Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Perisai di Aspal Panas
Jumat, Pukul 07.30 WIB. Kontrakan Fatih.
Suasana pagi itu tidak seperti biasanya. Gang sempit di daerah Dago yang biasanya hanya diisi suara ibu-ibu belanja, kini dipenuhi deru mesin motor yang bersahutan. Sekitar dua puluh orang pria berjaket kulit dan beberapa mengenakan seragam satpam "Griya Harapan" berkumpul di depan rumah Fatih.
Bang Baron berdiri di tengah, mengenakan rompi pelindung dada. Wajahnya serius.
"Tih, lu dengerin gue," Baron memegang bahu Fatih. "Gue dapet info dari intelijen jalanan. Handoko nyiapin truk di jalur Pasteur atau Surapati. Dia mau bikin 'insiden'. Lu jangan pake Kijang lu pagi ini. Itu mobil terlalu gampang diincer."
Fatih menatap mobil Kijang birunya yang kemarin baru saja dicoba dibakar. "Terus saya naik apa, Bang? Jam 9 saya harus sudah di Gedung Sate."
Baron bersiul keras. Tiba-tiba, seorang pria dengan jaket ojek online maju membawa motor sport 250cc yang tangguh.
"Lu bonceng dia. Pake helm full face, pake jaket penyamaran. Biar gue dan anak-anak yang bawa mobil Kijang lu sebagai umpan," perintah Baron. "Kita main kucing-kucingan."
Zalina keluar dari pintu rumah, memegang tangan Bu Aminah. Keduanya menatap Fatih dengan kecemasan yang mendalam.
"Mas... hati-hati," bisik Zalina. Ia menyerahkan sebuah tas kecil berisi flashdisk dan dokumen asli. "Inget, ada aku dan si kembar yang nunggu kamu pulang."
Fatih memeluk Zalina erat, lalu mencium tangan ibunya. "Doakan Fatih, Bu. Zal, kalau terjadi apa-apa di jalan, tetap di dalam rumah bersama anak buah Bang Baron. Jangan buka pintu untuk siapa pun."
Fatih naik ke atas motor sport itu. Ia merasa seperti seorang ksatria yang akan berangkat ke medan perang, bukan seorang arsitek yang akan pergi rapat.
Pukul 08.15 WIB. Flyover Pasupati.
Lalu lintas Bandung di hari Jumat pagi adalah rimba beton yang padat. Fatih merunduk di belakang punggung si pengendara motor, jantungnya berdegup seirama dengan raungan mesin. Di depannya, terlihat mobil Kijang birunya melaju perlahan, dikawal oleh empat motor anak buah Baron yang berlagak seperti konvoi biasa.
Tiba-tiba, di ujung flyover, sebuah truk pengangkut pasir melaju kencang dari arah berlawanan, melompati pembatas jalan dengan sengaja.
BRAAAKKK!
Truk itu menghantam mobil Kijang biru milik Fatih. Mobil itu terseret beberapa meter, hancur di bagian depan. Suara decit rem dan jeritan pengguna jalan lain memecah pagi yang tenang.
Fatih membelalakkan mata di balik kaca helmnya. "BANG BARON!"
"Jangan berhenti! Jalan terus!" teriak si pengendara motor sport yang membawa Fatih. "Itu umpan! Bang Baron nggak ada di mobil itu, itu mobil kosong yang dikendaliin manual atau pake stuntman!"
Fatih baru sadar. Kijang itu memang sengaja dikorbankan. Dari arah belakang, Bang Baron muncul dengan motor lain, melaju di samping Fatih.
"JALAN, TIH! JANGAN NOLEH! KE GEDUNG SATE SEKARANG!" teriak Baron lewat intercom helm.
Dua mobil sedan hitam mencoba mengejar motor Fatih, tapi seketika puluhan driver ojek online—yang ternyata adalah jaringan teman-teman Baron—menutup jalan, bermanuver sedemikian rupa sehingga mobil-mobil pengejar itu terjebak di tengah kemacetan yang dibuat-buat.
Inilah kekuatan rakyat. Kekuatan mereka yang selama ini dianggap "kecil" oleh Handoko.
Pukul 08.55 WIB. Gedung Sate.
Fatih turun di depan gerbang samping Gedung Sate. Jaket ojeknya ia buka, menampakkan kemeja batik rapi di dalamnya. Nafasnya terengah-engah, wajahnya pucat, tapi matanya menyala.
Ia melewati pemeriksaan keamanan yang ketat. Berkat koneksi Pak Yusuf, ia langsung diarahkan menuju ruang tamu pribadi Gubernur Jawa Barat.
Di dalam ruangan yang megah dan penuh dengan ukiran kayu jati itu, duduk seorang pria paruh baya dengan aura kepemimpinan yang tenang. Bapak Gubernur sedang membaca berkas ketika Fatih masuk.
"Assalamu'alaikum, Pak," Fatih memberi salam dengan takzim.
