AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 23: accept [END]
AKU akhirnya mengerti. Ini semua adalah reinkarnasi yang terasa sulit kupercaya, tetapi itulah yang terjadi sekarang. Alasan mengapa dia mendatangiku di dua kehidupan di masa lalu mungkinkah sama dengan alasan anak itu kembali lagi padaku? Aku menggeleng, tak percaya dengan apa yang berlangsung di hadapanku. Hingga aku menatap Elora kembali, kesadaran yang tadinya hilang membawaku kembali pada realita bahwa dia, yang kubunuh di dua kehidupanku, sepenuhnya ada di sini, di depanku, dan ada dalam hidupku.
Seluruh perkataan yang sering terlintas bukanlah mimpi melainkan ingatan masa lalu yang terlupakan. Kedua tangan ini mendadak gemetar. Benang kusut yang menjalar di pikiranku perlahan terurai dan membentuk sebuah garis lurus yang nyata. Pertanyaan yang selama ini tidak terjawab menemukan titik terang. Hubungan Elora dengan masa lalu adalah sebuah eksistensi yang terulang hingga saat ini karena dari awal yang menjadi tujuannya adalah aku.
Berjalan mundur sembari memegang kepala, dadaku tiba-tiba berdebar. Seketika tidak siap dengan akhir yang telah kuketahui. Namun, jika aku masih punya waktu, apakah dia akan kembali lagi di kehidupanku yang selanjutnya setelah kubunuh? Mendadak aku merasa tak memiliki arah yang jelas. Aku memberinya racun, tetapi di saat bersamaan juga mengirimkan dokter. Entah apa yang kulakukan sekarang. Semuanya menjadi ambigu dan buram.
Sekonyong-konyong aku mendekat kembali, menatapnya yang masih terlelap dalam efektivitas obat penawar. Makhluk lemah yang kecil dan hangat ini terpejam dengan nyenyak dan membawaku pada pikiran untuk menghancurkannya dari jarak sedekat ini. Namun, tingkah laku, senyuman, dan perkataannya seperti memberikan perlindungan dari keinginanku untuk menghabisinya. Seperti disihir, tangan yang semalam membelai kepala Elora masih terasa hangat, seolah baru beberapa saat lalu menyentuh rambutnya.
Aku mulai ragu. Keinginan untuk melenyapkannya menyeruak dari dalam, tetapi di saat bersamaan, bagian lain dalam dadaku berusaha menahan dan menghilangkan keinginan tersebut. Pikiranku berkecamuk. Di saat seperti ini, harusnya pilihan mati adalah sebuah kepastian, tetapi aku merasa berat untuk melakukannya, seolah ada suara yang terus berteriak untuk menyuruhku menyimpan anak itu di sisiku.
Pikiranku memutar memori Elora yang menyihirku untuk bergerak mengambil tangannya, menyentuh jari-jemari anak itu yang sangat kecil dan lemah, seolah bisa hancur kapan saja jika aku menggenggamnya dengan erat.
“Kau tahu? Aku berpikir selama ini kehidupanku menyenangkan setelah membalas dendam. Namun, sejak bertemu denganmu, aku kembali berpikir bahwa kehidupanku yang seolah telah mengubahku menjadi iblis juga terasa hampa dan menyedihkan.” Aku menelan ludah dengan susah payah, sebelum melanjutkan, “Ditinggalkan sendirian di dunia ini tanpamu, mungkin ke depannya akan terasa sedikit menyakitkan karena aku harus merasakan kesepian kembali dengan waktu yang sangat lama.”
“Maka dari itu, aku berubah pikiran. Aku berpikir bahwa itu adalah hukuman yang sangat kejam. Jadi, jika memang kedatanganmu adalah atas segala perbuatanku di masa lalu, maka aku tak masalah. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan meski sedikit. Terima kasih karena telah mendatangiku lagi meski aku telah membunuhmu dua kali. Terima kasih karena sudah ada di dunia ini. Aku akan sangat senang mati di tanganmu. Jadi, tak perlu merasa bersalah jika saat itu tiba, putriku.”
