"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Liburan Laela dan Ringgo di habiskan dengan berjalan-jalan bersama ayah, ibu, nenek Zubaidah dan juga Saman di sekitar perkebunan karet nenek Zubaidah. Sekaligus mengenalkan Laela dan Ringgo pada semua anggota keluarga Saman yang tinggal di kota itu.
Mereka juga piknik dan berziarah di makam kakek Fatah, ayah kandung Abdul Kodir. Suami nenek Zubaidah.
Setelah satu minggu lebih, mereka pun akhirnya harus kembali ke kota Harapan dan meninggalkan blok D. Nenek Zubaidah dan Saman mengantarkan keberangkatan Laela dan keluarganya ke stasiun.
Abdul Kodir yang memeluk ibunya pun kembali matanya berkaca-kaca.
"Ibu, ikutlah denganku. Kami akan mengurus ibu di sana!" ujar Abdul Kodir yang tak lelah lelahnya meminta agar ibunya ikut pergi dan tinggal bersama dengannya di kota Harapan.
Plakk
Namun Zubaidah justru menampar pelan lengan Abdul Kodir.
"Kau tidak memandang Saman di sini hah? dia juga menjaga ku di sini! lagipula aku betah di sini, di kota banyak sekali karbondioksida, kasihan paru-paru ku yang sudah tua ini!" jelas nenek Zubaidah.
Almira juga hanya bisa menghela nafas saja, sebab dia tahu betul kalau suaminya sangat ingin ibunya tinggal bersamanya. Almira pun mengusap lengan Abdul Kodir pelan.
"Iya yah, kita kan jadi bisa sering-sering main ke sini kalau anak-anak libur!" ucapnya pelan pada suaminya.
Abdul Kodir mengangguk paham. Mereka kemudian menaiki kereta api setelah berpamitan dengan Saman dan nenek Zubaidah.
Di dalam kereta yang akan mereka tumpangi paling tidak selama 8 sampai 9 jam itu. Laela dan Ringgo berada di ruangan yang sama. Sedangkan Abdul Kodir bersama dengan Almira.
"Padahal di rumah nenek itu sangat menyenangkan ya tante, kenapa ayah tidak jualan bubur di tempat nenek saja sih?" tanya Ringgo yang senang tinggal di tempat yang masih banyak pohon dan lapangan luasnya seperti di kota blok D.
Kalau di kota Harapan, jangankan lapangan luas. Tembok satu rumah dengan rumah yang lain saja, sudah benar-benar menempel tak ada jarak lagi.
Untungnya Ringgo dan Laela tinggal di komplek. Yang jarak rumah satu dengan yang lainnya setidaknya masih ada lima puluh meteran.
"Kalau ayah buka usaha di sana, mana ada yang beli. Kamu lihat sendiri kan di sana semua orang masak sendiri di rumah, jarang ada yang jajan seperti di tempat kita!" jelas Laela.
Laela yang mengatakan penjelasan yang dulu pernah dikatakan ayahnya saat dia bertanya pertanyaan yang sama seperti Ringgo. Ringgo pun hanya manggut-manggut saja.
Setelah tiba di kota Harapan, Laela dan keluarganya pun beraktivitas seperti biasa lagi. Laela bahkan nyaris lupa tentang Kabir. Sebab setelah dia memblokir nomer Kabir. Pria itu tak pernah lagi menghubungi nya.
***
Beberapa hari kemudian...
Di pagi hari yang cerah, Laela sudah bersiap dengan segala kehebohannya ketika akan masuk kampus untuk pertama kalinya.
"Tante, kok gak kayak di film-film itu sih, pakai topi dari bola yang di belah dua, terus pakai coret coret muka gitu, pakai dasi dari daun pandan. Kok biasa aja gitu?" tanya Ringgo yang melihat Laela hanya pakai kaos berkerah warna putih dan juga celana panjang warna hitam.
Sambil mengoleskan selai kacang di rotinya. Laela mendelik tajam pada Ringgo.
"Heh, bongsor. Awas saja ya kalau nanti kamu panggil aku Tante pas ayah mengantarkan aku ke kampus. Akan ku jual kamu ke pedagang orang bongsor!" gertak Laela pada sang adik yang selalu saja memanggil dirinya Tante.
