Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA BADAI DAN JANJI DI TEPI LAUT
Sinar matahari pertama setelah pertempuran hebat di Tebing Ratapan muncul dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi terasa membakar seperti api di kawah Bromo, melainkan terasa hangat dan membasuh, seolah-olah alam sendiri sedang berusaha membersihkan sisa-sisa energi hitam yang sempat menodai tebing tersebut. Laut Selatan yang tadinya mengamuk kini hanya menyisakan riak-riak kecil yang menghantam karang dengan lembut, seperti bisikan syukur.
Tirta duduk di sebuah bongkahan batu karang yang datar, menatap cakrawala yang memerah. Di sampingnya, Mayangsari bersandar di bahunya. Tubuh wanita itu masih lemah, namun rona merah mulai kembali di pipinya. Jubah hitam Tirta yang sobek di sana-sini kini menyelimuti pundak Mayang, melindunginya dari angin laut yang masih terasa dingin.
"Aku sempat berpikir tidak akan pernah melihat matahari lagi,
Tirta," bisik Mayangsari. Suaranya masih serak, namun ada nada kedamaian yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Tirta menggenggam tangan Mayang, merasakan jemarinya yang lentur. "Selama aku masih bernapas, kegelapan tidak akan pernah bisa menyembunyikanmu dariku, Mayang. Aku telah bersumpah pada tanah ini, dan pada makam Bapak."
Di belakang mereka, Dimas Rakyan sedang sibuk membersihkan galah kayunya dari sisa-sisa jelaga energi hitam, sementara Sekar Wangi berdiri agak jauh, menatap ke arah hutan tempat keluarganya dulu tinggal. Ada kesedihan di matanya, namun juga sebuah kepuasan karena satu dari pembantai keluarganya—Pangeran Kelana—telah tiada.
"Tirta," Dimas mendekat, wajahnya nampak serius tidak seperti biasanya. "Kita menemukan sesuatu di pelataran ritual tadi. Para pengikut Aki Sapu Jagad yang pingsan... mereka semua memiliki tanda ini di tengkuk mereka."
Dimas menunjukkan sebuah kepingan logam kecil yang ia ambil dari salah satu tawanan. Kepingan itu berbentuk segitiga terbalik dengan ukiran mata yang menangis.
Tirta mengambil kepingan itu. Seketika, rasa dingin menjalar dari ujung jarinya. "Ini bukan lambang Tujuh Bayangan. Tujuh Bayangan menggunakan lambang ular melingkar atau singa emas."
Sekar Wangi berjalan mendekat, ia melirik kepingan itu dan wajahnya mendadak pucat pasi. "Itu adalah lambang Fraksi Mata Meratap. Mereka adalah kelompok rahasia dari daratan seberang yang jauh lebih tua dari Tujuh Bayangan. Jika mereka terlibat, berarti Aki Sapu Jagad hanyalah pion kecil dalam permainan yang jauh lebih besar."
Tirta mengepalkan tinjunya. "Berarti pertempuran semalam belum menghentikan apa pun. Ritual itu... mereka tidak hanya ingin membangkitkan Sang Pemunah, bukan?"
"Benar," sahut Sekar Wangi. "Mereka ingin membuka gerbang antara dunia ini dan alam bawah untuk mengambil Mustika Samudra. Dengan mustika itu, siapa pun bisa mengendalikan seluruh aliran air di nusantara. Mereka bisa mengeringkan sawah-sawah kita, atau menenggelamkan kota-kota besar hanya dengan satu jentikan jari."
Tirta berdiri, membiarkan Mayangsari bersandar pada Dimas sejenak. Ia mencabut Sasmita Dwipa dan menatap bilahnya. Cahaya perak-emas itu kini nampak lebih stabil, seolah pedang itu telah dewasa bersama tuannya.
"Kita tidak bisa tinggal diam di sini," ucap Tirta tegas. "Aki Sapu Jagad mungkin sudah mati, tapi organisasi yang mendukungnya masih bernapas. Mayang, aku harus membawamu ke tempat yang aman terlebih dahulu."
Mayangsari menggeleng pelan, ia berdiri dengan sisa kekuatannya, menatap Tirta dengan mata yang penuh ketetapan hati. "Tidak, Tirta. Aku tidak akan menjadi beban lagi. Selama di sekap, aku menyadari sesuatu. Energi yang mereka coba hisap dariku bukan sekadar energi kehidupan biasa. Aku membawa warisan ibu... ilmu Sinar Rembulan Merah. Aku akan berlatih bersamamu. Aku akan bertarung di sampingmu."
Tirta tertegun. Ia melihat pancaran energi yang unik di dalam diri Mayangsari. Ternyata, penculikan itu justru membangkitkan kekuatan tersembunyi dalam darah wanita itu.
"Baiklah," Tirta tersenyum bangga. "Kita akan berangkat menuju Barat. Kita harus kembali ke Padepokan Lingga untuk melihat kondisi Ki Ageng, lalu mencari petunjuk tentang Fraksi Mata Meratap ini."
Sebelum mereka meninggalkan tebing, Tirta berjalan menuju tepi jurang yang paling menjorok. Ia mengambil sebuah bunga melati liar yang tumbuh di sela batu dan menjatuhkannya ke laut sebagai penghormatan terakhir bagi ayahnya dan semua orang yang gugur.
"Bapak... tugas pertamaku sudah selesai," gumam Tirta dalam hati. "Aku telah menjemputnya. Tapi jalanku masih panjang. Lindungilah langkah kami."
Saat mereka mulai melangkah menjauhi Tebing Ratapan, tiba-tiba seekor burung gagak hitam terbang rendah di atas mereka, menjatuhkan sebuah gulungan surat kecil yang diikat dengan pita berwarna ungu gelap.
Dimas menangkapnya dengan sigap. Ia membukanya dan membacanya dengan suara gemetar.
"Selamat atas kemenangan kecilmu, Sang Pendekar Gerhana. Nikmatilah waktu istirahatmu yang singkat. Karena saat bulan menutupi matahari sepenuhnya di bulan depan, kami akan datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik kami. — Penguasa Bayangan Kedelapan."
Tirta mengambil surat itu dan membakarnya dengan energi di tangannya hingga menjadi abu. "Bayangan kedelapan? Jadi benar, ada pemimpin di atas mereka semua."
"Kita akan siap, Tirta," ujar Dimas sambil menepuk pundak sahabatnya. "Kali ini, kita punya pendekar hebat, pemanah hutan, dan seorang putri rembulan."
Mereka berempat berjalan menembus kabut pagi yang mulai menipis. Perjalanan mereka melintasi tanah Jawa baru saja dimulai. Dari desa petani yang damai, melalui kawah gunung yang membara, hingga tebing laut yang angker, Tirta Gadhing telah bermutasi dari seorang pemuda yang penakut menjadi harapan bagi mereka yang tertindas.
Di bawah langit yang semakin terang, langkah mereka mantap. Sejarah baru sedang ditulis, dan tinta yang digunakan adalah keberanian yang tak tergoyahkan.