NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:599
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMPURAN DI FLY OVER JAKARTA

BAB 9

JAKARTA – MENJELANG FAJAR

Langit Jakarta masih gelap ketika Alphard hitam melaju pelan di jalan sepi menuju titik serah terima. Lampu kota memantul di kaca gedung-gedung tinggi, menciptakan bayangan panjang yang menipu mata.

Di dalam mobil, suasana tegang.

Laura menggenggam tas kecil di dadanya.

Flash disc itu—kecil, hitam, nyaris tak berarti bagi orang awam—namun bernilai USD 10 juta, dan lebih berharga dari itu: rahasia yang bisa mengguncang banyak pihak.

Dr. Sandi duduk di sampingnya.

“Tarik napas,” katanya pelan. “Sebentar lagi selesai.”

Laura mengangguk, meski jemarinya gemetar.

“Mereka tidak akan berhenti, ya?”

Dari kursi depan, Sertu Bima menjawab tanpa menoleh,

“Tidak. Karena ini penyergapan terakhir mereka.”

TANDA BAHAYA

Tiba-tiba, Eren yang memantau spion bersuara cepat.

“Bim… ekor kita tiga mobil. Dua dari kanan, satu dari belakang.”

Bima langsung menurunkan kecepatan.

“Sudah waktunya.”

Sersan Andri menyeringai tipis.

“Lokasi?”

“Flyover lama, sebelum simpang,” jawab Bima.

“Tidak ada kamera aktif di sisi bawah. Kita akhiri di sana.”

Dr. Sandi menelan ludah.

“Berapa banyak mereka?”

“Cukup untuk salah perhitungan,” jawab Bima tenang.

“Dan cukup untuk kalah.”

Alphard tiba-tiba berbelok tajam ke jalur bawah flyover dan berhenti mendadak.

Dua mobil lawan menghantam rem.

Satu lagi memotong dari depan.

Pintu terbuka.

Enam pemburu hadiah turun, disusul preman lokal Jakarta bertato, bersenjata besi dan pisau.

Salah satu pemburu tertawa keras.

“Akhirnya ketangkap juga!”

Seorang preman menunjuk Laura.

“Flash disc-nya! Cepat, atau cewek itu jadi mayat!”

Laura mundur ketakutan.

Bima turun perlahan, wajahnya dingin.

“Kalian salah satu hal,” katanya datar.

Preman itu mencibir.

“Apa?”

“Tempat,” jawab Bima.

“Dan orang.”

PERTEMPURAN DIMULAI

Tanpa aba-aba—

Bima menerjang lebih dulu.

Satu pukulan menghantam hidung pemburu hadiah—darah muncrat.

Yang kedua mencoba menusuk—

Bima memutar tangan lawan, bunyi tulang patah terdengar jelas.

“AARGH!”

Andri dan Eren bergerak bersamaan.

Andri menghadapi dua preman.

“Satu-satu!” bentaknya.

Sikut kanan. Tendangan lutut.

Satu jatuh.

Yang lain dihantam kepalan ke tenggorokan—langsung ambruk.

Eren melompat ke kap mobil, menghantam wajah lawan dengan tumit.

“Jakarta bukan ladang berburu kalian!”

Seorang pemburu berhasil lolos dan menyergap Laura dari belakang.

“SERAHKAN FLASH DISC!” teriaknya.

Dr. Sandi melihat itu.

Tanpa ragu, ia mengambil kunci roda dari bagasi dan menghantam punggung pemburu itu sekuat tenaga.

DUUK!

Pria itu jatuh tersungkur.

Dr. Sandi berdiri gemetar, napas terengah.

“Aku… aku tidak akan biarkan mereka menyentuhnya.”

Bima menoleh cepat, lalu mengangguk bangga.

“Kau bukan lagi orang sipil, Dok.”

DUEL TERAKHIR

Pemimpin pemburu hadiah—pria tinggi dengan bekas luka di pipi—menghadap Bima.

“Sepuluh juta dolar,” katanya sambil tersenyum bengis.

“Untuk nyawamu.”

