Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN PEMBERIAN YANG TULUS
"Vio, payung itu... itu bukan pemberian Alfred yang asli, kan?"
Suara Elena terdengar parau, menyerupai gesekan pita kaset tua yang rusak. Namun, di balik serak itu, ada nada otoritas yang belum pernah didengar Viona selama setahun terakhir. Mata Elena yang biasanya sayu dan menyimpan duka mendalam, kini memancarkan pendar emas tipis dari balik pupilnya. Cahaya itu tidak alami; ia berdenyut seirama dengan detak jantung yang mendadak terasa berat di dada Viona. Cengkeraman tangan ibunya pada pergelangan tangan Viona terasa seperti catut besi—kuat, dingin, dan tidak menyisakan ruang untuk mengelak.
Viona tersentak, hampir saja ia menjatuhkan payung biru tua yang sejak tadi ia dekap. "Maksud Ibu apa? Alfred yang kasih ini ke Vio di halte tadi. Dia bilang ini cuma payung biasa buat nahan hujan supaya Vio nggak kedinginan. Dia bilang dia kasihan sama Vio."
Elena menggeleng pelan, kepalanya bergerak dengan kaku seolah otot lehernya dipaksa oleh kekuatan eksternal. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. "Alfred... dia nggak pernah punya rasa kasihan, Nak. Dia itu Penjaga Ruang Antara. Seorang kurator bagi jiwa-jiwa yang terjebak di persimpangan. Dia cuma bergerak kalau ada transaksi yang jelas. Kalau dia kasih kamu payung ini tanpa minta ingatan atau perasaanmu sebagai bayaran, berarti ada orang lain yang sudah melunasi harganya untukmu. Dan harga untuk benda itu... tidak murah."
Lift terus meluncur turun dengan kecepatan yang tidak wajar. Perasaan mual menghantam perut Viona saat gravitasi seolah mempermainkan organ dalamnya. Angka di layar indikator digital di atas pintu lift mulai menggila; angka-angka itu berputar cepat, lalu berganti menjadi simbol-simbol kuno yang menyerupai guratan petir atau susunan rasi bintang yang tidak dikenal. Lampu neon di langit-langit lift berkedip-kedip, mengeluarkan suara dengung listrik yang menyakitkan telinga.
Riko, yang sejak tadi terpojok di sudut lift, tampak mengerikan. Wajahnya yang semula hanya pucat karena takut, kini mulai membiru. Ia berkali-kali menekan tombol Emergency dan tombol lantai dasar dengan kalap, namun panel itu mati total, tidak memberikan respon apa pun kecuali percikan api kecil yang sesekali muncul.
"Vio, gue nggak tahu ini mimpi atau gue lagi halusinasi karena kurang tidur," rintih Riko dengan suara tercekat. "Tapi Ibu lo... matanya... kenapa bisa begitu? Dan kenapa lift ini nggak sampai-sampai? Kita sudah turun puluhan lantai, tapi apartemen lo cuma punya sepuluh lantai!"
"Gue juga nggak tahu, Rik! Fokus aja, pegangan ke besi! Begitu pintu buka, kita langsung lari ke mobil lo. Jangan mikir apa-apa lagi!" teriak Viona. Ia mencoba menenangkan Riko, meski dirinya sendiri merasa dunianya sedang runtuh.
Viona kembali menatap ibunya, mencari jawaban di balik pendar emas yang asing itu. "Bu, siapa yang bayar harganya? Apa Ayah? Apa ini alasan kenapa Julian bilang Ayah punya utang?"
Elena tidak menjawab secara langsung. Pandangannya kini beralih ke langit-langit lift. Dari sela-sela sambungan panel logam di atas mereka, cairan hitam kental mulai merembes keluar. Cairan itu menetes lambat, mengeluarkan aroma karat yang menyengat bercampur bau tanah makam yang basah.
