NovelToon NovelToon
Puteri Pengganti Untuk Pangeran Buruk Rupa

Puteri Pengganti Untuk Pangeran Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.

Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Jeruji Besi

Wajah Xiao Xiao mengeras seketika. Ia tidak menunggu instruksi Zhi Chen dan langsung berlari menuju kamar rahasia di bawah paviliun. Zhi Chen mengikuti di belakangnya dengan langkah lebar, pedangnya sudah terhunus, siap membelah siapa pun yang menghalangi.

​Begitu sampai di bawah, bau amis darah menyengat hidung. Kamar yang tadinya menjadi tempat persembunyian Selir Agung kini berantakan. Cangkir obat yang diberikan Xiao Xiao pecah berkeping-keping di lantai.

​Di dinding batu yang dingin, terdapat tulisan merah pekat yang masih basah, ditulis dengan jari:

"Tikus tidak bisa bersembunyi dari elang."

​"Sial!" geram Zhi Chen. Ia memeriksa pintu rahasia. "Tidak ada bekas congkelan paksa. Siapa pun yang masuk ke sini, dia tahu mekanisme pintu ini."

​Xiao Xiao berlutut, menyentuh tulisan darah itu. Ia mencium baunya, lalu menggosokkannya di ujung jari. "Pangeran, ini bukan darah Selir Agung."

​Zhi Chen mengernyit. "Maksudmu?"

​"Darah orang yang baru saja sembuh dari racun Permaisuri akan berwarna sedikit kehitaman dan berbau pahit karena sisa penetral yang aku berikan," jelas Xiao Xiao dengan tenang meskipun hatinya berdegup kencang. "Ini darah segar. Ini adalah darah si penyusup yang sengaja ditinggalkan untuk menakut-nakuti kita. Selir Agung tidak diculik... dia dibawa pergi atau melarikan diri."

​Mao yang berdiri di ambang pintu gemetar hebat. "Tapi Nona, hamba sudah menjaga pintu depan dengan ketat!"

​"Ada jalan keluar lain yang kita tidak tahu," gumam Xiao Xiao. Ia berdiri dan menatap Zhi Chen. "Siapa saja orang yang tahu tentang keberadaan kamar rahasia ini selain kita?"

​Zhi Chen terdiam sejenak, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Hanya orang-orang kepercayaan lama dari pasukan bayanganku. Jika salah satu dari mereka berkhianat, maka seluruh paviliun ini dalam bahaya."

​Malam itu, Istana Wang menjadi sangat sunyi, namun suasananya terasa mencekam. Xiao Xiao tidak bisa tidur. Ia duduk di meja kerja Zhi Chen, menatap peta istana yang ia gambar sendiri.

​Tiba-tiba, suara ketukan halus terdengar dari jendela. Xiao Xiao waspada, ia meraih pisau kecil yang selalu ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Namun, saat jendela terbuka, bukan musuh yang muncul, melainkan seekor burung merpati kecil dengan pita ungu di kakinya.

​Ungu. Warna kesukaan Selir Agung.

​Xiao Xiao segera mengambil gulungan kertas kecil di kaki burung itu. Isinya hanya satu kalimat pendek: "Aku berada di tempat yang paling gelap, di mana matahari tidak pernah terbit. Datanglah sendiri jika kau ingin memenangkan permainan ini."

​"Tempat yang paling gelap..." Xiao Xiao berpikir keras. "Penjara bawah tanah istana utama."

​Tepat saat itu, Zhi Chen masuk ke kamar dengan wajah yang sangat serius. "Xiao Xiao, aku baru saja mendapat laporan. Permaisuri telah menangkap Selir Agung di perbatasan istana dan menuduhnya bekerja sama denganmu untuk meracuni kaisar. Besok pagi, mereka akan mengadakan pengadilan terbuka."

Xiao Xiao meremas kertas di tangannya. "Ini jebakan dua arah. Dia menggunakan Selir Agung untuk menarikku keluar, lalu menghabisi kita berdua di depan umum."

​Zhi Chen mendekat, mencengkeram bahu Xiao Xiao. "Jangan pergi. Ini terlalu berbahaya. Biarkan aku yang menangani pasukan penjara."

