"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teguran
Jam istirahat benar-benar mengubah ritme kantor. Langkah kaki yang tadi tergesa mulai berkurang, suara ketikan berganti dengan obrolan ringan dan kursi yang ditarik. Kantin penuh, lorong-lorong lebih lengang.
Di ruangan kecil dekat jendela itu, Rania masih duduk di depan layar.
Ia menelan rasa lapar, menegakkan punggung, lalu kembali fokus.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki berhenti di ambang pintu.
“Ran.”
Rania menoleh.
Reyhan berdiri di sana, membawa satu kantong kertas dan sebotol air mineral.
“Aku gak akan ganggu kamu lama,” katanya cepat, seolah takut ditolak. “Nih, makan dulu.”
Rania menghela napas kecil. “Aku masih kerja.”
“Kamu belum makan dari tadi,” balas Reyhan pelan. “Setidaknya minum sedikit.”
Rania ragu. Ia melirik keluar ruangan. Waspada.
Reyhan mengikuti arah pandangnya dan langsung paham. “Tenang. Dia lagi gak di lantai ini.”
Rania akhirnya berdiri, menutup laptop sebentar. Tangannya menerima botol air itu, dingin menempel di telapak tangannya.
“Makasih,” ucapnya singkat.
“Aku gak ngerti kenapa Radit kayak gini.” sambung Reyhan.
“Mungkin aku punya salah,” kata Rania pelan.
Reyhan mengerutkan kening. “Tapi, gak seharusnya kamu begini."
Rania mengangkat bahu. “Kadang orang yang punya kuasa… gak butuh alasan besar.”
Kalimat itu membuat Reyhan terdiam.
Ia menatap Rania lama. Ada kelelahan yang tidak dibuat-buat di wajah perempuan itu.
“Kamu gak pantas diperlakukan kayak gini, Ran. Serius.” ucap Reyhan akhirnya.
Rania menoleh cepat. “Jangan ngomong gitu di sini.”
“Aku cuma—”
“Reyhan,” potong Rania, lebih tegas. “Tolong. Jangan tambah masalah baru.”
Reyhan terdiam lagi. Rahangnya mengeras. Ia ingin membantah, tapi melihat sorot mata Rania, ia memilih mengalah.
“Oke,” katanya akhirnya. “Aku diem.”
Rania membuka kemasan makanan itu perlahan. Untuk pertama kalinya hari itu, ia makan dengan benar.
Di saat yang sama—
di koridor lantai atas—
Radit berdiri di depan layar monitor pengawas.
Beberapa layar menampilkan sudut kantor. Matanya berhenti di satu gambar.
Gambar antara Rania.
Dan Reyhan.
Tangannya mengepal.
Mereka berdiri terlalu dekat.
Radit menoleh tajam, meraih ponselnya.
“Umumkan,” katanya dingin pada staf operasional. “Jam istirahat selesai. Semua staf kembali ke ruangan masing-masing. Tidak ada yang boleh berada di ruang orang lain.”
Perintah itu disiarkan.
Dan sampai ke telinga Reyhan.
Ia menoleh ke speaker di langit-langit, lalu tertawa getir.
Rania menutup kotak makanannya, dan bangkit. “Kamu harus pergi.”
"Aku cuma—”
“Sekarang,” ulang Rania dengan tegas.
Reyhan mengangguk pelan. “Kalau ada apa-apa—”
“Aku bisa urus,” potong Rania. “Tolong.”
Reyhan mundur satu langkah, lalu dua. Sebelum pergi, ia menatap Rania sekali lagi seolah ingin mengatakan banyak hal, tapi menelannya kembali.
Setelah ruangan kembali sunyi, Rania duduk.
Ia membuka laptop lagi.
Bekerja dengan sungguh-sungguh.
Sementara di tempat lain, Radit sudah meninggalkan lantai itu. Ia tidak sanggup melihat lebih lama.
Sementara Reyhan benar-benar kehilangan kendali siang itu. Tak tega melihat Rania yang terduduk lemas di kursinya, makanan di depannya hampir tak tersentuh, sesuatu di dadanya seperti pecah.
Ia berbalik arah dengan langkah cepat, nyaris berlari menuju lantai eksekutif.
“Pak Reyhan, maaf—Bapak tidak bisa masuk,” suara sekretaris Radit terdengar panik ketika Reyhan sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan itu.
Beberapa staf lain ikut menoleh. Ada yang mencoba menghadang.
“Pak Reyhan—”
“Minggir.” Reyhan menepis tangan mereka.
Pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam.
Radit berdiri di ambang pintu, jasnya rapi, dasinya longgar sedikit. Wajahnya tenang. Seolah keributan di luar hanyalah angin lewat.
“Ada apa?” tanyanya santai.
Reyhan tidak menunggu undangan.
Ia menyeruduk masuk, langkahnya keras, lalu—
BRAK.
Tangannya menghantam meja Radit.
Beberapa staf tercekat. Sekretaris refleks mundur.
“Kamu gila?” Reyhan membentak. “Apa masalahmu sama Rania, hah?”
Radit menutup pintu perlahan, lalu berjalan ke balik mejanya. Ia tidak terlihat terkejut.
Tidak juga marah.
Hanya tertawa kecil.
“Turunin suara kamu,” katanya ringan. “Ini kantor, bukan ruang tamu.”
“Kamu manfaatin jabatan buat nyiksa orang!” Reyhan mendekat satu langkah. “Kalau kamu merasa ada yang salah, jangan lampiasin ke semua orang.”
Radit menyandarkan pinggul ke meja, melipat tangan di dada. Senyumnya mengejek.
“Kamu lupa satu hal,” ucapnya pelan. “Di sini, aku bosnya.”