"Waktu hampir habis, Vio," bisik Elena, suaranya kini kembali melemah, pendar emas di matanya mulai berkedip layaknya lilin yang ditiup angin. "Alfred cuma kasih kamu perlindungan sementara. Payung itu... itu adalah Jangkar Realitas. Selama kamu menggenggamnya, Julian, Baskara, atau makhluk apa pun dari Ordo Chronos nggak akan bisa menarik jiwamu ke dimensi mereka sepenuhnya. Tapi ingat satu hal, Viona... payung itu benda hidup. Dia parasit. Dia bakal terus haus akan energi kehidupan. Kalau kamu nggak segera sampai ke rumah lama kita di pegunungan, dia bakal mulai mengambil apa yang paling dekat dengannya."
Viona tertegun. Ia melirik ke arah tangannya yang memegang gagang payung. Terasa hangat—hampir panas. Dan saat ia menoleh ke arah Riko, ketakutan baru menyergapnya. Sahabatnya itu kini terduduk lemas di lantai lift. Riko memegangi dadanya, mulutnya menganga seperti ikan yang dikeluarkan dari air, berjuang mendapatkan oksigen yang seolah menguap dari ruangan itu.
"Rik? Riko! Lo kenapa?!" Viona berlutut, mencoba menyentuh bahu temannya.
"Nggak tahu, Vio... dada gue... sakit banget. Kayak ada vacuum cleaner raksasa yang mompa keluar udara dari paru-paru gue," rintih Riko. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.
Viona menyadari sesuatu yang mengerikan. Pendar biru dari payung di tangannya semakin terang setiap kali Riko meringis kesakitan. Apakah benar kata ibunya? Apakah benda ini sedang "memakan" energi kehidupan Riko demi menciptakan perisai untuk Viona? Rasa bersalah yang selama ini menghantuinya karena kecelakaan ibunya kini bertambah satu lapis lagi. Ia tidak ingin menjadi penyebab kematian orang lain lagi. Ia tidak ingin ambisinya untuk selamat mengorbankan sahabat baiknya.
Ting!
Suara denting lift terdengar sangat nyaring di tengah keheningan yang menyesakkan. Pintu lift terbuka perlahan, mengeluarkan suara gesekan logam yang memilukan. Namun, pemandangan di depan mereka bukanlah lobi apartemen dengan resepsionis dan lampu kristal yang hangat.
Di hadapan mereka terbentang sebuah ruang parkir bawah tanah yang seolah luasnya tanpa batas. Langit-langitnya sangat tinggi, disangga oleh pilar-pilar beton raksasa yang tampak berlumut dan retak. Tidak ada satu pun mobil di sana. Lantainya tertutup genangan air hitam setinggi mata kaki yang permukaannya tenang seperti cermin raksasa. Suasana di sana sangat gelap, hanya diterangi oleh pendar biru dari payung Viona yang memantul di permukaan air, menciptakan ilusi seolah mereka sedang berjalan di atas bintang-bintang yang mati.
"Ini bukan parkiran kita, Vio. Ini bukan dunia kita..." bisik Riko. Dengan sisa tenaganya, ia bangkit dan bertumpu pada pundak Viona, kakinya gemetar saat pertama kali menginjak air yang terasa sedingin es.
Viona mengedarkan pandangan dengan waspada. Di kejauhan, di antara barisan pilar yang seolah tidak berujung, ia melihat sosok-sosok bayangan. Mereka berdiri diam, berjajar seperti tentara yang sedang menunggu komando. Sosok-sosok itu tidak memiliki wajah yang jelas; hanya siluet hitam tinggi dengan pakaian yang tampak compang-camping tertiup angin gaib. Dan yang paling mencolok, masing-masing dari mereka memegang payung hitam yang terbuka lebar—persis seperti payung milik Alfred.
