NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Pergi dari rumah

Begitu tiba di rumah Alena bergegas masuk menuju ke ruangan kamarnya dan Arinta dengan wajah yang sangat tegang dan mata sembab. Andini menyusul dari belakang dengan cemas.

Yani yang melihat keadaan sang majikan pulang dalam keadaan seperti itu langsung curiga dan mendapat firasat buruk. Untung saja Alea sudah tertidur.

Di ruangan kamar, Alena langsung mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari. Andini dan Yani yang ikut masuk keheranan. Mereka bingung harus berkomentar apa, terutama Yani dia gak tau harus ngapain.

"Bi, tolong beresin semua pakaian Alea sama peralatan sekolahnya," ujar Alena saat melihat wanita itu berada di dalam kamar.

"Se-semua, Bu?" Tanyanya untuk memastikan.

"Iya, semua, cepat sebelum sore!" Alena gak biasanya bersuara keras kepada Yani. Wanita itu pun terkejut, lalu berlari keluar untuk melakukan apa yang diperintahkan.

"Len, ini... Lu mau ngapain...?" Andini pelan-pelan berjalan mendekati Alena.

"Gue gak bisa Din...," ucap Alena yang merasa sakit hati. Suaranya masih bergetar ketika ia berbicara.

"Len, gue gak bermaksud ikut campur sama keputusan lu, tapi..., jangan gegabah, coba pikirkan ulang, gimana nanti reaksi Arinta pas pulang liat lu sama anak lu gak ada? Dia pasti khawatir...." Andini mencoba memberi nasehat dengan bijak agar masalah tak semakin melebar. Menurutnya tindakan Alena yang memutuskan pergi tiba-tiba itu kurang tepat, terkesan impulsif.

Alena yang sedang melipat beberapa pakaiannya berhenti sejenak. Ia menoleh menatap ke arah Andini dengan wajah gusar.

"Maksud lu, gue harus ngomong baik-baik sama dia gitu?" Nada bicara Alena sudah tinggi. Terlihat jelas kalau saat ini ia tengah dikuasai oleh emosi.

Andini yang tadinya merasa yakin dengan masukan yang diberikan agar Alena menjadi lebih tenang seketika terdiam saat melihat ekspresi kecewa, marah, sakit, sedih, semua bercampur satu menjadi suatu kompleksitas emosional yang sulit dijelaskan.

"Dia itu udah bohong sama gue! Bahkan dia masih bisa membela Melinda di depan gue karena gue gak tau apa-apa, Din...!" Alena berteriak pilu. Jelas baginya apa yang dilakukan oleh Arinta adalah sebuah pengkhianatan besar.

"Maaf, Len kalau mungkin tadi gue salah bicara...," ucap Andini pada akhirnya tak berani untuk berkata-kata lebih banyak.

"Sekarang gue cuma mau tenang dan jauh untuk sementara dari dia dulu...," ucapnya dengan suara lemah. "Gue gak mau kalau seandainya nanti harus ada keributan di depan Alea..., kasihan dia masih kecil...." Alena tanpa sadar menatap ke arah bingkai foto sang buang hari yang terpajang pada sisi dinding kamar ruangannya. Dia gak sanggup kalau wajah yang masih polos itu akan rusak melihat ketoksikan dia orang dewasa yang saling adu argumen.

"Rencana lu ini mau kemana?" Tanya Andini dengan hati-hati.

"Gue kayaknya bakal ke Bandung, ke rumah orang tua gue...," jawab Alena tanpa memiliki opsi lain. Sekalipun kemungkinan tempat itu diketahui Arinta dan bisa dijangkaunya nanti.

"Ini udah mau sore, lu ke sana mau naik apa? Gak bisa dadakan juga 'kan? Kasihan Alea nanti. Gimana lu ke apartemen gue aja dulu sementara?" Andini pun menawarkan bantuannya untuk Alena.

"Gue takut ngerepotin...," balas Alena yang kembali sibuk melipat semua baju-baju miliknya.

"Lu jangan kayak sama orang lain aja ke gue! Apartemen gue kosong, gue 'kan masih sendiri, udah gak apa-apa, mau ya?" Andini menepuk pelan pundak sang kawan. Membujuknya dengan halus. "Anggap saja demi Alea..., kasihan dia di jalan nanti kalau dipaksain...."

"Oke deh, Din... Makasih sebelumnya...." Alena akhirnya mengangguk setuju.

"Nah, gitu dong!" Andini langsung tersenyum lebar. "Gue bantuin ya, biar lebih cepat!" Kemudian Andini ikut membantu Alena membereskan semua pakaian-pakaiannya.

Selang dua jam lebih semua pekerjaan mereka sudah rapih semua. Baju-baju Alena sudah masuk koper, begitu pun dengan pakaian serta peralatan sekolah Alea, juga barang-barang milik sang babysitter.

"Bi, bangunin Alea, kita berangkat sekarang," ucapnya sambil melongok ke arah kamar tidur putrinya yang masih tertidur lelap.

"Baik, Bu." Yani hanya bisa mengangguk patuh.

Para wanita itu memasukkan beberapa koper pakaian di bagian belakang mobil. Alena tampak sibuk menata urutan koper agar tidak berantakan. Yani terlihat sedang menggendong Alea yang masih mengantuk karena terpaksa harus dibangunkan dalam tidur nyenyak nya.