***

Tengah malam, dengan mengenakan jubah hitam yang menutupi hanfu-nya, Xiao Xiao menyelinap keluar menuju penjara bawah tanah istana utama. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu berisi emas dan beberapa botol ramuan yang sangat kuat.

​Wajah Xiao Xiao tetap tenang meskipun bau darah dan lembapnya ruang bawah tanah menyengat indra penciumannya. Ia tidak terburu-buru. Baginya, kepanikan adalah musuh terbesar dalam sebuah negosiasi atau peperangan. Di belakangnya, Pangeran Zhi Chen bersiap dengan pedangnya, namun Xiao Xiao menahan lengannya dengan lembut.

​"Pangeran, biarkan saya yang masuk. Jika Anda ikut, mereka akan menyebut ini pemberontakan. Tapi jika saya yang datang sebagai sesama wanita untuk menjenguk kerabat, itu hanyalah kunjungan keluarga," bisik Xiao Xiao dengan nada yang menyejukkan.

​Zhi Chen menatap mata Xiao Xiao yang jernih. "Aku akan berada di balik bayangan. Jika sesuatu terjadi, aku tidak akan peduli lagi pada aturan istana."

​Xiao Xiao mengangguk pelan, lalu melangkah menuju gerbang penjara bawah tanah istana utama. Di tangannya, ia membawa sebuah keranjang rotan kecil yang ditutupi kain sutra—terlihat seperti keranjang makanan, namun di dalamnya tersimpan kepingan emas dan beberapa ramuan yang ia siapkan dengan teliti.

​Di depan gerbang yang berkarat, dua penjaga bertubuh besar menghadang. Xiao Xiao melepaskan tudung jubahnya, menampakkan wajahnya yang anggun dan tersenyum tipis—sebuah senyum yang terlihat tulus namun memiliki maksud tertentu.

​"Tuan-tuan, malam ini sangat dingin. Saya membawakan sedikit arak hangat dan roti jahe untuk kalian," ujar Xiao Xiao dengan suara lembut dan penuh perhatian.

​Penjaga itu saling pandang. Mereka jarang melihat bangsawan yang memperlakukan penjaga penjara dengan sopan santun. "Nyonya, ini area terlarang. Permaisuri melarang siapa pun menjenguk Selir Agung."

​"Saya mengerti tugas berat kalian," sahut Xiao Xiao sembari membuka sedikit penutup keranjang, memperlihatkan kilauan emas di samping botol arak. "Tapi bukankah Permaisuri juga manusia? Beliau pasti mengerti jika saya hanya ingin memberikan penghormatan terakhir pada Selir Agung agar arwahnya tenang. Anggap saja ini tanda terima kasih saya karena kalian telah menjaga keamanan istana dengan baik."

​Kelembutan dan uang emas itu adalah kombinasi mematikan. Penjaga itu luluh. Mereka mengambil koin emas tersebut dan membiarkan Xiao Xiao masuk ke dalam lorong yang hanya diterangi obor remang-remang.

​Xiao Xiao berjalan menyusuri sel hingga sampai di ujung. Di sana, ia melihat Selir Agung dirantai dengan kondisi memprihatinkan. Xiao Xiao berlutut di depan jeruji besi. Ia tidak menunjukkan rasa jijik atau sombong; ia justru mengeluarkan kain bersih dan sebotol air untuk membersihkan wajah Selir Agung dari sela jeruji.

​"Kenapa kau kembali? Kau seharusnya lari," bisik Selir Agung dengan suara serak.

​"Aku tidak meninggalkan mitra bisnisku di tengah jalan," jawab Xiao Xiao pelan sembari memberikan air minum. "Minumlah. Aku sudah menaruh sedikit penguat stamina di dalamnya."

​Namun, saat Selir Agung baru saja membasahi kerongkongannya, sebuah suara tawa yang tajam pecah dari kegelapan lorong di belakang Xiao Xiao.

​Tap. Tap. Tap.

​Langkah kaki yang berwibawa mendekat. Permaisuri muncul dari balik pilar besar, mengenakan jubah kebesaran yang mewah, dikelilingi oleh para pemanah yang sudah menarik busur mereka.

​"Kasih sayang yang sangat mengharukan," sindir Permaisuri dengan mata berkilat puas. "Liu Xiu, kau benar-benar gadis yang terlalu percaya diri. Kau pikir emas bisa membeli semua orang di bawah kendaliku?"