Bima membuka jaket, menjatuhkannya ke tanah.

“Ambil saja… kalau mampu.”

Mereka bertabrakan.

Pukulan. Tangkisan.

Kepala saling menghantam.

Pemimpin itu mencoba menembak—

Bima menepis tangan, menyikut rahangnya, lalu menghantam dada lawan dengan lutut.

Pria itu terjatuh.

Bima menekan lutut di dadanya.

“Pesan untuk yang membayarmu…”

“Apa…?” erangnya.

“Kami tidak bisa dibeli.”

Satu pukulan terakhir—

KO.

KEHENINGAN SETELAH PERTARUNGAN

Jalan bawah flyover kembali sunyi.

Tubuh-tubuh terkapar.

Tak satu pun musuh berdiri.

Andri mengatur napas.

“Semua aman.”

Eren menendang senjata ke selokan.

“Biar Jakarta yang membersihkan sisanya.”

Laura menangis lega.

“Ini… ini benar-benar selesai?”

Dr. Sandi menatap flash disc di tangannya.

“Hampir.”

Bima mendekat, suaranya tegas.

“Kita menang malam ini. Tapi yang terpenting…”

Ia menatap Laura.

“Flash disc itu sampai ke tangan yang benar.”

Laura mengangguk, matanya berkaca-kaca.

“Demi semua yang sudah gugur.”

MENUJU SERAH TERIMA

Alphard kembali melaju, meninggalkan lokasi terakhir pertempuran.

Fajar mulai menyingsing.

Bima memandang jalan depan.

“Setelah ini… tidak ada lagi kejaran.”

Dr. Sandi menarik napas panjang.

“Dan dunia akan tahu kebenaran.”

Di kursi belakang, Laura menggenggam flash disc erat-erat.

Perjalanan berdarah itu akhirnya mendekati akhir—

namun sejarah baru saja akan dimulai.

TOL DALAM KOTA JAKARTA

Lampu-lampu Tol Dalam Kota Jakarta memanjang seperti ular cahaya. Alphard hitam melaju stabil di lajur tengah. Di dalamnya, suasana sunyi—bukan karena lelah, tapi karena semua tahu… ini adalah malam penentuan.

Laura menggenggam tas kecil di dadanya.

Flash disc itu ada di sana.

Dr. Sandi duduk di sampingnya, mata terpejam, napas diatur perlahan.

Tangannya mengepal, lalu terbuka.

Sertu Bima menatap spion.

“Mobil belakang,” katanya pendek.

“Dua. Tidak pakai lampu jauh. Jarak mereka konsisten.”

Sersan Andri menyeringai tipis.

“Akhirnya mereka muncul juga.”

Tiba-tiba—

DUA MOBIL PREMAN LOKAL memotong dari kiri, sementara SUV hitam dari depan memperlambat laju.

REM MENDADAK.

“AMBUSH!” teriak Eren.

KEKACAUAN DI TOL

Alphard berhenti. Pintu terbuka keras.

Puluhan pria turun—

preman Jakarta bercampur pemburu hadiah internasional. Wajah mereka haus uang.

Salah satu preman berteriak,

“FLASH DISC ITU HARGANYA SEPULUH JUTA DOLAR! SIAPA CEPAT DIA DAPAT!”

Seorang pemburu hadiah membalas sinis,

“Uang itu bukan buat kalian, sampah jalanan!”

Sertu Bima melangkah keluar, wajah dingin.

“Kalian ribut sendiri,” katanya.

“Bagus. Jadi kami tinggal menghabisi sisanya.”

PERTARUNGAN PECAH

Serangan datang bersamaan.

Andri menghantam satu preman dengan siku ke leher.

Eren menyapu kaki dua orang sekaligus, lalu meninju tanpa ragu.

Bima berhadapan dengan tiga pemburu hadiah bersenjata pisau.

“Majulah,” tantangnya.

Pisau menyambar—

Bima menangkis, memutar tubuh, tendangan keras ke dada.

Satu terlempar ke aspal.

“SATU!” teriak Andri.

Suara tepuk tangan pelan terdengar dari balik SUV.

“Luar biasa… sungguh luar biasa.”

Seorang pria bertubuh tegap melangkah maju. Matanya tajam, aura militernya kental.

Letnan Benjamin.

“Sepuluh juta dolar,” katanya tenang.

“Hanya dengan satu flash disc. Kalian keras kepala.”

Bima menatapnya tajam.

“Isriwil selalu salah satu hal…”

“Oh?” Benjamin tersenyum.

“Meremehkan lawan?”

DUEL BIMA VS BENJAMIN

Mereka saling mendekat.

Benjamin menyerang cepat—pukulan lurus, teknik militer murni.

Bima menangkis, terdorong mundur.

“Bagus,” gumam Bima.

“Akhirnya lawan sepadan.”

Mereka bertukar pukulan brutal.

Aspal jadi saksi.

Benjamin menghantam rusuk Bima—

Bima membalas dengan siku ke rahang.

Darah menetes.

Namun Benjamin tertawa.

“Masih kurang!”

Ia menghajar Bima hingga jatuh berlutut.

“BIMA!” teriak Laura.

Dr. Sandi membuka mata.

Ia berdiri perlahan.

Tenang. Terlalu tenang.

Benjamin menoleh.

“Dokter? Menyingkirlah. Ini urusan prajurit.”

Dr. Sandi melangkah maju.

“Saya dokter,” katanya pelan.

“Justru karena itu… saya tahu titik kematian manusia.”

Benjamin tertawa keras.

“Kau menantangku?”

PUKULAN TENAGA DALAM

Benjamin menyerang.

Cepat.

Namun Dr. Sandi tidak menghindar.

Ia melangkah setengah putaran—

lalu satu pukulan pendek, dalam, tepat ke ulu hati.

BUK!

Tidak ada suara keras.

Tidak ada efek dramatis.

Benjamin berhenti.

Matanya membelalak.

“A… apa…?” suaranya parau.

Dr. Sandi berbisik di telinganya,

“Gelombang tekanan. Organ dalam hancur perlahan.”

Benjamin mundur terhuyung.

Batuk darah.

Lututnya ambruk.

“Mustahil…” gumamnya.

Tubuhnya roboh ke aspal—

tak bergerak lagi.

Sunyi.

Para pemburu hadiah membeku.

“Letnan… tewas?” bisik salah satu.

Bima berdiri, menyeka darah di bibirnya.

“Kalian masih mau sepuluh juta dolar,” katanya dingin,

“atau mau pulang dengan kaki sendiri?”

Tak satu pun menjawab.

Mereka lari.

Dr. Sandi terduduk, napas berat.

Bima menghampiri, menatapnya lama.

“Kau… menyelamatkan semuanya.”

Dr. Sandi menatap tangannya sendiri.

“Saya harap… ini yang terakhir.”

Laura mendekat.

“Akhirnya…”

Bima menoleh ke arah jalan kosong.

“Belum. Tinggal satu."

Alphard kembali melaju.

Jakarta terhampar di depan.

Bima berkata pelan,

“Flash disc itu akan mengubah banyak hal.”

Dr. Sandi mengangguk.

“Dan malam ini… kita membayar harganya.”

Lampu kota memantul di kaca depan—

menjadi saksi akhir perburuan USD 10 juta.

MARKAS DARURAT – JAKARTA UTARA

Gudang tua di kawasan pelabuhan itu mendadak berubah jadi markas darurat. Lampu sorot menyala kasar, menerangi tubuh Letnan Benjamin yang terbaring di atas tandu darurat. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Darah tipis merembes dari sudut bibir.

“Cepat! Angkat kepalanya!” teriak salah satu pasukan.

“Detaknya tidak stabil!” sahut yang lain panik.

Seorang paramedis bayaran menempelkan alat ke dada Benjamin. Wajahnya berubah.

“Organ dalamnya rusak,” katanya cepat.

“Ini bukan pukulan biasa.”

Salah satu pasukan menelan ludah.

