Naura Gracesia wanita berusia 32 tahun nekat terjun ke dunia Mafia demi mencari pembunuh kedua orang tuanya. Dia bahkan membentuk perkumpulan Mafia sendiri demi menemukan orang yang dia cari.
Kehidupan yang dijalani oleh wanita dewasa itu diluar kata normal yang biasa di jalani kebanyakan wanita di luaran sana. Arogan, kejam, dan semena-mena menjadi ciri khas wanita berparas cantik itu.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda dari dirinya, pemuda alim dan juga tampan yang mampu menggetarkan hati dan menuntunnya ke jalan yang lurus.
Akan tetapi fakta mengejutkan pun terkuak, pemuda itu ternyata adalah putra dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, sekaligus orang yang pernah merawat dirinya sampai dirinya berumur tujuh tahun.
Bagiamana perasaan Naura saat mengetahui bahwa orang yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya adalah ayah angkatnya sendiri? dan bagaimana nasib Naura berada di antara Gairah dan Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyawa di Balas Nyawa
Naura menatap wajah Gabriel yang saat ini dalam keadaan kritis akibat luka tembang yang menembus bahunya. Masih beruntung karena peluru tersebut tidak bersarang di jantungnya. Jika sampai hal itu terjadi, sudah dapat dipastikan nyawa laki-laki berusia pertengahan 50-han itu melayang saat itu juga.
"Bukankah ini adalah waktu yang tepat untukku membalaskan dendam?" gumam Naura secara tiba-tiba.
Pikiran jahat itu seketika melintas di otaknya. Rasa dendam itu pun memenuhi relung hatinya kini. Terlebih lagi, ayah angkatnya itu telah menyembunyikan kenyataan pahit itu selama bertahun-tahun, dan mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tahu-menahu ketika dirinya menanyakan hal itu. Bukankah itu sangat keterlaluan? Batin Naura berkecamuk.
"Kenapa papa tega sekali melakukan hal keji seperti itu? Kenapa Papa tega membunuh kedua orang tuaku lalu merawat aku seperti putri kandang Papa sendiri?" gumam Naura.
"Ma-afkan Papa, Nau-ra."
Tiba-tiba saja Gabriel membuka kedua matanya membuat Naura merasa terkejut tentu saja. Suara laki-laki itu bahkan terdengar lemah. Tatapan mata sayu-nya seperti menahan rasa sakit, menatap wajah Naura putri yang sangat dia sayangi.
"Papah?" gumam Naura, air matanya bergulir begitu saja. Antara senang, sedih, marah dan juga kecewa, semua itu seolah melebur menjadi satu.
"Maafkan papa, Nak. Papa salah, kamu boleh menghukum papa sekarang juga. Mati di tangan kamu pun papa rela, asalkan dendam kamu terbalaskan."
"Kenapa papah tega membunuh kedua orang tuaku? Apa alasan papah melakukan hal itu? Jawab Pah. Hiks hiks hiks!"
"Papah sama sekali tidak ada alasan pribadi saat melakukannya. Pekerjaan papah memang menghabisi nyawa manusia saat itu. Namun, papah bersumpah demi nyawa papa sendiri, papah benar-benar menyesal, Naura. Sungguh ...''
"Penyesalan papah tidak ada gunanya."
"Papah tahu."
"Nyawa di bayar nyawa, Pah."
"Iya, papah ikhlas jika memang papah harus mati di tangan kamu saat ini juga. Papah memang pantas untuk mati, lakukan balas dendam kamu sekarang juga. Papah tahu hari ini akan tiba juga pada akhirnya.''
"Tidak, aku tidak akan membunuh Papah. Aku sadar, kematian bukanlah hukuman yang pantas untuk papah. Papah tidak boleh mati semudah itu."
"Apa maksud kamu, Nak? Bukankah kamu bilang bahwa nyawa harus di bayar dengan nyawa?''
"Awalnya memang aku berfikir seperti itu, tapi aku tak mau menjadi seorang pembunuh. Ada laki-laki yang aku cintai yang menginginkan aku berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi." Naura seketika mengingat sosok Ibra. Rasa cintanya kepada pemuda itu ternyata mampu memadamkan api dendam yang selama ini menyiksa jiwa seorang Naura.
"Maafkan Papah, Nak. Maafkan Papah, papah sungguh menyesal." Gabtiel berusaha untuk bangkit. Namun, dia seketika metingis kesakitan seraya memegangi dadanya.
"Pah, papa baik-baik saja? Aku panggilkan Dokter sekarang juga."
"Argh ... Eu ... Tunggu sebentar, Nak. Richard adalah orang yang telah memerintahkan papah membunuh kedua or-ang tu-amu. Papah menerima perintah da-ri Al-berto,'' ucapan terakhir Gabriel sebelum dia tidak sadarkan diri.