Reyhan mengepalkan tangan. “Dan kamu lupa satu hal lagi. Bos yang gak punya hati nurani, cuma tinggal nunggu waktu buat jatuh.”
Radit menegakkan tubuh. Tatapannya kini dingin.
“Kamu datang ke sini sebagai apa, Reyhan?”
Ia melangkah mendekat. “Partner sementara. Tamu. Bukan pemilik.”
Setiap kata ditekan jelas.
“Keputusan di perusahaan ini mutlak di tanganku.”
Reyhan menelan napas. Dadanya naik turun.
“Aku cuma minta kamu adil,” katanya lebih rendah, “Dia kerja. Dia gak salah apa-apa.”
Radit hendak membuka mulut—
namun pintu kembali diketuk.
“Pak Radit,” suara staf katering terdengar ragu, “makan siang Anda.”
Radit menoleh sebentar, lalu kembali menatap Reyhan.
“Oh,” katanya datar. “Kamu masih mau di sini?"
Ia memberi isyarat ke pintu.
“Keluar. Aku mau makan. Jangan ganggu jam istirahatku.”
Reyhan terpaku. Tidak percaya.
“Kamu serius?” suaranya bergetar. “Di saat kamu hancurin orang—”
“Keluar,” potong Radit tajam.
Hening.
Reyhan menatap Radit lama, seolah ingin mengatakan banyak hal sekaligus. Tapi akhirnya ia tertawa pahit.
“Suatu hari,” katanya pelan, “kamu bakal nyesel.”
Radit tidak menjawab.
Ia hanya berbalik ke mejanya saat Reyhan melangkah keluar dengan rahang mengeras.
Pintu tertutup.
Ia makan dengan lahap.
Tenang.
Seolah semua amarah, kecemburuan, dan kekacauan di kepalanya sejak pagi… menemukan saluran yang tepat.
Bayangan Rania yang kewalahan. Reyhan yang kehilangan kendali. Wajah-wajah bingung para staf. Semua itu berputar singkat di kepalanya dan Radit justru merasa puas akan hal itu.
Sudut bibirnya terangkat.
“Begini harusnya,” gumamnya pelan, hampir seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Ia menyeka sudut mulut dengan tisu, lalu bersandar santai. Untuk sesaat, Radit merasa memegang dunia di telapak tangannya.
Rania perlu tahu siapa Radit sebenarnya.
Ia bukan pria yang bisa ditarik-ulur sembarangan, bukan juga seseorang yang bisa dilangkahi tanpa konsekuensi. Radit hanya luluh pada rencananya sendiri.
Sedikit saja melenceng, dan ini yang akan terjadi.
Radit kembali menatap meja kerjanya, matanya menyempit.
“Peringatan ringan,” katanya lirih.
Kalau ini baru peringatan…
ia sendiri tahu, hukuman yang sesungguhnya akan jauh lebih kejam.
Rania tidak punya banyak waktu.
Kalau perempuan itu tidak segera mengambil sikap, Radit yakin dirinya bisa melangkah lebih jauh tanpa ampun.
Pikirannya kembali ke satu adegan tadi pagi. Rahangnya mengeras.
Ia mengira dengan tekanan seperti ini, Rania akan mendekat, menjelaskan atau memohon. Menurunkan jarak yang ia buat sendiri.
Namun Radit tidak tahu satu hal penting.
Di saat ia merasa memegang kendali penuh, Rania justru sedang terjepit di antara dua dinding besar.
Di satu sisi, Reyhan.
Datang kembali dengan luka lama, rasa yang belum sepenuhnya mati, dan niat yang perlahan berubah menjadi obsesi. Ia ingin Rania lagi. Dengan caranya sendiri.
Di sisi lain, Radit.
Dengan kontrak yang mengikat, rencana pernikahan yang kian dekat. Dan nama Soraya yang sebentar lagi tak bisa disembunyikan.
Rania berdiri di tengahnya. Ia sendiri tidak mengira akan berada di kedua sisi yang membuatnya serba salah.
Hening sesaat.
Di ruangan lain, Rania tengah menatap layar ponselnya cukup lama. Ia mencoba mengirimi Radit pesan beberapa menit sebelumnya.
Tangannya gemetar. Karena jawaban Radit tak biasanya.
“Ngomong yang sopan, saya ini bosmu. Panggil saya Pak.”
Kalimat pendek itu terasa seperti tamparan.
Biasanya juga gak gini, tulisnya lagi—nyaris refleks. Berharap Radit kembali jadi Radit yang ia kenal.
Balasan itu datang cepat. Seolah Radit memang sudah menunggu kesempatan untuk menekan lebih dalam.
“Kamu harus mulai belajar posisi, Rania. Jangan samakan profesional dengan personal. Saya orang terhormat. Jaga sikapmu.”
Rania menutup mata.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Dengan cepat ia mengusapnya dengan punggung tangan, menunduk agar tak ada yang melihat.
Radit memang orang terhormat.
Namun kata itu berputar terus di kepalanya.
Apakah selama ini ia tidak pernah menghormatinya?
Atau… justru Radit yang sedang berusaha menghapus semua yang pernah ada di antara mereka?
Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia menulis balasan, tapi menghapusnya lagi. Menulis. Menghapus. Berkali-kali.
Akhirnya, ia hanya mengetik satu kalimat.
Rania:
“Baik, Pak.”
Di ruangannya, Radit membaca pesan itu sambil bersandar di kursi. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
Tunduk juga, batinnya.
Ia meletakkan ponsel, melanjutkan makan dengan tenang. Setiap suapan terasa seperti pembenaran. Seolah ia sedang mengembalikan kendali yang sempat goyah pagi tadi.
Kalau Rania ingin menjauh, maka ia yang akan mengatur jaraknya dengan caranya sendiri.