“Itu… dokter mereka.”

Paramedis mengangguk.

“Pukulan tenaga dalam. Getarannya menghancurkan dari dalam.”

Benjamin mengerang pelan. Matanya terbuka setengah.

“Flash… disc…” bisiknya lemah.

Kepalanya terkulai kembali.

KEDATANGAN KOLONEL SUKATAHU

Pintu gudang terbuka keras.

Seorang pria bertubuh tinggi dengan seragam lapangan masuk. Tatapannya dingin, rahangnya mengeras saat melihat kondisi Benjamin.

Kolonel Sukatahu.

“Apa yang terjadi,” katanya pelan—terlalu pelan untuk situasi seburuk itu.

Tak ada yang langsung menjawab.

“Apa yang terjadi!” bentaknya.

Salah satu perwira melangkah maju.

“Sertu Bima… dan seorang dokter. Mereka melawan.”

Sukatahu menatap tubuh Benjamin lama. Tangannya mengepal.

“Letnan terbaikku,” gumamnya.

“Dilumpuhkan oleh dokter?”

Ia berbalik tajam.

“Di mana flash disc?”

“Masih… di tangan mereka, Kolonel.”

Sukatahu tertawa pendek, dingin.

“Kalian kalah di Jakarta. Di wilayah yang kalian klaim aman.”

Ia mendekat ke wajah Benjamin.

“Kau tidak boleh mati sekarang,” bisiknya.

“Aku belum membalas ini.”

KEPUTUSAN CEPAT

Paramedis menyela, gugup.

“Kolonel, dia harus segera dioperasi. Kalau terlambat—”

“Ke mana?”

“RS Internasional Jakarta. Fasilitasnya cukup.”

Sukatahu mengangguk tanpa ragu.

“Bawa sekarang.”

Ia menoleh ke pasukannya.

“Yang lain, tetap di sini.”

“Kolonel?” tanya perwira.

Sukatahu mengambil rompi taktisnya.

“Aku turun tangan sendiri.”

Semua terdiam.

“Mulai malam ini,” lanjutnya dingin,

“Sertu Bima dan semua yang bersamanya… jadi target pribadiku.”

PERJALANAN DARURAT

Ambulans melaju kencang membelah malam. Sirene meraung.

Di dalam, Benjamin tak sadarkan diri. Monitor jantung berbunyi tak stabil.

“Tekanan turun!” teriak paramedis.

“Naikkan dosis!”

Salah satu pasukan menggenggam sisi tandu.

“Bertahanlah, Letnan…”

Tak ada jawaban.

RS INTERNASIONAL JAKARTA – RUANG OPERASI

Pintu ruang operasi tertutup.

Lampu merah menyala.

Seorang dokter bedah keluar sebentar menemui Sukatahu yang baru tiba.

“Kerusakan organ dalam cukup parah,” kata dokter serius.

“Seperti dihantam gelombang dari dalam. Jantung, paru, dan liver.”

“Selamatkan dia,” kata Sukatahu tanpa emosi.

“Apa pun caranya.”

Dokter mengangguk.

“Kami akan berusaha.”

Pintu menutup kembali.

Sukatahu berdiri sendirian di lorong putih itu. Tangannya perlahan mengepal.

“Dokter…” gumamnya.

“Kau baru saja menandatangani vonis mati bagi pasukanmu.”

DI TEMPAT LAIN

Sebuah rumah aman sederhana di pinggir Jakarta.

Sertu Bima membersihkan luka di lengannya. Dr. Sandi duduk bersandar, wajah pucat tapi tenang.

“Kondisinya?” tanya Bima.

“Pingsan. Organ dalamnya rusak,” jawab Dr. Sandi jujur.

“Aku tidak berniat membunuh. Tapi dia memaksa.”

Bima mengangguk pelan.

“Dia hidup?”

“Kalau tertolong operasi, ya.”

Bima menatap lantai.

“Itu berarti satu hal…”

Dr. Sandi menatap balik.

“Kolonel Sukatahu.”

Hening sesaat.

“Dia tidak akan berhenti,” lanjut Sandi.

Bima berdiri.

“Bagus.”

“Bagus?”

“Artinya kita bisa mengakhiri ini,” kata Bima tegas.

“Sekali. Untuk selamanya.”

Di satu sisi kota, Kolonel Sukatahu bersiap berburu.

Di sisi lain, Sertu Bima dan Dr. Sandi bersiap menyambut perang terakhir.

Flash disc masih aman.

Tapi darah, dendam, dan kehormatan…

sudah tumpah di jalanan Jakarta.

MARKAS DARURAT ISRIWIL – JAKARTA

Ruangan gelap itu sunyi.

Hanya suara monitor besar yang memutar rekaman pertempuran terakhir.

Wajah Letnan Benjamin tampak di layar—

terhuyung…

lalu jatuh keras ke tanah.

Seorang perwira berkata dengan suara gemetar,

“Kolonel… Letnan Benjamin pingsan. Internal bleeding. Organ vital rusak.”

Kolonel Sukatahu berdiri kaku.

Matanya tidak berkedip.

“Di mana dia sekarang?”

“RS Internasional Jakarta, Kolonel. Operasi darurat.”

Sukatahu mengepalkan tangan.

KRAK!

Meja besi di depannya penyok dihantam tinjunya.

“DIPUKUL… OLEH SEORANG DOKTER?”

Tak ada yang berani menjawab.

“Benjamin adalah prajurit terbaikku,” suara Sukatahu rendah tapi mengandung amarah dingin.

“Dan sekarang dia tergeletak di meja operasi… di tanah musuh.”

Ia menoleh tajam.

“Siapkan pasukan.

Aku turun tangan sendiri.”

Hujan turun tipis.

Sertu Bima sedang membersihkan luka di lengannya.

Eren dan Andri duduk bersandar, kelelahan.

Dr. Sandi duduk diam, napasnya belum sepenuhnya stabil.

Laura berjongkok di sampingnya.

“Jangan paksa diri lagi…”

Dr. Sandi tersenyum lemah.

“Kalau aku tidak pakai tenaga dalam… kita sudah mati.”

Bima menatapnya serius.

“Tenaga dalam itu bukan main-main, Dok. Sekali salah… kau sendiri bisa hancur.”

Dr. Sandi mengangguk pelan.

Tiba-tiba…

ponsel Eren bergetar keras.

Ia melihat layar.

“Bima…”

“Apa?”

“Pergerakan besar. Bukan pemburu biasa.”

Andri langsung berdiri.

“Jangan bilang…”

Eren menelan ludah.

“Kolonel Sukatahu. Turun sendiri.”

Ruangan seketika sunyi.

Bima menarik napas panjang.

“Berarti… ini perburuan terakhir.”

PENYERBUAN BESAR-BESARAN

Ledakan menghantam gerbang luar.

“POSISI DISERBU!” teriak Andri.

Puluhan pasukan Isriwil menyerbu dari berbagai arah.

Bima berteriak,

“FORMASI! LINDUNGI LAURA!”

Pertempuran brutal pecah.

Eren menjatuhkan dua musuh sekaligus.

Andri bertarung jarak dekat, darah menetes dari pelipisnya.

Lalu…

sebuah langkah berat terdengar.

Semua terdiam.

Kolonel Sukatahu muncul.

Tubuh tinggi.

Aura pembunuh.

“Bima…” katanya pelan.

“Kau membuat kesalahan besar.”

Bima maju.

“Kesalahanmu adalah menginjak negeri kami.”

Eren menyerang duluan—

DITANGKIS. DIBANTING.

Andri mencoba dari samping—

DISIKUT HINGGA TERLEMpar.

Bima maju dengan penuh tenaga.

DOR!

DOR!

Tiga serangan…

SEMUA DITAHAN.

Sukatahu menyeringai.

“Kalian hebat… tapi belum cukup.”

Satu pukulan telak menghantam dada Bima.

Bima terjatuh.

Laura menjerit,

“BIMA!”

Sukatahu melangkah mendekat.

