Bagaimana jadinya jika seorang siswi dijodohkan dengan gurunya sendiri.
Faradilla Angelica, siswi kelas 12 yang terkenal dengan prestasinya keluar masuk ke ruang BK, bukan karena dia sering bolos atau yang lainnya, melainkan karena dia sering kepergok berpacaran di area sekolah dengan Arsyad.
Orang tuanya merasa geram, hingga mereka menjodohkan Fara dengan Aslan, guru baru di sekolahnya.
Fara jelas tidak terima dengan perjodohan itu. Dia sampai rela kabur dengan Arsyad demi menolak perjodohan itu.
Lalu bagaimana jika akhirnya Fara dan Aslan dinikahkan? Apakah akhirnya Fara bisa mencintai Aslan, sosok guru yang sangat galak itu?
"Dasar Pak Singa!" begitulah Fara menyebutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Karena panggilan dari Aslan, kedua orang tuanya langsung meluncur ke rumah Aslan bersama Dokter pribadi mereka meski sudah lewat tengah malam.
Setelah sampai di rumah Aslan, Dokter itu segera memeriksa keadaan Fara.
"Aslan, kamu apain aja bisa sakit gini. Baru dua hari nikah langsung KO. Ingat waktu, jangan terus-terusan." omel Bu Lani pada putranya itu.
Sedangkan Aslan hanya menggaruk rambutnya, belum juga diapa-apain, Fara sudah sakit.
"Tidak apa-apa, hanya kecapekan dan otot bahunya tegang. Sudah saya suntik pereda rasa nyeri dan penurun demam." kata Dokter itu.
"Syukurlah, terima kasih Dok."
Kemudian Pak Robi mengantar Dokter itu ke depan.
Bu Lani justru mencubit pinggang Aslan. "Kalau lakuin itu posisinya di atur. Salah urat kan jadinya."
"Posisi apa? Tadi Fara habis jatuh, makanya punggungnya sakit."
"Gak usah ngeles. Besok biar Mama panggilkan tukang urut." kata Bu Lani.
"Mama temani Fara ya malam ini. Dari tadi Fara manggil-manggil Mamanya. Sepertinya Fara kangen sama Mamanya." kata Aslan.
"Ya sudah, biar Mama tidur di sini malam ini." Bu Lani naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sebelah Fara. Dia usap lembut rambut Fara yang berantakan itu. "Kasihan, ketika sakit pasti yang dibutuhkan adalah kasih sayang seorang Mama. Fara, kamu kan sudah punya Mama sekarang. Cepat sembuh sayang."
Aslan tersenyum kecil. Dia tahu Mamanya memang cerewet tapi dia sangat penyayang.
"Aku tidur di kamar sebelah ya, Ma."
"Iya."
Kemudian Aslan keluar dari kamar Fara dan tidur dikamarnya. Meski hanya tinggal beberapa jam sebelum matahari terbit.
Napas Fara mulai teratur, dia juga sudah tidak mengigau lagi. Badannya juga sudah berkeringat karena demamnya telah turun.
Bu Lani juga ikut tertidur sambil memeluk Fara.
Saat pagi telah datang, Fara membuka matanya. Dia sangat terkejut mendapati tangan yang ada di atas perutnya. Tapi setelah dia menoleh, dia menghela napas panjang.
Kirain Pak Aslan. Ternyata Mama.
Mendapati pergerakan Fara, Bu Lani juga terbangun. "Sayang, sudah bangun. Gimana? Udah enakan."
Fara mengangguk kecil. "Mama nemeni Fara dari semalam?"
"Dari jam 1. Aslan telepon, dia khawatir banget sama kamu. Punggungnya masih sakit?"
"Dikit, Ma."
Bu Lani justru tertawa kecil. "Pasti salah posisi."
"Iya Ma, tidurnya salah posisi."
Bu Lani semakin tertawa. Pikirannya sudah kemana-mana mendengar jawaban dari Fara. "Nanti Mama panggilin tukang urut ya. Kamu libur dulu sehari, biar enakan."
Fara hanya mengangguk kecil. Perlahan Fara duduk dan akan turun dari ranjang.
"Mau kemana?" tanya Bu Lani.
"Mau ke kamar mandi."
"Sebentar Mama panggilkan Aslan biar dibantu."
Fara hanya mengernyitkan dahinya. Tapi dia tidak bisa menolak, apalagi Mamanya Aslan itu kini sudah keluar dan memanggil Aslan.
Lebih baik dia ke kamar mandi sendiri. Fara berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mandi.
"Far, bisa?" tanya Aslan dengan wajah yang sangat mengantuk, dia kini berjalan mendekati Fara.
"Bisa," jawab Fara sambil menutup pintu kamar mandi.
