Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Kata-Kataku
"Sah, ya!"
Fian mengangguk pada penghulu. "Terima kasih."
Tiba-tiba dari arah pintu depan, masuk Lynda dan melihat ke arah keramaian. Ia juga melihat suaminya di sana bersama wanita dengan wajah berjerawat itu. Ia kaget. Lynda datang dalam keadaan terperangah. Ia mendekati Fian. "Ada apa ini?"
"Masa kamu tidak tahu?" Fian tersenyum dengan wajah tenang. Ia menoleh pada Lana. "Kenalkan. Dia istriku yang baru, Lana." Pria itu menarik dagu istri barunya dan menempelkan kedua bibir mereka!
Kedua bola mata Lana membulat sempurna. Pipinya memerah. Walau itu sentuhan bibir yang hanya sebentar tapi itu adalah ciiuman pertamanya, dan itu disaksikan oleh banyak orang.
Tala saja yang ikut bahagia kakaknya menikah, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena tidak nyaman melihatnya, sedang orang tua Fian jadi salah tingkah dengan kelakuan anaknya.
Hawari sampai menoleh pada penghulu. "Eh, maaf ya. Anak muda."
Penghulu hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Sarah mendekatkan mulutnya pada telinga suaminya. "Kenapa Fian jadi nekat begini? Sepertinya ada masalah."
"Tidak tahu, Bu, dan jangan berpikir yang bukan-bukan. Positif thinking aja."
Sedang Lynda, ia terdiam di tempat. Kedua tangannya terkepal di samping. Ia bingung, kenapa suaminya tiba-tiba berubah. "Mas, kamu ini kenapa?"
"Kenapa, katamu?" Fian makin memperlihatkan senyum lebarnya. "Bukankah kamu bilang, "terserah"? Lalu masalahnya di mana? Kamu gak melarangku menikah lagi, kan, Sayang?"
Ada emosi yang tertahan. Lynda kesal. Karena masih kaget dan tak tahu harus bagaimana, ia malah berbalik dan melangkah ke arah tangga. Terlihat ia kesal karena menghentak-hentakkan sepatu di tangga saat menaikinya. Lynda segera masuk kamar dan menghempaskan bokkongnya di tepi ranjang. Mulutnya merengut sambil melipat tangan di dada. "Apa maksudnya ini?" Ia berpikir sebentar. "Tapi perempuan itu hanya nikah kontrak selama setahun demi agar Fian sembuh. Tidak mungkin ada niat lain, kan? Lagipula, perempuan itu bukan tipe Fian. Setelah itu dia tak mungkin minta harta ini itu karena dia hanya istri kontrak. Dia kan cuma dapat satu miliar saja ..!?" Dagunya ditegakkan dengan senyum miring. "Awas saja kalau dia berusaha menguasainya. Aku akan tendang dia dari rumah ini!" Wanita itu menyipitkan mata dengan mengangkat kedua kepalan tangannya.
Di lantai bawah, Lana masih tersipu. Ia masih tak percaya seorang anak presdir mau menikahinya. Apalagi pria itu sangat tampan. Ia tak peduli kalau Fian galak, asalkan sayang dengannya.
"Ya sudah. Sekarang kalian sudah menikah." Hawari menoleh pada Lana. "Tolong urus Fian. Aku sangat berterima kasih padamu karena mau menjadi istrinya untuk sementara waktu. Karena hari sudah mulai malam, kami pamit. Nanti, kita akan datang lagi berkunjung."
"Iya, Pak."
"Eh, kok, Pak. Panggil ayah saja," sahut Hawari.
Lana tersipu-sipu. "Iya." Dengan sopan ia mencium kedua punggung tangan Hawari dan Sarah.
Sarah senang karena dapat menantu yang sopan seperti Lana. "Tolong jaga Fian ya."
"Iya, Bu."
"Sekalian ayah mau pulang. Apa Tala mau ayah antar?" Hawari melirik Tala.
"Oh, terima kasih, Pak. Eh, Ayah." Tala tampak senang, keluarga Fian menerimanya dengan baik. Ia menoleh pada Lana. "Eh, ini bajunya boleh dikembalikan besok, kan?" Ia menyukai jas sewaannya walaupun tak bisa memiliki.
"Iya, gak papa." Lana melirik Hawari. "Makasih ya, Yah. Mau nganterin Tala pulang." Ia kemudian mengantar ketiganya keluar sampai menaiki mobil. Ketika ia kembali, tidak ada seorang pun di tempat tadi. Pak penghulu pun sudah pergi lebih dulu, tapi ke mana Fian? Apa orang itu sudah kembali ke kamar? Kenapa tidak mengajaknya karena ia masih baru di rumah itu. Saat ia mendatangi kamar Fian, perawat yang mendorong Fian, keluar.
