NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Vyan hanya tersenyum—senyum yang membuat Anindita ingin menamparnya.

"Rileks, Nyonya Kusuma." Dia mengambil iPad-nya kembali, menyimpannya dengan santai. "Aku hanya mengambil hak milik Syailendra. Proyek ini seharusnya milik kami dari awal. Jadi aku rasa kamu tidak perlu marah."

"HAK MILIK SYAILENDRA?!" Anindita melangkah maju, jarak di antara mereka hanya beberapa senti. "Kalian yang menyabotase tender waktu itu! Kalian yang menyebarkan rumor palsu tentang Paramitha Corp! Dan sekarang kau berani datang ke sini, menghancurkan deal yang sudah hampir selesai, dan bilang ini hak kalian?!"

"Ya." Jawaban Vyan simple, tanpa rasa bersalah. "Exactly."

"Kirana!" Anindita berbalik. "Panggil security. Usir pria ini dari gedung, dan masukkan namanya ke blacklist. Dia tidak boleh masuk lagi ke properti Paramitha Corp."

Kirana berlari keluar untuk memanggil security.

Tapi Vyan tidak bergerak. Dia masih berdiri di sana, menatap Anindita dengan tatapan yang aneh—campuran antara benci, sedih, dan... menyesal?

"Kau tahu, Dita," katanya pelan, nada suaranya berubah—tidak lagi sinis, tapi... lelah. "Dulu kita berteman. Sahabat bahkan. Tapi kemudian keluarga kita memutuskan untuk saling membenci. Dan kita... kita terseret dalam perang yang bahkan bukan kita yang memulai."

"Jangan coba-coba menggurui aku tentang masa lalu, Vyan." Suara Anindita bergetar—antara marah dan sedih. "Kau yang memilih pergi. Kau yang memilih keluargamu di atas persahabatan kita. Kau yang—"

"KARENA KELUARGAMU YANG MENGHANCURKAN KELUARGAKU!"

Teriakan Vyan menggelegar di ruang rapat. Dadanya naik turun, matanya berkaca-kaca.

Anindita tercekat. Dia belum pernah melihat Vyan seperti ini—emosional, rentan,... terluka.

"Kakekmu," lanjut Vyan, suaranya serak. "Kakekmu yang menghancurkan perusahaan kakekku. Kakekmu yang menyebarkan fitnah hingga keluargaku hampir bangkrut. Dan kau... kau berani berdiri di situ dan mengatakan aku yang memilih keluargaku di atas persahabatan kita?"

Anindita menggeleng, air matanya mulai menggenang. "Itu bukan yang aku dengar. Kakek bilang kakekmu yang—"

"Tentu saja kakekmu bilang begitu!" potong Vyan pahit. "Setiap orang punya versi kebenarannya sendiri, Dita. Tapi yang jelas—persahabatan kita berakhir karena perang yang mereka mulai. Dan sekarang..." Dia tertawa miris. "Sekarang kita melanjutkan perang itu. Konyol, bukan?"

Keheningan menggantung berat di antara mereka.

Untuk sejenak—hanya sejenak—Anindita melihat masa lalu. Melihat Vyan yang berusia sepuluh tahun, berlari bersamanya di taman mansion Paramitha, tertawa ceria, berbagi rahasia anak-anak. Sahabatnya. Satu-satunya teman masa kecilnya.

Sebelum semuanya runtuh karena dendam keluarga yang bahkan mereka tidak mengerti.

"Nyonya, security sudah datang." Kirana kembali dengan dua petugas security berbadan besar.

Vyan menatap Anindita untuk terakhir kalinya—tatapan panjang yang penuh dengan emosi yang tidak terucapkan.

"Sampai jumpa, Nyonya Kusuma," katanya pelan, kemudian berbalik untuk pergi.

Tapi baru dua langkah—

Dunia Anindita berputar. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat berat, pandangannya blur, suara-suara di sekitarnya menjadi jauh dan bergema. Kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi.

"Nyonya!" Kirana berteriak.

Anindita merasakan tubuhnya jatuh—jatuh ke dalam kegelapan yang dingin.

Dan hal terakhir yang dia dengar sebelum semuanya menjadi hitam adalah suara Vyan yang panik berteriak, "DITA!"

...****************...

Rumah Sakit Premier Jakarta - Ruang VIP

Anindita membuka mata perlahan. Cahaya putih menyilaukan, aroma antiseptik menyeruak ke hidungnya. Kepalanya masih pusing, tubuhnya terasa lemas.

"Nyonya! Syukurlah Anda sudah sadar!" Kirana langsung berdiri dari kursi di samping ranjang, wajahnya basah oleh air mata. "Saya sangat khawatir, Nyonya. Anda pingsan dan tidak sadarkan diri selama hampir dua jam."

Anindita mencoba duduk, tapi Kirana menahannya.

"Jangan bergerak dulu, Nyonya. Dokter bilang Anda harus istirahat total."

"Apa yang terjadi?" Suara Anindita serak. Tangannya secara refleks melayang ke perutnya. "Bayiku... bayiku baik-baik saja kan?"

Kirana tersenyum lega. "Bayi Anda baik-baik saja, Nyonya. Dokter bilang itu hanya kelelahan dan stres berlebihan. Tapi..."

