NovelToon NovelToon
Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Manusia Serigala / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”

“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.

“Sebagai manusia.”

“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”

“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”

999 tahun pencarian....

“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”

PLAK!

“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.

Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Nasib Yang Tak Jauh Berbeda

“Nona Ivory, bersiaplah! Kau yang akan menemani Tuan Rowan mengikuti rapat di restaurant siang ini. Aku tidak bisa ikut mendampingi, karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan setelah makan siang selesai.”

Ivory sudah hampir menutup map agenda ketika suara Dorian menghentikan aktivitasnya. Bahunya menegang satu detik, cukup singkat untuk luput dari perhatian orang lain, tapi tidak dari dirinya sendiri.

“Maaf, Tuan Dorian,” katanya sambil mendongakkan wajah menatap Dorian yang masih berdiri berhadapan dengan Ragnar tidak jauh dari meja kerjanya, ekspresinya tetap netral. “Saya tidak tercantum sebagai pendamping rapat tersebut.”

Dorian mengangkat alis. “Kata siapa? Kau adalah sekretaris pribadinya. Saat saya sedang berhalangan untuk menemaninya, maka kau yang harus menggantikan ku. Biasanya kita malah aku pergi bersama untuk menemaninya. Karena aku ada urusan penting yang perlu di selesaikan, maka kau sendiri yang harus mengurus semuanya.”

Ivory menatap layar komputer dihadapannya, cepat mencari celah. “Kalau begitu, rapat bisa dijadwalkan ulang. Atau dihadiri oleh staf legal.”

“Tidak bisa,” jawab Dorian singkat. “Kliennya hanya mau bertemu hari ini.”

Ivory hanya mampu menarik napas pelan. “Tentu saja, itu hanya alasanmu untuk membuatku hanya berdua saja dengannya, bukan? Dasar vampire licik. Tidak Rajanya, tidak anak buahnya rupanya sama saja. Sama-sama licik dan menjengkelkan.”

“Baik, tapi saya masih harus menyelesaikan laporan divisi operasional yang harus dikirim sebelum jam dua,” katanya tenang, meski di dalam kepalanya alarm sudah berbunyi nyaring. “Waktu makan siang saya tidak memungkinkan.”

Dorian memeriksa jam di pergelangan tangannya sebelum menyilangkan tangan. Terlalu santai untuk seseorang yang sedang dikejar waktu.

“Rapatnya juga sambil makan siang. Sangat efisien, kau bahkan bisa menghemat uang makan.”

Ivory hanya bisa mengatupkan bibir. Satu alasan gugur. Namun, Ivory tidak akan menyerah semudah itu. Ia akan memikirkan cara atau alasan lain untuk menolaknya. “Selain itu,” lanjutnya cepat, “saya kurang sehat hari ini. Sejak pagi pusing.”

Dorian menatapnya lebih lama. Terlalu lama. “Kau terlihat baik-baik saja untuk seseorang yang yang baru saja berdebat dengan atasannya sendiri.”

“Terkadang tidak semua hal terlihat dari luar, Tuan Dorian,” balasnya datar.

Sudut bibir Dorian bergerak tipis, nyaris seperti senyum. Nyaris. “Kau masih bisa duduk dan mencatat, bukan? Bahkan kau tidak perlu melakukan itu, karena Tuanku tidak akan membiarkanmu bekerja terlalu keras.”

Ivory kembali mengepalkan jemari di balik map. Ia tahu ini tidak ada hubungannya dengan rapat. “Jika anda tidak keberatan,” ujar Ivory hati-hati, “saya bisa mencarikan staf lain untuk—”

“Tidak,” potong Ragnar cepat. “Aku butuh orang yang bisa terus berada di sisiku. Dan itu kamu.” Kalimat itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ditolak secara terang-terangan. Ivory lantas menunduk, berpura-pura mengecek jadwal. Otaknya berpacu mencari alasan terakhir.

