Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
"Aku Anjani Rosalinda Harvey," Anjani menekan kata Harvey di ucapan terakhir seolah ia menegaskan bahwa ialah putri kesayangan keluarga Harvey dan tak akan ada yang lain.
"Aku Aurora Bellazena," balasnya, dia tak menggunakan nama Harvey karena Aurora sadar marga itu tak cocok dengan namanya.
Baskara menepuk pelan pundak Aurora hingga membuat gadis itu melirik sekilas.
"Namamu Aurora Bellazena Harvey," tegas Baskara, karena bagaimana pun gadis itu putri kandungnya.
Aurora tak bereaksi, ia tak begitu suka dan merasa nama itu hanya sebuah formalitas untuk statusnya sekarang.
Sedangkan Anjani, dia menatap tak suka pada Aurora. Namun, itu hanya sesaat sebab setelah itu wajahnya kembali menunjukkan sikap lembut dan anggun seperti biasa seolah ia tak masalah dengan kehadiran Aurora di tengah-tengah mereka.
Sekarang Adeline dan Baskara akan menunjukkan kamar dan beberapa ruangan di rumah itu agar Aurora tak tersesat.
"Nak, ini kamar Kakak Aruna, dan itu Kamar Kak Keynen, dan yang tengah itu kamar Anjani," kata Adeline, dia menunjukan beberapa kamar yang ada di lantai dua.
"Lalu kamar saya?" tanyanya, tanpa basa-basi.
"Kamar kamu, mari ikut Mama!" ucap Adeline.
Aurora menyentuh tangan Adeline, dia menatap sang Mama dengan wajah polos.
"Ada apa, Nak?" tanya Adeline, sentuhan Aurora menggetarkan jiwa keibuannya yang selama ini tak ia rasakan pada Anjani.
"Bisa aku melihat kamar Anjani?" tanya Aurora, binar polos dari matanya membuat Adeline tak bisa menolak.
"Iya, ayo!" Adeline setuju,
sedangkan Anjani yang mendengar itu meradang, dia menggeram dalam hati karena sang Mama begitu baik pada Aurora.
'Mama kenapa sih?' batin Anjani kesal yang hanya bisa ia tunjukkan di dalam hati.
Mereka semua mengikuti langkah Aurora yang akan di bawa oleh Adeline ke kamar Anjani, ada Aruna yang juga ikut serta, dia belajar untuk menerima Aurora karena bagaimana pun gadis itu adiknya.
Pintu kamar berwarna caramel itu di buka, suasana tenang dan harum vanilla tercium oleh mereka, Aurora merasakan aroma milik Anjani melekat di dalam kamar itu.
"Kamarnya besar dengan balkon dan ventilasi yang bagus," puji Aurora, ada makna tersembunyi di balik lontaran pujian itu.
Dan Anjani jelas tahu, pujian itu di lontarkan karena mungkin saja gadis bernama Aurora itu ingin memiliki kamarnya, 'Kau tidak akan bisa!' pikir Anjani, ia yakin kedua orang tuanya tak akan memberikan kamar itu pada Aurora.
"Kau suka? Jika iya, Mama akan desain kamar persis seperti ini untuk mu!" ucap Adeline.
"Tidak perlu, saya mau kamar ini, apa boleh?" permintaan itu sederhana. Namun, jika Adeline dan Baskara menerima maka ada Anjani yang sakit hati.
"Nak, ini milik Anjani, kamu bisa memilih kamar lain, dan akan kita rubah kamar itu seperti apa yang kamu mau, bolehkan?" bujuk Adeline.
"Tidak, aku suka kamar ini, sebab sejak kecil aku menginginkan memiliki kamar mewah seperti ini, andai saja saya dan Anjani tak tertukar maka mungkin saya tak perlu memohon," tatapan sendu yang di perlihatkan oleh Aurora membuat Adeline dan Baskara terhenyak.
"Nak."
"Tidak apa, saya akan pilih kamar yang lain dan kamar ini tetap akan menjadi milik Anjani!" kata Aurora sendu.
"Ma, kalau Aurora ingin kamar ini maka berikan saja! Aku tak apa memilih yang lain," kata Anjani, dia melakukan itu agar orang tuanya tau ia bisa mengalah juga.