"Mereka itu Para Pemungut," suara Elena kembali terdengar, kali ini sangat tipis, nyaris seperti bisikan angin. "Mereka menunggu di gerbang penagihan. Mereka menunggu jiwa-jiwa yang kontraknya sudah habis atau mereka yang mencoba lari dari takdir. Lari, Vio... jangan pernah tutup payung itu atau melepaskannya, apa pun yang kamu lihat atau dengar."
Viona mulai mendorong kursi roda ibunya keluar dari lift, sementara Riko terseok-seok mengikuti di sampingnya. Setiap langkah mereka di atas air menciptakan riak yang bergema ke seluruh ruangan luas itu. Begitu mereka berada sekitar sepuluh meter dari lift, sosok-sosok bayangan itu mulai bergerak. Gerakan mereka tidak alami—patah-patah, seperti potongan film lama yang diputar dengan kecepatan yang salah.
"Viona Anindita Mahendra..."
Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia bergema secara serempak dari mulut-mulut tak terlihat milik para Pemungut. Suara itu terdengar seperti gesekan ribuan amplas di atas kayu kering, menyayat kesadaran.
"Kembalikan apa yang bukan milikmu... Bayarlah utang darah yang ditinggalkan ayahmu..."
"Gue nggak punya apa-apa milik kalian! Ayah gue nggak pernah berutang pada monster kayak kalian!" teriak Viona. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya karena menggenggam gagang payung yang kini mulai bergetar.
Para Pemungut itu mulai menutup jarak. Mereka tidak berlari, mereka seolah berpindah tempat dalam satu kedipan mata. Viona merasa terpojok. Ruang parkir tak berujung itu terasa seperti labirin yang dirancang untuk melelahkan korbannya sebelum akhirnya ditelan kegelapan.
Tiba-tiba, dari kegelapan pekat di ujung barisan pilar, dua buah lampu sorot yang sangat terang menyala secara mendadak. Cahayanya begitu menyilaukan hingga Viona harus melindungi matanya dengan tangan. Suara raungan mesin mobil yang bertenaga besar memecah keheningan mistis tempat itu. Sebuah SUV hitam legam melesat di atas air, menciptakan cipratan besar, menuju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
Viona bersiap untuk kemungkinan terburuk, namun mobil itu melakukan manuver drift yang sempurna dan berhenti tepat di depan mereka. Pintu pengemudi tidak terbuka, melainkan kaca jendela yang diturunkan. Seorang pemuda yang tampak seumuran dengan Viona menengok keluar. Ia mengenakan jaket hoodie hitam dengan logo teknis yang rumit, sebuah headphone tergantung di lehernya, dan wajahnya tampak sangat bosan, seolah dikejar oleh entitas supernatural adalah rutinitas harian yang menjemukan.
"Woi! Mau bengong di situ sampai jadi koleksi museum bayangan, atau mau masuk? Buruan, sebelum gerbang dimensinya ketutup dan kita semua nyangkut di sini selamanya!" teriak pemuda itu. Suaranya kontras dengan suasana horor di sekitar mereka—terdengar sangat modern dan membumi.
"Siapa lo?! Kenapa lo bisa ada di sini?" Viona bertanya penuh curiga, masih memosisikan payungnya sebagai perisai.
"Nama gue Adrian. Gue dikirim sama 'pihak yang nggak suka kalau Julian menang'. Udah, jangan banyak tanya! Masukkan Ibu lo ke kursi belakang, ajak temen lo yang kayak mau mati itu juga! Cepet!"
Tanpa ada pilihan lain, dan melihat para Pemungut yang kini hanya berjarak beberapa meter, Viona dan Riko bekerja sama membopong Elena masuk ke kursi belakang SUV yang terasa sangat nyata dan padat. Viona duduk di kursi penumpang depan, masih memegang erat payung birunya yang kini mulai meredup pendarannya, seolah merasa "aman" di dekat Adrian.