"Tapi apa?"

Sebelum Kirana sempat menjawab, pintu terbuka. Seorang dokter wanita berusia sekitar empat puluhan masuk dengan senyum ramah.

"Ah, Nyonya Kusuma sudah sadar. Bagaimana perasaannya?"

"Saya... baik-baik saja, Dok. Bayi saya—"

"Bayi Anda sehat, jangan khawatir." Dokter duduk di kursi, membuka catatan medis. "Tapi Nyonya, saya harus memperingatkan dengan serius. Anda mengalami kelelahan ekstrem dan tingkat stres yang sangat tinggi. Untuk kehamilan trimester pertama, ini sangat berbahaya. Kalau ini terus berlanjut, bisa menyebabkan keguguran."

Kata 'keguguran' menghantam Anindita seperti palu. Tangannya langsung memeluk perutnya protektif.

"Dokter, saya... saya harus bekerja. Perusahaan—"

"Perusahaan bisa diurus orang lain," potong dokter tegas tapi lembut. "Tapi bayi Anda? Hanya Anda yang bisa menjaganya sekarang. Anda harus istirahat, mengurangi stres, makan teratur, dan tidur cukup. Minimal seminggu bed rest total."

"Seminggu?!" Anindita terkejut. "Tapi saya tidak bisa—"

"Nyonya Kusuma." Dokter menatapnya serius. "Anda harus memilih. Pekerjaan atau bayi Anda. Saya tahu ini keputusan sulit, tapi sebagai dokter, saya harus jujur—kalau Anda tidak mengubah gaya hidup sekarang, saya tidak bisa menjamin kehamilan ini akan bertahan."

Anindita terdiam. Air matanya jatuh—untuk pertama kalinya hari ini, dia menangis.

Tangannya terus mengusap perutnya, berbisik pelan, "Maafkan Mama, sayang. Maafkan Mama..."

Dokter tersenyum simpati, menepuk tangan Anindita. "Anda akan baik-baik saja. Tapi Anda harus berhenti menyiksa diri sendiri. Bayi Anda membutuhkan ibu yang sehat, bukan ibu yang terlalu keras pada dirinya sendiri."

Setelah dokter keluar, Kirana duduk di pinggir ranjang, menggenggam tangan Anindita.

"Nyonya, saya akan mengurus semua pekerjaan. Saya akan koordinasi dengan divisi-divisi. Anda hanya perlu istirahat. Tolong, demi bayi Anda."

Anindita mengangguk lemah. "Terima kasih, Kirana. Aku... aku tidak tahu harus bagaimana tanpamu."

"Itu tugas saya, Nyonya." Kirana tersenyum. "Dan satu lagi..."

"Apa?"

"Tuan Vyan yang membawa Anda ke rumah sakit. Dia yang menggendong Anda ke mobilnya, dia yang menunggu sampai Anda masuk ruang gawat darurat. Dia baru pergi tiga puluh menit lalu setelah memastikan Anda stabil."

Anindita tertegun. Vyan. Musuh bebuyutannya. Pria yang baru saja menghancurkan deal terbesarnya. Tapi... dia yang menyelamatkannya.

"Dia meninggalkan ini." Kirana menyerahkan sebuah amplop putih.

Dengan tangan gemetar, Anindita membukanya. Selembar kertas jatuh—tulisan tangan Vyan yang berantakan tapi familiar.

"Dita,

Aku dengar dari dokter bahwa kau sedang hamil. Selamat.

Aku tahu aku bajingan yang baru saja menghancurkan deal pentingmu. Tapi aku tidak betul-betul membencimu. Aku hanya... terjebak dalam perang yang sama sepertimu.

Proyek itu, aku kembalikan untukmu. Anggap saja hadiah dariku untuk anakmu. Semoga dia tumbuh di dunia yang lebih baik dari dunia kita—dunia tanpa dendam dan kebencian.

Dan Dita... jaga dirimu. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau masih sahabatku, walau kita berdiri di sisi yang berbeda.

- Vyan"

Air mata Anindita jatuh membasahi kertas itu. Di tengah semua kebencian, di tengah semua konflik... masih ada secercah kebaikan. Masih ada harapan.

"Nyonya, ada yang ingin bertemu Anda," kata Kirana ragu-ragu.

"Siapa?"

Pintu terbuka.

Dan jantung Anindita berhenti berdetak.

Zaverio Kusuma berdiri di ambang pintu—wajahnya pucat, matanya penuh kekhawatiran yang belum pernah Anindita lihat sebelumnya. Di tangannya, sebuket bunga mawar putih—bunga kesukaan Anindita yang hanya sedikit orang tahu.

"Anindita," bisiknya, suaranya serak. "Syukurlah... syukurlah kau baik-baik saja."

Dan di mata hijau zamrud itu, Anindita melihat sesuatu yang membuatnya berhenti bernafas.

Cinta. Cinta yang begitu dalam, begitu tulus, begitu... menyakitkan.

Cinta yang seharusnya sudah mati dua belas tahun lalu.

Tapi ternyata masih hidup. Masih berkobar. Masih membakar mereka berdua dalam api yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!