“Sekarang… dokter.”

PERTEMPURAN TERAKHIR – DR. SANDI

Dr. Sandi berdiri perlahan.

Tubuhnya gemetar.

“Kau memburu nyawa demi uang dan kekuasaan,” katanya tenang.

“Dan kau menyentuh orang-orang yang kulindungi.”

Sukatahu tertawa pendek.

“Tenaga dalammu sudah hampir habis.”

“Benar,” jawab Dr. Sandi.

“Karena ini… yang terakhir.”

Ia menutup mata.

Napasnya dalam.

SUKATAHU MENYERANG.

Dr. Sandi menghindar setengah langkah—

dan menghantamkan pukulan tenaga dalam tepat ke ulu hati.

BUUMM!

Sukatahu membeku.

Matanya membelalak.

Darah mengalir dari mulutnya.

“A… apa… ini…”

Ia jatuh berlutut…

lalu roboh tak sadarkan diri.

SETELAH PERTEMPURAN

Dr. Sandi ikut terjatuh.

Laura menangkap tubuhnya.

“Sandi! SANNDII!”

Tangannya gemetar memeriksa nadi.

“Tenang… aku di sini…” bisiknya sambil menahan air mata.

“Aku rawat kamu. Jangan pergi.”

Bima bangkit tertatih.

“Dok… kau menang.”

Dr. Sandi tersenyum lemah.

“Bukan aku…”

“Siapa?”

“Kita… semua.”

BEBERAPA HARI KEMUDIAN – RS INTERNASIONAL

Benjamin sadar.

Matanya terbuka perlahan. Cahaya putih menusuk penglihatannya.

“Di… mana aku?” suaranya parau.

Seorang dokter mendekat.

“Tenang, Letnan. Operasi berhasil.”

Benjamin mencoba menggerakkan tangan—

nyeri hebat membuatnya mengerang.

“Tubuhmu butuh waktu,” lanjut dokter.

“Dan kami harus jujur… kemampuan fisikmu tidak akan pulih sepenuhnya.”

Benjamin menatap langit-langit.

Untuk pertama kalinya…

ia merasa tak berdaya.

“Kolonel Sukatahu…” bisiknya.

“Apakah dia…”

Dokter ragu.

“Dia turun langsung ke lapangan.”

Mata Benjamin menutup.

“Jangan remehkan mereka…” gumamnya.

“Terutama… dokter itu.”

TEMPAT PERSEMBUNYIAN – ROMBONGAN SERTU BIMA

Di sisi lain kota, Dr. Sandi terbaring lemah di sofa. Wajahnya pucat, napasnya tidak stabil.

Laura duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan cemas.

“Kau terlalu memaksakan diri,” suaranya bergetar.

“Kenapa kau lakukan itu?”

Dr. Sandi tersenyum lemah.

“Karena… kalau bukan aku… kalian tidak akan selamat.”

Air mata Laura jatuh.

“Aku tidak peduli flash disc… aku peduli kamu.”

Sertu Bima berdiri di dekat jendela, waspada.

“Kolonel Sukatahu belum berhenti,” katanya tegas.

“Dan setelah Benjamin tumbang… dia akan lebih kejam.”

Eren menyeringai tipis.

“Bagus. Kita siap.”

Bima menoleh ke Dr. Sandi.

“Kau masih bisa berdiri?”

Dr. Sandi mengangguk pelan.

“Tenagaku belum pulih… tapi tekadku masih utuh.”

Hujan turun perlahan, menetes di atap seng rumah tua yang dijadikan safe house. Lampu temaram menyala. Bau antiseptik samar memenuhi ruangan.

Dr. Sandi terbaring di sofa, napasnya masih berat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Energi tenaga dalam yang ia keluarkan sebelumnya meninggalkan getar lemah di tubuhnya.

Sertu Bima berdiri di dekat jendela, senjata disandang, mata menyapu gelap luar.

“Area bersih,” lapornya singkat.

“Untuk sekarang.”

Eren duduk bersila di lantai, memeriksa luka di lengannya.