Begitu pintu dibanting tutup, Adrian langsung menginjak gas dalam-dalam. Mobil itu tidak berbalik arah, melainkan melaju lurus menuju sebuah tembok beton parkiran yang tampak solid.
"Adrian, awas! Tembok!" teriak Viona panik.
Adrian tidak mengerem. Ia justru menekan sebuah tombol di konsol tengah yang bertuliskan Phase. "Percaya sama teknologi, Vio. Tembok itu cuma sugesti."
SUV itu menghantam tembok, namun alih-alih hancur, mereka justru merasa seolah melewati tirai air dingin. Dunia di sekitar mereka terdistorsi sesaat—warna-warna memanjang seperti lukisan cat air yang terkena hujan. Dan tiba-tiba, guncangan keras berhenti. Suara klakson mobil, aroma asap knalpot, dan bisingnya kehidupan malam Jakarta kembali menyergap indra mereka. Mereka kembali ke jalanan yang macet, di bawah guyuran hujan deras yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Viona mengatur napasnya yang kacau, jantungnya masih berdebar seperti genderang perang. Ia menoleh ke belakang; Riko tampak pingsan karena kelelahan psikis yang luar biasa, sementara ibunya kembali memejamkan mata, pendar emasnya telah hilang sepenuhnya.
"Oke, Adrian... sekarang jelasin, siapa yang kirim lo? Alfred? Atau ada orang lain di Ordo Chronos yang gue nggak tahu?" tanya Viona tajam, matanya menatap tajam ke arah pemuda di sampingnya yang kini sibuk mengunyah permen karet.
Adrian tertawa kecil, matanya tetap fokus pada jalanan yang licin. "Alfred? Tua bangka itu terlalu pelit buat nyewa jasa kurir kayak gue. Dia lebih suka nonton orang menderita sambil pegang pena peraknya. Bukan, Viona. Yang kirim gue itu orang yang selama ini lo pikir sudah mati dan jadi tanah."
Viona membeku di kursinya. Dingin merayap di punggungnya. "Maksud lo... Ayah? Nathan Mahendra?"
"Ayah lo emang sudah nggak punya raga di dunia ini, tapi di dimensi kami, kematian cuma masalah perpindahan kantor dan status administrasi," sahut Adrian santai, nada bicaranya seolah sedang membicarakan masalah pindah divisi di kantor. "Tapi jangan senang dulu, Tuan Putri. Kita belum aman. Coba lihat spion samping lo."
Viona melihat ke kaca spion. Di tengah kemacetan Jakarta yang padat, di mana mobil-mobil hampir tidak bergerak, sebuah motor besar berwarna hitam legam melaju dengan kecepatan tinggi di antara celah-celah kendaraan. Pengendaranya menggunakan jas hujan transparan yang berkilat tertimpa lampu kota.
Itu Julian. Dan dia tidak sedang mengendarai motor biasa. Motor itu tidak menyentuh aspal; ia melayang tipis di atas air hujan yang menggenang, meninggalkan jejak api biru yang cepat padam di belakangnya. Mata Julian yang dingin menatap lurus ke arah SUV mereka melalui kaca spion.
"Dia bisa nemuin kita secepat ini? Di tengah kota segede ini?" gumam Viona panik.
"Julian itu penagih utang paling top di Ordo Chronos. Dia punya indra penciuman buat bau 'utang' yang belum lunas," Adrian menekan serangkaian tombol di dasbor mobilnya yang kini menampilkan peta digital dengan garis-garis aneh. "Vio, pegangan yang kuat ke apa pun. Gue bakal aktifin Pintu Lintas Hujan. Ini bakal sedikit kasar."
"Pintu apa—"
"Tutup mata lo kalau nggak mau muntah darah!"
SUV itu tiba-tiba berakselerasi di luar logika mesin manusia, melesat menuju sebuah genangan air raksasa di bawah jembatan layang yang tampak seperti lubang hitam di tengah jalan.