"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan begitu juga dengan Kirana.
Di lantai tiga puluh enam sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Kirana berdiri menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang luas. Di luar sana, lampu-lampu kota tampak seperti hamparan berlian yang berserakan di atas beludru hitam. Namun, bagi Kirana, keindahan itu hanya sekadar angka dan target. Sebagai Manajer Pemasaran di Kencana Jewelry, salah satu perusahaan perhiasan paling prestisius di Indonesia, hidupnya adalah tentang presisi.
Ia merapikan blazer hitam custom-fit miliknya. Rambutnya disanggul rapi tanpa ada satu helai pun yang berani keluar dari tempatnya. Wajahnya yang cantik dipoles dengan riasan minimalis namun tegas, bibir merah marun yang menyuarakan otoritas.
"Ibu Kirana?" suara ketukan pintu memecah keheningan. "Semua laporan untuk presentasi besok dengan keluarga Mahendra sudah siap di meja Anda."
Kirana berbalik, memberikan anggukan tipis pada asistennya. "Terima kasih, Maya. Pastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun pada katalog limited edition kita. Keluarga Mahendra bukan tipe orang yang memaafkan kecerobohan."
Setelah asistennya pergi, Kirana kembali menatap meja kerjanya. Di sana, sebuah foto kecil dalam bingkai perak menunjukkan dirinya yang beberapa tahun lalu, tersenyum lepas dengan latar belakang universitas. Kirana yang dulu adalah gadis yang percaya bahwa dunia ini adil. Kirana yang sekarang tahu bahwa dunia hanya berpihak pada mereka yang memiliki kekuatan dan uang.
Malam itu, Kirana harus menghadiri acara gala charity yang diadakan di hotel bintang lima. Ini bukan sekadar acara amal, ini adalah medan perang bagi para pengusaha. Kirana berada di sana untuk satu tujuan: memastikan kontrak eksklusif dengan Mahendra Group tetap berada di tangannya.
Suasana ballroom sangat megah. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau sampanye yang menguap di udara. Saat Kirana melangkah masuk, beberapa pasang mata mengikutinya. Ia memiliki aura yang sulit diabaikan, dingin namun memikat.
Di sudut ruangan, seorang pria berdiri dengan segelas wiski di tangannya. Pria itu adalah Arka Mahendra.
Arka adalah definisi dari 'pria yang memiliki segalanya'. Garis rahangnya tegas, matanya tajam namun selalu menyimpan binar nakal yang berbahaya. Ia adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis Mahendra, namun ia lebih dikenal sebagai playboy kelas atas yang namanya sering menghiasi kolom gosip daripada kolom bisnis.
"Siapa dia?" tanya Arka tanpa mengalihkan pandangan dari Kirana yang sedang berbicara dengan beberapa kolega.
Teman di sampingnya, seorang pria bernama Dion, terkekeh. "Itu Kirana. Si Ratu Es dari Kencana Jewelry. Banyak yang sudah mencoba mendekatinya, Arka. Tapi dia lebih tertarik pada grafik penjualan daripada pria seperti kita."
Arka menyunggingkan senyum miring. Senyum yang biasanya menjadi pertanda buruk bagi mangsanya. "Ratu Es, ya? Menarik. Kamu tahu, Dion, es sekeras apa pun akan mencair jika diletakkan di bawah panas yang tepat."
Dion menaikkan sebelah alisnya. "Jangan bilang kau tertarik padanya. Dia bukan tipe wanita yang bisa kau tiduri lalu kau tinggalkan dengan cek satu miliar, Arka. Dia punya harga diri."
Arka menyesap wiskinya, matanya masih terkunci pada sosok Kirana yang sekarang sedang menyesap air mineral di dekat meja prasmanan. "Harga diri hanyalah masalah angka, kawan. Bagaimana kalau kita bertaruh?"
Dion tertawa kecil. "Taruhan apa?"
"Tiga bulan," ucap Arka mantap. "Beri aku waktu tiga bulan. Aku akan membuatnya jatuh cinta sampai dia berlutut memohon padaku. Dan saat itu terjadi, aku akan mendapatkan informasi akses vendor yang diinginkan Ayahku dari perusahaannya. Jika aku menang, kau harus memberikan mobil sport merahmu itu padaku."
Dion menggeleng-gelengkan kepala. "Dan jika kau gagal?"
"Aku tidak pernah gagal, Dion. Kau tahu itu."
Kirana merasa seseorang sedang memperhatikannya. Ia berbalik dan secara tidak sengaja matanya bertemu dengan mata Arka. Untuk sesaat, ada aliran listrik yang aneh. Arka tidak membuang muka, ia justru mengangkat gelasnya, memberikan penghormatan kecil dari jauh.