“Restoran itu cukup jauh,” katanya. “Waktu tempuhnya—”

“Kau akan pergi bersamaku, pemilik perusahaan ini. Memang siapa yang berani berpendapat kalau kau tidak datang tepat waktu, Hmm? Bahkan jika kita pergi sampai berbulan-bulan pun tidak akan ada yang berani berkomentar.”

Jawaban itu jatuh tepat waktu. Dan tepat sasaran. Hening sesaat menyelimuti mereka. Ivory akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya datar, tapi ada kilat kesal yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Tuan Rowan,” katanya pelan namun tegas, “jika ini hanya rapat, saya akan menjalankan tugas saya. Tapi saya harap tidak ada pembahasan di luar kepentingan pekerjaan.”

Ragnar menatapnya balik. Untuk sesaat, ekspresinya sulit dibaca antara puas dan tertantang.

“Tentu saja,” jawabnya ringan. “Ini murni urusan kerja.”

Ivory tidak membalas. Ia hanya mengangguk singkat, lalu kembali menatap layar komputernya dengan perasaan kesal setengah mati. Berniat ingin menghindar sejauh mungkin, kini malah terjebak berdua saja dengannya. Bahkan Dorian yang biasanya akan selalu ikut kemana pun mereka berada, sekarang malah sengaja menghilang.

Namun di dalam dadanya, perasaan tidak nyaman semakin menguat. Ia tahu persis bahwa ini bukan tentang rapat. Bukan tentang klien. Dan jelas bukan tentang efisiensi waktu. Ini tidak hanya tentang jam makan siang. Tapi tentang dua orang yang dipaksa berada dalam satu meja tanpa Dorian, tanpa pengalih, tanpa alasan untuk kabur. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Ivory merasa… terjebak. Raja dan bawahan vampirnya ini memang benar-benar banyak akal liciknya.

Terlihat jelas Ragnar tersenyum penuh kemenangan atas rencana Dorian yang dijalankan dengan sangat baik. Ragnar pun berjalan kembali menuju mejanya dengan senyuman yang terus merekah di bibirnya. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, sembari sesekali melihat Ivory yang tengah menggerutu kesal tapi terlihat sangat menggemaskan di matanya.

Sementara Dorian memilih meninggalkan ruangan tersebut, membiarkan raja dan reinkarnasi ratunya mungkin bisa berdekatan satu sama lain. Dengan alasan ingin membahas masalah pekerjaan dengan Denzel. Lebih tepatnya ingin mengetahui apa yang akan dilakukan penyihir agung itu untuk mendekati reinkarnasi dari pemilik murni sihir hitam—Elena Rosalia.

...****************...

Siapa sangka, rupanya nasib sang penyihir agung tidak jauh beda dengan nasib sang Raja vampir. Sejak pagi, Elena bergerak seperti bayangan. Datang tepat waktu, duduk di balik meja kerjanya, membuka agenda, menyusun berkas dan semua dilakukan dengan presisi yang nyaris menyakitkan untuk dilihat. Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. Bahkan tatapan mata pun dihemat.

“Bagaimana dengan jadwal tim kita hari ini?” tanya Denzel, berdiri di depan mejanya.

“Rapat direksi pukul sembilan. Presentasi divisi pemasaran pukul sebelas. Makan siang dengan investor jam satu,” jawab Elena tanpa menoleh, matanya tetap terpaku pada layar laptop. “Hanya itu… Tidak ada agenda lain yang berkaitan dengan pekerjaan.”

Denzel menghela napas, menahan frustasi yang sejak semalam belum juga reda. Ia menunggu. Lima detik. Sepuluh. Elena tetap diam dan mengabaikan keberadaannya di sana seperti bayangan yang tak berarti.

“Elena,” panggilnya, kali ini lebih pelan. “Soal panggilan dan pesanmu semalam—”

Elena berhenti mengetik. Suasana kantor yang semula dipenuhi bunyi keyboard dan langkah kaki mendadak melambat, seolah semua orang tanpa sadar sedang menahan napas. Elena tiba-tiba saja berdiri. Gerakannya tenang, tapi rahangnya mengeras. Ia menatap Denzel dengan tatapan yang dingin dan tajam.

