“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Di dalam kamarnya, Yura menutup pintu perlahan lalu menyandarkan punggung ke daun pintu itu. Napasnya terhela panjang bukan karena lelah, melainkan lega.
Kata-kata Shasmita terus berputar di kepalanya, dan bibir Yura melengkung ke atas tanpa paksaan.
Tuan Arga dan Nona Shasmita akan segera mengumumkan pertunangan mereka. Itu berarti satu hal yang sangat jelas bagi Yura, kontrak itu akan segera berakhir. Enam bulan yang tersisa mungkin tak perlu ia jalani sepenuhnya. Begitu Shasmita resmi berdiri di sisi Arga sebagai calon istri sah, posisi pengganti seperti dirinya tak lagi dibutuhkan.
Yura berjalan ke arah jendela, menatap halaman luas kediaman Pradipta.
Ponselnya bergetar di tangan.
[Nona, keluarga Wijaya kembali mengirim email. Mereka mengajukan kerja sama strategis, nilainya cukup besar. Bagaimana keputusan Anda]
Tatapan Yura langsung mengeras. Senyum tipis di wajahnya memudar, digantikan kilatan dingin yang tajam.
Mendengar nama wijaya saja sudah cukup membuat dadanya sesak. Bayangan Putri, senyum licik, tatapan merendahkan, live memalukan itu, semuanya kembali memenuhi kepalanya.
Yura menunduk, jemarinya mengetik tanpa ragu.
[Tolak.]
Tak sampai sedetik, Mario membalas.
[Tanpa negosiasi? Ini bisa membuka banyak akses internasional.]
Yura tersenyum kecil, kali ini penuh sinisme.
[Aku tidak butuh akses dari keluarga yang busuk dari dalam. Tolak dengan sopan. Jangan beri celah apa pun.]
Beberapa detik kemudian.
[Baik, Nona. Akan saya urus.]
Yura mengunci ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Aku membenci keluarga Wijaya,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Terutama Putri.”
Ia tahu, menolak kerja sama sebesar itu akan mengundang tanda tanya di kalangan pebisnis. Namun, Yura tak peduli, ada prinsip yang tak bisa dibeli dengan angka, sebesar apa pun nilainya.
Seseorang berdiri tepat di balik pintu kamar itu. Sky, di tangannya, sebuah kotak kecil berisi aroma terapi lavender yang sejak tadi ia genggam. Sejak pagi Yura terus mengeluh pusing, dan Sky berpikir mungkin wangi menenangkan itu bisa sedikit membantunya tidur lebih nyenyak. Ia bahkan sudah mengangkat tangan, bersiap mengetuk pintu.
Namun, niat itu terhenti, suara Yura terdengar jelas dari dalam kamar, tegas, dingin, dan penuh penolakan. Nama Wijaya terucap, disusul kalimat singkat yang membuat Sky mengerutkan dahi.
Sky menurunkan tangannya perlahan.
Raut wajahnya berubah serius. Ada sesuatu yang tak beres dan instingnya, yang selama ini jarang meleset, langsung bekerja.
Nama Hans terlintas di benaknya tanpa diminta. Sky menatap pintu kamar Yura lama, seolah kayu itu bisa memberinya jawaban. Ia tahu Hans bukan pria biasa. Terlalu banyak rahasia, terlalu banyak langkah tersembunyi. Dan jika Hans benar-benar mulai menargetkan Yura, bukan tak mungkin Shasmita akan disingkirkan.
Pemikiran itu membuat rahang Sky mengeras. Kalau sampai itu terjadi, semuanya akan kacau. Tangannya menggenggam kotak aroma terapi lebih erat.
Sky memilih pergi tanpa mengetuk pintu, meninggalkan aroma terapi itu di atas meja kecil di lorong.
Sky kembali turun ke lantai bawah dengan langkah tenang, meski pikirannya masih tertinggal di depan pintu kamar Yura. Di ruang keluarga, Arga dan Shasmita masih duduk berdampingan di sofa, beberapa majalah perhiasan terbuka di meja. Kilau berlian dan cincin pertunangan memenuhi halaman-halaman itu, seolah menjadi simbol masa depan yang sudah mereka sepakati.
Arga mendongak lebih dulu ketika menyadari kehadiran Sky.
“Kamu sudah turun,” katanya singkat, lalu melirik ke arah majalah sebelum kembali menatap Sky.
“Tuan Sky, apa kamu sudah punya wanita yang kamu cintai?”
Pertanyaan itu membuat Shasmita ikut tersenyum. Ia menutup salah satu majalah dan mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Kata Shasmita, kamu sedang dekat dengan seorang perempuan,” ucapnya santai, tapi matanya menyimpan selidik.
“Bagaimana kalau pertunangan kita adakan bersama? Sekalian meriah.”
Sky tertawa kecil, suara tawanya ringan, tapi tidak sampai ke matanya. Ia menyelipkan kedua tangan ke saku celana, mencoba terlihat santai.
“Pertunangan bersama?” ulangnya pelan. “Kedengarannya terlalu cepat.”
Dalam hatinya, Sky sendiri belum menemukan jawaban. Sampai detik ini, ia bahkan belum yakin apakah Yura benar-benar layak untuk diperjuangkan. Ada terlalu banyak kemungkinan buruk, terlalu banyak nama yang bisa saling melukai.
Yura bisa saja menjadi duri, duri di antara Hans dan Shasmita.
Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak. Ia tak ingin menjadi pemicu kekacauan, apalagi jika semuanya berujung pada luka yang lebih dalam.
Sky melirik ke arah Shasmita. Tatapan singkat itu cukup, Shasmita menangkap kegamangan di mata kakaknya, keraguan yang jarang ia tunjukkan. Senyum di wajah Shasmita sedikit memudar, digantikan ekspresi paham.
'Ada sesuatu yang kau sembunyikan, Kak Sky.'
Namun, ia memilih diam dan kembali menatap majalah itu bersama dengan Arga.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