​Xiao Xiao tidak melompat kaget. Ia berdiri perlahan, merapikan hanfu-nya, dan berbalik menghadap Permaisuri dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya tatapan datar yang justru membuat Permaisuri merasa tidak nyaman.

​"Saya tidak membeli mereka, Permaisuri," ujar Xiao Xiao tenang. "Saya hanya meminjam waktu mereka sebentar. Dan sepertinya, waktu itu sudah cukup."

​"Cukup untuk apa? Untuk mati di sini?" tantang Permaisuri. "Para pemanah! Siapkan posisi!"

​Xiao Xiao justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat manis namun penuh ancaman. "Cukup untuk membiarkan Pangeran Keempat menyalin dokumen asli pajak wilayah Barat yang Anda simpan di kamar pribadi Anda, sementara Anda sibuk menemui saya di sini. Bukankah ruangan Anda cukup kosong saat ini?"

​Wajah Permaisuri yang tadinya penuh kemenangan, mendadak berubah pucat pasi. Ia menyadari satu hal , gadis itu sengaja membiarkan dirinya tertangkap di sini agar Permaisuri meninggalkan kamarnya tanpa penjagaan ketat.

​"Kau... kau menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan?" tanya Permaisuri dengan suara bergetar marah.

​"Dalam perdagangan, kadang kita harus melepas sedikit modal untuk mendapatkan keuntungan besar," jawab Xiao Xiao santai sembari melipat tangannya. "Sekarang, apakah Anda masih ingin melepaskan anak panah itu, atau kita bicara soal 'harga' untuk membakar dokumen pajak itu sebelum sampai ke tangan Kaisar?"

​Di balik bayangan, Zhi Chen yang sedari tadi bersiap, tersenyum bangga. Istrinya benar-benar seorang pengatur strategi yang tidak punya rasa takut.

***

Happy Reading❤️

Mohon Dukungan

● Like

● Komen

● Subscribe

● Ikuti Penulis

Terimakasih ^_^ ❤️

1
sahabat pena
ayuk semangat pangeran...
sahabat pena
nyesel deh... tp tangan istri mu yg indah sdh terluka.. kau yg memberi jarak.. skrg gmn reaksi xiao. menjaga jarak jg tdk dgn pangeran
ANWi: bener banget kak ~
total 3 replies
sahabat pena
pangeran nya 4 kemah... mau aja masuk jebakan putra mahkota. kenapa td gudang nya ga dibakar aja xiao?
ANWi: xiao xiao : nanti meledak kak ada bubuk mesiu trs bukti kejahatan nya ilang
total 1 replies
sahabat pena
menegangkan...
sahabat pena
syukur lah terpecah kan. ternyata kaisar nya bijaksana dlm mengambil keputusan... ayuk balas putra mahkota.. guling kan putra mahkota
si kecil nikkey
lanjuuttt mantaapp
si kecil nikkey
lanjuuttt.....ceritanya seruu
ANWi: makasi suda mampir kaka si kecil nikkey~
total 1 replies
si kecil nikkey
liu xiu menuju kesialannya
Murni Dewita
double up thor
ANWi: siap kak~
total 1 replies
sahabat pena
lanjut kak💪
ANWi: siap kak~
total 1 replies
saniamycloe
cerita nya menarik dan membuat saya penasaran untuk melihat part selanjut nya.
ANWi: mkasi ulasan nya ka sania~
total 1 replies
Murni Dewita
👣
Mila Sari
baru baca, udah penasaran ceritanya thor💪
ANWi: makasi sudah mampir kaka cantik~
total 1 replies
sahabat pena
setelah menegangkan... skrg melihat keuwuan mereka berdua.. so sweet. lanjut kak.
ANWi: siap kak~
total 1 replies
sahabat pena
langkah awal menang... masih hrs waspada..lanjut..
sahabat pena
ututututu... pengeran bisa berkata romantis jg😍😍😍
sahabat pena
dag dig ser nih... nunggu cerita berikut nya.. 🤣🤣🤣lanjut kak
sahabat pena
eh kok up nya cuma 1 kak
ANWi: maaf kak, lagi liburan , tanggal merah hehe
total 1 replies
gacadam
suka
gacadam
baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!