NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suara adzan Subuh bergema dan sudah saatnya Abi melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama para istrinya.

Genata sudah siap di musholla dan menunggu suaminya yang baru saja selesai mandi.

Abi berjalan di lantai atas dimana mushola ada di dekat kamar Liana.

"Dimana Liana? Apa dia belum bangun?" tanya Abi yang sudah siap dengan baju Koko hitamnya.

Genata menggelengkan kepalanya dan meminta suaminya untuk membangunkan Liana.

Ia melangkah menuju lantai atas, tempat kamar Liana berada. Di depan pintu kayu yang tertutup rapat itu, Abi ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk pelan.

"Liana, ayo bangun. Sekarang waktunya shalat subuh." ucap Abi.

Tidak ada jawaban dari kamar Liana dan Abi kembali mengetuk pintu kamar Liana.

"Liana?" Abi mengetuk lebih keras.

"Liana, kamu sudah bangun?"

Tetap tidak ada suara dari dalam kamarnya dan Abi merasakan perasaan yang tidak enak.

Ia teringat betapa pucatnya wajah Liana kemarin dan bagaimana ia tidak menyentuh makanannya sama sekali.

Abi mencoba memutar kenop pintu, namun terkunci dari dalam.

"Liana! Buka pintunya!" teriak Abi, kali ini dengan nada panik yang mulai menyergap.

Kegaduhan itu membuat Genata berlari kecil menyusul ke depan kamar

"Ada apa, Mas?"

"Liana tidak menjawab, Gen. Pintunya dikunci."

Tanpa pikir panjang lagi, Abi memundurkan langkahnya lalu menghantamkan bahunya ke pintu dengan kuat.

BRAKK!

Pintu terbuka paksa dan Abi membelalakan matanya saat melihat pemandangan di dalam kamar itu.

Seketika jantung Abi seolah berhenti berdetak saat melihat Liana tergeletak di lantai dingin di samping tempat tidur.

Ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam.

Wajahnya yang sangat pucat kini tampak seputih kertas dan tubuhnya terlihat sangat ringkih.

"Liana!" teriak Abi sambil berlari ke arah gadis itu.

Ia mengangkat kepala Liana ke pangkuannya, ia merasakan seluruh tubuh Liana yang terasa sangat dingin dan berkeringat.

Genata menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ketakutan.

"Gen, cepat ambilkan air dan telepon dokter Ibra untuk segera kesini!" perintah Abi dengan suara gemetar saat ia menyadari bahwa istri mudanya itu benar-benar tidak sadarkan diri akibat tekanan emosional dan fisik yang sudah mencapai batasnya.

Genata menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi dokter Ibra.

Abi bangkit sambil membopong tubuh istrinya dan menaruh tubuh istrinya ke atas tempat tidur.

"Liana, apakah kamu mendengar suaraku?"

Abi menepuk-nepuk pipi Liana dan berharap Liana membuka matanya.

Tak berselang lama terdengar langkah kaki Dokter Ibra terdengar terburu-buru saat menaiki tangga.

Di dalam kamar, suasana begitu tegang. Abi masih mendekap kepala Liana yang tak sadarkan diri, sementara Genata berdiri di sisi tempat tidur dengan wajah yang tak kalah pucatnya.

Dokter Ibra segera mengeluarkan stetoskop dan alat pengukur tekanan darah.

Keheningan menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara napas Abi yang berat dan detak jarum jam yang terasa lambat.

"Tekanan darahnya sangat rendah, Abi. Dia mengalami shock emosional yang hebat ditambah dengan kelelahan fisik dan perut yang kosong sama sekali," ujar Dokter Ibra sambil menggelengkan kepala.

Dengan sigap, Dokter Ibra menyiapkan kantong cairan infus.

Ia mencari pembuluh vena di pergelangan tangan Liana yang tampak sangat kecil dan rapuh.

Tak lama kemudian, cairan mulai menetes masuk ke dalam tubuhnya untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit dan cairan yang hilang.

Dokter juga menyuntikkan obat dan vitamin dosis tinggi melalui selang infus untuk membantu menstabilkan kondisinya.

“Biarkan dia istirahat total. Jangan ada tekanan dulu. Kalau dalam tiga jam dia tidak menunjukkan respon yang baik atau suhunya semakin turun, kita harus membawanya ke rumah sakit,” pesan Dokter Ibra sebelum merapikan peralatannya.

