Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Siang itu, suasana terasa sepi, Nara masih memakai handbody setelah mandi, rasanya begitu segar setelah jalan pagi tadi. Di saat semua penghuni rumah ini lengkap, tiba-tiba saja suara motor berhenti di depan rumah. Nara yang sudah selesai dengan badannya langsung keluar kamar menegang, di saat melihat penampakan gagah itu berdiri di depan pagar bambu.
Mbah Narsih melongok ke luar.
“Pak RT.”
Albi keluar lebih dulu. Menyambut dengan sopan.
“Ngapunten, Pak. Monggo pinarak rumiyin,” kata Albi sambil mempersilakan Pak RT masuk.
(Permisi, Pak. Silakan masuk dulu.)
Pak RT duduk di kursi kayu. Raut wajahnya tidak galak, namun terlihat serius.
“Nyuwun pangapunten kula rawuh dadakan kados niki,” ujarnya pelan.
(Maaf saya datang mendadak seperti ini.)
“Ana kabar sing sampun sumebar. Kula perlu mesthekake langsung, supados mboten dados fitnah.”
(Ada kabar yang sudah beredar. Saya perlu memastikan langsung supaya tidak menjadi fitnah.)
Nara menunduk. Tangannya terasa dingin. Ia tahu ke arah mana percakapan ini akan berjalan.
“Statusipun Mbak Nara punika kados pundi, Bi?” tanya Pak RT hati-hati.
(Status Mbak Nara ini bagaimana, Bi?)
“Amargi wonten sing ngendika menawi dereng pegatan resmi.”
(Soalnya ada yang bilang belum cerai resmi.)
Albi tidak menoleh ke arah Nara. Ia menjawab dengan suara tenang.
“Sampun pegatan sah, Pak. Wonten putusan pengadilan. Serat-serate jangkep.”
(Sudah cerai sah, Pak. Ada putusan pengadilan. Surat-suratnya lengkap.)
Pak RT mengangguk pelan.
“Lajeng babagan kandunganipun?”
(Lalu soal kandungannya?)
Hening sejenak. Albi menarik napas dalam, lalu berkata tanpa ragu.
“Bayi punika badhe kula tanggung jawab.”
(Anak itu akan saya tanggung jawabkan.)
Nada suaranya bukan pembelaan, melainkan ketegasan seseorang yang sudah mengambil keputusan itu jauh dari hari yang lalu.
Pak RT menatap Albi cukup lama.
“Yen mekaten, langkung becik statusipun ugi dipun cethaaken.”
(Kalau begitu, sebaiknya statusnya juga diperjelas.)
Albi mengangguk mantap.
“Inggih, Pak. Punika ugi niat kula.”
(Iya, Pak. Itu juga niat saya.)
Di sudut ruangan, Nara memejamkan mata. Ada kelegaan yang jatuh perlahan di dadanya. Untuk pertama kalinya, ia mendengar seseorang menjawab pertanyaan dunia tanpa menunggu dirinya disudutkan lebih dulu.
“Inggih menawi mekaten, enggal-enggal dipun urus serat-serate,” ujar Pak RT sebelum berdiri.
(Kalau begitu segera urus surat-suratnya.)
“Supados kabar punika mboten ngrembaka mrana-mrene.”
(Supaya kabar ini tidak melebar ke mana-mana.)
"Inggih Pak, sak cepete, Kulo usahakno," pungkas Albi.
(Iya Pak, secepatnya akan saya usahakan.)
Pak RT, pamit dan Albi pun mempersilahkan dan mengantar pria gagah itu sampai ke depan, tidak ada tindakan atau desakan berlebihan, Pak RT hanya menegur dengan penuh ketegasan.
Setelah kepergian Pak RT, tadi semuanya dibicarakan dengan baik dan hening, tidak ada suara berisik dari manapun, dan Albi pun mencoba berbicara itu dengan pelan dan hati-hati dengan Nara.
"Ra," panggilnya pelan. "Kamu tahu kan, barusan Pak RT kesini," ujar Albi akhirnya.
Nara mengangguk tatapannya teduh. "Aku tahu, dan cepat atau lambat, anak ini memang butuh perlindungan," sahut Nara.
Albi menatap Nara, lalu beralih ke perut yang sedikit menonjol itu. "Kalau kamu sudah tahu, ijinkan aku menikahimu, jika diantara kita berdua masih belum ada rasa cinta, setidaknya status bayimu diakui," ungkap Albi.
Nara tertunduk, air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh juga. "Aku tidak tahu harus berbicara seperti apa, yang jelas aku berterima kasih banyak pada kamu," sahut Nara.
"Tidak usah berterima kasih, aku hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja," kata Albi.
Nara pun mengangguk, dadanya yang tadi penuh, kini perlahan menghangat, dengan sebuah keputusan yang tidak pernah dirancang di dalam otaknya.
"Lalu bagaimana dengan keluargamu?" tanya Albi hati-hati.
Nara terdiam. "Sebenarnya tiga hari yang lalu saat kamu berbicara tentang anakku, aku diam-diam menghubungi ayahku, awalnya dia kecewa dengan perceraianku," ungkap Nara. "Dan setelah aku ceritakan semua, tentang rumah tangga dan kehamilan yang aku sembunyikan, akhirnya dia mengerti," ujar Nara.
"Baiklah, kalau gitu nanti kita telepon lagi, agar beliau bisa hadir menjadi wali di pernikahan kita nanti," sahut Albi.