"Tas Alea sini, Bi." Alena berjalan menuju ke arah Yani untuk mengambil tas kecil terakhir milik sang anak.

"Kita mau liburan ya, Mih?" Tanya Alena dengan polos. Semua diam dan larut dalam pikiran masing-masing.

"Iya, kita liburan ke rumah Tante Andini, kamu suka 'kan?" Balas Alena mengangguk dan langsung memasang senyuman palsu demi si buah hati.

"Kok enggak sama Papih? Emangnya Papih gak ikut ya, Mih?" Ah, seandainya saja gadis itu tau apa yang sedang terjadi. Tapi bagi anak kecil liburan tanpa kedua orangtuanya akan menjadi sesuatu yang sangat mengusik.

"Papih lagi banyak kerjaan Alea, gak apa-apa ya, pergi sama Mamih...?" Alena mencoba menenangkan dengan nada lembut, berharap anaknya mau menurut dan gak keras kepala.

"Tapi, Alea mau Papih ikut juga!" Gadis kecil itu akhirnya pun menuntut hal yang tak bisa dilakukan oleh Alena saat ini.

Alena tampaknya jadi kebingungan dengan pertanyaan dari gadis kecilnya.

"Alea, nanti Papinya nyusul kok. Tapi sekarang Alea pergi dulu sama Mamih ke rumah Tante, ya...?" Andini ikut membujuk anak kecil itu ketika Alena sudah sulit untuk berkata-kata.

"Di rumah Tante ada kolam renangnya, lho!" Ucapnya lagi sengaja memancing rasa penasaran Alea.

"Beneran? Nanti Alea bisa main gak?" Benar saja binar mata sang anak langsung menyorot antusias.

"Bisa dong! Makanya kita pergi sekarang, yuk!" Andini tersenyum lebar. Sepertinya dia sukses mengalihkan atensi si kecil.

"Yuk, Ayuk Mamih kita ke kolam renang!" Alea langsung bersemangat.

"Yuk, naik mobil ya!" Yani langsung ikut memberikan euforia dengan teriakan kecil dan langsung membawa Alea naik ke dalam mobil.

"Makasih, Din... Gue tadi beneran gak tau harus bilang apa ke Alea...," ucap Andini yang benar-benar kehabisan kata tadi.

"Sama-sama, yang penting Alea udah mau ikut. Lu buruan kunci pintu, gue manasin mobil." Alea mengangguk dan pergi mengunci pintu rumah sementara Andini naik ke dalam mobil.

.

.

Sementara di kantor Arinta sama sekali tidak ada dalam pikirannya terbesit kalau Alena akan pergi meninggalkan rumah. Apalagi tanpa pamit.

Saat ini ia terlihat sedang bersenang-senang di dalam ruangan kerjanya dengan Melinda yang hampir berada di dalam selama 30 menit.

"Ayo dong, kasih gue lebih...." Melinda berbisik dengan frustasi. Ia sedang bergairah dan ingin melepaskan semua hasratnya saat itu juga.

"Jangan di sini, Mel...," balas Arinta yang ternyata bisa menahan diri karena mereka masih berada di kantor.

"Ah, payah. Selingkuh masa setengah-setengah!" Melinda terdengar kesal. Ia merajuk lalu mendorong tubuh Arinta yang sedang menindihnya di atas sofa kantor.

Wanita itu berdiri lalu mengancingkan beberapa kancing kemejanya yang terlepas tadi.

"Sekali aja juga gak bakal ketahuan. Lagian hubungan kita terlanjur terlarang, kenapa lu terus nahan sih?" Melinda menatap Arinta, tak habis pikir. Sudah beberapa bulan ini mereka bersama tapi Arinta masih gak siap untuk melakukan hal yang lebih. Itu membuatnya frustasi karena gairahnya tak terpenuhi.

"Jangan marah dong, Mel...." Arinta mencoba membujuk kekasih gelapnya.

"Habisnya kamu gitu sih! Sebagai perempuan aku ngerasa gak dihargai, lho." Ia mendengus kecil dan memalingkan wajahnya.

"Bukannya kita udah sepakat melakukan ini tapi jangan sampai kamu hamil. Aku masih mau rumah-tangga aku utuh." Arinta memberi jawaban yang terkesan egois. Dia ingin memiliki kesenangan dengan Melinda tapi juga ingin mempertahankan Alena.

"Terserah lah, aku mau keluar dulu, takut nanti pada curiga kalau aku terlalu lama di sini."

Melinda kembali merapihkan pakaiannya until memastikan tak ada yang aneh, lalu berjalan keluar dari ruangan kerja Arinta.

Keduanya sama-sama tak menyadari kalau selama 30 menit itu suara mereka telah direkam oleh seseorang di sana. Pria itu menatap tajam ke arah Melinda yang baru saja melangkah keluar.

"Apa liat-liat gue? Sana kerja!" Omel wanita itu mendelik kesal.

Awas saja kalian, akan aku laporkan semua ini nanti! Geram pria itu dalam hati.

Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa tampaknya dia ada dendam tersendiri pada Arinta dan Melinda?

.

.

Bersambung

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!