Setelah Dokter Ibra pulang, Genata mendekat ke arah ranjang.

Ia melihat selang infus yang menempel di tangan Liana, lalu beralih menatap Abi yang masih menggenggam tangan istri mudanya itu dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Mas, seharusnya aku tidak seegois ini meminta kamu menikah lagi. Lihat dia, Mas. Dia masih terlalu muda untuk memikul beban sebesar ini."

Abi menoleh, matanya terlihat merah. "Ini bukan hanya salahmu, Gen. Ini keadaan yang menjepit kita semua."

Genata menyeka air matanya lalu beranjak untuk mengambil handuk basah.

Ia menatap Abi yang belum bergerak dari sisi tempat tidur.

“Kamu bisa temani dia sebentar? Aku mau sholat subuh dulu setelah itu aku memasak bubur hangat.”

Abi mengangguk pelan dan ia mengambil sajadah dan shalat di kamar Liana.

Setelah selesai shalat ia kembali duduk mematung sambil mengusap kening Kalila yang dingin dengan lembut.

“Aku minta maaf, Liana” bisik Abi nyaris seperti doa.

Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan itu dimulai, Abi tak lagi berpikir tentang janji, tanggung jawab, atau tekanan dari orang tua.

Langkah kaki Genata terdengar menjauh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar.

Abi kini duduk sendirian di tepi ranjang, menatap wajah Liana yang terlelap di bawah pengaruh obat.

Tetesan cairan infus di samping tempat tidur seolah menjadi pengingat betapa rapuhnya kehidupan gadis di hadapannya ini.

Abi meraih tangan Liana yang tidak terpasang infus.

Tangan itu terasa kecil dan sangat dingin. Ia teringat memori bertahun-tahun lalu, saat jemari mungil itu menggandeng telunjuknya dengan erat, meminta es krim atau sekadar ingin digendong.

Kini, tangan yang sama telah mengenakan cincin pernikahan darinya dimana sebuah ikatan yang seharusnya membawa bahagia, namun justru menjadi belenggu yang menyakitkan.

Sementara itu, di dapur, Genata mencoba menyibukkan diri.

Tangannya gemetar saat mencuci beras dan memotong jahe untuk membuat bubur.

Aroma gurih kaldu ayam mulai memenuhi ruangan, namun hatinya tetap terasa hampa.

Setiap kali ia mengaduk panci, bayangan wajah Liana yang pucat terus membayanginya.

Ada rasa bersalah yang menghujam jauh ke dalam lubuk hatinya.

Ia sadar bahwa dialah "arsitek" di balik skenario ini, namun ia tidak menyangka bahwa fondasinya akan dibangun di atas penderitaan seorang gadis muda.

Satu jam berlalu, Genata masuk kembali ke kamar membawa semangkuk bubur hangat dan segelas air putih.

Ia melihat Abi masih dalam posisi yang sama, setia menjaga Liana.

Genata meletakkan nampan di meja yang ada di samping tempat tidur.

"Abi, ini buburnya sudah siap. Kalau Liana terbangun, tolong suapi dia pelan-pelan. Dia butuh asupan tenaga."

"Aku akan di luar. Kalau ada apa-apa, panggil aku. Jangan biarkan dia merasa sendirian saat bangun nanti."

Abi mengangguk pelan, menatap istrinya dengan penuh terima kasih.

"Terima kasih, Gen. Maafkan aku."

Genata hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan.

Di dalam kamar yang sunyi, kelopak mata Liana mulai bergerak gelisah. Ia merintih kecil, sebuah suara yang membuat Abi langsung siaga.

"Papa..." gumam Liana dalam igauannya.

Abi mendekat, membisikkan kata-kata penenang tepat di telinga Liana.

"Sshh... tenang Liana. Papa baik-baik saja. Kamu aman di sini."

Perlahan, mata Liana terbuka. Cahaya lampu kamar yang lembut membuatnya mengerjap beberapa kali.

Saat fokus matanya mulai kembali, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Abi yang menatapnya dengan kekhawatiran yang begitu nyata.

"Paman..." bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang.

Liana mencoba untuk duduk, namun rasa pening langsung menyerang kepalanya.

Ia baru menyadari ada selang yang tertancap di tangannya

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!