Nara mengangguk, tatapan keduanya bertemu, masih canggung, namun ada yang menghangat di dalam hati keduanya.
☘️☘️☘️☘️
Dua Minggu kemudian, setelah meyakinkan hati kedua orang tua Nara, dan juga mengurus surat surat, akhirnya hari yang dinantikan datang juga.
Pagi itu datang tanpa tanda istimewa.
Tidak ada hiasan. Tidak ada bunga segar yang sengaja dipetik. Hanya halaman rumah yang disapu lebih bersih dari biasanya, dan kursi-kursi kayu disusun rapi di teras.
Nara duduk di kamar. Kebaya sederhana membalut tubuhnya. Tidak ada riasan tebal, hanya bedak tipis dan lipstik pucat. Tangannya gemetar saat merapikan kain di pangkuan.
Ini bukan hari yang ia impikan sejak kecil.
Tapi ini hari yang ia pilih dengan sadar.
Di luar, suara Pak Lurah terdengar pelan. Beberapa warga datang tanpa banyak tanya. Mereka tidak bersorak, tidak pula berbisik. Seolah semua memahami, ini bukan tentang perayaan, tapi tentang penetapan.
Albi duduk di ruang tengah. Kemeja putihnya disetrika rapi. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sebentar lagi akan mengucapkan akad.
Ayah Nara datang sendiri, tanpa didampingi istrinya ataupun mantan istri yang merupakan ibu kandung Nara sendiri, ia mempunyai alasan baku, terlalu sibuk sehingga lupa jika Nara juga anaknya.
Mbah Narsih menghampirinya, suaranya lirih namun dalam.
“Le… iki dalan gedhe. Sampeyan siap?”
Albi mengangguk tanpa ragu. “Inggih, Mbah. Kulo wis mikir adoh.”
Bukan karena cinta. Bukan karena paksaan.Tapi karena ia tahu, ada tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.
☘️☘️☘️☘️☘️
Saat Nara melangkah keluar kamar, semua mata menoleh. Ia menunduk, bukan karena malu, tapi karena menahan getaran di dadanya.
Ia duduk di tempat yang disiapkan. Berhadapan dengan Albi. Jarak mereka tidak dekat, tapi cukup untuk saling melihat jelas.
Tatapan Albi tidak berubah. Tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Tenang. Siap.
Pak Lurah membuka prosesi dengan suara mantap. Kata demi kata mengalir sederhana, tanpa tambahan yang mengada-ada.
Lalu tiba saatnya. tangan Albi dijabat oleh ayah Nara. lelaki itu mengucapkan ijab kabulnya sekali napas. Suaranya tidak bergetar. Jelas. Tegas. Seolah ia sudah mengulang kalimat itu berkali-kali di kepalanya sebelum hari ini datang.
Saya terima nikahnya Anara Putri Soeherman, binti Abdillah Soeherman dengan mas kawin tersebut tunai.'
“Sah.” kata penghulu memastikan.
"Sah ... Sah ... Sah ....," sahut para tamu yang diundang.
Satu kata itu jatuh di antara mereka. Tidak ada air mata bahagia yang tumpah. Tidak ada pelukan spontan. Hanya tarikan napas panjang dari dada Nara yang sejak tadi terasa sempit.
Ia resmi menjadi istri, bukan karena dicintai, tapi karena dipilih untuk dijaga, justru itu sangat berarti, bagi Nara, dari pada yang diawali dengan cinta hingga akhirnya saling menyakiti satu sama lain.
☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah semua selesai, warga pamit satu per satu. Beberapa tersenyum, beberapa hanya mengangguk. Tidak ada ucapan selamat yang berlebihan.
Rumah kembali sunyi. Nara berdiri di dekat jendela. Albi masih duduk, melepas pecinya perlahan.
“Terima kasih,” ucap Nara pelan. Bukan sebagai istri, tapi sebagai seseorang yang tahu ia tidak lagi sendirian.
Albi mengangguk. “Aku tidak janji jadi suami yang hangat,” katanya jujur. “Tapi aku janji… kamu dan anak itu aman.”
Nara menoleh. Matanya basah, tapi tidak jatuh. “Itu sudah lebih dari cukup,” jawabnya.
Di antara mereka tidak ada kata cinta. Tidak ada janji masa depan yang muluk. Hanya dua orang dewasa yang berdiri di keputusan yang sama.
Dan sejak hari itu, ketika dunia bertanya pelan siapa ayah dari anak yang ada di rahim Nara, Ia tidak lagi menunduk.
Karena di sampingnya, ada seorang lelaki yang berdiri tanpa ragu. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai penyelamat. Tapi sebagai ayah yang dipilih.
Dan tanpa mereka berdua sadari, dari sudut ruangan ayah Nara menatap anaknya yang kembali menikah untuk kedua kalinya. Sebagai ayah ia sadar, tidak pernah ada waktu untuk anaknya itu sejak kecil, dan kenapa setelah ia mempercayakan sang anak pada Ardan yang dianggap bisa membahagiakan ternyata tidak.
"Kenapa nasib mu harus sama seperti ayah," gumamnya dengan nada getar seperti menahan tangis. "Maafkan atas sebuah waktuku yang tak pernah ada untukmu," ungkapnya kembali sambil menatap Nara dari arah jauh.
Bersambung ....
Kasih komen dong Kak biar rame lapakku