“Jaringan mereka kacau. Tanpa Benjamin dan Sukatahu di lapangan, mereka kehilangan komando.”

Bima mengangguk.

“Jangan lengah. Mereka licik.”

Di sisi sofa, Laura berlutut. Tangannya gemetar saat menempelkan kain hangat di dahi Dr. Sandi.

“Jangan bicara dulu,” katanya pelan.

“Dokter yang bandel.”

Dr. Sandi tersenyum lemah.

“Kalau aku bandel… kau marah?”

Laura menahan napas. Matanya berkaca-kaca.

“Aku… takut.”

“Aku masih di sini,” balas Sandi lirih.

Laura menggenggam tangannya. Hangat. Nyata.

“Jangan pergi lagi seperti tadi. Aku benar-benar… hampir kehilanganmu.”

Sandi menatapnya.

“Laura…”

Tiba-tiba radio kecil di tangan Bima berdesis.

“Gerak mencurigakan dua blok barat. Tiga kendaraan.”

Bima menjawab cepat,

“Pantau. Jangan kontak kecuali perlu.”

Ia menoleh ke dalam.

“Kita belum aman sepenuhnya.”

Eren bangkit.

“Kalau mereka datang—”

“—kita sambut,” potong Andri, menegaskan.

Laura tak melepaskan tangan Dr. Sandi. Suaranya bergetar, tapi tekadnya utuh.

“Dr. Sandi… dengarkan aku.”

Sandi mencoba bangkit, namun Laura menahan.

“Tidak. Tetap di situ.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku tumbuh di tengah ketakutan. Dikejar, diburu, dijadikan hadiah sepuluh juta dolar. Aku selalu berpikir… perasaan itu kelemahan.”

Ia menatap Sandi lurus-lurus.

“Tapi hari ini aku sadar—perasaan ini justru yang membuatku bertahan.”

Sandi menelan ludah.

“Laura…”

“Aku mencintaimu,” ucap Laura, tegas namun lembut.

“Bukan karena kau dokter. Bukan karena kau melindungiku. Tapi karena kau tetap memilih manusia… saat dunia menjadi kejam.”

Ruangan hening.

Sertu Bima menoleh sebentar, lalu memalingkan wajah, memberi ruang.

Dr. Sandi menarik napas perlahan, menahan nyeri di dada.

“Laura… aku bukan pahlawan. Aku manusia biasa yang kadang takut.”

Laura tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

“Aku juga mencintaimu,” ucap Sandi akhirnya.

“Dan aku takut… perasaanku membuatmu makin diburu.”

Laura menggeleng.

“Bahaya sudah ada sebelum aku mengaku.”

Ia mendekat, menempelkan keningnya ke kening Sandi.

“Kalau ini akhir… aku ingin kau tahu.”

Sandi mengangkat tangan, menyentuh pipinya.

“Ini bukan akhir.”

Radio kembali berdesis.

“Kontak hilang. Kendaraan mundur.”

Bima menghela napas.

“Mereka menjauh.”

Eren tersenyum miring.

“Cerdas. Atau takut.”

Bima menatap Laura dan Sandi.

“Besok pagi. Serah terima flash disc. Setelah itu… kita akhiri semua.”

Laura berdiri, mengusap air mata.

“Aku siap.”

Sandi mencoba bangkit.

“Dan aku akan berdiri.”

Laura menahannya lembut.

“Kau sembuh dulu. Biar aku yang kuat untukmu sekarang.”

Sandi tersenyum.

“Kesepakatan.”

Di RS Internasional Jakarta, Letnan Benjamin dan Kolonel Sukatahu berada dalam pemulihan ketat. Operasi menyelamatkan nyawa mereka—namun karier dan jaringan mereka hancur. Pengawasan ketat menutup ruang gerak. Dunia perburuan tak lagi sama.

Sementara di rumah aman, dua hati yang diuji bahaya memilih jujur di saat paling genting.

Bima menatap langit yang mulai cerah.

“Kadang,” gumamnya,

“perang terbesar bukan di medan… tapi di hati.”

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!