Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur
Sepi. Kesan pertama Berlian saat memasuki lobi perusahaan tempatnya bekerja.
Berlian langsung ke lantai paling atas.
Tujuan pertamanya mencari asisten Brian untuk menanyakan perihal panggilan darurat sang bos.
Untungnya saat keluar lift tepat asisten Brian hendak masuk.
"Loh, ngapain ke sini? Bukannya bos suruh kamu sama Maura balik?" tanya asisten Brian menelisik.
"Loh ... Malah saya yang harusnya tanya, ngapain suruh ke sini?" tukas Berlian.
"Bos yang nelpon?" bisik asisten Brian dan dijawab anggukan Berlian.
"Ati-ati, bos dalam mode singa," ujar asisten Brian.
"Ada yang curang di proyek kota sebelah," bisik asisten Brian menjelaskan situasi
"Briiiiaaaaaannnnnn.....," suara teriakan terdengar dari ruangan Dominic.
"Matih gue," asisten Brian lari terbirit tak jadi masuk lift.
Seakan ada yang lupa, asisten Brian kembali menghampiri Berlian yang terbengong.
"Cepetan ikut....," asisten Brian menarik paksa Berlian untuk mengikutinya.
"Kok saya? Saya nggak ikut-ikut," tolak Berlian tak mau jadi korban tuan Dominic yang berada di mode singa yang kebelet kawin di sana (versi asisten Brian).
"Cuman kamu yang bisa menjinakkan dia," asisten Brian tak mau melepas pegangan tangannya
Saat keduanya masuk, sorot mata tajam sang bos menghadang di depan sana.
"Ngapain pegangan tangan?" selidiknya.
Asisten Brian reflek melepas tangan Berlian.
Asisten Brian mendekat meski sang bos habis berasa menelan cabe, kata-kata nya pedes banget didengar.
"Kita lembur," ujar tuan Dominic tanpa rasa bersalah.
"What?????" suara Berlian dan asisten Brian kompak menjawab.
Tuan Dominic memandang keduanya bergantian.
"Kenapa? Ada masalah?" ujar Dominic tanpa dosa.
"Tuan... bukannya menolak, tapi kasihan Berlian. Dia kan musti melayani suaminya di rumah," asisten Brian memakai Berlian sebagai tameng agar tak lembur.
Padahal asisten Brian ingin segera pergi karena ada janji dengan kekasih hati, eh bos laknatnya dengan sengaja mengajak lembur tiba-tiba.
Dominic menatap tajam ke arah Berlian.
"Berlian, benar apa yang diucapkan Brian?" tanya Dominic penuh selidik. Padahal sejatinya Dominic tahu apa yang dialami oleh stafnya itu.
Asisten Brian memberi kode Berlian untuk mengangguk.
"A... Anu tuan," ragu Berlian menjawab.
"Bonus bulanan naik tiga kali lipat," sela Dominic tak memberi kesempatan Berlian beralasan.
Dengan mata berbinar Berlian menyambutnya
'Bonus naik bisa buat sewa rumah nih,' batin Berlian.
"Baik tuan Dominic, saya siap lembur," jawaban Berlian tak sesuai ekspektasi Brian.
Asisten Brian hanya bisa menepuk jidat.
Sudut bibir Dominic sedikit terangkat.
.
Berlian menguap beberapa kali saat harus meneliti barisan angka-angka yang berbaris rapi di layar monitor di depannya.
"Kita lanjut besok siang," tuan Dominic beranjak dari kursi kebesarannya.
Berlian dan asisten Brian kompak beberes ruangan sang bos, karena mereka lembur di sana.
Asisten Brian ijin pergi duluan, karena ditunggu pujaan hati.
"Pulang kemana?" pertanyaan sang bos membuat Berlian menghentikan langkahnya.
"Ke hotel lagi?" pertanyaan yang seakan bisa menebak jalan pikiran Berlian.
Detik sebelumnya, Berlian memang berpikir untuk mencari hotel terdekat karena belum menemukan tempat tinggal setelah pergi dari rumahnya.
Berlian terdiam, tak mau menjawab.
Dominic menyodorkan sebuah kartu akses apartemen.
"Apa ini tuan?" tanya Berlian tak paham.
"Tinggalah di sana!" imbuhnya.
"Terima kasih, tapi maaf saya tak bisa," tolak hapus Berlian.