Kirana segera memalingkan wajah. Ia tahu siapa Arka Mahendra. Ia tahu reputasi pria itu sebagai penghancur hati. Pria sombong yang mengira dunia berputar di sekitar jempolnya, pikir Kirana dalam hati.
Namun, Arka tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan langkah yang tenang dan penuh percaya diri, Arka berjalan mendekat. Langkahnya mantap, membelah kerumunan seolah-olah ia adalah pemilik ruangan itu.
"Ibu Kirana, benar?" suara bariton Arka terdengar tepat di belakangnya.
Kirana berbalik perlahan, mempertahankan ekspresi datarnya. "Pak Arka Mahendra. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda di sini."
"Jangan terlalu formal. Kita sedang tidak di ruang rapat," Arka tersenyum, senyum yang sengaja ia buat sehangat mungkin. "Aku sudah banyak mendengar tentang prestasi Anda. Kencana Jewelry sangat beruntung memiliki otak seperti Anda."
"Saya hanya melakukan tugas saya, Pak Arka," jawab Kirana singkat. "Permisi, saya harus menyapa klien saya yang lain."
Saat Kirana hendak melangkah pergi, Arka dengan halus menghalangi jalannya dengan langkah kakinya. "Tunggu sebentar. Mengapa terburu-buru? Apakah saya semenakutkan itu?"
Kirana menatap Arka tepat di matanya. "Anda tidak menakutkan, Pak Arka. Anda hanya... membuang waktu saya. Saya di sini untuk bekerja, bukan untuk berbasa-basi."
Arka tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus di telinga orang yang tidak mengenalnya. "Sangat jujur. Saya suka itu. Baiklah, bagaimana kalau kita bicara bisnis? Mahendra Group sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan lini perhiasan untuk hotel baru kami di Bali. Saya ingin Anda yang memimpin presentasinya."
Kirana terdiam sejenak. Itu adalah proyek besar yang sangat ia incar. Sebagai seorang profesional, ia tidak bisa mengabaikan peluang emas ini. "Jika itu masalah bisnis, silakan hubungi asisten saya untuk menjadwalkan pertemuan di kantor."
Arka mendekatkan wajahnya, hanya beberapa inci dari telinga Kirana. Ia bisa mencium aroma parfum sandalwood dan mawar yang elegan dari tubuh wanita itu. "Saya akan menelepon Anda sendiri, Kirana. Bukan asisten saya, bukan asisten Anda. Karena saya rasa, proyek ini membutuhkan sentuhan personal."
Tanpa menunggu jawaban, Arka melangkah pergi, meninggalkan Kirana yang berdiri dengan perasaan campur aduk. Ada sesuatu di dalam diri Arka yang membuatnya merasa terancam, namun di sisi lain, ada tantangan profesional yang tidak bisa ia tolak.
Kirana pulang ke apartemennya malam itu dengan perasaan gelisah. Ia melepas sepatunya dan membiarkan kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia pergi ke dapur, menuangkan segelas air, dan mencoba menenangkan pikirannya.
*Dia hanya seorang pria kaya yang manja, pikirnya. Jangan biarkan dia mengganggumu*.
Namun, Kirana tidak tahu bahwa di sebuah klub malam eksklusif beberapa kilometer dari sana, Arka sedang merayakan awal dari permainannya.
"Dia memang keras, Arka," ucap Dion sambil menuangkan minuman. "Kau yakin bisa menjatuhkannya?"
Arka menyalakan cerutunya, asap tebal mengepul di depan wajahnya. "Wanita seperti Kirana biasanya memiliki pertahanan yang paling kuat di luar, tapi paling rapuh di dalam. Dia hanya butuh sedikit perhatian, sedikit ketidaksengajaan, dan sedikit romansa palsu. Dia akan jatuh, Dion. Dan ketika dia jatuh, dia tidak akan pernah tahu apa yang menimpanya."
Arka menatap ponselnya, melihat foto Kirana yang ia ambil secara diam-diam saat di gala tadi. Di matanya, Kirana bukanlah seorang wanita dengan perasaan. Kirana adalah piala yang harus dimenangkan.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mendung, dua kehidupan mulai bersinggungan. Yang satu dipenuhi dengan harapan akan kesuksesan, dan yang lainnya dipenuhi dengan rencana jahat yang dibungkus dengan topeng cinta.
Kirana tidak pernah menyangka bahwa pertemuan singkat itu adalah awal dari kehancuran total hidupnya. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja menawarkan kerja sama bisnis itu, sebenarnya sedang menggali lubang kubur bagi harga dirinya.
Permainan telah dimulai. Dan di dunia Arka Mahendra, tidak ada tempat bagi mereka yang bermain dengan hati.
...----------------...
**Next Episode**....