Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Di halaman paviliun, berdiri tiga sosok.
Yang di tengah adalah Lin Hong, sepupunya yang arogan (Tingkat 4). Di kiri kanannya adalah dua pengikut setianya. Mereka sedang menendang-nendang pot bunga kesayangan Xiao Yun, sementara gadis pelayan itu menangis tersedu-sedu di sudut sambil memegangi pipinya yang merah—bekas tamparan.
"Mana tuan sampahmu itu, hah?!" bentak Lin Hong. "Berani-beraninya dia bersembunyi saat Tetua Agung memanggil!"
"Tuan Muda sedang kultivasi... tolong jangan ganggu..." isak Xiao Yun.
"Kultivasi pantatku!" Lin Hong tertawa mengejek. "Dia pasti sedang menangis di bawah selimut karena takut mati!"
Lin Hong mengangkat kakinya, hendak menginjak tangan Xiao Yun yang ada di tanah.
"Hentikan."
Satu kata. Datar. Dingin.
Lin Hong membeku. Dia menoleh ke arah pintu kamar.
Di sana, Lin Xiao berdiri bersandar pada kusen pintu. Jubahnya sedikit lusuh, rambutnya agak berantakan, tapi aura yang dipancarkannya membuat udara di halaman itu terasa berat.
"Oh? Akhirnya kura-kura keluar dari tempurungnya," cibir Lin Hong, menarik kakinya kembali. Dia menatap Lin Xiao dengan jijik. "Kakekku, Tetua Agung, memerintahkanmu datang ke Aula Latihan sekarang juga. Dia ingin 'menguji' kemajuanmu sebelum turnamen. Atau lebih tepatnya, dia ingin mempermalukanmu agar kau sadar diri dan mundur."
Lin Xiao tidak menjawab. Matanya tertuju pada pipi merah Xiao Yun. Tatapannya berubah menjadi sangat, sangat dingin.
Dia melangkah turun dari tangga. Pelan. Setiap langkahnya tidak bersuara, seperti hantu.
"Siapa yang menamparnya?" tanya Lin Xiao.
Lin Hong mengerutkan kening. "Aku. Kenapa? Pelayan tidak berguna ini menghalangi jalanku. Apa kau mau membela pelay..."
PLAK!
Tidak ada yang melihat kapan Lin Xiao bergerak.
Tahu-tahu, tubuh Lin Hong terputar 180 derajat di udara dan menghantam tanah dengan keras. Darah muncrat dari mulutnya, disertai tiga gigi yang rontok.
"Ugh..." Lin Hong mengerang, otaknya blank. Apa yang terjadi? Dia adalah kultivator Tingkat 4! Bagaimana mungkin dia tidak bisa melihat serangan itu?
Dua pengikutnya mundur dengan wajah pucat, lutut mereka gemetar.
Lin Xiao berdiri di tempat Lin Hong tadi berdiri, mengibaskan tangannya seolah baru saja menyentuh kotoran.
"Kau bilang ingin mengujiku?" Lin Xiao menunduk, menatap sepupunya yang masih linglung di tanah.
"Bangun. Bawa aku ke Tetua Agung. Aku juga ingin 'berbicara' dengannya tentang tata krama mendidik cucu."
Hari ini, Keluarga Lin akan kembali diguncang. Sang Naga tidak lagi tidur, dan dia baru saja mulai memamerkan taringnya.
Suasana di Aula Latihan Keluarga Lin sore itu ramai namun tegang. Puluhan murid muda dari berbagai cabang keluarga berkumpul. Mereka dipanggil oleh Tetua Agung Lin Zhen untuk menyaksikan sebuah "tontonan".
Di kursi kehormatan di atas panggung batu, Lin Zhen duduk dengan wajah angkuh, menyesap tehnya. Di sebelahnya duduk dua tetua lainnya.
"Tetua Agung, apakah Lin Xiao benar-benar akan datang?" tanya Tetua Ketiga ragu. "Terakhir kali kita melihatnya, dia bahkan tidak bisa berdiri tegak tanpa bantuan pelayan."
Lin Zhen mendengus. "Dia akan datang. Atau aku punya alasan untuk mengusirnya sekarang juga karena pembangkangan. Lagipula, aku ingin cucuku, Lin Hong, menunjukkan pada semua orang perbedaan antara 'Pewaris Asli' dan 'Sampah'."
Tepat saat kata-kata itu keluar, pintu gerbang Aula Latihan terbuka lebar dengan suara brak yang keras.
Semua kepala menoleh.
Lin Xiao melangkah masuk. Wajahnya tenang, jubahnya berkibar pelan tertiup angin sore. Namun, yang membuat semua orang menahan napas adalah apa—atau siapa—yang ada di belakangnya.
Lin Hong, sang genius kebanggaan Tetua Agung, berjalan terhuyung-huyung di belakang Lin Xiao. Wajahnya bengkak sebelah, darah mengering di sudut bibir, dan matanya memancarkan campuran rasa takut dan benci yang mendalam.
"Hong'er!" Lin Zhen berdiri seketika, cangkir teh di tangannya hancur karena cengkeramannya yang mengeras. "Apa yang terjadi?!"
Lin Xiao berhenti di tengah aula. Dia menatap lurus ke arah panggung para tetua, sama sekali tidak terintimidasi.
"Cucumu tersandung," jawab Lin Xiao datar. "Aku membantunya bangun."
"Bohong!" teriak Lin Hong histeris. Dia menunjuk Lin Xiao dengan tangan gemetar. "Kakek! Dia menyerangku! Dia menggunakan trik kotor saat aku lengah! Bunuh dia, Kakek! Dia melukai sesama klan!"
Kerumunan murid menjadi riuh. "Lin Xiao memukul Lin Hong? Mustahil!" "Tapi lihat wajah Lin Hong... itu jelas bekas tamparan." "Apakah sampah itu sudah gila?"
Wajah Lin Zhen memerah padam karena amarah. Aura Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 8 miliknya meledak, menciptakan angin kencang yang menekan seluruh ruangan.
"Berlutut!" bentak Lin Zhen. Gelombang tekanan spiritual (Spirit Pressure) menghantam Lin Xiao seperti ombak pasang.
Para murid di sekitar Lin Xiao mundur ketakutan, lutut mereka lemas karena tekanan itu. Mereka menunggu Lin Xiao ambruk dan memohon ampun.
Namun, Lin Xiao tetap berdiri.
Kakinya seolah berakar ke dalam lantai batu. Punggungnya tegak lurus bagai pedang. Rambut hitamnya menari-nari ditiup angin aura Lin Zhen, tapi ekspresi wajahnya tetap sedingin es.