Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa kau percaya padaku?
Tentu saja hal itu pasti terjadi. Cepat atau lambat.
**
"Bagaimana menurutmu? Opsi apakah yang terbaik? Atau kau punya masukan?"
"Apa kau percaya padaku?"
Pertanyaan ini membuat Callista mengernyit tidak percaya. Kenapa pertanyaan ini seperti yang ia katakan siang tadi pada Stella? Kedua alisnya menyatu naik menampakkan wajah yang sedang berfikir keras.
"Apa maksudmu? Ini tidak ada dalam perbincangan kita dari tadi." ia tidak tau harus menjawab apa, tentu ia belum percaya pada pria didepan nya ini.
Bagaimana mungkin? Teka teki ia dikeluarkan dari penjara saja belum terpecahkan, ditambah dengan dia diizinkan tinggal disini dan diperlakukan sangat baik disini membuatnya semakin curiga. Lalu sekarang? pria ini menanyakan hal itu padanya? Harus menjawab apa aku?
"Jawab saja pertanyaanku"
Memicingkan mata memandang pria didepan nya ini dengan lekat, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menjawab jujur "huff, tidak. Aku tidak percaya padamu."
Tidak ada jawaban, maka ia melanjutkan lagi
"Maksudku, aku belum percaya padamu. Tentu karna kita baru berjumpa dan berkenalan selama 2 hari. Aku tidak bisa mempercayaimu dengan mudah. Memang kau banyak membantuku tapi tetap saja, aku.."
Ucapan Callista yang belum selesaipun dipotong olehnya "Aku mengerti. Menurutku opsi pertamamu lebih aman untuk dilakukan sekarang."
"Jadi opsi perta,.." 'drett,drett' handphone Golden bergetar dan ia mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk menunggu sebentar. Callista pun mengangguk mengerti dan diam.
Semua perbincangannya dengan seseorang di ujung telfon sana terdengar oleh Callista yang ada didalam. Ia tidak berniat menguping namun tidak mungkin juga ia mengatakkan tidak mendengar semuanya.
Golden mengakhiri panggilannya dan menyenderkan kepalanya.
Melihat ini, Callista masih memilih untuk diam beberapa saat. Tapi Golden mengatakkan sesuatu lebih dulu yang mengagetkannya "Pilihlah opsi kedua, aku akan menemanimu kesana."
Dia pun menebak-nebak apa alasannya Golden mengganti pilihannya "Menemaniku? Apa seseorang di telpon tadi menyuruhmu kesana? Apa ada hal penting?"
"Ya. Kapan acara itu diselenggarakan?"
"Dari yang ku cari tau akan dilaksanakan 4 hari lagi."
"Oke, kita berangkat besok sore. Pergilah beristirahat dan kemasi barangmu besok pagi."
Matanya melotot kaget dan menanyakan sekali lagi untuk memastikan bahwa ia tidak salah mendengar "Besok katamu?"
Berdiri dan menghampiri Callista di sofa "Ya besok. Pergilah tidur." "Tapi,,, tapi aku belum meminta tiket nya pada temanku. Aku akan menghubungi nya dulu." membuka handphone dan mencoba menelfonnya.
"Aku yang akan mengatur itu." sambil menarik tangan Callista dengan lembut "Pergilah beristirahat sekarang Nona Callista." membuka pintu lalu mempersilahkan dirinya untuk keluar.
Callista hanya diam, ia butuh waktu untuk mencerna perkataan Golden. Dia yang akan mengaturnya? Apa maksudnya? Dia sudah memikirkan ini sebelumnya?
"Apa Nona Callista ingin ku antarkan ke kamar?" suaranya terdengar menggoda memberikan sensasi tergelitik geli di telinga, wajahnya memerah dan melotot tajam "Aku bisa sendiri Tuan Golden." suara tawa terdengar setelah Callista pergi.
'Menyebalkan' 'Apa ini salah satu kepribadian pria itu?' 'Penggoda!' gerutunya dalam hati.
Callista baru membuka pintu kamarnya dan tiba-tiba terpikirkan sesuatu. 'Aish kalau aku pergi dengannya, apa Stella akan ikut denganku? Atau kita hanya berdua? Yang benar saja!' ingin berbalik bertanya namun diurungkanlah niatnya itu 'jika aku kembali dia pasti akan menggodaku lagi' 'menyebalkan!'
~
'toktoktok'
"Mmmm" gumam Callista sambil berbalik badan.
'toktoktok' tidak ada jawaban.
'TOKTOKTOK' ketokan terakhir, bukan. Itu bukan ketokan tapi gedoran bar-bar yang membuat Callista kaget dan langsung melek.
Duduk sesaat untuk mengumpulkan nyawanya "Ya ya tunggu sebentar" lalu berdiri berteriak sambil berjalan menuju pintu.