NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Audit Padang Pasir

Tiga bulan setelah peristiwa di Tangkuban Perahu, Arum dan Baskara tidak benar-benar bisa menikmati sayur asem di Navasari dalam ketenangan. Dunia telah berubah; ekonomi memang stabil, namun perebutan sumber daya dasar air dan udara menjadi medan perang baru.

Koordinat misterius di Gurun Sahara yang muncul di laptop Arum membawanya ke wilayah perbatasan antara Libya dan Chad. Di bawah hamparan pasir yang membara, tersimpan Nubian Sandstone Aquifer System, cadangan air fosil terbesar di dunia yang seharusnya dilindungi sebagai warisan kemanusiaan.

"Secara resmi, ini adalah proyek penghijauan gurun yang didanai konsorsium global," ujar Arum sambil menyesuaikan sorban pelindung debunya. Ia berdiri di atas gundukan pasir, menatap fasilitas industri raksasa yang dijaga ketat oleh tentara swasta. "Tapi data satelit menunjukkan penurunan permukaan air tanah yang drastis. Mereka tidak menyiram pohon, Mas. Mereka sedang melakukan Ekstraksi Litium Hidrotermal."

Baskara memeriksa peralatan sensor mereka. "Mereka menggunakan air purba itu untuk memurnikan litium demi baterai mobil listrik dunia. Mereka menjual 'solusi hijau' di Eropa dengan cara mengeringkan sumber air terakhir di Afrika."

Arum membuka tas taktisnya, mengeluarkan Sensor Isotop portabel. Ia perlu melakukan Audit Hidrologi Forensik. Setiap tetes air memiliki tanda umur; jika air yang keluar dari limbah pabrik itu terbukti berusia ribuan tahun, maka izin "penghijauan" mereka adalah penipuan hukum internasional.

"Kita harus masuk ke pipa pembuangan utama, Mas. Aku butuh sampel air yang belum terkontaminasi udara luar," instruksi Arum.

Namun, tantangannya kali ini bukan hanya kode digital. Fasilitas ini dikelilingi oleh Pagar Akustik—sebuah sistem keamanan yang memancarkan frekuensi tinggi yang bisa menyebabkan disorientasi instan bagi manusia.

"Jaka, kau bisa mematikan frekuensinya dari jarak jauh?" Arum berbicara melalui radio satelit.

"Sulit, Bu Arum. Mereka menggunakan jaringan Air-Gapped (terisolasi dari internet). Tapi, saya menemukan celah pada sistem pendingin menara komunikasi mereka. Jika Ibu bisa menyuntikkan paket data melalui terminal lokal di pos penjagaan luar, saya bisa memicu overload pada sistem audionya."

Arum dan Baskara merayap di bawah bayang-bayang truk tangki raksasa. Arum melakukan Audit Infrastruktur Fisik. Ia mencari titik lemah pada sistem sensor tekanan pipa. Jika ia bisa memanipulasi data tekanan, sistem akan menganggap ada kebocoran besar dan membuka katup pembuangan darurat secara otomatis.

BIP!

Lampu peringatan merah menyala di menara penjaga. Katup raksasa terbuka, menyemburkan air panas ke parit beton. Arum segera berlari, mengambil sampel air dengan tabung vakumnya.

"Dapat!"

Namun, saat mereka hendak berbalik, lampu sorot raksasa mengunci posisi mereka. Seorang pria dengan seragam militer gurun melangkah maju. Ia bukan Julian atau Rasyid. Ia adalah Kolonel Malik, mantan tentara bayaran yang kini menjadi kepala keamanan untuk The New Oasis.

"Nyonya Arum, saya sudah mendengar tentang Anda," ujar Malik dengan suara serak. "Di Indonesia, Anda mungkin pahlawan. Tapi di sini, air adalah emas. Dan siapa pun yang mencoba mencuri emas kami, akan terkubur di bawah pasir yang sama dengan air ini."

Malik tidak menarik senjata. Ia menunjukkan sebuah tablet. "Lihat ini. Jika Anda mempublikasikan data isotop itu, pasokan litium dunia akan terhenti. Transisi energi hijau akan gagal. Anda akan menyebabkan krisis energi global yang lebih parah dari krisis finansial kemarin. Kadang, kebenaran harus dikorbankan demi kemajuan peradaban."

Arum menatap Malik, lalu menatap tabung air di tangannya. "Kemajuan yang dibangun di atas pencurian hak hidup orang lain bukanlah peradaban, Kolonel. Itu hanyalah Audit yang Dimanipulasi. Dan tugas saya adalah memastikan tidak ada 'biaya yang disembunyikan' dalam buku besar bumi ini."

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Bukan karena mesin, melainkan karena tekanan balik dari akuifer yang dipaksa bekerja melampaui batasnya.

Getaran di bawah kaki Arum semakin intens, sebuah ritem mekanis yang beradu dengan amarah alam. Kolonel Malik tetap berdiri tegak, tidak bergeming sedikit pun, seolah-olah getaran itu adalah musik latar yang sudah biasa ia dengar.