"Kenapa?"
Berlian tersenyum, "Anda dengar sendiri apa yang dikatakan adik dan suami saya tadi pagi, jadi saya tak perlu lagi menjelaskan kepada anda, tuan Dominic."
Meski mau mengajukan cerai, tapi secara legal saat ini Berlian masih istri sah Arya.
Apa yang dikatakan orang jika dia tinggal di apartemen milik tuan Dominic. Bisa jadi tuduhan Intan semakin menjadi nantinya. Berlian tak ingin repot di belakang.
Meski tak berada di bawah atap yang sama, Berlian tak mau aji mumpung memanfaatkan kebaikan bos yang kadang tak bisa dimengerti dengan akal sehat .
Berlian pergi menjauh meninggalkan Dominic yang belum beranjak.
'Sampai kapan kamu akan menjaga jarak denganku,' batin Dominic.
.
Berlian ijin datang terlambat ke kantor. Niatnya akan kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang yang belum sempat diambilnya kemarin. Apalagi di sana ada peninggalan sang ibu. Walau harganya tak seberapa, tapi sangat bermakna bagi Berlian.
Setelahnya, akan mencari tempat tinggal baru sesuai rencana awal.
Berlian masuk rumah seperti biasa. Berlian masih punya hak atas rumah itu karena ada andilnya di sana.
"Wah ... Wah... Siapa yang datang nih pagi-pagi?" sambutan Intan. Mereka kini tengah berada di meja makan menikmati sarapan.
"Sayang, suapin aku," pinta Intan manja. Sengaja karena ada Berlian.
Berlian jengah.
"Makan sendiri dulu," tolak Arya dengan mata tatapan tak beralih dari Berlian.
"Sayang, duduk dulu. Kita makan bersama," ajak Arya ke arah Berlian.
"Sayang, anakmu nih yang minta disuapin. Nggak peka banget sih jadi calon ayah," sela Intan sambil mengelus perutnya yang rata.
Berlian berlalu menuju kamar utama, meninggalkan mereka yang banyak drama.
Berlian tak mendapati apa yang dicari.
"Aryaaaaaa ....," teriaknya.
Arya datang dengan tangan mengepal erat.
"Sejak kapan kamu tak sopan pada suamimu?" tanya Arya jengkel.
"Sejak kamu tidur dengan gundikmu itu di ranjangku," sorot mata Berlian tajam ke arah Intan yang baru datang menyusul.
"Berlian, jangan mulai deh," panggilan sayang pun telah menguap dari mulut Arya.
Berlian tertawa hambar. Menertawakan kebodohannya sendiri. Betapa percayanya dia pada sang suami.
"Di mana barang-barang ku?" Berlian membuka semua yang ada di walk in closed.
"Oopppsss, sorry. Sudah tak pindahin ke gudang. Kirain kakak nggak pake lagi," sela Intan sok polos.
Berlian menepis keduanya yang saat itu berdiri di depan pintu. Intan berpura terhuyung mau jatuh.
"Berlian, apa yang kamu lakukan?" Arya memeluk Intan, menahannya agar tak jatuh. Terlihat senyum smirk Intan yang tak luput dari pandangan Berlian.
"Terus aja drama," Berlian berlalu ke gudang sesuai yang dikatakan Intan.
"Sialan, mereka menyingkirkan ku," umpat Berlian.
Berlian harus menemukan barang yang dicari.
'Jangan kira aku bodoh Arya, gono gini akan kuperjuangkan. Apa yang jadi hakku, tak boleh lepas ke gundikmu,' tekad Berlian.
Berlian hendak pergi setelah menemukan barang peninggalan sang ibu.
"Sayang, perutku eneg banget. Ingin muntah. Apalagi kalau melihat kakak," keluh Intan dengan tatapan mengejek ke Berlian yang lewat di depannya.
Arya hendak berdiri untuk mencegah Berlian pergi lagi.
"Sayang, debay ingin dipeluk," Intan menahan lengan Arya.
"Tuh, bayimu eneg melihatku. Aku pergi!" Berlian melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang. Tak perduli teriakan Arya yang memanggilnya.
"Hah, bodoh kamu Berlian. Kok bisa jatuh cinta sama laki macam Arya," Berlian menepuk jidat, merayakan kebodohannya.
.
.
.