"Pah! Bangun, Pah. DOKTER!" teriak Naura panik.
Ceklek!
Pintu ruangan pun di buka. Ibra dan juga Jasmine masuk ke dalamnya setelah mendengar teriakan Naura. Setelah itu, Dokter pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kamu apakan papah kita, Naura?" tanya Ibra berdiri tepat samping ranjang.
"Aku gak apa-apain papah, Ibra. Sungguh ..."
"Maaf, bisa kalian keluar sebentar. Kami akan memeriksa keadaan pasien." Pinta Dokter.
Mau tidak mau, Ibra, Naura dan sang ibu pun keluar dari dalam ruangam tersebut dengan perasaam khawatir. Jasmine bahkan tidak berhenti menangis merasa takut bahwa suaminya akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
"Papah kalian, apa dia akan mati? Bagaimana nasib ibu kalau beliau sampai meninggalkan dunia ini, hiks hiks hiks," lirih Jasmine menangis sesenggukan.
"Ibu tenang dulu. Papa akan baik-baik saja.'' Ibra mencoba untuk menenangkan.
"Tadi papah sempat sadarkan, bu. Kami bahkan berbincang sebentar. Namun, dia tiba-tiba saja meringis kesakitan dan kembali tidak sadarkan diri, hiks hiks hiks!'' lirih Naura, tangisnya pun seketika pecah seraya menundukkan kepalanya.
"Ikut dengan saya sebentar," pinta Ibra menarik pergelangan tangan Naura kasar dan membawanya ke lorong dimana tidak ada seorang pun di sana.
"Apa yang kamu katakan kepada Papah? Apa kamu benar-benar balas dendam kepada beliau?" tanya Ibra menatap tajam wajah Naura.
"Tidak, aku sama sekali tidak melakukan apapun kepada beliau. Kami hanya berbincang biasa."
"Bohong. Kamu pasti bohong. Jelas-jelas kamu sangat membenci dia saat ini. Kamu ingin sekali membalaskan dendam kepada orang yang telah membunuh kedua orang tuamu 'kan. Bukan papa pelakunya, saya yakin itu.''
"Tidak, papah sudah mengakui hal itu. Aku mendengar dengan kedua telingaku sendiri bahwa papah memang orang yang telah membunuh mereka."
"Apa? Kamu pasti bohong 'kan? Gak mungkin papa kita seorang membunuh, gak mungkin!"
"Aku juga tidak menyangka bahwa papah akan benar-benar mengakui hal itu, tapi seperti itulah kenyataanya. Papah kita adalah mantan pembunuh bayaran, dan orang yang telah menembak papah adalah mantan bosnya sendiri namanya Alberto.''
"Itu sebabnya kamu menyakiti papa padahal beliau baru saja siuman? Kenapa tidak kamu serahkan saja urusan ini kepada polisi? jika memang papah bersalah maka beliau harus di hukum.''
"Apa maksud kamu? Apa kamu pikir aku akan tega membunuh papah?"
"Kamu memang menyimpan dendam kepada beliau 'kan?"
"Tapi aku gak melakukan apapun, Ibra."
"Aku gak percaya. Buktinya papah seperti ini padahal dia sempat sadarkan diri tadi.''
Naura diam seribu bahasa. Dia mencoba menahan diri untuk tidak melakukan apapun kepada ayah angkatnya itu demi Ibra. Selain karena Naura begitu menyayangi Gabriel, dia pun tidak ingin menjadi seorang pembunuh meskipun tidak sulit baginya untuk menghabisi nyawa Gabriel yang memang dengan suka rela menyerahkan nyawanya sendiri untuk dihabisi.
Akan tetapi, laki-laki yang dia cintai sama sekali tidak percaya terhadapnya. Sungguh hal itu membuat Naura benar-benar merasa terluka. Dia pun akhirnya memilih untuk menyudahi perdebatan yang tidak ada gunanya itu. Naura memutar badan dan hendak pergi.
"Mau kemana kamu, Naura? Kita belum selesai bicara?" tanya Ibra.
"Untuk apa lagi aku ada di sini jika kamu sama sekali tidak percaya kepadaku? Aku titip papah sama kamu,'' jawab Naura hendak pergi.
"Tapi kamu mau kemana? Kamu gak bisa pergi begitu saja, Naura." Ibra menaikan suaranya.
"Kemana lagi, aku akan balas dendam kepada orang yang telah memerintahkan papah untuk membunuh kedua orang tuaku.'' Jawab Naura penuh penekanan, dia pun melanjutkan langkah kakinya kemudian.
'Om Richard, Alberto ... Tunggu kedatanganku,' (batin Naura.)
BERSAMBUNG
...****************...