"Oh, Ibu. Dicariin Pak Fian di kamar."
"Oh, iya." Jantung Lana berdetak cepat. Berarti mereka akan satu kamar. Apa yang akan dilakukan pria itu padanya? Apa pria itu menginginkan malam pertama?
Pintu dibuka pelan. Terlihat di samping, Fian tengah bersandar di kepala ranjang dengan separuh tubuhnya ditutup selimut. Pria itu melihat Lana masuk. "Masuklah dan tutup pintunya," ucapnya dengan wajah datar. Kini Fian kembali seperti semula. Tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Bahkan kini ia terlihat serius.
Lana menurut. Ia menutup pintu dan kembali menatap Fian. Ia tak tahu apa yang diinginkan pria itu.
Fian menepuk-nepuk kasur kosong di sampingnya. "Duduk di sini dan dengarkan aku."
Lana kembali mengikuti perintah suaminya. Walau terdengar dingin tapi Lana tidak berpikir demikian. Ia merasa Fian mulai menyukainya hingga pria itu menatap wajahnya.
"Kamu itu hanya istri kontrak. Jangan berpikir aku menikahimu karena menyukaimu. Itu salah besar! Kamu di sini digaji untuk membantuku, jadi jangan pernah jatuh cinta padaku!" ucap pria itu.
Lana syok! Fian bisa sesadis itu bicara padanya. Iya benar, ia istri kontrak, tapi tidak juga harus dengan kata-kata kasar mengingatkannya akan hal itu. Ia pasti tahu diri. Lana menahan matanya agar tidak berkaca-kaca tapi tak bisa. Akhirnya ia hanya membuang pandangan ke samping agar Fian tidak melihat dirinya hampir menangis.
"Ingat, kamu bekerja padaku, jadi dengarkan kata-kataku. Hanya kata-kataku saja, tidak boleh orang lain!"
"Iya." Lana menunduk. Jadi, ia kembali dimanfaatkan pria. Sungguh tragis hidupnya.
"Nah, kamu boleh istirahat, tapi kamu tidak boleh tidur di tempat tidur ini. Kamu tidur di sofa sana." Fian menunjuk sofa panjang dekat jendela.
Lana dengan tubuh lemas, beranjak berdiri.
"Satu lagi. Kamu tidak boleh jauh-jauh dariku. Kalau mau pergi, kamu harus minta izinku."
Lana tak menyahut. Ia melihat kopernya yang berada di dalam kamar itu.
Fian seperti mengerti apa yang dipikirkan Lana. "Eh, pakaianmu bisa kamu masukkan ke lemari," imbuh pria itu.
Lana melihat ke arah satu dinding yang berisi lemari. Ia mendekatinya. "Yang mana?" Ia melirik Fian.
"Yang itu!"
Lana membuka pintu lemari paling ujung yang ditunjuk suaminya, tapi lemari itu ternyata sudah terisi penuh. "Ini ...."
"Itu pakaian Lynda. Keluarkan semua," ucap Fian dingin dan tenang.
"Tapi ...."
"KAMU DENGAR TIDAK KATA-KATAKU!?KELUARKAN DAN ISI DENGAN PAKAIANMU!!" Teriakan pria itu membuat Lana kaget.
"Pakaianku cuma sedikit ...," ucap Lana dengan suara ragu.
"KAMU TIDAK DENGAR AKU BILANG APA, HAH!? KELUARKAN SEMUA DAN ISI DENGAN PAKAIANMU!!"
Lana menghela napas sambil tertunduk. Fian telah kembali. Pria galak yang otoriter. Sebaiknya ia ikuti saja kata-kata pria itu daripada nanti jadi panjang urusannya. Lana mulai menarik koper dan berjongkok membukanya.
"Turunkan saja dan letakkan di lantai. Biar pembantu nanti yang urus. Aku minta kamu kosongkan bagian situ dan itu jadi lemarimu."
Lana mengangkat wajahnya dan menatap Fian. "Terima kasih."
Entah kenapa, pria itu tiba-tiba jadi kikuk mendengarnya. Ia memalingkan wajah dengan angkuh. "Hh, terima kasih? Untuk apa?"
Ia kembali melirik Lana yang mulai menurunkan pakaian Lynda. Tubuh wanita itu kurus dan kecil tapi sangat lincah bergerak. Fian dulu sering memperhatikan Lana bergerak ke sana kemari seperti kelinci. Kadang ia tersenyum saat sudah membuat wanita ini kelabakan. Senang rasanya melihat kelinci ini kembali. Jauh di lubuk hati, ia sudah tidak merasa kesepian lagi.
***
"Lana, hei, bengong!" teriak Fian. Pakaiannya tengah dilucuti perawat.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp