?” tanya keduanya hampir bersamaan.
Sheina dan Stella mengangguk pelan.
Wain langsung berdiri tegak. “Serius?” alisnya berkerut.
Leo ikut menoleh ke arah pintu ruangan, seolah berharap Davin dan Alex muncul detik itu juga.
“Iya,” jawab Stella singkat. “Tadi barengan sama kita masuk rumah sakit.”
Sheina menghela napas pelan. “Perasaan mereka bilang cuma nganter doang.”
“Ngaco,” sahut Wain. “Mereka nggak mungkin cuma nganter.”
Belum sempat yang lain menanggapi, pintu ruangan terbuka pelan.
“Wah, rame,” suara Davin muncul lebih dulu, disusul Alex di belakangnya.
“Tuh kan,” gumam Wain.
Alex masuk paling akhir. Tatapannya langsung tertuju ke arah ranjang Aera—dan mendapati Leo berdiri di sisi gadis itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Alex, nadanya rendah.
Wain dan Leo saling pandang. Dalam hitungan detik, keduanya hampir bersamaan membuka suara.
“Nggak ada apa-apa. Ini cuma kecelakaan kecil kok,” ujar Leo cepat.
“Kecelakaan kecil, tapi kok lukanya parah banget,” timpal Davin, jelas tidak percaya.
Alex menyipitkan mata. Ada sesuatu yang jelas mereka sembunyikan. “Kalian yakin cuma itu?”
Melihat situasi yang mulai memanas, Wain segera memberi isyarat pada Alex untuk keluar mengikutinya.
Di luar rumah sakit, jauh dari pendengaran yang lain,
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sama Aera?” tanya Alex.
Wain menarik napas panjang sebelum akhirnya menceritakan kejadian yang menimpa Aera dan Leo malam itu.
Ia menjelaskannya dengan rinci dan penuh tekanan,
sementara Alex mendengarkan dengan wajah serius, tak ingin melewatkan satu detail pun dari cerita Wain.
“Gue udah dapet data tentang Aera. Mulai sekarang, gue sama Leo bakal nyari bukti soal perilaku buruk Belva—ibu tiri Aera di belakang,” ujar Wain serius.
“Soalnya cuma bukti itu yang bisa bikin ayah kandungnya Aera percaya.”
Alex terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin.
“Jadi selama ini… Aera disakitin, dan dia harus nutupin semua itu sendirian?” suaranya rendah, tertahan.
Wain mengangguk pelan. “Leo nemuin dia dalam kondisi nggak baik malam itu. Kalau telat dikit aja—” Wain berhenti, menarik napas. “Gue nggak mau mikir kemungkinan terburuknya.”
Alex mengepalkan tangan. “Belva ibu kandung Alfino.”
Satu nama itu keluar dengan nada penuh amarah.
“Makanya gue nggak mau Leo bereaksi gegabah,” lanjut Wain. “Kalau kita salah langkah, Aera yang kena lagi.”
Hening sesaat di antara mereka. Suara kendaraan lalu-lalang di depan rumah sakit jadi satu-satunya pengisi.
“Apa rencana lo?” tanya Alex akhirnya.
“Kita kumpulin bukti pelan-pelan,” jawab Wain mantap.
“Rekaman, saksi, apa pun. Begitu cukup kuat, ayahnya Aera nggak bakal bisa nutup mata lagi.”
Alex mengangguk pelan. “Gue ikut.”
Wain meliriknya. “Gue tau.”
“Terus, gimana dengan Alfino? Apa dia juga terlibat?” tanya Alex.
Wain menggeleng pelan. “Sejauh yang gue cari tahu, Alfino itu orangnya baik. Dia selalu berusaha melindungi Aera. Walaupun dia anak kandung Belva, sifatnya jauh berbeda sama ibu kandungnya.”
Alex menatap Wain tajam. “Lo yakin?”
Wain mengangguk singkat. “Tapi gue tetap bakal cari tahu lebih jauh. Kali ini langsung lewat Aera.”
Alex mendengus pelan. “Gue tetep curiga. Alfino nggak mungkin sebersih itu. Pasti ada sesuatu yang dia pengin dari Aera. Lo juga tau sendiri, Alfino itu licik.”
Wain terdiam beberapa detik, seolah menimbang ucapan Alex. Pandangannya lurus ke depan, menatap lampu-lampu parkiran rumah sakit yang redup.
“Gue paham kecurigaan lo,” ucap Wain akhirnya. “Makanya gue nggak langsung percaya seratus persen sama siapa pun.”
Alex menyilangkan tangan. “Aera terlalu polos buat permainan orang kayak dia.”
“Justru itu,” sahut Wain. “Kalau Alfino punya niat lain, kita bakal tahu. Cepat atau lambat.”
Alex menghembuskan napas kasar. “Gue nggak mau Aera dijadiin alat.”
Wain menoleh, tatapannya tajam. “Dan itu alasan kenapa gue minta lo keluar barusan. Kalau lo masuk dengan emosi, semuanya bisa berantakan.”
Alex terdiam. Tangannya mengepal, lalu perlahan mengendur.
“Gue sama Leo udah janji,” lanjut Wain, suaranya lebih rendah. “Sebelum apa pun terjadi lagi ke Aera, kita udah berdiri di depan.”
Alex mengangguk pelan. “Kalau Alfino beneran main di belakang—”
“kita siap,” potong Wain tegas.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Dari dalam rumah sakit, samar-samar terdengar suara langkah kaki perawat.
Alex menoleh ke arah pintu masuk. “Kita balik. Jangan sampai mereka curiga.”
Wain mengangguk. “Iya.”
Keduanya melangkah kembali masuk, membawa kecurigaan dan rencana yang kini sama-sama mereka simpan rapat—demi satu orang yang sedang berusaha bertahan di balik dinding rumah sakit itu.