Ringgo yang ngeri mendengar apa yang dikatakan Laela langsung meringsut ke lengan sangat ayah.
"Ayah, Tante-tante aneh mau jual Ringgo!" adunya pada sanga ayah.
"Untung kalian di rumah ini ya, kalau di rumah nenek sudah habis kalian di suruh makan cabai. Jangan bicara kalau lagi di meja makan!" tegur sang ayah.
Laela langsung mengangkat alisnya beberapa kali dan menjulurkan lidahnya pada Ringgo. Karena aduan dari sang adik tidak di tanggapi oleh ayahnya.
Ketika mereka sedang asik sarapan tiba-tiba saja bel rumah Abdul Kodir berbunyi. Almira pun membukakan pintu. Dan ternyata Arman yang datang.
"Nak Arman!"
"Selamat pagi Tante, aku mau jemput Laela Tante. Kan arah ke kantor dan ke kampus Laela satu arah!" jelas Arman dengan tujuan kedatangan nya setelah menyapa Almira dengan sopan.
Almira pun tersenyum.
"Oh iya, benar. Laela sedang sarapan. Ayo nak Arman ikut bergabung sarapan bersama kami!" ajak Almira.
Arman pun di ajak Almira ke ruang makan, kedatangan Arman di sambut hangat oleh Abdul Kodir bahkan oleh Laela juga. Arman juga ikut sarapan, dan yang mengoleskan selai di roti Arman, Almira meminta Laela yang melakukannya.
Setelah sarapan, Abdul Kodir berangkat kerja bersama dengan Ringgo yang akan di antar oleh Abdul Kodir ke sekolahnya. Sedangkan Laela bersama dengan Arman.
Di perjalanan, Arman dan Laela mengobrol ringan. Laela banyak bertanya tentang pekerja Arman dan Arman pun dengan senang hati menjelaskan pada Laela pengalamannya selama jadi polisi selama beberapa tahun ini.
"Pernah tidak bang Arman menjinakkan b0m?" tanya Laela random.
Arman pun dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, itu ada tim khusus nya. Kami hanya menangani para penjahatnya. Ada beberapa orang yang punya skill yang bisa melakukan itu, tidak bisa sembarangan!" jelas Arman.
Laela pun mengangguk paham. Tanpa terasa dia pun sudah sampai di dekat kampusnya.
"Berhenti di sini saja bang!" pinta Laela padahal gerbang kampus masih cukup jauh. Masih sekitar seratus meter lagi.
"Kenapa?" tanya Arman, meskipun bertanya tapi Arman tetap menuruti kata Laela dan menepikan mobilnya.
"Tidak apa-apa, hanya mau merasakan sensasi jalan kaki masuk gerbang kampus saja!" jawab Laela sambil tersenyum kecil.
"Kamu yakin?" tanya Arman memastikan.
Laela pun mengangguk yakin.
"Iya bang, semangat kerjanya ya!" ucap Laela lalu turun dari mobil Arman.
Arman membuka jendela dan melambaikan tangannya pada Laela.
"Kalau sudah pulang, chat aku saja ya. Nanti aku jemput!" seru Arman.
Laela pun mengangguk paham.
"Iya bang!"
Setelah itu Arman pun melakukan kembali mobilnya menuju kantornya. Laela menghirup udara dalam-dalam sebelum dia melangkah maju.
Saat langkah Laela semakin mendekati pintu gerbang.
"Woi, anaknya tukang bubur kuliah di sini juga!" teriak seseorang yang suaminya sangat familiar di telinga Laela.
"Dia jakil, biasanya di anterin sama bapaknya tuh!" sambung suara lain yang juga masih terdengar familiar di telinga Laela.
Begitu Laela menoleh ternyata benar. Sebuah mobil sedan mewah, dengan empat orang gadis di dalamnya. Yang juga adalah orang-orang yang suka cari masalah dengan Laela sewaktu SMA.
Laela memutar matanya malas.
'Sudah cari kampus yang paling jauh, eh masih ketemu juga sama geng rempong yang suka bikin migran. Ya Tuhan!' keluh Laela dalam hati.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