NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Konsorsium

​Suara air terjun di kejauhan menjadi satu-satunya latar belakang suara saat Agil dan Laila bersembunyi di sebuah gubuk pembakaran arang yang sudah lama ditinggalkan. Tubuh mereka gemetar karena kedinginan setelah terseret arus sungai bawah tanah. Agil menatap flashdisk merah di telapak tangannya—benda kecil yang kini menjadi target utama organisasi paling berbahaya di dunia.

​"Mas... tanganku mati rasa," bisik Laila. Ia mencoba membalut luka gores di lengannya dengan sobekan kain.

​Agil segera mendekat, menggosok tangan Laila untuk memberi kehangatan. "Tahan sebentar, Laila. Gito pasti sedang dalam perjalanan. Dia sudah mengirimkan sinyal radio singkat sebelum kita masuk ke bunker tadi."

​Membuka Kotak Pandora

​Agil mengeluarkan sebuah laptop tua yang sudah dimodifikasi dengan pengaman enkripsi berlapis—alat yang selalu ia bawa di dalam tas kedap airnya. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan flashdisk bertuliskan "The Last Resort".

​Layar laptop itu berkedip-kedip sebelum menampilkan sebuah antarmuka yang sangat minimalis. Tidak ada dokumen, tidak ada daftar nama. Hanya sebuah video berdurasi sepuluh detik dan sebuah peta digital yang berdenyut di satu titik di Jakarta: Gedung Central Axis.

​Agil memutar video tersebut. Di sana, tampak Baskoro—ayahnya—dalam keadaan yang jauh lebih muda, berdiri di samping seorang pria asing berjas abu-abu yang tadi mereka lihat di bunker.

​"Jika kau melihat ini, Agil, berarti Rina sudah kalah oleh ambisinya sendiri. Konsorsium bukan sekadar mitra bisnis, mereka adalah pemegang saham atas hidup kita. Di bawah gedung Central Axis, ada sebuah 'Black Box'—server fisik yang mencatat setiap transaksi ilegal mereka selama tiga dekade. Jika kau ingin mereka berhenti mengejarmu, kau jangan lari... kau harus membakar jantung mereka."

​Video berakhir. Laila menatap Agil dengan ngeri. "Kembali ke Jakarta? Itu sama saja dengan menyerahkan diri, Mas."

​"Tidak jika kita masuk melalui pintu yang tidak mereka jaga," jawab Agil. Matanya memancarkan tekad yang belum pernah dilihat Laila sebelumnya. "Mereka mengira kita sudah mati di ledakan bunker. Ini adalah satu-satunya kesempatan kita untuk menyerang saat mereka lengah."

​Kedatangan Sang Penyelamat

​Suara ranting patah di luar gubuk membuat Agil seketika menyambar pistolnya. Ia berdiri di depan Laila, siap melepaskan tembakan. Namun, sebuah siulan khas terdengar. Tiga nada pendek, satu nada panjang.

​"Gito," desis Agil lega.

​Gito muncul dari kegelapan hutan, penampilannya hancur lebur. Ia menggendong sebuah tas besar berisi perlengkapan taktis. "Pak Agil, Ibu... syukurlah. Tim eliminasi Konsorsium sudah mulai menyisir pinggiran hutan. Kita punya waktu kurang dari tiga puluh menit sebelum helikopter mereka tiba."

​"Gito, kita tidak akan lari lagi," Agil menunjukkan peta di layar laptop. "Kita akan ke Jakarta. Ke Central Axis."

​Gito terdiam sejenak, menatap peta itu dengan serius. "Itu bunuh diri, Pak. Central Axis adalah benteng dengan keamanan tingkat tinggi. Bahkan tikus pun tidak bisa masuk tanpa dipindai."

​"Tapi aku punya aksesnya, Gito," Agil menunjukkan deretan kode yang muncul di bawah peta digital tadi. "Ini adalah protokol 'Guest of Honor' yang dibuat Papa. Protokol darurat yang hanya bisa diaktifkan oleh biometrik garis keturunan Baskoro."

​Perjalanan Menuju Jantung Badai

​Dengan bantuan Gito, mereka berhasil menyelinap ke sebuah truk pengangkut kayu yang menuju pelabuhan Semarang, dan dari sana, mereka menggunakan jalur darat menuju Jakarta dengan identitas petugas kebersihan gedung.

​Kota Jakarta tampak berkilau di malam hari, seolah tidak tahu bahwa di salah satu gedung tertingginya, sebuah konspirasi global sedang berdenyut. Gedung Central Axis berdiri angkuh di kawasan Sudirman, dikelilingi oleh kaca-kaca gelap yang memantulkan lampu kota.

​"Laila, kau tunggu di mobil dengan Gito di lantai parkir bawah tanah," perintah Agil saat mereka sampai di area belakang gedung.

