NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Darah yang Sama

Rumah tua itu berdiri diam di lereng yang lebih tinggi dari kota Gunung Salak, seolah sengaja menjauh dari peradaban. Dari kejauhan, bangunannya tampak seperti bayangan gelap yang menempel pada kontur gunung, setengah tersembunyi oleh kabut yang turun perlahan saat malam semakin pekat. Dindingnya terbuat dari kayu lapuk berlapis papan biasa, warnanya memudar menjadi abu-abu kusam. Beberapa bagian papan retak dan melengkung, dimakan usia, hujan, dan dingin yang tak pernah benar-benar pergi dari wilayah ini.

Tidak ada penjagaan. Tidak ada suara binatang. Tidak ada cahaya terang yang menandai kehidupan. Hanya satu lentera kecil yang menggantung di teras depan, rantainya berderit pelan saat tertiup angin gunung. Cahayanya kuning redup, berayun tidak stabil, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergerak di dinding rumah seperti makhluk hidup yang mengintai.

Bella Shofie berdiri di dalam rumah itu.

Punggungnya menghadap pintu, tubuhnya tegak namun tidak kaku. Pistol kecil tersembunyi rapi di balik jaket gelap yang dikenakannya, mudah diraih hanya dengan satu gerakan cepat. Napasnya teratur, terlatih, hasil dari bertahun-tahun hidup dalam ancaman. Namun pikirannya tidak setenang itu. Sejak menginjakkan kaki di wilayah Gunung Salak, instingnya tidak pernah berhenti berteriak. Ada sesuatu yang salah. Terlalu sunyi. Terlalu mudah.

Lantai kayu di bawah sepatunya mengeluarkan bunyi berderit halus setiap kali ia menggeser berat badan. Bau lembap kayu tua bercampur dengan aroma debu dan sesuatu yang lebih samar—bau tempat yang pernah menyimpan rahasia, darah, dan ketakutan.

Langkah kaki terdengar dari luar.

Pelan, terukur, tidak tergesa. Bukan langkah pemburu, bukan pula langkah orang yang ingin bersembunyi. Namun justru itulah yang membuat bulu kuduk Bella meremang.

Dalam sepersekian detik, Bella berbalik cepat, tangannya sudah siap.

Marlin Shofie berdiri di ambang pintu.

Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, rambutnya sedikit berantakan karena angin gunung. Ia tidak membawa senjata di tangan, tetapi Bella tahu itu tidak berarti apa-apa. Di dunia mereka, senjata jarang terlihat sebelum digunakan. Cahaya lentera menyentuh wajahnya sebagian, meninggalkan separuh lainnya dalam bayangan.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang bicara.

Hanya dua pasang mata yang saling menatap—terlalu mirip untuk disebut kebetulan. Bentuk mata itu, sorotnya, cara alis sedikit tertarik saat waspada. Bahkan ekspresi dingin yang berusaha disembunyikan di balik kendali diri.

“Kamu…” Marlin membuka suara lebih dulu. Suaranya rendah, berhati-hati, seolah satu kata yang salah bisa memicu tembakan.

“Kamu bukan musuh di sini, Bella.”

Bella mengangkat pistolnya setengah inci, cukup jelas sebagai peringatan.

“Jangan sebut namaku,” katanya dingin. “Kamu tidak berhak.”

Marlin melangkah masuk perlahan, telapak tangannya terangkat memperlihatkan ia tidak berniat menyerang. Gerakannya sengaja dibuat lambat, menenangkan, meski matanya tetap tajam mengamati setiap detail gerak Bella.

“Aku tidak datang untuk bertarung,” katanya.

Bella terkekeh pendek, tanpa humor. Ada rasa getir di sana.

“Semua orang di Gunung Salak bilang begitu,” balasnya. “Sebelum mereka mencoba membunuh.”

Marlin menelan ludah. Ia melangkah satu langkah lagi, cukup dekat hingga cahaya lentera menyorot wajah mereka berdua dengan jelas. Kini, kesamaan itu tidak bisa lagi diabaikan. Bentuk rahang yang tegas, garis hidung, bahkan lipatan halus di sudut alis saat mereka menyipitkan mata. Seperti melihat cermin yang retak.

“Kamu adalah kembaranku, Bella,” ucap Marlin akhirnya, suaranya lebih berat.

“Kita terpisah sejak umur lima tahun.”

Kata-kata itu menghantam Bella seperti pukulan keras ke dada.

Sejenak, dunia terasa berhenti. Suara angin di luar menghilang. Bau kayu tua lenyap. Hanya ada gema kalimat itu di kepalanya, berulang, menolak pergi.

“Bohong,” jawab Bella cepat, tanpa ragu. Suaranya tegas, dingin, seolah ia sedang menembak musuh dengan kata-kata.

“Kamu cuma mencoba mengacaukan pikiranku.”

Marlin menggeleng pelan. Tidak marah. Tidak tersinggung. Hanya lelah.

“Tidak,” katanya. “Aku tahu kamu tidak akan percaya. Tapi dengarkan aku. Sekali ini saja.”

Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengangkat beban lama dari dadanya.

