"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Rencana Rihana.
Suara alunan musik yang diiringi dengan suara percakapan para tamu pesta mengabur seiring langkah yang Rieta ambil menjauh dari kerumunan pesta. Langkahnya sedikit limbung lantaran ia harus memapah Arlan yang memiliki postur tubuh lebih tinggi serta lebih berat darinya dalam keadaan tidak biasa.
Berulang kali Arlan menggelengkan kepala seolah itu berguna untuk mempertahankan kesadarannya yang mulai memudar. Satu tangannya menarik dasi di lehernya, seolah dasi itu menganggu saluran pernapasannya. Setiap tarikan napasnya berubah berat, dan setiap sentuhan yang Rieta berikan membakar dirinya dari dalam.
"Paman... Berjalanlah dengan benar. Paman berat," gerutu Rieta di tengah usahanya memapah Arlan menuju kamar yang sudah ia pesan.
"Kenapa Paman bisa seperti ini? Bukankah minuman itu tidak mengandung alkohol?"
"Memang tidak," Arlan menjawab dengan suara serak, berusaha mati-matian menahan gejolak yang meledak di dalam dirinya.
"Lalu kenapa Paman menjadi seperti ini?" tanya Rieta membenarkan posisi lengan Arlan di bahunya.
"Itu bukan alkohol... tapi... " Arlan kembali menggelengkan kepala.
"Tapi apa?" tanya Rieta.
"Jangan tanya," jawab Arlan susah payah.
Rieta mendengus. Tetapi rasa khawatir tersirat begitu jelas di wajah Rieta, dan Arlan menyadarinya.
Langkahnya sedikit sulit karena heels yang Rieta kenakan. Ia bahkan terpaksa berhenti sejenak untuk mengatur napas. Menopang agar Arlan tetap berdiri saat tangannya menekan tombol lift, dan bergegas masuk.
Di waktu yang sama, dua orang pria dengan kamera di leher mereka masuk ke dalam lift berbeda, tetapi menuju lantai yang sama dengan yang Rieta tuju.
.
.
.
Beberapa menit sebelumnya.
Bagaimana cara Evan menatap Rieta saat wanita itu datang bersama Arlan membuat hati Rihana memanas.
Rasa tidak rela, tidak terima, dan rasa tidak ingin Evan berpaling darinya menguasai hatinya hingga ia memikirkan rencana yang tidak ia pikirkan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan. Rencana yang sebelumnya sudah ia siapkan sebelum datang ke acara pesta, berkembang menjadi rencana baru yang lebih beresiko.
Ia melangkah mundur perlahan, memastikan Evan tidak menyadari kepergiannya. Meminta salah satu pelayan mendekat menggunakan isyarat jari, menaburkan obat yang ia bawa ke dalam tiga gelas minuman dan mengambil salah satunya, lalu meminta pelayan untuk memberikan dua gelas tersisa pada Rieta dan Arlan.
Sebelumnya, ia berencana menggunakan obat itu hanya untuk Rieta, berniat untuk mempermalukan wanita itu. Tetapi setelah melihat bagaimana Evan beraksi terhadap Rieta, ia ingin menghancurkan hidup Rieta sekaligus membuat Rieta melihat Evan bersamanya untuk menghancurkan hati Rieta
Semua ia lakukan dengan gerakan alami, tidak ada yang menyadarinya, kemudian kembali ke sisi Evan dan memberikan gelas berisi minuman pada Evan.
"Minum ini." Rihana menyodorkan gelas. "Ekspresi wajahmu seperti ingin menelan orang hidup-hidup saja. Apa yang membuatmu kesal?" tanyanya setengah menyindir.
"Bukan apa-apa." jawab Evan menerima gelas yang Rihana sodorkan.
"Aku akan menyapa Rieta sebentar," ucap Rihana melirik Evan yang tidak segera meminum isi dari gelas yang ia berikan.
"Hemm..."
Evan hanya memberikan gumaman tidak jelas, netranya tak lepas dari sosok istrinya. Malam ini, untuk pertama kalinya, ia melihat kecantikan luar biasa dari sosok istrinya.
Lekuk tubuh sang istri yang tampak begitu indah sempurna, belahan gaun yang sesekali memperlihatkan paha berkulit seputih susu, dan lengan terbuka sang istri yang membuat ia ingin menutupinya dari pandangan pria manapun, dan ingin hanya untuk dirinya saja.
Ia melihat Rihana menjauhkan Rieta dari Arlan, melihat Rihana mengatakan sesuatu yang tidak ia dengar, tetapi menumbuhkan senyum manis di bibir sang istri, kemudian melihat Rieta mendekati pamannya yang tiba-tiba bersikap aneh.
"Sialan." Evan mengumpat pelan, mencengkram kuat gelas di tangannya, dan menenggak isi gelasnya sampai tandas.
Dengan kasar, Evan meletakkan gelas kosong ke nampan pelayan, berencana mendekati sang istri untuk menarik wanita itu menjauh dari pamannya yang gagal ia lakukan ketika tiba-tiba tubuhnya merasakan sensasi tidak biasa.
Hawa panas perlahan mulai merayap ke seluruh tubuhnya, pandangannya perlahan mengabur, tubuhnya limbung ketika ia melangkah, hingga ia merasakan seseorang menopang tubuhnya.
"Rie..." Evan mengangkat wajah, melihat wajah Rieta menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
"Kamu masih peduli padaku?" rancau Evan.
Waktu seolah berhenti berjalan, Rihana mematung sejenak, tetapi kemudian tersentak dan segera memapah tubuh Evan, lalu membawa kekasihnya menjauh dari kerumunan pesta.
Pikiran Rihana sejenak tidak berada pada tempatnya, ada rasa sakit menyusup ke dalam hatinya, ada tumpukan amarah yang siap untuk meledak, tetapi ia tidak ingin menggunakan cara terburu-buru.
Dalam benaknya, ia sudah mengatur skenario kebetulan sealami mungkin. Memesan kamar yang tak jauh dari kamar yang Rieta pesan, yang mana ia sudah meminta staf hotel untuk memberikan kamar itu pada Rieta. Memastikan Rieta melihat dirinya bersama Evan masuk ke dalam kamar, dan mengatur seseorang untuk mengambil adegan panas Rieta bersama Arlan yang ia yakin akan terjadi meski akan lebih lambat, karena ia tahu reaksi yang Rieta rasakan akan sedikit lebih lambat lantaran Rieta hanya meminum sedikit minuman bercampur obat yang ia siapkan.
Dan saat rencana itu di jalankan, tepat saat ia melihat sosok Rieta keluar dari lift, dan berjalan menuju kamar. Ia dengan sengaja mencium bibir Evan yang segera memberikan balasan dengan gairah, menciptakan sebuah kesan bahwa Evan-lah yang menarik dirinya masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu.
.
.
.
Dalam kamar hotel berpencahayaan temaram, Rieta membawa langkahnya ke tempat tidur sambil memapah Arlan tanpa menyadari dua pria yang membawa kamera turut masuk menggunakan kunci cadangan. Bergerak nyaris tanpa suara dengan kamera yang siap mereka arahkan pada Rieta.
Dengan perlahan, Rieta membaringkan Arlan di tempat tidur, berniat membiarkan Arlan beristirahat sejenak, dan keluar kamar untuk mencari Liam. Namun, niat itu terhenti ketika tiba-tiba Arlan menahan pergelangan tangan Rieta, menariknya dengan sentakan kuat, hingga wanita itu jatuh ke atas tubuh Arlan.
. . . .
. . . .
To be continued...