"Kau dengar itu, Arum? Itu adalah suara mesin yang sedang memberi makan dunia modern," Malik menunjuk ke arah instalasi pengeboran raksasa di belakangnya. "Jika kau menutup tempat ini, kau mematikan jutaan mobil listrik di luar sana. Kau menghentikan masa depan."

Arum menatap tabung sampel air di tangannya, lalu beralih ke layar tabletnya yang masih terhubung ke sensor tekanan bawah tanah. "Bukan, Kolonel. Itu bukan suara mesin yang memberi makan dunia. Itu adalah Suara Kavitasi."

"Kalian terlalu rakus," lanjut Arum dengan nada dingin seorang auditor yang menemukan kesalahan fatal. "Kalian memompa air lebih cepat daripada kemampuan akuifer untuk menyeimbangkan tekanannya. Gelembung-gelembung udara mulai terbentuk di dalam pipa bawah tanah kalian. Dalam hitungan menit, tekanan balik ini akan menghancurkan seluruh fasilitas pengeboran kalian dari dalam."

Wajah Malik sedikit berubah. Ia segera menekan radio di bahunya. "Operator, cek tekanan di Sektor 4! Sekarang!"

"Sudah terlambat, Kolonel," Baskara menyahut sambil menunjuk ke arah menara pengawas. "Istriku sudah melakukan Audit Teknis pada sistem SCADA kalian saat kita merayap tadi. Kami tidak hanya mengambil sampel, kami menyuntikkan perintah untuk menutup katup utama secara paksa agar tekanan itu kembali ke sumbernya."

Seketika, ledakan tumpul terdengar dari kedalaman pasir. Pipa-pipa baja raksasa di permukaan mulai meliuk seperti ular yang kesakitan. Air bercampur lumpur purba menyembur keluar dari sambungan-sambungan beton.

"Kau gila! Kau menghancurkan investasi senilai sepuluh miliar dolar!" Malik mencabut pistolnya, tapi terlambat.

Arum menggunakan Flash-Bang Digital—sebuah perangkat kecil yang ia rakit dari Navasari yang memancarkan gelombang elektromagnetik jarak pendek. Perangkat itu mematikan lampu sorot dan sistem bidik elektronik di area tersebut selama beberapa detik.

"Lari, Mas!" Arum menarik lengan Baskara.

Mereka berlari menembus badai pasir buatan yang tercipta dari semburan air bertekanan tinggi. Di tengah kekacauan itu, Arum melihat penduduk lokal—suku nomaden yang selama ini hanya bisa menonton dari kejauhan—mulai bergerak mendekat. Bagi mereka, air yang menyembur itu bukan limbah industri, melainkan nyawa yang telah lama dicuri.

Arum tidak berhenti sampai mereka mencapai kendaraan off-road mereka yang disembunyikan di balik bukit pasir. Ia segera membuka laptopnya, menghubungkan sampel isotop tadi ke alat analisis cepat.

"Hasilnya keluar, Mas," Arum menunjukkan layar yang berkedip hijau. "Air ini berusia 25.000 tahun. Ini air dari zaman es. Hukum internasional melarang ekstraksi komersial untuk air fosil non-terbarukan. Bukti ini... adalah hukuman mati bagi The New Oasis."

Arum menekan tombol pengiriman data ke Mahkamah Internasional dan Greenpeace Global. Namun, saat transmisi mencapai 90%, sebuah peluru melesat menghancurkan antena satelit di atap mobil mereka.

Kolonel Malik berdiri di atas bukit pasir, memegang senapan jarak jauh. Wajahnya tertutup debu, tapi matanya menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan Arum pergi dengan "angka" yang bisa menghancurkan kerajaan mininya.

"Permainan angka Anda berakhir di sini, Arum," suara Malik terdengar dingin melalui pengeras suara. "Di gurun ini, tidak ada yang bisa mendengar audit Anda jika Anda terkubur sepuluh meter di bawah pasir."

Arum menatap Baskara, lalu menatap sisa baterai laptopnya. "Mas, ingat apa yang kubilang soal 'Audit tanpa jejak'? Sepertinya kita harus menggunakan cara lama."

Arum mengambil tabung sampel air itu dan melemparkannya ke arah kerumunan suku nomaden yang mulai mengepung fasilitas Malik. Di dalam tabung itu, Arum telah menyelipkan sebuah mikrokontroler GPS yang akan terus memancarkan koordinat air tersebut ke seluruh dunia.

"Kolonel!" Arum berteriak. "Buktinya sudah ada di tangan pemilik sah tanah ini! Jika Anda membunuh kami, Anda hanya akan mematikan sinyalnya, tapi Anda tidak bisa mengambil kembali kebenaran yang sudah mengalir!"

1
Ris Tanti
seperti sebuah kisah nyata..
Wanita Aries
keren thor
Wanita Aries
seruu dan menegangkan
Wanita Aries
keren thorr
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!