Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 019 : Di Ambang Kematian (Marsya)
Adio memacu sedan sewaannya melintasi jalanan Roma yang licin oleh sisa hujan malam itu.
Di sampingnya, Inspektur Luca terus berteriak melalui radio polisi, mengerahkan seluruh unit bantuan dari kepolisian pusat menuju koordinat gereja tua di pinggiran kota.
Adio tidak peduli dengan sirene atau rambu jalan yang ia langgar. Pikirannya hanya terpaku pada satu hal: Rachel tidak pernah salah dalam penglihatan mautnya.
Jika Rachel bilang Marsya akan mati, maka maut sudah berdiri tepat di depan pintu, siap menghunus sabitnya.
Setiap detik yang terbuang terasa seperti paku yang menghujam jantung Adio. Ia tahu, secara medis, apa yang dilakukan Rachel saat ini adalah bunuh diri perlahan.
Sementara itu, di kamar hotel, Rachel sedang berada dalam perang batin di ambang batas antara hidup dan mati.
Kesadarannya ditarik paksa ke sebuah dimensi putih yang hampa, namun atmosfernya terasa sangat menekan, seolah-olah ia berada di dasar samudra yang paling dalam.
Di hadapannya, berdiri lima sosok agung yang selama ini membimbing jalannya: Nyai Ratu, Abah, Simbah Gautama, serta dua panglima ghaib setianya, Maun dan Senopati Cakar.
"Rachel, sadarlah! Engkau adalah bejana manusia, bukan dewa!" suara Nyai Ratu menggelegar, getarannya membuat dimensi itu berguncang hebat.
"Ragamu akan retak selamanya jika kami semua masuk bersamaan. Engkau meminta api yang sanggup membakar seluruh kota hanya untuk memadamkan satu lilin! Harga yang harus kau bayar bukan lagi sekadar darah, melainkan eksistensi fisikmu!"
"Saya tidak peduli dengan raga ini! Jika saya harus merangkak seumur hidup atau terbakar di neraka asalkan Marsya selamat, saya akan melakukannya!" teriak Rachel dengan air mata darah yang mulai merembes dari sudut matanya yang terpejam di dunia nyata.
"Ibunda, sudah terlalu banyak kehilangan. Dia tidak boleh kehilangan lagi! Masuklah ke tubuhku! Sekarang, atau aku akan menghancurkan sukmaku sendiri di sini!"
Simbah Gautama menatapnya dengan pandangan sedih yang sangat dalam. Ia tahu watak keras kepala cucunya ini.
"Ini adalah perjanjian sepihak, Nduk. Kami akan memberimu kekuatan untuk meratakan gunung sekalipun, tapi alam semesta akan menagih bayarannya dari saraf dan tulangmu. Kau takkan pernah sama lagi setelah malam ini."
"Ambil apa pun! Hanya selamatkan adikku!" Rachel meraung, jiwanya bergetar hebat oleh tekad yang mutlak.
Seketika, cahaya keemasan bercampur hitam pekat meledak dari pusat dimensi itu, menghujam masuk ke jantung Rachel.
Di kamar hotel, tubuh Rachel yang tadi lunglai tiba-tiba melenting ke atas. Punggungnya melengkung secara tidak alami hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser secara paksa.
Matanya terbuka lebar, namun pupilnya berubah menjadi vertikal, tajam dan dingin seperti mata harimau purba yang sudah lapar selama seribu tahun.
Aura dingin yang mencekam menyelimuti kamar itu, membuat kaca jendela retak sebelum akhirnya Rachel melompat keluar lantai tiga, mendarat tanpa suara, lalu melesat menembus kegelapan malam Roma dengan kecepatan yang melampaui logika fisika.
Gereja Tua, 04:30 AM
Pintu gereja tua yang sudah lapuk itu berderit terbuka saat Cak Dika memimpin tim masuk ke dalam.
Udara di dalam sangat pengap, berbau tajam seperti campuran bahan kimia pengawet, formalin, dan semen yang baru diaduk.
Di langit-langit, kelelawar berterbangan panik seolah merasakan kehadiran sesuatu yang sangat jahat.
Cahaya bulan yang menembus kaca patri yang pecah memberikan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
"Marsya, tetap di belakangku. Jangan jauh-jauh dari Rara. Peterson, Bella, amankan sayap kiri," bisik Cak Dika dengan tangan yang sudah menggenggam erat belati komandonya.
Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia merasakan bulu kuduknya meremang; ini bukan sekadar sarang pembunuh, ini adalah kuil pemujaan.
Mereka berjalan menyusuri lorong tengah yang diapit oleh barisan pilar batu. Di ujung altar, cahaya lilin merah berkedip-kedip, menerangi sosok pria jangkung yang berdiri membelakangi mereka.
Pria itu mengenakan apron kulit tebal yang bersimbah darah segar. Di depannya, di atas sebuah meja altar batu, tergeletak seorang bocah kecil yang tak bergerak dengan kulit yang sudah mulai memutih karena dilapisi cairan kimia—cucu Nenek Sofia.
Bocah itu tampak seperti patung yang belum jadi, sebuah pemandangan yang sanggup meruntuhkan mental siapa pun yang melihatnya.
"Berhenti di sana! Jangan bergerak!" teriak Peterson sambil menodongkan senjatanya.
Pria itu, Sang Pemahat, berbalik perlahan. Wajahnya sangat tenang, hampir tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan kegelapan yang pekat.
Di tangannya, ia memegang sebuah pisau pahat perak bergerigi yang didesain khusus untuk menyayat kulit tanpa merusak otot di bawahnya.
Di sekeliling altar, terdapat simbol-simbol satanisme—baphomet dan lingkaran darah—yang menandakan bahwa setiap pembunuhan yang ia lakukan adalah sebuah persembahan kepada entitas kegelapan.
"Kalian datang tepat waktu untuk melihat peresmian mahakaryaku," desis Sang Pemahat. Suaranya halus, namun mengandung getaran frekuensi rendah yang membuat telinga berdenging dan perut mual.
"Darah manusia adalah tinta, dan tubuh mereka adalah kanvas. Aku tidak membunuh, aku memberikan mereka keabadian yang tidak bisa diberikan oleh Tuhan kalian."
"Kau bajingan gila!" geram Cak Dika, amarahnya memuncak melihat kondisi bocah di atas meja itu.
Tiba-tiba, Sang Pemahat menghentakkan kakinya ke lantai altar. Simbol-simbol baphomet itu berpijar hitam legam.
Kabut tebal berwarna abu-abu semen keluar dari celah ubin, membuat pandangan tim menjadi kabur. Pertarungan pecah dengan brutal.
Namun, Sang Pemahat bukan sekadar psikopat; ia adalah petarung taktis yang diperkuat oleh energi setan.
Saat Cak Dika menerjang dengan belatinya, pria itu menghindar dengan gerakan yang sangat efisien, hampir seperti penari.
Ia menangkap lengan Cak Dika, memanfaatkan momentum lawannya, dan dengan satu sentakan kuat, ia mematahkan tulang selangka Dika.
Krak!
Suara tulang patah itu menggema linu di ruangan sunyi tersebut. Cak Dika terlempar menghantam pilar batu.
Rara mencoba menusuk dengan kerisnya, namun Sang Pemahat justru mencengkeram rahang Rara dan membanting kepalanya ke lantai marmer hingga ia tersungkur pingsan.
Peterson melepaskan tembakan, namun peluru-peluru itu seolah melambat atau berbelok saat memasuki radius lingkaran ritual.
Sang Pemahat melempar pisau pahatnya dengan presisi yang gila, menembus paha Peterson hingga pria itu jatuh berlutut, darah merah segar mengucur deras membasahi lantai.
Dalam kekacauan dan kabut itu, Sang Pemahat melesat menuju Marsya yang tersudut di dekat pilar.
Dengan satu gerakan cepat yang tak terduga, ia mencengkeram leher Marsya dan menyeretnya ke atas meja altar, menyingkirkan tubuh bocah Sofia seolah itu hanya barang rongsokan.
"Jangan! Mbak Rachel! Tolong aku!" teriak Marsya histeris, air matanya tumpah melihat wajah dingin sang pembunuh di atasnya.
Sang Pemahat mengikat tangan dan kaki Marsya dengan kawat berduri yang tajam, membuat Marsya menjerit kesakitan saat duri-duri besi itu merobek kulitnya.
Ia mengangkat pisau ritualnya ke udara, mulutnya mulai menggumamkan mantra dalam bahasa Latin kuno yang berat.
"Darah murni dari timur... kau adalah potongan terakhir yang kucari untuk membuka gerbang keabadianku malam ini."
Tepat saat mata pisau itu hendak dihujamkan ke jantung Marsya, sebuah dentuman besar meruntuhkan pintu utama gereja. Tekanan udara di dalam ruangan melonjak secara drastis, memadamkan semua lilin dalam sekejap.
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
merinding bayangin kematian toby 🥺