“Waktu kita berumur lima tahun,” lanjutnya, suaranya semakin berat,

“Ayah kita, Haikal Sopin, memutuskan untuk pergi. Dia tidak ingin lagi terlibat dengan apa yang dilakukan kakek kita, Michel Sopin.”

Bella menggenggam pistolnya lebih erat. Jari telunjuknya memutih.

“Pembunuhan,” lanjut Marlin, tanpa ragu menyebutkannya.

“Perdagangan manusia. Menjual orang keluar negeri seperti barang. Ayah menentangnya. Dia mencoba menghentikan semua itu.”

Marlin menatap mata Bella, memastikan setiap kata sampai.

“Dan karena itu, dia dianggap pengkhianat.”

Tubuh Bella terasa dingin, seolah darahnya mengalir lebih lambat.

“Dia membawa kamu,” kata Marlin pelan.

“Bukan aku. Kamu yang dibawa pergi malam itu. Aku ditinggalkan.”

Nama itu—Haikal Sopin—menggema di kepala Bella seperti ledakan yang tertahan selama bertahun-tahun. Nama yang selama ini hanya muncul dalam potongan ingatan samar, mimpi buruk tanpa wajah, dan rasa kehilangan yang tak pernah bisa ia jelaskan.

“Kalau begitu…” suara Bella sedikit bergetar, meski matanya tetap tajam,

“kakekmu adalah Michel Sopin.”

Marlin mengangguk perlahan.

Hening kembali menyelimuti ruangan.

“Berarti kamu salah satu pembunuh ayah juga?” tanya Bella datar, suaranya seperti pisau tipis yang dilumuri racun.

Marlin terkejut. Ia menggeleng cepat.

“Tidak—tidak seperti yang kau bayangkan, Bella,” katanya, mencoba mendekat satu langkah.

“Aku tidak pernah terlibat dalam pembunuhan ayah. Aku bersumpah.”

Bella mundur satu langkah. Jarak di antara mereka kembali terbuka, dipenuhi ketidakpercayaan.

“Cukup,” katanya.

“Semua orang di sini punya sumpah. Tapi darah di tangan mereka tetap nyata.”

Marlin menghela napas. Wajahnya menunjukkan frustrasi, juga luka yang sudah terlalu lama disimpan.

“Aku tidak memintamu percaya sekarang,” katanya pelan.

“Tapi aku tidak akan menyakitimu.”

Di tempat lain, jauh dari rumah kayu tua itu, Michel Sopin duduk di kursi besarnya. Ruangannya sunyi, dingin, tertata rapi seperti pikirannya. Lampu meja menerangi wajahnya yang keras tanpa emosi. Telepon menempel di telinganya.

“Bunuh kedua orang itu,” ucapnya tajam.

Panggilan terputus.

Di luar rumah tua, langkah kaki cepat mendekat, lebih dari satu. Ada pergerakan di balik pepohonan. Bayangan bergerak cepat. Sesuatu melayang dari arah gelap—logam kecil berputar di udara, memantulkan cahaya lentera sesaat sebelum jatuh.

Marlin menoleh.

“Bella—!”

Ledakan menghantam rumah itu.

Api menyembur. Kayu tua terlempar. Suara dentuman memecah malam Gunung Salak. Dunia berubah menjadi panas, terang, dan bising dalam satu detik singkat.

Marlin berlari dan menjatuhkan tubuhnya ke arah Bella, memeluknya erat, membalikkan badan mereka. Ledakan kedua menyusul, lebih dekat. Panas menyengat kulit. Tekanan menghantam telinga. Dunia seperti berhenti sejenak.

Ketika debu mulai turun dan suara dentuman mereda, Bella masih hidup.

Di atasnya, Marlin terdiam.

Tubuhnya hangus terbakar. Kulitnya menghitam. Bau daging terbakar memenuhi udara. Tangannya masih melindungi Bella, seperti naluri yang menolak berhenti bahkan setelah nyawa pergi.

“Marlin…” suara Bella pecah.

Ia mendorong tubuh itu perlahan. Tangannya gemetar. Dadanya terasa sesak. Matanya panas, tetapi ia tidak menjerit.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Bella Shofie menangis—tanpa suara, tanpa kendali.

“Maaf…” bisiknya.

“Aku tidak percaya…”

Teriakan dan langkah kaki mulai terdengar dari kejauhan. Waktu hampir habis.

Bella berdiri.

Ia tidak menoleh lagi.

Ia berlari—menaiki jalur yang lebih tinggi, menuju rumah lain yang lebih jauh, lebih gelap, bersembunyi di antara kabut Gunung Salak.

Tangannya gemetar saat meraih ponsel.

“Madam,” ucapnya ketika sambungan tersambung.

“Saya harus membunuh semuanya.”

Suaranya tidak lagi ragu. Tidak lagi gemetar.

Hanya dingin.

Di ujung sana, Madam Doss terdiam sejenak. Ia menghisap rokoknya perlahan, lalu menghembuskan asap ke udara.

Malam di Gunung Salak kembali sunyi.

Namun darah yang sama telah memilih jalannya.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!