Adeline menatap sang Suami seolah ia meminta pendapat yang menurut ia tak akan salah.
Baskara mengangguk, seolah ia setuju apa yang sang istri yakini sebagai pilihan terbaik.
"Ma, aku tak apa jika Aurora ingin kamar ini," tatapan polos dari Anjani membuat Aruna Kasihan.
"Dek, ini kamar mu, dan orang yang baru masuk tak bisa mengusir kamu dari sini!" Aruna berujar sinis sambil menatap Aurora.
"Kak, tidak apa, aku ini bukan bagian dari kalian, jadi wajar jika Aurora ingin mengambil semuanya!" kata Anjani sendu.
"Jangan bicara aku ingin mengambil semuanya, Anjani, karena kau tahu jelas sebenarnya bukan itu maksudku," balas Aurora agak sinis.
Ia ini tak bisa di sindir karena kehidupan gelap dan kekerasan di sepanjang 17 tahun hidupnya adalah sesuatu yang lebih keras dari pada sindiran mereka semua.
"Ak-"
"Sudah, jika kau tak rela maka aku akan mencari kamar yang lain, kamar pelayan di kamar ini pun tak apa, sebab kamar pelayan pun jauh lebih baik dari pada kamar saya sebelumnya," ucap Aurora tulus dan yakin.
Namun, perkataan itu justru membuat Adeline dan Baskara merasa tak enak juga sedih.
'Itukah kehidupan yang putri kandung mereka alami?' pikir Adeline dan Baskara.
"Nak, kamu akan tinggal di kamar ini!" ucapan Adeline membuat Anjani terkejut.
DEGH!
"Ma," Anjani akan protes.
"Nak, tak apakan? Mama akan pilihkan kamar yng bagus lagi untuk mu, ya!" bujuk Adeline pada sosok Anjani.
"Tapi, Ma? Semua barangku ada di sini, jadi butuh waktu untuk pindah," kata Anjani ia tak rela menyerahkan kamar ini pada Aurora, tadi ia hanya berusaha membuat Aurora terlihat jelek dan serakah.
"Nak, akan ada pelayan yang mengeluarkan barang mu untuk di pindahkan, bisakan kali ini mengalah?" mohon Adeline.
Anjani walaupun tak rela ia hanya bisa setuju, dirinya menatap Aurora kesal dan umpatan juga sumpah serapah hanya bisa ia ucapkan di dalam hati.
Sedangkan Aurora hanya diam, ia tak bereaksi. Namun, di dalam hatinya jelas ia bersorak karena bagaimana pun semua hal di rumah ini yang tadinya milik Anjani akan ia ambil secara perlahan.
...****************...
Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Di dalam kamar temaram, hanya lampu tidur yang menyala sebagai penerangan di kamar luas itu.
Aurora menatap pada lampu tidur, ponsel di tangannya tergenggam erat dan tak lama menyala menimbulkan bunyi nyaris notifikasi pesan masuk.
Namun, tak lama ponsel berdering kencang membuat Aurora hanya memandang tenang ponsel itu.
Tak lama, ia menjawab panggilan itu,"Halo!" sapa Aurora.
"Rora, bagaimana keadaan mu?" seseorang di sebrang sana bertanya.
"Aku baik, kau mengkhawatirkan aku, kah?" tanya Aurora, dia menyentuh beberapa bunga yang ada di pojok kamar.
"Untuk apa mengkhawatirkan kamu, Rora? Harusnya mereka yang perlu di khawatir kan karena berani membawa kamu kembali," ungkapan orang di sebrang sana membuat Aurora mengulas senyum tipis.
Mereka mengobrol sebentar, sebelum akhirnya panggilan berakhir begitu saja.
Aurora menatap, ada pantulannya di cermin hias di kamar itu, sekarang kamar itu miliknya dan ini adalah impian yang tak pernah terduga.
"Di cinta atau tidak, aku hanya butuh status keluarga Harvey saja," monolog Aurora dengan senyum smirk, tak ada lagi tatapan polos dan yang ada hanya kelicikan yang terpancar jelas.
selalu d berikan kesehatan😄