WARNING!
NO BOOM LIKE & LOMPAT BAB. HARGAI PENULIS!
“Aku sudah putuskan. Aku ingin mengakhiri hubungan kita,” Tegas Danu, tunangan Zivanya sang janda yang beranak dua.
“Apa maksudmu, Bang?” tanya Zivanya, berharap semua yang ia dengar salah.
“Ku rasa, aku tidak perlu mengulang kata-kataku. Semua yang aku katakan sudah cukup jelas, aku ingin kita mengakhiri semuanya,” Lagi, Danu mengulang perkataannya.
“Tapi kenapa, Bang?” Air mata Zivanya luruh. Ia tidak dapat menahan tangisnya.
Zivanya, Janda muda yang memiliki dua anak, di putuskan begitu saja oleh tunangannya. Ternyata, alasan yang ada dibalik putusnya hubungan meraka sungguh menyakitkan. Membuat Zivanya berubah menjadi pribadi yang lain.
~Pesona Janda Anak Dua~
"Zivanya Anatasya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
“Bwahahahaha.. Kamu kejam banget ama, dia!”
“Lagian, siapa suruh bawa temen-temennya kesini,” kata Arya. Lalu, pria itu menarik Zivanya agar duduk di pangkuannya.
“Kamu bisa galak juga,” kata Zivanya. Ia merasa geli saat tiba-tiba Arya mencium pundaknya.
“Beng, jangan nakal!” protes Zivanya. “Nanti ada yang liat.”
“Gak akan ada,” bisik Arya di telinga Zivanya. “Kayak gini, bentar aja.”
“Aku janda loh, Beng. Aku takut,” ucap Zivanya. Ia mencoba mengingatkan Arya, bahwa dirinya adalah seorang janda yang sudah lama tidak menerima nafkah batin. Tentu, mudah baginya untuk terangsang oleh sentuhan pria.
“Aku tau, aku pengen kita cepet nikah. Emang kamu lupa, kalo aku juga adalah pria dewasa yang butuh pelukan,” bisik Arya. Lagi-lagi, Arya menghembuskan napasnya di leher bagian belakang Zivanya.
“Beng,” ucap Zivanya dengan pelan.
Arya melingkarkan tangannya di perut Zivanya. Posisi mereka berdua sangat intim. Beruntungnya, saat Rendi keluar, gagang pintu itu di tarik olehnya. Jadi, pintu rumah itu tertutup meski tidak terkunci, jadi Arya dan Zivanya tidak perlu khawatir tercyduk oleh orang lain. Tapi, mereka berdua lupa bahwa di dalam rumah itu masih ada tiga nyawa lainnya.
“Emmm..” suara lembut keluar dari bibir Zivanya saat Arya menggigit kecil leher bagian belakangnya.
“Van, aku udah gak tahan?” lagi, Arya kembali berbisik.
“Turunin aku, aku takut sama Jhon kamu,” ucap Zivanya. Arya tak mengindahkan ucapan Zivanya, pikirnya semakin ia menggoda janda itu, maka semakin cepat pula Zivanya minta di nikahi olehnya.
“Beng, jangan!” Zivanya menahan tangan Arya yang menjalar ke perut bagian atasnya. “Kalo kamu masih terus, aku bakal marah dan gak akan maafin kamu,” ancam Zivanya. Tapi, Arya tetap tak mendengarkan.
“Uncle, Valen juga mau di pangku kaya Mommy!” tiba-tiba saja, Valencia yang baru bangun dari tidurnya, berjalan ke ruang tamu untuk mencari keberadaan Mommy nya.
Mendengar suara Valencia, buru-buru Zivanya turun dari pangkuan Arya.
“Kan! Kamu sih, gak dengerin aku,” geturu Zivanya dengan kesal.
“Mommy gak malu apa? Udah gede minta pangku sama Uncle,” kata Valencia meledek Mommy nya itu.
“Princes minta pangku juga, sini Uncle pangku!” Arya bangkit dari atas sofa lalu segera mengangkat tubuh kecil Valencia kedalam pangkuannya.
“Kayaknya, minggu depan kita langsung nikah aja deh!” ujar Arya pada Zivanya dengan cengengesan.
Zivanya mendelikan matanya, sedangkan Valencia. Gadis kecil itu mengerti dengan hal yang di katakan oleh Arya.
“Kalau Uncle dan Mommy menikah, berati Uncle akan menjadi Daddy nya Valen dan Kak Nino,” kata Valencia dengan begitu antusias.
“Memangnya, Valen setuju jika Uncle jadi Daddy, Valen dan Kak Nino?” tanya Arya. Sedangkan Zivanya, ia hanya menjadi pendengar obrolan kedua orang itu.
“Setuju dong! Selama ini kan, Valen gak pernah ngerasain punya Daddy kayak teman-teman Valen,” ucap anak itu.
Arya mengusap rambut Valencia dengan lembut. “Doakan Uncle dan Mommy, agar bisa segera menikah,” kata Arya dengan lembut.
“Amin,” ucap Valencia. Arya dan Zivanya pun ikut meng-aminkan doa Valencia.
“Setelah Uncle dan Mommy menikah, maka kita akan pindah dari rumah ini,” kata Arya.
.
.
.
“Jahat banget sih kalian!” Rendi yang kini sudah berada di kamarnya bersama ke tiga temannya, sedang marah-marah.
“Abisnya, itu om-om serem,” kata Adi.
“Dia galak mamat!” Nanang ikut menimpali.
“Lagian, lu gak bilang kalo Mbak Vanya udah punya cowok!” ujar Tono.
“Orang kalian gak nanya, lagian juga, mana gua tau, kalau tu Bang Arya bakal kesana,” kata Rendi sambil membanting tas sekolahnya ke atas ranjang.
“Tapi sumpah, Bray. Tu telapak tangannya Mbak Vanya, lembut banget,” kata Tono sambil meyentuh telapak tangan kanannya menggunakan tangan kiri. “Aroma tubuhnya, beuhhh.. Wangi banget.”
Adi, Nanang dan Rendi menatap jengkel pada Tono yang sudah mencuri star dari mereka.
“Apaan sih! Lu bertiga liat gue kaya gitu?” Tono balik menatap ketiga temannya. Lalu, katanya. “Iri, bilang janda!”
“Setan lu!” teriak Adi, Nanang dan Rendi bersamaan pada Tono.
Dengan spontan, Tono menutup kedua telinganya dengan jari.
“Anak-anak! Jangan berisik!” tiba-tiba, Ibu Rendi meneriaki mereka yang sangat berisik di dalam kamar itu.
BERSAMBUNG!
.
.
.
SEMBARI NUNGGU UPDATE, BISA MAMPIR DI KARYA KAKAK ONLINE NENG SYANTIK YANG ADA DI BAWAH INI YA!
JUDUL: JERAT HASRAT SANG CEO
PENULIS: TEH IJO
Kerena tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai, Daisy memilih kabur tepat di hari pernikahannya berlangsung. Namun, karena calon suami Daisy adalah orang yang berkuasa maka mereka mampu menemukan keberadaan Daisy. Daisy Quuereen : Jika aku hanya ingin kamu jadikan pelayanan di rumah mu, kenapa kamu harus menikahi ku? Excel Word : Kerena aku ingin mengikatmu dan membuatmu menderita hingga ma-ti perlahan. Daisy Quuereen : Jika kamu ingin aku mati, bunuh saja aku sekarang! Mampukah Daisy melewati hari-hari dalam genggaman Excel?