Aslan menguap panjang sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi. Dia kembali merebahkan dirinya di atas ranjang Fara.
Ketika Fara keluar dari kamar mandi, dia berdengus kesal melihat Aslan yang justru tidur di ranjangnya.
"Kok tidur di sini sih?"
"Mama tidur di sebelah. Aku tidur di sini sebentar aja."
Fara akhirnya duduk di tepi ranjang. Dia tak juga merebahkan dirinya hingga membuat Aslan bangun.
"Ya udahlah, kamu tidur aja. Aku mau mandi." Aslan berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. "Kamu di rumah sama Mama ya. Aku hari ini ke sekolah. Ada ulangan. Kamu libur saja. Ulangan kamu bisa menyusul," ucapnya lagi sambil berlalu.
...***...
"Mama di rumah aja ya temani Fara sampai aku pulang." kata Aslan saat akan berangkat ke sekolah.
Fara yang saat itu duduk di meja makan dengan Mamanya hanya berdiam diri. Badannya masih lemas, makan juga masih belum enak.
"Iya, tenang aja. Nanti setelah kamu pulang Fara pasti sudah segar lagi," goda Mamanya.
Aslan berdiri di dekat Fara yang hanya berdiam diri. Tidak mungkin baginya tiba-tiba keluar tanpa berpamitan pada Fara.
"Sayang, berangkat dulu ya." katanya sambil mencium pipi Fara dengan cepat.
Seketika Fara terkejut, dia melebarkan matanya. Ingin dia memarahi Aslan tapi itu tidak mungkin. Ada mertuanya yang justru senyum-senyum menatap mereka berdua.
"Iya, hati-hati," jawab Fara pada akhirnya sambil mencium punggung tangan Aslan.
Aslan keluar dari rumah dengan senyum yang merekah, meskipun adegan itu hanyalah pura-pura tapi sudah membuat hatinya bahagia.
Aslan segera berangkat menuju sekolah. Di jam pelajaran pertama, dia mengajar di kelas Fara dan mengadakan ulangan hari itu.
"Lupa, hari ini ada ulangan Pak Aslan. Fara kok gak masuk. Gak bisa nyontek Fara dong. Pakar Matematika kan dia di geng kita." kata Lili saat Pak Aslan mulai membagikan lembar soal.
"Diam, tidak boleh ada yang menyontek karena ulangan kali ini akan menjadi tolak ukur seberapa persen pemahaman kalian dengan materi ini. Minggu depan sudah mulai diadakan bimbel dan materi matematika tinggal melakukan pengulangan untuk materi kelas X dan XI."
"Iya, Pak." mereka mulai mengerjakan soal itu dengan tenang tanpa ada yang berani mencontek karena Pak Aslan berkeliling dari meja ke meja.
Tapi mata jeli Ayla kini justru melihat cincin yang melingkar di jari manis Pak Aslan.
Itu cincin tunangan atau cincin kawin. Jadi penasaran kan? Jadinya gak konsen. Untung udah hampir selesai.
Setelah selesai waktu yang ditentukan. Mereka mengumpulakan hasil jawaban mereka satu per satu ke depan. Ayla sengaja berada di urutan terakhir. Saat dia tepat berada di depan Pak Aslan, dia beranikan diri untuk bertanya.
"Cincin tunangan, Pak?" tunjuk Ayla pada cincin itu.
Aslan justru semakin menunjukkan cincinnya. "Cincin nikah."
Ayla melebarkan matanya. "Loh, Pak Aslan sudah menikah?"
Pertanyaan Ayla yang cukup keras berhasil ditangkap oleh telinga Arsyad. Seketika Arsyad menatap tajam gurunya itu.
"Iya," jawab Aslan singkat.
"Loh, Pak, kemarin-kemarin cincinnya belum ada. Sejak kapan itu ada. Bapak pasti bohong kan?"
Aslan hanya menghela napas panjang lalu merapikan lembar jawaban mereka. "Kembali duduk. Sebentar lagi mata pelajaran kedua akan dimulai."
Aslan berdiri dan mengucap salam pada muridnya, setelah itu dia keluar dari kelas.
Arsyad begitu sangat ingin tahu tentang cincin itu? Benarkah Pak Aslan sudah menikah? Apa jangan-jangan dengan Fara.
Arsyad keluar dari kelas dan mengikuti Pak Aslan. "Pak." panggil Arsyad yang membuat langkah Aslan terhenti.
Arsyad berjalan mendekat. "Apa benar Pak Aslan sudah menikah? Dengan siapa? Fara?"
Pak Aslan hanya menyunggingkan sebelah bibirnya. "Tanya sendiri saja pada Fara." kemudian dia melanjutkan langkah kakinya. Meninggalkan Arsyad yang kini hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
💞💞💞
.
Like dan komen ya..
sayang ama papa aslan