"Wa'alaikumussalam. Kamu... Fatih?" Sang Gubernur menatap Fatih, lalu melihat luka lecet di tangan Fatih akibat gesekan di jalan tadi. "Kamu tampak seperti baru saja lolos dari maut."
"Memang begitu kenyataannya, Pak. Tapi saya membawa sesuatu yang lebih penting dari nyawa saya pagi ini," Fatih meletakkan flashdisk itu di meja marmer.
Selama satu jam berikutnya, Fatih memaparkan semuanya. Bukan hanya soal proyek rumah subsidi yang dijegal, tapi soal bagaimana Handoko menggunakan jabatannya untuk mengintimidasi rakyat, menyuap dinas, hingga melakukan percobaan pembunuhan.
Sang Gubernur mendengarkan rekaman suara Handoko. Wajahnya yang tenang perlahan mengeras. Tangannya mengepal.
"Ini keterlaluan," ucap Gubernur dengan suara rendah namun bertenaga. "Dia pikir Jawa Barat ini adalah halaman belakang rumah pribadinya? Dia pikir dia bisa menginjak-injak masa depan rakyat kecil demi apartemen mewahnya?"
Gubernur menekan tombol di mejanya. "Panggil Kepala Dinas Tata Kota. Sekarang. Dan hubungi Kapolda. Katakan saya punya hadiah khusus untuk mereka pagi ini."
Beliau kembali menatap Fatih. "Fatih, kamu telah melakukan hal yang sangat berani. Kamu mempertaruhkan segalanya untuk integritas. Saya akan pastikan IMB kamu keluar siang ini juga, dan saya sendiri yang akan meletakkan batu pertama di proyek itu besok pagi."
Fatih merasa beban seberat gunung di pundaknya luruh seketika. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."
"Satu lagi," tambah Gubernur. "Soal keselamatan keluargamu. Saya akan tempatkan personel di sekitar rumahmu sampai proses hukum Handoko berjalan. Kamu tidak perlu takut lagi."
Pukul 11.00 WIB. Kantor DPRD Bandung.
Handoko sedang memimpin rapat komisi dengan gaya angkuhnya. Ia yakin, pagi ini ia akan mendapat kabar bahwa "masalah" bernama Fatih sudah selesai.
Tiba-tiba, pintu ruang rapat terbuka kasar. Beberapa petugas dari kepolisian dan Kejaksaan Tinggi masuk.
"Bapak Handoko?" tanya petugas itu.
Handoko berdiri, wajahnya memerah. "Apa-apaan ini?! Saya sedang rapat! Kalian tidak punya hak—"
"Bapak ditahan atas dugaan suap, gratifikasi, dan percobaan pembunuhan. Kami memiliki bukti rekaman suara dan keterangan saksi kunci," petugas itu membacakan surat perintah penangkapan.
Kamera wartawan yang entah dari mana asalnya langsung menyerbu ruangan. Wajah pucat Handoko yang terborgol menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dalam sekejap.
Pangeran Tanah Merah itu jatuh. Bukan karena hantaman gedung besar, tapi karena doa seorang pemuda di rumah kontrakan sempit.
Sore Hari. Kontrakan Fatih.
Fatih pulang dengan taksi, dikawal oleh satu mobil polisi. Begitu ia turun, Zalina langsung lari memeluknya, menangis sejadi-jadinya.
"Mas... Mas selamat... Alhamdulillah..."
Fatih memeluk istrinya erat, mencium keningnya. "Badainya sudah lewat, Zal. Handoko sudah ditangkap. Besok Pak Gubernur yang akan datang ke proyek kita."
Bu Aminah keluar, memegang tasbihnya. "Ibu nggak berhenti shalat dari tadi, Nak. Ibu tahu Allah nggak akan tidur."
Malam itu, mereka duduk di teras rumah. Bang Baron datang membawa martabak sebagai perayaan. Tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi bayangan hitam di kegelapan.
Zalina menyandarkan kepalanya di bahu Fatih. "Mas, si kembar kayaknya seneng banget. Dari tadi mereka nendang-nendang."
Fatih mengusap perut Zalina, merasakan gerakan halus di dalamnya. "Mereka harus tahu, Ayah mereka pernah berjuang buat mereka. Supaya nanti kalau mereka besar, mereka nggak akan pernah takut membela yang benar."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah mobil mewah berhenti di depan gang. Bukan mobil polisi, bukan mobil Grand Horizon.
Seorang wanita cantik, elegan, mengenakan kacamata hitam turun dari mobil. Ia membawa sebuah amplop besar.
"Mas Fatih?" tanya wanita itu. "Saya sekretaris pribadi dari Pimpinan Pusat IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Kami melihat keberanian Anda, dan kami ingin menawarkan Anda beasiswa penuh untuk mengambil gelar Master Arsitektur di London, sekaligus kontrak kerjasama desain untuk proyek Ikonik Nasional di Jakarta."
Fatih dan Zalina tertegun.
Pintu baru telah terbuka. Tapi London? Itu artinya mereka harus meninggalkan Bandung, meninggalkan kontrakan ini, dan meninggalkan kenyamanan yang baru saja mereka raih.