​"Tidak, Mas! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri lagi!" Laila memegang tangan Agil erat. "Aku sudah belajar bahwa lari darimu tidak membuatku lebih aman. Aku ikut."

​Agil menatap mata Laila. Ia melihat keberanian yang telah ditempa oleh penderitaan selama berbulan-bulan. "Baiklah. Tapi kau harus tetap di belakangku."

​Infiltrasi di Central Axis

​Mereka masuk melalui saluran teknis pemeliharaan air AC. Agil menggunakan kode dari flashdisk untuk menonaktifkan sensor gerakan di lantai 40—lantai di mana server 'Black Box' berada.

​Suasana di dalam gedung sangat sunyi, hanya ada suara dengungan mesin pendingin. Saat mereka sampai di depan pintu ruang server utama, Agil harus melakukan pemindaian retina.

​Scan Complete. Welcome, Mr. Baskoro Junior.

​Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan. Di dalam sana, deretan server berkedip dengan lampu biru yang menghipnotis. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kubus hitam metalik yang tidak terhubung dengan jaringan internet mana pun.

​"Itu dia," Agil melangkah maju. "Jika aku mengunggah virus dari flashdisk ini, seluruh data cadangan Konsorsium di seluruh dunia akan terkunci secara permanen, dan kunci dekripsinya akan terkirim secara otomatis ke Interpol dan kantor pajak di lima negara."

​Namun, saat Agil hendak memasukkan flashdisk tersebut, lampu ruangan seketika berubah menjadi merah.

​"Kau benar-benar anak yang berbakti, Agil," sebuah suara tenang menggema melalui pengeras suara.

​Dari balik bayangan, pria berjas abu-abu—pemimpin Konsorsium yang mereka kenal sebagai Mr. Thorne—muncul dengan tenang. Ia tidak membawa senjata, melainkan sebuah tablet kontrol.

​"Kau pikir protokol 'Guest of Honor' itu rahasia? Kami yang membangunnya untuk ayahmu," ucap Thorne sambil tersenyum tipis. "Kami sengaja membiarkanmu masuk ke sini. Karena untuk mengaktifkan virus itu, kau membutuhkan kunci biometrik kedua... sesuatu yang tidak dimiliki Baskoro, tapi dimiliki oleh ibumu."

​Laila tersentak. "Maksudmu... Rina masih hidup?"

​Pintu di sisi lain ruangan terbuka. Seorang wanita dengan kursi roda didorong masuk oleh dua pengawal. Wajahnya dibalut perban, namun matanya yang dingin dan tajam menatap Agil dengan kebencian yang masih menyala. Rina.

​"Mama..." Agil berbisik pelan.

​"Kau gagal membunuhku, Agil," suara Rina parau dan penuh luka. "Dan sekarang, kau akan memberikan kami akses total ke sistem ini, atau Laila akan mati di depan matamu."

​Thorne memberi isyarat, dan salah satu pengawal menodongkan senapan ke kepala Laila. Agil berdiri di antara server yang sedang menderu, memegang flashdisk merah yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan Konsorsium.

​Pilihan Terakhir

​"Berikan flashdisk itu pada Mr. Thorne, Agil," perintah Rina. "Dan aku akan memastikan kalian berdua bisa hidup tenang di pulau terpencil manapun yang kalian mau. Konsorsium hanya butuh kontrol kembali, dan kau... kau hanyalah gangguan kecil yang bisa diampuni."

​Agil menatap Laila, lalu menatap ibunya yang kini tampak seperti mayat hidup. Ia menyadari bahwa seluruh hidupnya telah dirancang untuk momen ini. Ia adalah kunci yang diciptakan untuk membuka gerbang neraka.

​"Mas... jangan lakukan itu," Laila berkata dengan suara yang tenang, meski ada senapan di kepalanya. "Jangan biarkan mereka menang lagi."

​Agil menarik napas dalam-dalam. Ia tidak memasukkan flashdisk ke dalam server, melainkan meremasnya hingga pecah di tangan cacatnya.

​"Apa yang kau lakukan?!" teriak Thorne, wajah tenangnya seketika pecah menjadi kemarahan.

​"Aku bukan kunci kalian," ucap Agil. Ia menekan sebuah tombol di jam tangannya—sebuah sinyal yang sudah ia siapkan untuk Gito di bawah sana. "Gito, sekarang!"

​Tiba-tiba, gedung Central Axis diguncang oleh ledakan kecil dari arah lift utama. Seluruh sistem kelistrikan gedung tersebut padam total. Dalam kegelapan, Agil menerjang pengawal yang memegang Laila.

1
ayu cantik
suka
Rhiy: Terima kasih Kak
total 1 replies
Yeni Nofiyanti
novel yang sangat bagus. cocok di filmkan💪😍
Rhiy: Makasih my reader, aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!