Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suara langkah kaki itu terdengar memekik genderang telinga, pun dengan penggaris panjang berkisar 120 centimeter yang terdengar ditepuk dengan telapak tangan, tatapan tajam terus diperlihatkan seolah siap menguliti hidup-hidup.
"Siapa yang bernama Nata?" Afnan membuka pembicaraan bersama para pelayan yang kini sudah berjejer rapi setelah mendengarkan interupsi majikan baru mereka.
Seorang wanita paruh baya dengan kepala penuh uban itu maju selangkah, menundukan pandangannya hormat, "Nata masih berada di dalam kamarnya nyonya, sepertinya tengah sakit."
"Oh, sakit?" Afnan berkata pelan, menganggukan kepala sembari menatap wanita tua tersebut, "Siapa namamu?" Lanjutnya bertanya, sebab hanya pelayan inilah yang terlihat begitu tua.
Sang pelayan mendongok, tersenyum kecil, "Saya Bi Lily, kepala pelayan sekaligus ibu susu Tuan Dareen dulu saat kecil." Ujarnya berbangga diri, lantas berdiri dengan congak.
Afnan memutar bola matanya jengah, ternyata ibu susu? Lantas mengapa gayanya seperti nyonya utama saja? Bahkan saat datang kemari Afnan tidak melihat wanita itu menyambut atau sekedar menyapa. Benar-benar tidak tau diri sebagai pelayan.
"Aku bertanya namamu, bukan jabatanmu." Afnan berkata santai, lantas dengan tidak sopan ia tarik dagu Bi Lily menggunakan pengaris panjangnya, ia teliti wajah wanita itu dengan seksama.
Setelah beberapa menit, ia lempar pelan wajah penuh kerutan tersebut, "Kau Ibunya Nata?" Celetuknya bersama tatapan sengit, sebab setelah ia lihat, wajah mereka berdua sangatlah mirip.
Bi Lily mengerjabkan netranya terkejut, lantas menganggukan kepala, "Benar saya adalah Ibu Nata, apa ada masalah?" Tanyanya dengan senyuman lebar, hingga memperlihatkan gigi kuningnya yang nampak menggelikan.
Tertawa kecil namun terdengar mematikan, Afnan menarik pisau buah yang berada di atas meja, ia mainkan dengan gemulai ujung pisah tersebut dengan jemarinya, seperti tengah memberi ancaman.
"Ajarkan putrimu untuk tidak menjadi lacur." Afnan berseru lembut, wanita itu lantas duduk di atas kursi dengan congak, seolah ingin memperlihatkan bahwa kini dia yang berkuasa, bukanlah orang lain, apalagi seorang kepala pelayan yang tidak tau posisi dirinya.
Mendengar seruan sombong itu, membuat Bi LiLy menyipitkan netra, "Putri saya bukan seorang lacur nyonya!" Belanya tak senang, sebab tiba-tiba sekali putrinya dikatai seorang lacur, hati ibu mana yang tidak hancur?
Walaupun tentu Bi Lily tau jika putrinya Nata, sempat keluar masuk dari kamar tuan mereka, hanya saja jika benar menjadi teman main, maka bukanlah lacur! Mereka mau sama mau, toh Bi Lily juga akan mendukung sebab jabatannya akan naik tingkat.
Malah menurut anggapan Bi Lily, nyonya baru merekalah yang tidak becus hingga Tuan Dareen memilih wanita lain untuk menghangatkan ranjangnya.
Mengernyitkan kening, Afnan lantas mengangkat tangan kanan memberi interupsi, "Siapa yang bisa memberi kesaksian bahwa Nata selalu menggoda Tuan kalian?" Beonya tanpa intonasi. Hanya datar tanpa amarah.
Tidak ada jawaban sama sekali, mereka hanya menundukan kepala tanpa ucapan atau perlawanan, seolah takut akan kekuasaan wanita tua bau tanah yang sedari tadi terus menatap Afnan bengis, tak senang.
"Hebat." Afnan bergumam, mengagumi bagaimana Bi Lily bisa berkuasa hingga para pelayan itu tidak mendengar interupsinya sama sekali, tidak ada yang berkutip, layaknya mereka dipaksa untuk diam.
Padahal di sini, Afnan adalah nyonya, namun kalah telak dari seorang pelayan, lantas bagaimana jika Kak Louis tau? Bukankah ia akan ditertawakan karena tak mampu menyelesaikan masalah sepele seperti ini?
"Nyonya, tidak ada yang melihat putri saya menggoda Tuan Dareen, andalah yang terlalu khawatir sampai takut pada pelayan rendahan." Bi Lily berkata tegas, kembali melayangkan tatapan mengejek.
Menutup netranya sejenak, Afnan mengatur nafasnya sebab ucapan wanita kurang ajar itu, ia tidak ingin tiba-tiba memukul atau menjambak, walaupun sekarang emosi terasa sudah memuncak dan siap meledak.
"Baiklah, tidak ada yang melihat?"
"Tidak nyonya, kami tidak melihat." Para pelayan berkata serempak membuat Afnan semakin menyipitkan pandangannya, kesal bukan main.
Sialnya, Afnan seperti disepelekan dan diabaikan oleh para pelayan sebab perlakuan Dareen membuat mereka berpikir enggan untuk menurut, mereka lebih takut pada kekuasaan Bi Lily.
"Nyonya! Saya melihat, Nata memang selalu menggoda Tuan Dareen, bahkan dengan lancang masuk ke dalam kamar dengan piyama kurang senonoh!" Salah satu wanita berwajah pucat namun terkesan cantik itu berkata jujur.
Menoleh, Afnan tersenyum, "Kau melihatnya?"
"Benar, saya melih-"
"Aile! Mungkin kau salah lihat, jangan membuat nama Nata buruk di depan nyonya!" Tegur salah satu pelayan di samping tubuh wanita itu, mencubit pinggang gadis mungil itu.
"Tidak! Ak-"
"AILE!"
"Diam! Siapa yang menyuruhmu berbicara tanpa izinku?" Afnan berdiri, melangkahkan kakinya menuju wanita yang sekiranya kepala tiga, tengah menundukan kepala.
Helaan nafas Afnan layangkan, wanita itu tersenyum setan, "Benar-benar lancang, kau tidak menghargai majikanmu sendiri? Pergilah, kau bisa pergi dan cari pekerjaan lain!"
"Nyo-"
"Berisik! Pengawal, bawa wanita ini pergi!" Titah Afnan cepat, sebelum melangkah pada Aile, ia berhenti, tersenyum penuh intrik pada pelayan yang berani melawannya.
"NYONYA! SAYA MINTA MAAF!"
"Nyonya saya mohon!"
"Tampar mulut wanita sial ini!" Afnan menatap beberapa pria berbaju hitam tanpa celah dengan wajah datar tanpa emosi sedikitpun, para pengawal pun bergegas, mereka menurut.
"Maafkan saya nyonya!"
Afnan memijat pelipisnya, "Bawa wanita ini pergi! Benar-benar berisik." Serunya memutar bola mata jengah.
"Hay hay hay! Ada apa ini?" Seorang wanita berpakaian glamor dengan emas mengkilau membalut tubuh wanita setengah abad itu, langkahnya kian mendekat, terdengar dari ketukan high heelsnya.
Tubuh Afnan spontan menegang, ia menoleh dengan takut, lantas menatap wanita tua yang sayangnya nampak begitu muda, "Aunty?" Cicitnya pelan, menundukan kepala.
"Oh, jadi kamu?"