“Tuan Denzel,” katanya lantang. Terlalu lantang untuk percakapan pribadi. “Anda yakin ingin membahas soal itu sekarang? Di tempat ini?”

Beberapa kepala menoleh. Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang terang-terangan memasang telinga. Kini mereka berdua sudah menjadi perhatian karyawan lainnya yang penasaran dengan hubungan seperti apa yang telah terjalin di antara keduanya.

Denzel terkejut, sedikit salah tingkah. “Aku cuma mau menjelaskan alasan aku—”

“Tidak perlu,” potong Elena, suaranya naik satu oktaf. “Mulai sekarang lebih jangan kau jangan menggangguku lagi. Dan maaf, tentang semalam tidak seharusnya aku mencari tahu tentang adikku padamu.”

Bersambung ….

1
Cindy
lanjut kak
Desyi Alawiyah
Iya Kak, selamat menunaikan ibadah puasa juga.. 🙏🙏🙏
Desyi Alawiyah
Ayolah, kenapa kalian ngga berdamai aja sih... Kalian kan berselisih hanya karena salah paham... 🤨

Jangan sampe ada pertumpahan darah. Ya, meskipun kaum Vampir memang identik dengan hal itu... 😩
Desyi Alawiyah
Mirip. Tapi jiwa sang Ratu Vampir, Ivory Esmeralda, ada di dalam tubuh Ivory Asteria... ☺
Fahmi Ardiansyah
ivori keras kepala sok jual mahal entar klu udh kejadian baru nyesel n cari2 Ragnar.
Desyi Alawiyah
Kasihan lihat Ivory dan Elena.. Terutama Elena..

Tubuhnya masih belum menerima kekuatan sihirnya... Sehingga Denzel harus turun tangan untuk mengendalikan sihir hitam milik Elena...

Ivory yang sabar yah, aku yakin kakakmu akan baik-baik saja.. Benar kata Ragnar, sebaiknya kamu tinggal di Istana dulu.. Karena kaum Werewolf masih berkeliaran... 😩
Desyi Alawiyah
Nah, itu kata yang tepat... "Raja Vampir gila yang memaksa ingin menemukan reinkarnasi Ratu nya. " 🤣🙏
Desyi Alawiyah
Wah, ada lanjutan kisah Xavier Kak...
Desyi Alawiyah
Pada akhirnya, Ivory ngga bisa menghindar lagi... Dia memang udah ditakdirkan menjadi Ratu Vampir...

Dan sekarang, Ivory udah pulang ke rumahnya, ke Istana nya bersama Ragnar...

Kabar Elena gimana yah? Apa dia udah baik-baik saja?
Desyi Alawiyah
Karena memang itu rumahmu, Ivory.. Rumahmu dan Ragnar... Istana Agharon..
Sri Yatun
di mana KA kisah selanjutnya Kay dan yg lain ko g ada di novel toon
Fahmi Ardiansyah
akhirnya ivory ketemu juga Ama Ragnar.
Desyi Alawiyah
Masih kurang Kak, ayo update lagi..
Desyi Alawiyah
Aduh, ikut deg-degan deh aku... Semoga Dorian bisa membawa Ivory dengan selamat...

Karena kalo ngga, nyawa Dorian sendiri yang jadi taruhannya 🤣
Desyi Alawiyah
🤣🤣🤣 Nanti kalo Ragnar memarahimu, kamu salahin aja Denzel, Dorian.. 😋
Fahmi Ardiansyah
kak kelanjutannya kisah key n axlin mana kok gak di lanjutin LG.
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Fahmi Ardiansyah
iya pasti ivory akan terkejut klu tau Denzel ngasih ciuman buatan.
Desyi Alawiyah
Makasih kak udah update.. 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!