“Aku tidak tahu sampai kapan bisa mengontrol kegelapan agar tidak hilang kendali, tetapi jika seandainya terjadi hal buruk, kaburlah. Jangan mati dan teruslah hidup. Jangan pedulikan aku. Namun, jika sesuatu terjadi dan kau harus terpaksa mati, datanglah kembali di kehidupanku yang lain. Aku akan menunggumu berapapun lamanya. Jadi, jangan pernah tinggalkan aku sendirian. Aku menyayangimu, putriku.”
Tangan mungil yang selalu menggenggam erat telunjukku ini kemudian terasa hangat. Mungkin karena sudah semakin familier dengan jari-jemarinya, aku jadi merindukannya. Aku ingin kembali digenggam olehnya, mendengar ceritanya lagi, mendengar omelan dan tangisnya, lalu menggendong tubuhnya yang berat. Seperti dulu.
Kepalaku kemudian kembali memutar memori ketika aku bersama Elora. Aku masih mengingat dengan detail hari itu dan percakapan kami.
“Papa.”
Aku menghentikan langkah dan berbalik. Elora duduk di rumput sembari meluruskan kaki-kaki kecilnya. Aku yang melihatnya hanya menatap heran dan mendekat.
“Kenapa duduk di situ?”
“El capek.”
“Capek? Katanya kau ingin jalan-jalan.” Aku mendecak sebali ketika melihatnya mengaduh dan menggoyangkan kedua kakinya. “Kalau begitu, jalan-jalannya sampai di sini saja.”
“El sudah tidak capek.” Dia sertamerta berdiri, memberrsihkan gaunnnya dari anak rumput yang menempel. “Ayo, Pa.”
Dia berjalan lebih dulu, tetapi meski memimpin di depan, jarak yang dihasilkan tidak terlalu besar sehingga hanya dengan berjalan selangkah, aku berhasil menggapai tubuhnya, mengangkatnya, dan menggendong dia dengan kedua kaki yang melingkar di bagian perut hingga belakang punggungku.
Dia terlihat bingung, tetapi aku tidak menggubris dan hanya melanjutkan acara jalan-jalan kami yang sempat tertunda. Ketika melewati sekumpulan bunga krisan, Elora memberatkan tubuhnya ke samping, ingin meraih bunga-bungaitu hingga aku harus menyesuaikan diri agar dia tak terjatuh atau terlepas dari gendonganku.
“Jangan banyak bergerak. Tubuhmu berat seperti babi, jadi, susah menggendongnya.” Aku mengomel, tetapi dia tidak menghiraukannya dan hanya berusaha meraih bunga krisan kuning yang sejak awal menjadi incaran anak itu.
“Sedikit lagi.”
Dia berkata sembari semakin menurunkan tangan, meraih bunga krisan kuning, lalu di detik berikutnya bunga tersebut telah berpindah tangan pada Elora. Dia terkekeh, memamerkan bunga yang dia dapat setelah membuatku repot menahan berat tubuhnya.
“Kau menyusahkan sekali.”
Elora hanya tertawa dan hal yang tak terduga pun terjadi. Anak itu menyelipkan bunga tersebut ke telingaku. Tersenyum lebar sembari berkata, “Bunga ini milip dengan lambut Papa.” Dia berhenti dan mendekatkan wajahnya kepadaku, mengecuup pipiku sembari berbisik,
“Semoga Papa melasakan kebahagiaan sepelti sekalang.”
Memori itu lenyap bersama dengan rasa kantuk yang disebabkan oleh anggur yang kuminum beberapa saat lalu. Mengeratkan genggaman di tangan Elora, aku berkata pelan, nyaris berbisik di telinganya.
“Bangunlah dan temui aku lagi, putriku.”[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak